Pada malam di hari yang sama, Raka kembali dari Kampus sudah lewat tengah malam. Dia berjalan ke kamar kosnya dengan wajah lelah. Dia bahkan tidak mandi dan langsung berbaring di tempat tidur.
Namun, hanya beberapa saat setelah dia memejamkan mata, sebuah suara ketukan keras datang dari balik pintu kamarnya, membuatnya terusik.
Tok tok tok
Raka mengabaikannya
Tok tok tok
Raka masih mengabaikannya
Tok tok tok
Akhirnya Raka tidak bisa mengabaikannya lagi!
"Siapa sih?" gumam Raka kesal, matanya setengah terpejam, masih berusaha mengusir kantuk. "Ini masih malem, gila. Ada kebakaran apa!"
Dia bangun dan membuka pintu, namun tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya udara dingin yang menyapa wajahnya. Ketika dia kembali ke kamar, tiba-tiba lampu padam, dan suasana menjadi semakin mencekam.
Malam itu, Raka tidak bisa tidur lagi dan harus menjalani kelas dengan kepala pusing.
Namun gangguan tak berhenti sampai di situ. Di malam-malam berikutnya, ketukan-ketukan itu terus datang. Setiap malam, pada waktu yang sama, pintu-pintu kamar kos akan diketuk satu per satu. Bahkan Dimas yang sering begadang menjadi sedikit ketakutan sekarang dan akan tidur lebih awal.
Namun malang bagi Raka, karena dia tidak hanya mendengar ketukan, dia juga mulai mendengar suara-suara aneh dari koridor yang gelap, langkah kaki dan bisikan-bisikan yang meminta untuk masuk kamarnya.
Raka yang sudah tidak tahan dengan ketakutannya, akhirnya mendatangi kamar Fandi di suatu pagi. Wajahnya tampak pucat, matanya terbelalak ketakutan.
Ini tepat tujuh hari setelah mereka mengembalikan pedang kayu di gudang belakang. Fandi tidak menyangka kalau Raka akan muncul di depan pintunya lagi.
"Fan, lo juga denger kan?" tanya Raka dengan cemas dan suara gemetar. Dia segera bicara begitu melihat Fandi
Fandi yang akan berangkat tampak kebingungan. "Apaan?" jawabnya, masih belum mengerti dengan maksud Raka.
Selama seminggu gangguan di kos-kosan ini, Fandi sibuk dengan kegiatan kuliahnya. Dia tidak mendengar gosip tentang kosan yang dibicarakan Raka, Dimas dan Arief karena dia belum berkumpul dengan mereka.
Selain itu, sebelum teror hantu sempat mengganggu Fandi, Kyai Jagakarsa muncul dan mengusir hantu itu. Hantu itu takut pada Kyai Jagakarsa dan tidak punya pilihan lain selain melewati tempat Fandi. Karena itu, Fandi benar-benar tidak mengalami gangguan dan tidak mengerti maksud Raka.
"Anjir, jangan pura-pura nggak tau deh Lo. Dimas aja sampe nggak pernah begadang selama seminggu ini." Kata Raka sambil mengacak-acak rambutnya bingung.
"Lah, bagus dong." Kata Fandi polos
"Bagus pala Kau!" Raka menarik nafas dalam-dalam. "Meski emang bagus tuh anak jaga kesehatannya sedikit. Lagian dia begadang juga cuma buat main game." Gumam Raka masuk akal.
"Nggak, bentar, bukan itu! Gangguan, yang gue maksud itu gangguannya." Kata Raka setelah mengingat kembali tujuannya.
"Gangguan apaan?"
Akhirnya Raka mulai menceritakan kejadian setelah mereka mengembalikan pedang kayu ke boneka di gudang belakang. Setelah penjelasan panjang, Raka menghela nafas. "Temenin gue di kamar. Pliss!!"
Fandi tercengang, "Apaan sih, kaya bocah lo."
"Bodo amat jadi bocah, gue takut. Gue udah cerita, kan. Dibandingkan Dimas dan Arief, gangguan ke gue lebih banyak."
Hening sejenak, Fandi kemudian ragu-ragu bertanya, "Lo nggak ambil barang aneh-aneh lagi kan?"
Raka langsung terlihat bodoh. "Anjir, jangan nuduh sembarangan. Mana berani gue!"
"Yaudah, gue temenin." Kata Fandi sambil menghela nafas pasrah.
Fandi melewati Raka dan berangkat kuliah, mengabaikan Kyai Jagakarsa yang berdiri bangga menyembunyikan prestasinya yang membantu Fandi menangani masalah.
Malam datang.
Seperti malam sebelumnya, tepat pada pukul 2 dini hari, pintu kamar Raka diketuk. Tapi kali ini Raka memiliki Fandi, sang anak indigo di sisinya. Dia merasa sudah siap. Saat ketukan kedua berbunyi, Fandi segera membuka pintu dengan cepat.
Mereka terkejut dengan pemandangan di depan mereka.
Sebuah boneka kayu yang tidak asing, berdiri dengan tangan boneka terangkat.
"Ini... boneka ini... dia... gerak!" ujar Fandi dengan suara tercekat.
Raka memandang boneka itu dengan tidak percaya. "Gue nggak ngerti lagi! Ini nggak masuk akal! Kenapa harus ke gue, Apa salah gue sekarang? Gue nggak sengaja nemu pedang itu, oke. Gue suka koleksi barang-barang kerajinan gituan. Apalagi pedang itu ukirannya keren. Tapi udah gue balikin, kan?" kata Raka dengan suara yang bergetar, matanya penuh kegelisahan dan keluhan.
"Tenang, Rak." Kata Fandi, meski dia takut ada Raka disebelahnya, dia harus menahan ketakutannya. Dia melihat boneka itu dan bertanya dengan tajam. "Ngapain Lo kesini, apa yang Lo mau?"
Boneka itu bergerak perlahan, tanpa ada yang menyentuhnya. Matanya yang rusak seolah berubah, dan wajahnya yang dulu tak berwarna kini tampak semakin menyeramkan. Setiap gerakan boneka itu semakin mengerikan, dan aura yang menyertainya semakin mencekam.
Tiba-tiba, boneka itu mengeluarkan suara pelan dan sedih khas anak-anak. "Aku, aku hanya ingin nonton Hamtaro..."
Fandi dan Raka tercengang, mereka saling memandang.
Fandi: "...."
Raka: "....."
Tunggu sebentar, kita tadi lagi ngapain?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments