Chapter 11 : Ritual Dimulai

Lima hari kemudian, Fandi, Raka, Dimas, Arief, dan Kang Roy berkumpul di depan Gudang Belakang Kos. Mereka berkumpul jam 8 malam, dengan bulan bersinar terang di langit, seperti mendukung rencana aneh mereka malam ini. Namun, suasana "misterius" itu langsung berubah menjadi horor ketika mereka melihat sebuah boneka kayu berjalan seperti manusia mendekat ke arah mereka.

"Rak, Fan... ini... ini apaan?" gumam Dimas sambil menunjuk boneka itu, matanya melotot kaget.

Arief juga berdiri diam seperti patung. Bibirnya bergetar saat dia menggumamkan banyak kalimat tidak percaya. "Ini boneka betulan? Nggak, nggak mungkin. Pasti dikasih mesin kayak robot gitu, atau jangan-jangan udah di pasang remote didalamnya. Kalau nggak, ini cuma trik sulap, kan. Bener, pasti gitu. Aduh serem. Sumpah, ini nggak lucu. Gue nggak mau ikut main-main!"

Kang Roy, yang sudah diberitahu Raka dan sering merasakan hal-hal aneh terlihat lebih tenang, dia hanya menarik napas panjang. "Gue udah dengar dari Raka soal ini... tapi dengar sama lihat langsung tuh beda. Beda banget."

Sementara itu, Raka menyeringai kecil, tangannya terlipat santai. "Robot? Trik sulap? Remote? Kalau emang itu, tunjukkin ke gue dong, Rif. Jangan cuma nebak-nebak. Lo pinter bongkar motor kan, coba bongkar ini."

Raka menantang Arief. Sejujurnya dia juga memiliki perasaan Arief saat pertama melihatnya, tapi dia tidak berani!

Arief segera melompat mundur, "Asu, mana berani gue." Arief langsung melotot ke Raka.

Dimas menarik baju Fandi sambil menunjuk boneka, "Ini beneran?"

Fandi menghela nafas, "kalau nggak?"

Boneka kayu perempuan, Dek Anis berhenti berjalan. Gerakannya masih kaku dan menyeramkan, kepalanya menoleh perlahan. Matanya yang kosong menatap lurus ke udara sambil berkata dengan suara datar, "Halo, Kakak-Kakak, maafin Anis karena ganggu sebelumnya."

"ASU!" Arief langsung melompat ke belakang, bersembunyi di balik punggung Raka. Dimas, yang biasanya lebih santai, malah ngikut melompat ke belakang Arief.

"Sialan, sialan, sialan! Rak, kenapa dia ngomong? Boneka nggak boleh ngomong! Ini melawan hukum alam!" Kata Dimas dengan gerutuan.

Raka mencoba tetap tenang, meskipun wajahnya mulai pucat. "Dek Anis, jangan ngomong tiba-tiba, ya. Mereka nggak siap mentalnya."

Dan dia juga sama seperti mereka. (⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)

Dek Anis memiringkan kepala sedikit, seperti anak-anak yang mencoba mengerti. "Oh, maaf, Kak. Anis nggak bermaksud nakutin. Anis cuma pengen bantu."

Kakak ini aneh, bukankah teman-temannya tidak percaya, dia hanya bicara untuk membantunya membuktikan sehingga teman-temannya percaya. Huh!

Sementara itu, Fandi berdiri tenang di depan Dek Anis, ada senyum lucu diwajahnya. Dimas dan Arief tadinya berdiri di dekat Fandi, namun mereka segera melompat kebelakang Raka ketika Dek Anis berhenti di depan Fandi.

"Kenapa kalian nggak ke belakang gue?" Fandi menatap mereka dengan wajah rumit. Jelas mereka dekat dengannya.

"Karena bonekanya berenti di depan Lo, lah! Ngapain juga kita deket-deket. Serem bro, itu boneka kerasukan." seru Arief panik. "Lagian Lo lempeng aja di deketin hantu. Jangan pingsan sambil berdiri ntar. Nggak ada dari kita yang berani angkat Lo disana."

Fandi : ....

Itu tidak salah. Tapi entah kenapa dia merasa ingin memukul seseorang!

Tidakkah mereka teman, dimana solidaritasnya?!!

Kang Roy hanya menggeleng pelan sambil berusaha menenangkan diri. Dia juga terkejut karena fakta Dek Anis berbicara.

Dek Anis kembali bicara, suaranya serak namun memiliki nuansa kanak-kanak yang membuat suasana makin mencekam. "Kakak-kakak nggak usah takut. Anis cuma mau bantuin Kak Raka supaya kalian percaya. Dek Anis juga bisa nunjukin yang lain."

Dimas menelan ludah. "Nunjukin apaan? Jangan-jangan... darah-darah serem gitu?"

