Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu

Aura yang cukup berat...

Fandi mengangguk, dia juga merasakannya. Apalagi pada pedang kayu boneka itu.

Fandi menatap Pak Kromo dengan serius, mencoba menyerap setiap kata yang diucapkan. Sementara itu, di sisi lain, Raka masih tampak gelisah, bergelut dengan rasa takut yang kian membesar. Fandi mengabaikan reaksi temannya yang tidak nyaman dan bertanya dengan nada hati-hati, "Saya juga bisa merasakannya, Pak. Tapi, sebenarnya... apa yang terjadi pada anak itu?"

Pak Kromo melipat kedua tangannya di depan dada, matanya tetap terpaku pada boneka kayu tersebut, mengingat kenangan yang dia miliki. "Anak perempuan itu meninggal di dekat kos ini. Rumahnya saat hidup juga tidak jauh dari sini. Setelah kematiannya, hanya boneka ini yang tersisa. Namun, entah bagaimana, arwahnya tidak bisa pergi dan justru terikat pada boneka itu."

Pak Kromo berhenti sejenak, menarik napas sebelum melanjutkan. "Satu dekade yang lalu, pemilik kos lama mendapat boneka ini secara kebetulan. Dia tidak tahu bahwa boneka itu menyimpan sesuatu. Awalnya hanya benda mati biasa, tapi perlahan...." pak Kromo menggelengkan kepalanya.

Kyai Jagakarsa yang sebelumnya tidak terlihat tiba-tiba muncul di belakang Fandi, menyerupai bayangan. Dia mendapat lirikan dari Pak Kromo dan hanya mengangguk ringan. Lalu dia menggelengkan kepala saat melihat Boneka kayu itu sebelum kembali menghilang. Perlahan-lahan, menyatu ke dalam tubuh Fandi.

Kyai Jagakarsa yakin Fandi bisa menyelesaikan masalah boneka itu tanpa bantuannya.

Sementara Fandi mendengarkan dengan cermat, Raka yang tidak tahan dengan keheningan, bergumam lirih, "Fan, rasanya gue nggak yakin bisa tidur lagi malam ini."

Fandi hanya memutar mata dengan jengkel. Dia mulai menceritakan kisah boneka itu pada Raka.

Namun, setelah mendengar cerita dari Fandi tentang pengalaman tragis boneka itu, ekspresi Raka perlahan berubah. Ketakutannya mulai mereda, tergantikan oleh rasa gelisah dan kasihan. Dia gelisah karena benda itu ada di kamarnya, tapi kasihan mengetahui kalau arwah yang bersemayam di boneka itu hanyalah anak kecil. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Raka menatap boneka kayu itu dengan ragu, lalu berbisik pelan, "Fan, coba tanya lagi soal hantu boneka itu. Kali aja kita bisa bantu, biar dia bisa tenang dan nggak ganggu orang lain lagi." Meski suaranya lirih, bisikan itu terdengar jelas oleh Pak Kromo, yang berdiri di dekat mereka.

Fandi mengangguk setuju. Dia menatap Pak Kromo dengan wajah menunggu. Fandi tidak mengatakan apapun, dia tau Pak Kromo mendengar kata-kata Raka.

Pak Kromo menghela nafas berat. Dia melihat boneka itu dengan penampilan kompleks. Dia memejamkan mata untuk berpikir sejenak sebelum kembali ke penampilannya yang biasa.

Pak Kromo perlahan membuka mulut. "Anak itu, namanya Anis. Orang-orang sering memanggilnya Dek Anis. Dia senang sekali menonton kartun, terutama kartun tikus itu, Hamtaro. Itu kenangan indah yang dia bawa hingga kematiannya. Namun, takdir Tuhan memang sulit dipahami manusia."

Pak Kromo berhenti sejenak, seperti mengumpulkan pikirannya sebelum melanjutkan. "30 tahun yang lalu, Kedua orang tua Dek Anis meninggal dalam kecelakaan tragis saat hari sedang hujan. Dek Anis masih berumur tujuh tahun dan tidak mengerti apa-apa. Orang-orang di sekitarnya memilih membohonginya tentang kematian orang tuanya. Dia hanya punya kakek yang merawatnya setelah itu. Takut Dek Anis kesepian, kakeknya membuatkan boneka kayu itu untuknya."

