Dihadapkan oleh pocong warna-warni dan petugas patroli, Raka, Arief, dan Alya masih bisa bersenda gurau. Namun, begitu berhadapan dengan seorang wanita tua yang penampilannya tak jauh berbeda dari manusia ini, mereka merasa seperti ingin menekuk lutut dan berlutut. Ketakutan yang mereka rasakan dari sosok wanita tua itu begitu kuat, sampai-sampai mereka hampir menangis.
"Mbah Semi, ini aku, Fandi," kata Fandi, suaranya bergetar karena kelelahan.
Tiba-tiba, Mbah Semi menghilang dari hadapan mereka. Raka, Arief, dan Alya bersumpah bahwa mereka tidak mengedipkan mata sama sekali, tapi entah bagaimana mereka tidak bisa melihat pergerakan wanita tua itu. Seolah-olah dia menghilang hanya dalam sekejap, menyatu dengan bayang-bayang.
Tawa menyeramkan yang mirip tawa kuntilanak terdengar tiba-tiba. "Hihihihihi... Fandi, Nak Fandi... Ada apa? Apa akhirnya kamu mengirimkan jiwamu padaku?"
Suasana semakin mencekam. Raka, Arief, serta Alya langsung panik. Mereka melihat Fandi yang masih berdiri tenang di depan hantu wanita tua itu, seolah tak terganggu sedikit pun dengan tawa menyeramkan Mbah Semi yang terus mengalun di udara.
"Fandi, ayo lari. Jangan main-main!" teriak Raka dengan gugup. "Itu Nenek nenek kelihatan bahaya banget!"
Alya yang tak bisa menahan ketakutannya mulai menarik lengan Fandi, "Mas Fandi, ayo! Kita harus pergi! Dia bukan sesuatu yang bisa di lawan!"
Arief kini juga tampak serius, "Ayo lari! Jangan diem aja!"
Namun, Fandi hanya menatap dengan tenang ke arah tempat tawa itu berasal. Senyum kecil tak terduga muncul di wajahnya saat dia menjawab, "Tenang aja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan."
Tiba-tiba, bayangan Mbah Semi muncul kembali di hadapan mereka, tubuhnya melayang rendah, dengan senyum lebar yang makin mengerikan. Namun, ada sesuatu yang aneh. Mbah Semi menatap Fandi dengan pandangan seperti nenek melihat cucu, bukan tatapan mematikan di awal.
Tapi wajah Mbah Semi masih terlihat suram, dia mendecakkan lidah pelan, "Ck... Aku masih mengharapkan kamu memberi aku nyawamu. Aku sudah menunggu kamu menemaniku di sini."
Fandi tersenyum tidak berdaya, "Tidak sekarang, waktuku di dunia masih belum habis."
"Ya, ya, ya." Mbah Semi kemudian melihat mereka secara bergantian, dia memusatkan matanya pada Blue yang sejak awal hanya menonton dengan ekspresi acuh tak acuh. "Kemari, kenapa kamu membiarkan anak-anak manusia ini masuk dunia gaib?!!"
Blue yang mendengar namanya disebutkan, tersentak dan menarik napas panjang. Wajahnya tampak pahit, jelas terlihat tidak ingin terlibat, namun dia tahu tak ada pilihan lain. "Aku nggak punya pilihan, Mbah," jawab Blue sambil sedikit merendahkan suaranya. Dia kemudian menjelaskan tujuan Fandi dan teman-temannya.
Fandi juga membantu Blue menjelaskan beberapa hal sehingga Blue tidak terkena amukan Mbah Semi.
—————
Sementara itu, di sebuah pulau melayang gaib di atas langit Indonesia, Dimas membuka matanya perlahan. Pandangannya buram, dan tubuhnya terasa berat, seolah-olah dia baru saja menempuh perjalanan yang sangat jauh. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi, tetapi yang dia ingat hanyalah bayangan samar wajah asing, suara gemuruh, dan sensasi seperti jatuh bebas.
"Sudah bangun kamu?" Suara berat dan dalam terdengar dari sudut ruangan. Dimas, yang masih kebingungan, segera menoleh ke arah suara itu. Matanya melebar ketika melihat sosok pria yang dikenalnya.
"Pak Kromo?" tanyanya, suaranya mengandung nada bingung dan waspada. Dia mencoba duduk, meskipun tubuhnya masih terasa lemas. "Kenapa Bapak ada di kamar ku?"
Namun, saat Dimas melihat sekeliling, dia tersadar bahwa ini bukan kamarnya. Ruangan itu terlihat asing—berdinding kayu tua, dengan ukiran kuno yang aneh dan simbol-simbol yang tak dikenalnya. Sebuah jendela besar di sisi ruangan memperlihatkan langit malam yang penuh dengan bintang-bintang terang dan bulan yang lebih besar dari biasanya. Di bawahnya, samar-samar terlihat hamparan awan yang terus bergerak.
Pak Kromo hanya menggelengkan kepalanya. "Ini bukan kamar kamu. Dan kenapa aku di sini... Hanya alam yang bisa menjawabnya." Kaya Pak Kromo misterius. Namun mengingat tingkah laku pak Kromo biasanya, Dimas memutar mata bosan.
Sejak kapan hantu tua lucu ini menjadi begitu dalam dan misterius.
