Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap

"Fan, kau akan pergi menemukan mereka?" Tanya Kyai Jagakarsa dengan wajah tenang.

Fandi mengangguk, "aku harus."

"Tapi mereka ada di dunia gaib. Kita harus cari portal ke dunia sana terlebih dahulu," kata Mbak Lili. Wajah hantunya menunjukkan kerisauan. Sudah setengah jam mereka berdiri di depan kamar Dimas yang kosong. "Di sekitar sini tidak ada. Apakah aku perlu pergi lebih jauh untuk melihat?"

Fandi menggeleng pelan, walau kelopak matanya mulai berat karena ngantuk. "Nggak usah, Mbak. Aku coba pikir caranya sebentar."

Mbak Lili mengangguk.

Raka mengambil ponsel di kamarnya. "Coba gue telepon. Siapa tahu dunia lain masih punya sinyal, jadi HP-nya nyambung."

Dia menempelkan ponsel ke telinga, lalu menunggu. Wajahnya berubah masam setelah beberapa detik. "Mailbox."

Arief menekan kegelisahannya dan mencoba bercanda. "Coba cek Instagram, Rak. Kali aja ada story, #PetualanganMalamJumat.'"

"Mana bisa, Njir." Kata Raka memutar matanya keatas, namun dia masih membuka Instagram untuk melihat-lihat.

Fandi mengabaikan teman-temannya yang mencoba bersikap santai. Dia kemudian mengingat sesuatu. "Gue coba tanya temen gue dulu."

Dia segera mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor Ikhwan. Orang yang memberi saran saat menangani urusan boneka Dek Anis dan memberinya latihan berat 1 bulan kemarin. Hanya butuh beberapa detik sebelum panggilannya tersambung.

Ikhwan langsung menjawab dengan nada santai, "Gue kira siapa. Nggak taunya Lo. Serius deh, Fan. Ini masih jam 12 malem. Kalau lo masih sial gara-gara kosan berhantu itu, pindah aja. Atau kalau Lo nggak punya duit, kerja aja sama gue nangkep hantu. Lumayan tuh duitnya buat pindah kos."

Fandi memutar mata, tapi dia berusaha sabar. Dia butuh bantuan, jadi nggak bisa marah. "Gue nggak punya waktu buat ngomongin pindah. Gue butuh lo sekarang, ini urgent."

Suara Ikhwan langsung berubah serius. "Oke, ada masalah apa sekarang? Nggak biasanya lo pake kata 'urgent'."

Fandi buru-buru menjelaskan situasi tentang pena antik, portal dunia lain, dan Dimas yang hilang. Ikhwan mendengarkan dengan tenang sebelum akhirnya berkata, "Kemarin boneka arwah, sekarang pena antik. Lo mau buka cabang museum barang mistis apa gimana, Fan?"

"Jangan bercanda, Wan. Gue butuh bantuan buat ke dunia gaib," ujar Fandi dengan nada frustrasi.

Ikhwan tertawa kecil. "Oke, oke." Ikhwan terdiam sejenak. "Fan, gue inget lo kenal 'pemandu' dunia lain. Bukannya Lo bisa minta tolong ke dia buat buka portal."

"Aih..." Fandi terdiam sejenak, wajahnya berubah masam. "Lo bercanda? Gue nggak mau ketemu dia lagi!"

"Cuma itu cara tercepat. Kalau nggak mau, ya udah. Gue bisa bantu tapi lokasi gue jauh. Mungkin besok siang baru sampai ke tempat lo. Atau Biar temen lo cari sendiri pintunya. Kali aja dia bisa nemu makhluk buat bantuin. Yah, walaupun kayaknya bakal susah, sih" balas Ikhwan santai.

Fandi mendesah panjang. "Gue nggak bisa nunggu sampai besok. Oke, tapi memangnya dia ada di kota ini?"

"Dimanapun dia, kalau Lo manggil dia pasti dateng," jawab Ikhwan dengan senyum yang tidak diketahui Fandi. Lalu ada kilau main-main di matanya. "Lo masih inget cara manggilnya, kan?"