"Enggak, Kak. Dek Anis bisa joget TikTok." Lalu boneka itu mulai bergerak seperti tren joget yang biasa dilihat Raka di kamarnya.

Hening. Semua orang terdiam, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.

"Kampret!" seru Arief sambil memegangi perutnya. "Gue kira bakal makin horor, eh malah joget!"

"Bagus, Dek Anis cocok collab sama K-Pop ini." tambah Dimas sambil tertawa.

Sementara Raka malu, gerakan Dek Anis jelas gerakan yang sering dia lihat dilakukan oleh wanita wanita seksi di tiktok.

Dia tidak bersalah. Memiliki ketertarikan dalam hal itu adalah wajar. Lagipula dia pemuda sehat dan normal!

Namun diperhatikan anak kecil melihat hal itu sedikit...

¯⁠\⁠_⁠(⁠ ͡⁠°⁠ ͜⁠ʖ⁠ ͡⁠°⁠)⁠_⁠/⁠¯

Fandi akhirnya menggelengkan kepala sambil tersenyum tidak berdaya. "Kalian ini bener bener, deh. Tadi takut, sekarang ketawa. Kalian pasti nggak beneran takut sejak awal." Lalu dia menunjuk Dek Anis. "Ngomong-ngomong, kenalin, ini Dek Anis, dia yang ganggu Raka sebulan yang lalu. Kalian pasti masih inget waktu Raka demam 41 tiba-tiba turun 37, kan. Terus dia juga yang ganggu ketuk pintu kosan lima hari yang lalu."

Arief dan Dimas saling pandang sebelum menatap Dek Anis dengan tajam. Meskipun rasa takut masih ada di hati mereka, jika hal itu memang membahayakan teman mereka, mereka akan melakukan apa saja untuk melawannya.

Dek Anis, yang berdiri diam, menundukkan kepala kecilnya. Dia tidak bicara, hanya berdiri diam seperti tidak bernyawa.

Raka, yang menyadari atmosfer berubah tegang, segera angkat bicara. "Weh, jangan begitu, kalian. Dek Anis itu nggak salah." Raka juga mulai menceritakan bagaimana dia bisa diganggu Dek Anis hingga pengalaman tragisnya.

Dimas dan Arief segera menyadari bahwa apa yang dilakukan Dek Anis itu tidak sengaja, dan itu jelas kesalahan Raka dari awal!

Arief dan Dimas saling pandang lagi. Kali ini tatapan mereka lebih tenang, tapi tetap ada rasa waspada.

"Intinya, dia baik?" tanya Dimas dengan tidak yakin.

Fandi yang diam mendengarkan, akhirnya kembali bicara. "Bukan baik, tapi nggak bisa dibilang jahat juga. Dek Anis itu netral. Dia sekarang terjebak di dunia kita. Dan itu bukan salah dia. Makanya kita di sini. Malam ini, gue butuh bantuan kalian supaya dia bisa pergi dengan tenang."

"Ah, karena itu Lo sama Raka mastiin kita ada waktu hari ini buat bantu, tapi gimana caranya?" tanya Dimas.

Fandi menunduk, mengambil sebuah tongkat kayu dari tanah. Dengan gerakan hati-hati, dia mulai menggambar dia lingkaran dengan diameter berbeda di sekitar Dek Anis. Kemudian mulai menggambar kaligrafi kaligrafi indah di antara dua lingkaran itu

"Mudah kok, kita bakar boneka ini," jelas Fandi tanpa menatap mereka. "Tapi tujuannya bukan menghancurkan. Boneka ini sudah menjadi tubuh Dek Anis. Namun kalian juga tau kalau tubuh ini bukan darah dan daging. Menurut apa yang gue pelajari, boneka ini harus dibakar dengan api khusus, dengan begitu jiwanya bisa lepas dari boneka dan pergi ke tempat yang seharusnya."

Butuh waktu lama untuk Fandi menyelesaikan kaligrafinya. Saat menggambar, dia melanjutkan. "Kalau tanya apa yang gue gambar, ini sedikit trik agar tidak melenyapkan boneka dan membuat jiwa yang dilepaskan tidak merasa sakit."

Arief mengerutkan dahi, tatapannya penuh pertanyaan saat melihat Fandi. "Kok lo tahu hal ginian, Fan."

Fandi terdiam sejenak. Dia mendongak, menatap mereka satu per satu. Meski tatapannya sebenarnya biasa saja, mereka merasa ada sesuatu yang berbeda, rasa kesepian. "Yah, cerita lama. Nggak penting juga." Katanya sambil tersenyum, seolah tidak peduli dan melanjutkan menggambar.

