Chapter 20 : Berhasil Lolos

Mbah Semi tiba-tiba berhenti di tengah langkahnya. Tubuhnya membeku, dan hawa di sekitar mereka berubah drastis. Udara yang semula sejuk kini terasa menekan, seolah-olah ada sesuatu yang besar sedang mengawasi mereka dari kegelapan.

Fandi dan yang lain otomatis ikut berhenti. Tak ada yang berani bersuara, bahkan nafas mereka pun terdengar terlalu kencang di tengah sunyi yang mendadak menyelimuti hutan.

Lalu, dari balik pepohonan raksasa, sebuah cahaya keemasan menyilaukan mata mereka. Perlahan, sosok raksasa berwarna emas muncul dari kegelapan. Tingginya hampir menyentuh puncak pohon, tubuhnya kekar dengan otot yang menonjol di bawah kulit berkilau seperti emas cair. Matanya merah menyala, taring panjang mencuat dari mulutnya, dengan bercak darah kering yang menempel di sana.

Makhluk itu mendengus kuat, mengendus-endus udara seperti sedang mencari sesuatu.

"Wah, bau makanan…" suaranya berat, menggema di seluruh hutan. Dia menggerakkan kepala besarnya ke segala arah, seolah mencari sumber aroma yang tercium olehnya. "Apa ada manusia yang tersasar?"

Raka, Arief, dan Alya langsung merasakan lutut mereka melemas. Wajah mereka yang sebelumnya penuh canda kini memucat, mulut mereka terkunci rapat.

Fandi menelan ludah, tangannya mengepal kuat untuk menahan gemetar. Buto Emas. Makhluk gaib yang jarang muncul, tapi begitu dia menampakkan diri, jarang ada makhluk hidup dengan darah yang bisa lolos darinya.

Di saat ketegangan memuncak, Blue bergerak cepat. Dalam sekejap, sosoknya berubah menjadi kucing oren. Tubuhnya membesar dengan corak oranye-hitam yang khas. Dalam bentuk harimaunya, dia mengitari mereka dengan perlahan, melangkah tanpa suara seperti bayangan.

Fandi merasakan hawa di sekitar mereka berubah. Sesuatu yang tak kasatmata mulai menyelimuti tubuhnya dan teman-temannya. Perlahan, aroma manusia mereka memudar, tertutup oleh aura harimau yang kuat dari Blue.

"Terimakasih." Bisik Fandi yang mendapat anggukan dari Blue.

Mbah Semi tetap tak bergerak, matanya tajam menatap Buto Emas yang masih mengendus udara.

Detik-detik terasa berjalan lambat. Napas mereka tertahan.

Mbah Semi tiba-tiba melayang perlahan ke atas, meninggalkan Fandi dan yang lainnya yang masih menahan napas. Dengan tenang, dia berdiri di hadapan Buto Emas yang mengendus-endus udara.

"Hei, Giwang! Lama tidak bertemu," sapanya dengan suara seraknya yang khas.

Buto Emas itu, Giwang, berhenti mengendus dan menatap Mbah Semi. Matanya yang merah menyala menyipit sedikit, lalu bibirnya menyeringai, menampakkan taring panjangnya.

"Lama sekali tidak bertemu dengan mu, Semi," jawab Giwang dengan suara beratnya. "Aku hampir mengira kau sudah bosan dengan tempat ini dan pergi ke bawah."

Mbah Semi tertawa pelan. "Heh, aku masih betah di sini. Lagipula, aku ini penjaga Hutan Bayangan. Kalau aku pergi, siapa yang akan mengawasi bagian barat tempat ini?"

Giwang mengangguk kecil. "Hm… memang benar." Dia melirik ke sekeliling, mengendus-endus lagi. "Tapi aku mencium bau yang berbeda dari biasanya. Bukan makhluk halus, bukan roh. Ini… manusia? Kamu membawa manusia? Bisa aku cicipi?"

Mbah Semi terkekeh. "Kau memang masih tajam, Giwang. Tapi aku tidak bisa memberikannya padamu. Mereka semua tamu."

Giwang menoleh dengan ekspresi tertarik. "Tamu?"

"Iya," kata Mbah Semi santai. "Mereka perlu melewati hutan ini, dan aku yang bertanggung jawab memastikan mereka sampai dengan selamat."

Giwang menggeram rendah, tapi bukan dengan nada marah. Lebih seperti berpikir.

"Begitu, ya…" dia mengangguk pelan dan mulai melangkah pergi.

Namun, sebelum benar-benar menghilang ke dalam kegelapan hutan, dia tiba-tiba berhenti.

"Siapa tamu itu? Apa yang selalu aku cari?" tanyanya, kali ini suaranya terdengar lebih tajam.

Fandi dan yang lainnya langsung menegang. Blue, yang masih dalam wujud harimau, merendahkan tubuhnya, siap berjaga.

Mbah Semi tetap diam sejenak, lalu perlahan menoleh ke arah mereka.

Mbah Semi terkejut. Matanya yang redup tiba-tiba membesar, dan tubuhnya yang biasanya melayang anggun kini tampak sedikit kaku.

“Eh… ehehe…” Mbah Semi mendadak ragu-ragu.

Giwang menunggu dengan ekspresi serius, kepalanya sedikit miring seolah sedang mengingat sesuatu. Mbah Semi menoleh sedikit ke belakang, melihat Fandi yang berdiri di depan teman-temannya wajah pura-pura polos.

Oh, sial.

Fandi memang sering bikin masalah di dunia gaib, dan sayangnya, salah satu korbannya adalah Giwang sendiri.

...--- FLASHBACK ---...

Dulu, saat Fandi berusia 13 tahun, Dia tidak sengaja melihat Giwang yang sedang beristirahat. Fandi menemukan sesuatu yang sangat menarik. Rambut emas Giwang yang tebal, panjang, dan berkilauan. Fandi merasa rambut itu cocok digunakan sebagai bahan kuasnya. Selama dia membersihkan dosa dan karma jahat yang ada di sana, itu pasti akan berguna. Fandi mencoba mengambil sehelai untuk dibawa pulang.

Tapi yang terjadi malah di luar dugaan.

Ketika dia menarik satu helai, yang tercabut justru banyak. Sehelai yang dia pikir akan dia ambil ternyata menyangkut di beberapa helaian lainnya, membuat bagian kepala Giwang yang seharusnya dipenuhi rambut emas menjadi botak di satu sisi.

Giwang yang dikenal sebagai Buto pemakan manusia, terbangun dan menggeram.

“KAMU APA-APAAN?!” teriaknya sambil memegangi kepalanya yang botak sebelah dengan rasa sakit dan kemarahan.

Fandi juga menyadari kalau dia dalam masalah besar, hanya bisa tertawa gugup.

“Ehehe… uhm… anggap aja ini tren baru?” katanya mencoba menenangkan situasi. Tapi dia tau kalau dia bukan lawan Giwang. Fandi menggunakan beberapa trik untuk lolos dari Giwang.

Giwang tidak bisa menerima kenyataan bahwa rambut emasnya, sesuatu yang selama ini dia banggakan sebagai simbol ketampanannya, tiba-tiba botak seperti tambalan sawah yang kering.

Apalagi rambutnya tidak pernah tumbuh lagi!

Sejak hari itu, Giwang menaruh dendam pada Fandi.

...--- FLASHBACK END ---...

Sekarang, Mbah Semi harus menghadapi kenyataan: Giwang masih tidak tahu siapa ‘tamu’ yang sedang dia antar.

Tapi Fandi langsung merinding. Dia tau Buto Emas ini.

Dan lebih buruknya lagi, Buto ini mengenalnya juga.

Fandi dulu pernah mencabut rambut emas Giwang untuk dijadikan kuas menggambar jimat. Saat itu, dia hanya bermaksud mengambil sedikit, tapi tanpa sengaja malah mencabut banyak, meninggalkan botak besar di kepala Buto Emas yang sangat bangga dengan rambutnya. Sejak saat itu, Giwang selalu mencari berita tentangnya dan akan menghampirinya saat dia masuk ke dunia ghaib.

Untung dia tidak membawa kuas itu, atau Giwang akan menemukannya. Kerena kuas emas yang dia gunakan untuk menggambar jimat berasal dari bagian tubuh Giwang, jika ada padanya sekarang, Giwang akan langsung menyadarinya.

Fandi segera berbisik ke Arief dan Raka.

“Bro, kita harus pura-pura jadi perempuan.”

Arief hampir tersedak ludahnya. “Apaan?! Gue nggak bakal bisa! Suara gue berat!”

Raka mendesis pelan. “Fandi, lo gila, ya? Emangnya kita bisa nipu makhluk beginian?”

"Denger, gue kenal makhluk itu dan dia juga kenal gue. Tapi kami saling kenal karena kebencian. Maksud gue, si Giwang itu benci banget sama gue." Fandi tetap memaksa. “Tapi tenang, Giwang itu rada bego. Dia cuma mengandalkan hidungnya, bukan otaknya. Dia nggak suka sama perempuan karena kadang cerewet. Kalau kita ngobrol pakai suara perempuan kencang, dia nggak bakal sadar ada gue disini.”

Arief masih tampak ragu, tapi sebelum dia bisa menolak lagi, Fandi lanjut.

“Ayo dong, ini demi nyawa kita! Lo mau jadi makanan Buto setelah gue?”

Raka melirik ke arah Giwang yang masih mengendus-endus udara, mencari bau manusia untuk dijadikan santapan.

“…Oke, tapi kalau kita selamat, lo harus traktir kita nasi padang.” kata Raka. Lagipula berpura-pura menjadi perempuan sangat menggelikan dan tidak bisa diterima oleh laki-laki tulen sepertinya.

Fandi mengangguk cepat. “Setuju. Sekarang, ikuti gue!”

Fandi yang berdiri di belakang tiba-tiba membuka mulutnya dan mengubah suaranya menjadi suara perempuan.

“Mbah Semi, ayoo cepat jalan, aku takut~!” katanya dengan suara manja dan melengking.

Arief, Alya, dan Raka langsung memandang Fandi dengan ekspresi campuran antara kagum dan jijik.

“Bro… itu suara lo?” bisik Raka.

“Sumpah, kalau merem gue kira cewek beneran…” tambah Alya, menahan tawa.

Fandi tetap fokus pada aktingnya. “Mbaaah~ ayo buruannn~!”

Mbah Semi hampir tersedak mendengar Fandi bertingkah seperti itu, sementara Giwang masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi curiga.

Dia melirik ke arah Mbah Semi. “Siapa tadi yang ngomong?”

Mbah Semi menggeleng cepat. “B-bukan siapa-siapa! Itu hanya salah satu tamu, seorang gadis yang ketakutan. Biasa, manusia lemah.”

Giwang menggeram pelan, matanya masih menyipit. “Tapi aku seperti pernah mendengar suara itu…”

Fandi langsung mengalihkan pandangan pada teman-temannya dan berbisik. "Kalian ikutan lah."

Raka dan Arief saling memandang. Lalu mereka meninggikan suara dan mulai bersuara keras-keras dengan suara perempuan.

Fandi memanggil Mbah Semi dengan nada manja, “Mbaaah~ ayo buruaaaan, aku takut~!”

Arief mencoba mengubah suaranya, meski terdengar seperti pria yang kena flu berat. “I-ih, iya, Mbah, cepetan dong!”

Alya juga akhirnya ikut, suaranya sedikit lebih meyakinkan. “Huhuhu… aku nggak mau jadi makanan Buto… Ayah... Ibu...”

Mbah Semi memandang mereka dengan ekspresi ‘serius kalian?’, tapi dia cepat tanggap. Mbah Semi segera memikirkan alasan.

Dia berdeham dan menoleh ke Giwang dengan santai. “Oh, benar, Giwang. Tamu-tamuku ini, mereka perempuan-perempuan muda yang mengenal cicitku dengan cukup baik. Kamu tau cicit ku bukan, Vanesa yang pernah kesasar disini. Anak-anak ini, mereka salah naik bus hantu sehingga tersesat dan masuk ke dekat sini. Ini aku akan mengantar mereka kembali ke dunia manusia lewat Bagian Tengah.”

Giwang tampak berpikir. “Hmm… perempuan semua?”

Fandi buru-buru menambahkan dengan suara yang dibuat semanis mungkin, “I-iyah, Mas Buto~ Mbah Semi baik banget udah nolongin kami~!” Dia langsung merinding setelah mengatakannya.

Arief dan Raka ikut menambahkan, walau terdengar agak maksa.

"Seperti yang kamu dengar." Kata Mbah Semi meyakinkan.

Giwang kembali mengendus. Dia tidak mencium bau yang familiar lagi, hanya aroma samar Blue yang menutupi mereka semua. Akhirnya, dia mengangguk.

“Hmm… ya udah. Kalau itu teman cucu perempuan mu, bukan urusanku,” katanya sambil menguap, kehilangan ketertarikan. “Pergi saja.” lalu dia juga melangkah pergi.

Harus dikatakan bahwa Mbah Semi masih memiliki beberapa bobot akan statusnya yang membuat bahkan Giwang tidak berani mengganggunya.

Fandi dan yang lainnya hampir bersorak lega, tapi mereka menahannya.

Begitu Giwang benar-benar pergi, mereka semua langsung jatuh terduduk, keringat dingin bercucuran.

Raka menoleh ke Fandi dengan wajah sengsara. “Gue nggak mau tau, lo harus traktir kita nasi padang pake rendang dan gulai!”

Arief mengangguk kuat. “Tambah es teh manis!”

Fandi hanya bisa memutar matanya. "Oke, oke! Yang penting kita selamat dulu!"

Tapi dia juga berpikir. Apa kesalahannya hingga harus mentraktir mereka seperti ini, jelas mereka yang seenaknya mengikuti dia menyelamatkan Dimas.

Terpopuler

Comments

netizen nyinyir

netizen nyinyir

lanjut dong thorrrr 🥰🥰💗

2025-02-06

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!