Pak Kromo melirik boneka kayu di meja kecil, tatapannya penuh keprihatinan. "Awalnya, boneka itu hanyalah penghibur. Tapi tak lama, Dek Anis mulai mengatakan bahwa dia bisa melihat orang tuanya melalui boneka itu. Hal-hal aneh mulai terjadi. Hingga puncaknya... Dek Anis meninggal dunia. Dia tenggelam di sungai yang ada di depan sana."

Fandi terdiam mendengar cerita itu, perasaannya takutnya telah hilang, digantikan rasa iba dan sedih. Pak Kromo melanjutkan, suaranya semakin berat. "Ketika dia meninggal, satu-satunya benda yang dia bawa adalah boneka kayu buatan kakeknya itu. Entah bagaimana, arwahnya terikat di dalam boneka, tanpa ada yang mengetahuinya. Kemudian kakeknya meninggal, benda-benda di rumah mereka dibagikan kepada para tetangga oleh kerabat mereka. Boneka dengan arwah dek Anis jatuh ke tangan pemilik kos lama."

Fandi mengangguk pelan, mencerna semua informasi itu. "Jadi begitu, jika aku ingin menenangkannya, aku harus mulai dari apa yang membuat Dek Anis terikat pada boneka itu." Gumam Fandi sambil mengangguk. "Tapi kenapa boneka itu mulai mengganggu penghuni Kos ini?" tanyanya.

"Tunggu, tunggu, gue belum ngerti, Fan." Kata Raka ketika mendengar pertanyaan Fandi.

Fandi mendesah, lalu menjelaskan kembali cerita Pak Kromo secara singkat kepada Raka. Setelah mendengar penjelasan itu, Raka termenung, meskipun dia merasa kasihan, dia juga merasakan ada yang janggal. tatapannya penuh kebingungan. "Tapi aneh banget. Kok bisa ya, sekeluarga meninggal hampir bersamaan begitu?"

Pak Kromo menatap mereka berdua dengan sorot mata tenang. Setelah beberapa saat, dia menunjuk ke arah Raka. "Anak ini teliti," ucapnya singkat.

Fandi juga langsung memberitahu Raka kata-kata pak Kromo, yang membuat Raka tersipu. "Ah, nggak kok pak, biasa saja. Cuma kalau dengerin cerita Fandi rasanya memang aneh," katanya sambil menggaruk tengkuknya.

Pak Kromo mengangguk pelan, lalu mulai menjelaskan lebih lanjut. Dari penjelasannya, mereka mengetahui bahwa kejadian tragis yang menimpa keluarga Dek Anis ternyata bukan hanya karena nasib buruk. Ada campur tangan manusia di dalamnya. Saudara dari kakek Dek Anis merasa iri dengan kesuksesan keluarga mereka. Dalam kebenciannya, saudara itu meminta bantuan seorang "orang pintar."

"Orang pintar itu memberikan sebuah giok," lanjut Pak Kromo. "Setelah pengamatan, aku dan Lili menemukan kalau giok itu ternyata dapat mentransfer keberuntungan dari satu pihak ke pihak lain. Entah bagaimana cara kerjanya, tapi yang pasti keluarga saudara kakek Dek Anis hidup lebih makmur setelah itu. Sayangnya, keberuntungan itu diambil dari keluarga Dek Anis, dan nasib buruk terus menghantui mereka hingga berakhir dengan kematian."

Raka, yang kembali mendengar penjelasan dari Fandi, tiba-tiba berdiri dengan wajah merah penuh amarah. "Gila, masih ada yang kayak gituan! Sial! Ini nggak bisa dibiarin! Gila aja, masa cuma karena iri mereka ngelakuin hal sekejam itu. Apalagi masih berhubungan darah?!"

Pak Kromo hanya melirik Raka, sementara Fandi menunduk, tak berkata apa-apa. Masih memikirkan alasan Dek Anis mengganggu kosan.

Raka menoleh ke Fandi. "Fan, kita harus bantu keluarga Dek Anis balas dendam. Mereka nggak pantas diperlakukan kayak gitu," katanya dengan suara tegas.

Fandi akhirnya mengangkat pandangan perlahan dan menggeleng. "Gue tau perasaan lo, Rak. Dulu gue juga sering ngerasa kaya lo sekarang. Tapi... ini bukan masalah yang bisa kita serahin ke polisi. Selain nggak ada bukti yang jelas, cuma cerita dari seorang hantu, siapa yang bakal percaya."

Raka terdiam sejenak, mengepalkan tangannya, sementara emosi bercampur di wajahnya. "Terus kita harus gimana, Fan? Masa iya diem aja?!" katanya dengan suara gemetar, marah sekaligus bingung. "Kasihan Fan, anak sekecil itu harus melalui semua itu. Bahkan sekarang, dia tidak bisa pergi dengan tenang."

Fandi tidak langsung menjawab kata-kata Raka. Dia menghela napas panjang, lalu pandangannya beralih ke boneka kayu di meja yang tampak seolah-olah sedang fokus menatap layar. Perlahan, Fandi berbicara dengan nada tenang, namun penuh kehati-hatian.

"Kamu denger kami dari tadi, kan, Dek Anis?" tanyanya. Suara Fandi lembut, mencoba menciptakan suasana yang tidak mengintimidasi. "Apa kamu mau kami bantu?"

Ruangan terasa sunyi sejenak, hanya terdengar bunyi samar dari kipas angin yang berputar di sudut kamar. Raka memandang Fandi dengan heran, namun tetap memilih untuk tidak memotong. Pak Kromo, yang berdiri tak jauh dari mereka, hanya mengangguk pelan, mendukung tindakan Fandi.

Beberapa saat kemudian, boneka kayu itu bergeser sedikit, hampir tak terlihat, namun cukup jelas untuk menunjukkan ada respons dari Dek Anis.

"Kalau kamu tidak mengatakan apa-apa, kami merasa tidak yakin untuk membantumu." Kata Fandi lembut. Senyum kecut tercetak di wajahnya, entah sudah berapa lama dia tidak berurusan dengan hal semacam ini. Dia ingat terakhir kali dia membantu orang baru di desa yang diikutin kuntilanak selama beberapa minggu hanya untuk menemukan bahwa orang baru itu ternyata seorang pembunuh. Dan kuntilanak itu adalah korbannya.

Membantu arwah tidak sama dengan membantu manusia. Untuk membantu arwah, seseorang harus mengetahui semua masalahnya. Selain itu, mereka harus mendapat persetujuan dari si arwah. Kalau mereka membantu secara membabi-buta, mereka mungkin melakukan langkah yang salah dan malah membuat sang arwah menjadi jahat.

Contohnya, arwah penasaran yang mati karena dibunuh. Manusia tidak bisa membantunya membunuh seseorang, dia hanya bisa membantu mengungkapkan pembunuh agar orang itu ditangkap. Namun jika sang arwah mengetahui objek dendamnya hanya ditangkap dan tidak mendapat pembalasan yang dia inginkan, arwah itu bisa berubah menjadi jahat. Jika sudah seperti itu, sang arwah tidak hanya akan melukai objek dendamnya, tapi juga orang lain yang tidak bersalah.

Tentu saja Fandi tidak pernah mengalami itu. Dia selalu mengerti tentang peraturan itu, karenanya sekarang dia bertanya pada Dek Anis.

Dek Anis akhirnya menoleh. Meski wajah boneka itu tetap kaku dengan mata kosong, aliran air yang mengalir di permukaannya memberi kesan seolah boneka itu menangis. Suara kecil yang lembut terdengar dari arah boneka itu.

"Aku tahu Kakak-kakak orang baik sejak awal," ujar Dek Anis lirih. "Karena itu, aku berusaha menahan diri agar tidak menyakiti Kakak-kakak. Maafkan keegoisanku beberapa hari terakhir. Aku... aku hanya kesepian."

Akhirnya pertanyaan awal Fandi terjawab. Tidak ada ekspresi lain di wajahnya. Tapi dia menghela nafas dalam hati.

Boneka itu bergeser mendekati Fandi, gerakannya pelan namun pasti, seolah tahu bahwa Fandi yang bisa membantunya.

"Kakak pasti bisa bantu aku. Aku yakin itu," lanjutnya dengan suara yang terdengar penuh harap. "Tapi aku tidak mau Kakak terkena dosa karena mencoba menolongku."

Fandi tersenyum, "jangan mengatakan itu. Dosa atau tidak, bukan kamu yang menentukannya."

Dek Anis terdiam. Tidak tau apakah mendengarkan kata-kata Fandi atau tidak. Dek Anis akhirnya melanjutkan, suaranya kini terdengar lebih kecil, seperti sebuah bisikan. "Baiklah... Tapi Kak, hantu-hantu di sekitar Dek Anis sering bilang, orang jahat pasti akan menerima pembalasan. Mungkin tidak sekarang... tapi saat kematiannya, pasti."

Raka tidak bisa menahan diri lagi, matanya memerah seolah ingin menangis. Dia mengangkat boneka kayu itu dan memeluknya erat. "Huu, bagaimana bisa anak sebaik ini diperlakukan seperti ini... Para bajingan sialan itu pantas ditusuk seribu paku, huu."

Fandi yang melihat itu langsung terkejut dan melebarkan matanya. Dengan cepat, dia menarik Raka menjauh dari boneka itu. "Lo gila ya. Gue tau Lo kasihan, tapi Lo nggak bisa berinteraksi sama hantu, gila." Kata Fandi, nada suaranya panik.

Hantu, setan, arwah atau Jiwa adalah entitas yang tersusun dari energi negatif, sedangkan manusia adalah makhluk dengan energi positif. Ketika seseorang kehilangan motivasi, merasa lelah, atau sakit, energi positif mereka akan menurun, dan itu membuat mereka bisa melihat hantu atau penampakan yang biasanya terekam tanpa sengaja. Itulah sebabnya baik hantu maupun manusia menyadari bahwa mereka tidak bisa hidup berdampingan. Terutama bagi hantu, karena mereka bisa mempengaruhi kehidupan manusia, bahkan membunuh manusia. Hal yang biasa dilakukan hantu hanya menampakkan diri dan menakut-nakuti manusia.

Selain itu, karena tersusun dari energi negatif, arwah dapat berubah menjadi jahat dengan mudah. Meski mereka mengetahui cerita dek Anis, mereka masih belum tau apakah Dek Anis jahat atau baik. Yang jelas, Dek Anis adalah hantu dan Raka tidak bisa berinteraksi dengannya.

"Fan?" Raka menghentikan gerakannya dan menatap Fandi dengan kebingungan. Fandi sendiri merasa sangat kalut. Dengan cepat, dia pergi ke kamarnya.

Sudah lima tahun, tapi dia masih memiliki benda-benda ini.

Fandi kembali ke kamar Raka dengan kertas kuning transparan dan kuas kayu yang indah. Bristle kuas itu berwarna kuning keemasan yang sangat memukau.

——+++——

Catatan penulis:

Apa kalian bertanya-tanya apa itu Bristle?

Bristle adalah bagian bulu pada kuas yang bersentuhan langsung dengan cat dan media lukis.

Selain bristle, kuas juga memiliki bagian-bagian lain, yaitu:

Ferule

Bagian logam yang menjepit bulu kuas dan menghubungkannya ke tangkai. Ferule berfungsi untuk mencegah bulu kuas rontok dan mempertahankan bentuknya.

Crimp

Bagian yang menghubungkan ferule dan tangkai kuas. Crimp berbentuk dua lingkaran di ujung ferule.

Tangkai

Bagian gagang kuas yang berfungsi untuk memudahkan memegang kuas saat melukis.

Bristle atau Bulu kuas bisa berasal dari bulu hewan, serat tanaman, atau serat sintetik. Bulu hewan yang digunakan bisa berasal dari babi, kambing, kuda, atau unta. Serat sintetik yang sering digunakan adalah nilon dan poliester.

Terpopuler

Comments

🌹Yuukidarkness🥀✨

🌹Yuukidarkness🥀✨

Genius! Thor, jangan berhenti menulis cerita yang bagus seperti ini!

2025-01-22

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!