Raka mengerutkan kening, dia tidak bisa menahan diri untuk bicara. "Fandi sebenarnya anak indigo. Tapi dia pernah nggak punya temen waktu SMP. Entah mereka takut atau nggak percaya. Pokoknya selama tiga tahun itu Fandi sendirian. Karena itu dia mulai jauhin hal-hal ini."

Dimas dan Arief mengerti seketika. Entah bagaimana ada perasaan sedih dan kasihan di hati mereka, namun mereka tidak bisa menunjukkannya.

Dimas berkata, "Gila, keren banget. Dari kecil udah sakti dong lo, Fan." mencoba membuat lelucon.

"Buat gue sih, kalau Fandi cerita dari awal, gue mungkin nggak bakal nggak percaya juga." Kata Arief sambil mengelus dagunya, seolah berpikir.

Raka mengangguk, "Iya, gue juga. Tapi sekarang gue ngalamin ini. Mana masih ada bukti yang lagi joget tiktok lagi. Gimana sekarang gue nggak percaya."

Fandi menghentikan tangannya. Lalu melihat tiga orang yang dia kenal di kos ini, ada kehangatan dihatinya saat mendengar kata-kata mereka.

"Tenang Fan, mau gimanapun. Kita bakal tetep percaya Lo. Karena kita udah anggap Lo temen kita." Kata Raka dengan senyum lebar. Diikuti Dimas dan Arief yang mengangguk.

Fandi menunduk dan menggambar, dia berusaha menyembunyikan matanya yang basah, "Oke... Makasih."

"Enaknya jadi muda." Gumam Kang Roy menyaksikan interaksi mereka.

Gambar Fandi sudah setengah jadi, Raka, Arief dan Dimas mendekat untuk melihat lebih jelas.

"Anjir," gumam Raka, mengamati lingkaran dengan simbol-simbol asing yang terukir rapi. "udah seperti mantra sihir di film-film."

Fandi : ....

Bukan seperti lagi. Ini memang mantra sihir!

Setelah Fandi selesai menggambar, dia meregangkan ototnya dan mendekati mereka. "Di belakang Kang Roy ada obor yang belum nyala, kan?" Katanya sambil menunjuk. "Pegang obor itu satu-satu, terus berdiri di empat sudut yang udah gue tandai. Nanti gue kasih aba-aba, taruh obor ke atas boneka tapi jangan sampai menginjak lingkaran atau gambarnya."

Arief, Dimas, dan Raka tidak banyak protes. Mereka mengangguk dan melakukan yang disuruh.

Kang Roy, yang sejak tadi lebih banyak diam dan mengamati, akhirnya buka suara. "Terus tugas gue apa, Fan?"

"Tugas Kang Roy nyalain obor. Tenang aja, Kang. Ini nggak bakal bahaya. Setelah nyalain obor, Kang Roy tolong panggil nama lengkap Dek Anis, ini." Kata Fandi menyerahkan selembar kertas.

Kang Roy melihat nama dengan tiga kata di kertas. Dia tidak banyak bicara, mengangguk dan menunggu giliran.

Dek Anis yang berada di dalam lingkaran berdiri diam tiba-tiba menoleh pelan. Tatapannya kosong, tapi ada sesuatu yang membuat Fandi merasa terhubung. Dia berjongkok di hadapan boneka Dek Anis, menatapnya penuh rasa iba. "Dek Anis," ujar Fandi lembut, "maaf, ya. Tapi kak Fandi mau kirim kamu ke tempat ibu sama ayah. Dek Anis mau, kan?"

Suasana mendadak sunyi. Bahkan dengan mata boneka yang kosong, Fandi bisa merasakan kegembiraan kecil yang terpancar dari anak itu. "Baik, baik. Ketemu papa sama mama," jawab suara lembut itu, penuh antusiasme.

Ketiga pemuda yang belum pernah melihat dunia seperti ini merasa dadanya sesak. Ada rasa pahit yang tidak bisa mereka ungkapkan. Mereka tidak bisa menahan diri untuk mengingat orang tua mereka di rumah.

"Baiklah," Fandi berdiri sambil memegang obor, tatapannya kembali serius. "Siap-siap, jangan lengah."

Mereka berdiri di empat sudut lingkaran, sementara Kang Roy berdiri di belakang Arief, menunggu aba-aba. Mereka memperhatikan Fandi mulai bergerak. Tangannya menari di udara, seolah menggambar sesuatu yang tidak terlihat. Simbol-simbol itu tampak hidup, membentuk pola di udara.

"Sekarang, taruh ke sekitar boneka," ujar Fandi pelan namun penuh wibawa. "Semua mundur sedikit. Dan jangan panik apa pun yang kalian lihat."

Terpopuler

Comments

Krisna Adhi

Krisna Adhi

/Facepalm/

2025-03-31

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!