Fandi menghela napas panjang, merasa dirinya akan menyesal. "Iya, gue inget..."

Dia menunduk sedikit, lalu berkata pelan, "Sang pemandu, oyen gemoy, meow meow meow, Aa nyari kamu." Fandi mendengar tawa Ikhwan dibalik ponselnya dan langsung menutup panggilan.

Raka dan Arief juga langsung terbahak mendengar kata-kata Fandi. Mereka sampai harus memegangi perut karena terlalu keras tertawa.

"Fan? Lo bercanda apa? Ngapain kayak gitu, kita harus cari cara nemuin Dimas ini." ujar Raka di sela tawanya.

Namun, sebelum Fandi sempat membalas, suara mengeong pelan terdengar dari lorong gelap. Ketiganya refleks menoleh, dari bayangan muncul seekor kucing oren gemuk dengan langkah anggun. Mata kucing itu tampak berkilau dalam kegelapan, dan ekornya bergoyang santai, seperti bangsawan yang sedang berjalan-jalan.

Raka langsung terdiam, begitu juga Arief.

"Ada... yang muncul beneran?!" Gumam Arief setengah takut.

Fandi hanya bisa menghela napas sambil menggaruk kepala. "Yah, ini temen gue. Pemandu kita ke dunia lain, namanya Blue."

Fandi berjongkok, menatap kucing oren itu dengan wajah datar. "Yo, lama nggak ketemu, Blue. Kita butuh bantuan lo, oke?" lalu menoleh ke Raka dan Arief, "dan untuk kalian, jangan bikin ribet." Kata Fandi mengingatkan teman-temannya.

Kucing oren itu, Blue, menguap panjang, matanya yang berwarna biru terlihat bosan. Dia memperlihatkan taring kecilnya sebelum duduk santai di depan Fandi. Tatapan matanya tajam, tapi ada aura angkuh yang memancar. "Meow."

Raka yang terpengaruh oleh suasana aneh ini, mulai bicara, "Jangan bercanda lah, Fan. Kok Lo ngomong sama kucing segitunya. Apalagi kucing gemuk kayak gini. Ini kucing lebih cocok jadi model iklan makanan hewan daripada pemandu dunia lain."

Arief yang gelisah juga tidak bisa menahan diri menambah kata-kata Raka untuk mencairkan suasana. "Gini, coba tanya yang punya berapa tarif dia. Karena badannya gemuk, gue yakin bayarannya bukan uang, tapi snack kucing!"

Fandi menggelengkan kepala mendengar kata-kata mereka. Dia melirik Blue dan menghela nafas.

lupakan, biarkan mereka belajar pelajaran.

Blue terlihat kesal. Wajah kucingnya mengerut seperti bertemu musuh. Blue berdiri, ekornya berkibas tajam, lalu melangkah mendekati Raka dan Arief. Tatapannya dingin, penuh intimidasi, seolah berkata, 'Beraninya kalian membuat lelucon tentangku!'

Raka yang akhirnya santai, mendadak tidak nyaman. "Eh... ini kenapa dia ngeliatin gue kayak gitu, Fan?"

Kucing itu mendekat lebih dekat, hingga Raka mundur selangkah tanpa sadar. Suasana mendadak hening. Blue mengangkat satu cakar, mengarahkannya ke atas, dan mengeong rendah, hampir seperti geraman.

Fandi menyipitkan mata, tetap tenang. "Gue udah bilang, jangan bikin ribet. Rak, lo ngatain dia, lo terima akibatnya. Bahkan manusia kalau nggak deket nggak suka dikata-katain, apalagi makhluk halus yang baru Lo temuin."

Arief juga panik, tapi dia masih mencoba menganggap ini lelucon, berkata, "Ayolah, ini cuma kucing biasa. Nggak mungkin—"

Sebelum Arief selesai bicara, lampu di lorong berkedip. Udara menjadi dingin, dan bayangan Blue di dinding tiba-tiba membesar. Sosoknya berubah menyerupai makhluk besar dengan mata bersinar tajam, membuat keduanya langsung diam seribu bahasa.

"Rooaarrr," suara Blue berubah menjadi raungan, bergema seperti datang dari tempat yang jauh.

Raka dan Arief saling pandang dengan wajah pucat.

"Oke, oke!" seru Raka dengan nada panik. "Kita nggak serius tadi! Lo pemandu terhormat, maaf banget gue becandain Lo. Jangan makan gue pliss. Gue banyak merokok, itu pasti nggak sehat di tubuh lo."

Arief mengangkat tangan seperti menyerah. "Iya, gue juga! Gue juga nggak akan manggil lo gemuk lagi. Lo... elegan banget. Berkarisma, malah!"

"lah, bukannya Lo nggak ngerokok Rif, selain itu Lo sering olahraga, kan." Kata Raka tiba-tiba.

Arief melihat Raka dengan tidak percaya, "Lo temen apa bukan sih. Lagian Lo sendiri makannya enak-enak, pasti daging Lo lebih lembut dari gue."

"Yee, mana bisa gitu."

"Udah udah." kata Fandi menenangkan. Dia melirik Blue dan yang terakhir mendengus.

Blue menatap mereka bergantian, lalu berbalik. Bayangan besar di dinding menghilang, udara kembali normal. Kali ini dia tidak kembali duduk, melainkan melompat ke pelukan Fandi dengan gaya santai.

Dek Anis dan Mbak Lili yang menonton dari jauh tampak mengagumi tingkah lucu Blue, tatapan mereka dipenuhi kekaguman. Mereka iri pada Fandi yang menggendong Blue.

Sementara itu, Fandi harus menahan diri. Jika bukan karena dia membutuhkan Blue untuk membuka gerbang, dia pasti sudah melempar kucing itu sambil berteriak, 'LO BERAT BANGET, KUCING SIALAN!'

Dengan sekuat tenaga, Fandi memaksakan senyum. "Udah selesai? Lain kali, coba untuk bersikap sopan. Ngomong-ngomong, gue mau ke dunia gaib, kalau kalian mau ikut. Gue saranin buat berhenti bercanda tentang apapun yang Lo liat."

Raka dan Arief mengangguk cepat, mereka juga tidak berani menatap langsung ke arah Blue.

"Sekarang apa, Fan?" tanya Arief dengan suara pelan.

Fandi menoleh ke Blue. "Kita mau masuk dunia lain buat cari temen gue, Dimas namanya. Lo harusnya tau dia di mana, kan? Baru satu jam sejak dia hilang."

Blue menjilat cakarnya sekali, lalu menatap Fandi dengan ekspresi tenang. Dia mengangguk pelan sebelum melompat turun dari pelukan Fandi dan berjalan menuju lorong gelap, ekornya bergoyang seperti memberi isyarat.

"Ikuti dia," kata Fandi sambil melangkah. "Dan serius, jangan bercanda yang macam-macam lagi."

Raka dan Arief langsung mengangguk patuh, mengikuti langkah Blue tanpa berkata apa-apa.

Dari balik bayang-bayang, sebuah sosok licik mengikuti mereka.

Awalnya, dia sedang asyik menonton video horor di kamarnya ketika mendengar keributan dari arah kos-kosan di belakang rumahnya. Rasa ingin tahu membuatnya mengintip, dan dia melihat sesuatu yang aneh—para penghuni kos itu tampak kebingungan, berbicara dengan udara kosong, lalu diintimidasi oleh seekor kucing dan kucing itu bisa meraung seperti harimau!

Jiwa penasarannya yang haus akan hal-hal mistis tak bisa menahan godaan untuk ikut campur. Dengan langkah pelan dan hati-hati, dia mengikuti mereka seperti ekor kecil yang tak terlihat.

Terpopuler

Comments

Krisna Adhi

Krisna Adhi

aih aih /Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2025-03-31

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!