Tapi tunggu, kenapa dia bisa melihat Pak Kromo dengan jelas. Bukankah jimat pengelihatan dari Fandi hanya membuatnya melihat Pak Kromo samar-samar. Tidak, dia bahkan tidak membawa jimat itu sekarang, apa yang terjadi.
Sebelum Dimas sempat bertanya lebih jauh, suara langkah pelan terdengar dari balik pintu. Perlahan, daun pintu kayu tua itu terbuka, mengungkapkan seorang pemuda yang tampak asing. Pemuda itu mengenakan jas rapi dengan potongan modern, rambutnya tertata sempurna seperti model di majalah, dan senyumnya... senyum itu terasa aneh, terlalu lebar, seolah dipasang paksa.
Mata pemuda itu memandang langsung ke arah Dimas, lalu beralih ke Pak Kromo. "Ah, akhirnya kamu bangun," katanya dengan suara tenang namun dingin, seperti seseorang yang terlalu percaya diri.
Tepat ketika pemuda itu melangkah masuk, Pak Kromo bergerak cepat. Tangannya yang tadi kosong kini memegang sebuah pistol tua yang terlihat berat, dan larasnya langsung diarahkan ke dada si pemuda. Tatapan Pak Kromo tajam, wajahnya berubah serius seperti seorang prajurit yang siap bertempur.
"Itu kamu yang membawa kami ke sini," kata Pak Kromo dengan nada tegas, tanpa keraguan.
Sosok itu mengangguk perlahan, seolah memastikan dirinya menjadi pusat perhatian. "Benar, itu aku. Meskipun sebenarnya, aku hanya menginginkan anak itu." Dia mengangkat tangannya, menunjuk langsung ke arah Dimas.
Sebelum Dimas bisa bereaksi, sosok tersebut membungkuk dengan gerakan anggun, seperti seorang bangsawan yang memberi salam. "Perkenalkan, namaku Antonio. Sebelum kematianku, aku dikenal sebagai seorang jenius. Aku lulus dari universitas ternama hanya dalam waktu satu tahun, mendapatkan gelar ganda, dan menjadi dosen dengan gelar doctor termuda yang sangat disegani." Dia berbicara dengan penuh percaya diri, setiap kata terucap dengan nada bangga yang tidak terselubung.
Namun, nada bicaranya berubah menjadi lebih dingin. "Dan jika kau bertanya mengapa aku menargetkan anak ini," ujarnya sambil melirik tajam ke arah Dimas, "itu karena dia sangat menyebalkan."
Dimas langsung terkejut, menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Gue?!"
Antonio mengangguk lagi, matanya menyipit penuh penilaian. "Ya. Jelas kamu pintar. Sangat pintar. Bahkan, kamu seharusnya bisa lulus lebih cepat dari siapa pun. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu luar biasa malas! Dalam seminggu, tidak bahkan dalam sebulan, bisa melihat mu di kelas beberapa kali adalah sebuah keajaiban. Sebagai seorang mantan dosen yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik siswa dengan baik, sikap mu membuatku muak."
Dia menatap Dimas dengan ekspresi seperti seorang hakim yang memberikan vonis. "Aku bermaksud membawa mu ke sini untuk memberikan pelajaran tambahan yang bermakna, sehingga kamu tidak akan pernah membolos lagi."
Dimas, yang sejak tadi memasang wajah bingung, tiba-tiba melambaikan tangan dengan gelisah. "Tunggu, Tunggu! Gue nggak pernah bolos, oke? Itu tugas kuliah Gue yang buat gue belajar di rumah. Dosen pembimbing gue juga udah setuju sama hal itu!"
"Jangan alasan!" seru Antonio, nadanya penuh tekanan. Dia melangkah maju, wajahnya kini hanya beberapa inci dari Dimas. "Aku sudah mengawasi mu sejak lama, Nak. Aku sering melihatmu tidur di kelas, makan di kelas, melakukan hal-hal tidak elegan yang mengganggu pandanganku."
Dimas berusaha membela diri, "Hei, tidur di kelas itu karena gue begadang buat tugas! Dan makan... itu cuma sekali atau dua kali karena gue lupa sarapan!"
Namun, Antonio tidak terpengaruh. Dia mengacungkan jarinya ke udara, seolah memberikan ultimatum. "Jangan berharap kau bisa pergi sebelum kau mengambil semua pelajaran dariku. Di sini, aku yang berkuasa, dan aku tidak akan membiarkan sikap malas mu mencoreng namamu lebih jauh."
Pak Kromo, yang sejak tadi diam menyaksikan interaksi itu, mendengus pelan. Dia menurunkan pistolnya sedikit dan memutar matanya. "Anak-anak jaman sekarang memang susah diatur, tapi kau... Antonio, kau terlalu serius. Ini hanya anak malas, bukan pelaku kejahatan."
Namun, Antonio tidak bergeming. "Kemalasan adalah kejahatan intelektual! Dan sebagai dosen, aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut!" katanya penuh semangat, seolah dia seorang pahlawan pendidikan.
Dimas menghela napas panjang, menatap kedepan dengan frustrasi. "Jadi... sekarang gue harus ngikutin boot camp pendidikan dari hantu dosen?" Ketika kesadaran ini datang, Dimas menangis dalam hatinya.
Tidak, siapapun, Raka, Arief, Fandi, tolooonnnggggg!!!!
Dia sudah lelah belajar!!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments