Lima hari kemudian, Fandi, Raka, Dimas, Arief, dan Kang Roy berkumpul di depan Gudang Belakang Kos. Mereka berkumpul jam 8 malam, dengan bulan bersinar terang di langit, seperti mendukung rencana aneh mereka malam ini. Namun, suasana "misterius" itu langsung berubah menjadi horor ketika mereka melihat sebuah boneka kayu berjalan seperti manusia mendekat ke arah mereka.
"Rak, Fan... ini... ini apaan?" gumam Dimas sambil menunjuk boneka itu, matanya melotot kaget.
Arief juga berdiri diam seperti patung. Bibirnya bergetar saat dia menggumamkan banyak kalimat tidak percaya. "Ini boneka betulan? Nggak, nggak mungkin. Pasti dikasih mesin kayak robot gitu, atau jangan-jangan udah di pasang remote didalamnya. Kalau nggak, ini cuma trik sulap, kan. Bener, pasti gitu. Aduh serem. Sumpah, ini nggak lucu. Gue nggak mau ikut main-main!"
Kang Roy, yang sudah diberitahu Raka dan sering merasakan hal-hal aneh terlihat lebih tenang, dia hanya menarik napas panjang. "Gue udah dengar dari Raka soal ini... tapi dengar sama lihat langsung tuh beda. Beda banget."
Sementara itu, Raka menyeringai kecil, tangannya terlipat santai. "Robot? Trik sulap? Remote? Kalau emang itu, tunjukkin ke gue dong, Rif. Jangan cuma nebak-nebak. Lo pinter bongkar motor kan, coba bongkar ini."
Raka menantang Arief. Sejujurnya dia juga memiliki perasaan Arief saat pertama melihatnya, tapi dia tidak berani!
Arief segera melompat mundur, "Asu, mana berani gue." Arief langsung melotot ke Raka.
Dimas menarik baju Fandi sambil menunjuk boneka, "Ini beneran?"
Fandi menghela nafas, "kalau nggak?"
Boneka kayu perempuan, Dek Anis berhenti berjalan. Gerakannya masih kaku dan menyeramkan, kepalanya menoleh perlahan. Matanya yang kosong menatap lurus ke udara sambil berkata dengan suara datar, "Halo, Kakak-Kakak, maafin Anis karena ganggu sebelumnya."
"ASU!" Arief langsung melompat ke belakang, bersembunyi di balik punggung Raka. Dimas, yang biasanya lebih santai, malah ngikut melompat ke belakang Arief.
"Sialan, sialan, sialan! Rak, kenapa dia ngomong? Boneka nggak boleh ngomong! Ini melawan hukum alam!" Kata Dimas dengan gerutuan.
Raka mencoba tetap tenang, meskipun wajahnya mulai pucat. "Dek Anis, jangan ngomong tiba-tiba, ya. Mereka nggak siap mentalnya."
Dan dia juga sama seperti mereka. (╥﹏╥)
Dek Anis memiringkan kepala sedikit, seperti anak-anak yang mencoba mengerti. "Oh, maaf, Kak. Anis nggak bermaksud nakutin. Anis cuma pengen bantu."
Kakak ini aneh, bukankah teman-temannya tidak percaya, dia hanya bicara untuk membantunya membuktikan sehingga teman-temannya percaya. Huh!
Sementara itu, Fandi berdiri tenang di depan Dek Anis, ada senyum lucu diwajahnya. Dimas dan Arief tadinya berdiri di dekat Fandi, namun mereka segera melompat kebelakang Raka ketika Dek Anis berhenti di depan Fandi.
"Kenapa kalian nggak ke belakang gue?" Fandi menatap mereka dengan wajah rumit. Jelas mereka dekat dengannya.
"Karena bonekanya berenti di depan Lo, lah! Ngapain juga kita deket-deket. Serem bro, itu boneka kerasukan." seru Arief panik. "Lagian Lo lempeng aja di deketin hantu. Jangan pingsan sambil berdiri ntar. Nggak ada dari kita yang berani angkat Lo disana."
Fandi : ....
Itu tidak salah. Tapi entah kenapa dia merasa ingin memukul seseorang!
Tidakkah mereka teman, dimana solidaritasnya?!!
Kang Roy hanya menggeleng pelan sambil berusaha menenangkan diri. Dia juga terkejut karena fakta Dek Anis berbicara.
Dek Anis kembali bicara, suaranya serak namun memiliki nuansa kanak-kanak yang membuat suasana makin mencekam. "Kakak-kakak nggak usah takut. Anis cuma mau bantuin Kak Raka supaya kalian percaya. Dek Anis juga bisa nunjukin yang lain."
Dimas menelan ludah. "Nunjukin apaan? Jangan-jangan... darah-darah serem gitu?"
"Enggak, Kak. Dek Anis bisa joget TikTok." Lalu boneka itu mulai bergerak seperti tren joget yang biasa dilihat Raka di kamarnya.
Hening. Semua orang terdiam, sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Kampret!" seru Arief sambil memegangi perutnya. "Gue kira bakal makin horor, eh malah joget!"
"Bagus, Dek Anis cocok collab sama K-Pop ini." tambah Dimas sambil tertawa.
Sementara Raka malu, gerakan Dek Anis jelas gerakan yang sering dia lihat dilakukan oleh wanita wanita seksi di tiktok.
Dia tidak bersalah. Memiliki ketertarikan dalam hal itu adalah wajar. Lagipula dia pemuda sehat dan normal!
Namun diperhatikan anak kecil melihat hal itu sedikit...
¯\_( ͡° ͜ʖ ͡°)_/¯
Fandi akhirnya menggelengkan kepala sambil tersenyum tidak berdaya. "Kalian ini bener bener, deh. Tadi takut, sekarang ketawa. Kalian pasti nggak beneran takut sejak awal." Lalu dia menunjuk Dek Anis. "Ngomong-ngomong, kenalin, ini Dek Anis, dia yang ganggu Raka sebulan yang lalu. Kalian pasti masih inget waktu Raka demam 41 tiba-tiba turun 37, kan. Terus dia juga yang ganggu ketuk pintu kosan lima hari yang lalu."
Arief dan Dimas saling pandang sebelum menatap Dek Anis dengan tajam. Meskipun rasa takut masih ada di hati mereka, jika hal itu memang membahayakan teman mereka, mereka akan melakukan apa saja untuk melawannya.
Dek Anis, yang berdiri diam, menundukkan kepala kecilnya. Dia tidak bicara, hanya berdiri diam seperti tidak bernyawa.
Raka, yang menyadari atmosfer berubah tegang, segera angkat bicara. "Weh, jangan begitu, kalian. Dek Anis itu nggak salah." Raka juga mulai menceritakan bagaimana dia bisa diganggu Dek Anis hingga pengalaman tragisnya.
Dimas dan Arief segera menyadari bahwa apa yang dilakukan Dek Anis itu tidak sengaja, dan itu jelas kesalahan Raka dari awal!
Arief dan Dimas saling pandang lagi. Kali ini tatapan mereka lebih tenang, tapi tetap ada rasa waspada.
"Intinya, dia baik?" tanya Dimas dengan tidak yakin.
Fandi yang diam mendengarkan, akhirnya kembali bicara. "Bukan baik, tapi nggak bisa dibilang jahat juga. Dek Anis itu netral. Dia sekarang terjebak di dunia kita. Dan itu bukan salah dia. Makanya kita di sini. Malam ini, gue butuh bantuan kalian supaya dia bisa pergi dengan tenang."
"Ah, karena itu Lo sama Raka mastiin kita ada waktu hari ini buat bantu, tapi gimana caranya?" tanya Dimas.
Fandi menunduk, mengambil sebuah tongkat kayu dari tanah. Dengan gerakan hati-hati, dia mulai menggambar dia lingkaran dengan diameter berbeda di sekitar Dek Anis. Kemudian mulai menggambar kaligrafi kaligrafi indah di antara dua lingkaran itu
"Mudah kok, kita bakar boneka ini," jelas Fandi tanpa menatap mereka. "Tapi tujuannya bukan menghancurkan. Boneka ini sudah menjadi tubuh Dek Anis. Namun kalian juga tau kalau tubuh ini bukan darah dan daging. Menurut apa yang gue pelajari, boneka ini harus dibakar dengan api khusus, dengan begitu jiwanya bisa lepas dari boneka dan pergi ke tempat yang seharusnya."
Butuh waktu lama untuk Fandi menyelesaikan kaligrafinya. Saat menggambar, dia melanjutkan. "Kalau tanya apa yang gue gambar, ini sedikit trik agar tidak melenyapkan boneka dan membuat jiwa yang dilepaskan tidak merasa sakit."
Arief mengerutkan dahi, tatapannya penuh pertanyaan saat melihat Fandi. "Kok lo tahu hal ginian, Fan."
Fandi terdiam sejenak. Dia mendongak, menatap mereka satu per satu. Meski tatapannya sebenarnya biasa saja, mereka merasa ada sesuatu yang berbeda, rasa kesepian. "Yah, cerita lama. Nggak penting juga." Katanya sambil tersenyum, seolah tidak peduli dan melanjutkan menggambar.
Raka mengerutkan kening, dia tidak bisa menahan diri untuk bicara. "Fandi sebenarnya anak indigo. Tapi dia pernah nggak punya temen waktu SMP. Entah mereka takut atau nggak percaya. Pokoknya selama tiga tahun itu Fandi sendirian. Karena itu dia mulai jauhin hal-hal ini."
Dimas dan Arief mengerti seketika. Entah bagaimana ada perasaan sedih dan kasihan di hati mereka, namun mereka tidak bisa menunjukkannya.
Dimas berkata, "Gila, keren banget. Dari kecil udah sakti dong lo, Fan." mencoba membuat lelucon.
"Buat gue sih, kalau Fandi cerita dari awal, gue mungkin nggak bakal nggak percaya juga." Kata Arief sambil mengelus dagunya, seolah berpikir.
Raka mengangguk, "Iya, gue juga. Tapi sekarang gue ngalamin ini. Mana masih ada bukti yang lagi joget tiktok lagi. Gimana sekarang gue nggak percaya."
Fandi menghentikan tangannya. Lalu melihat tiga orang yang dia kenal di kos ini, ada kehangatan dihatinya saat mendengar kata-kata mereka.
"Tenang Fan, mau gimanapun. Kita bakal tetep percaya Lo. Karena kita udah anggap Lo temen kita." Kata Raka dengan senyum lebar. Diikuti Dimas dan Arief yang mengangguk.
Fandi menunduk dan menggambar, dia berusaha menyembunyikan matanya yang basah, "Oke... Makasih."
"Enaknya jadi muda." Gumam Kang Roy menyaksikan interaksi mereka.
Gambar Fandi sudah setengah jadi, Raka, Arief dan Dimas mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Anjir," gumam Raka, mengamati lingkaran dengan simbol-simbol asing yang terukir rapi. "udah seperti mantra sihir di film-film."
Fandi : ....
Bukan seperti lagi. Ini memang mantra sihir!
Setelah Fandi selesai menggambar, dia meregangkan ototnya dan mendekati mereka. "Di belakang Kang Roy ada obor yang belum nyala, kan?" Katanya sambil menunjuk. "Pegang obor itu satu-satu, terus berdiri di empat sudut yang udah gue tandai. Nanti gue kasih aba-aba, taruh obor ke atas boneka tapi jangan sampai menginjak lingkaran atau gambarnya."
Arief, Dimas, dan Raka tidak banyak protes. Mereka mengangguk dan melakukan yang disuruh.
Kang Roy, yang sejak tadi lebih banyak diam dan mengamati, akhirnya buka suara. "Terus tugas gue apa, Fan?"
"Tugas Kang Roy nyalain obor. Tenang aja, Kang. Ini nggak bakal bahaya. Setelah nyalain obor, Kang Roy tolong panggil nama lengkap Dek Anis, ini." Kata Fandi menyerahkan selembar kertas.
Kang Roy melihat nama dengan tiga kata di kertas. Dia tidak banyak bicara, mengangguk dan menunggu giliran.
Dek Anis yang berada di dalam lingkaran berdiri diam tiba-tiba menoleh pelan. Tatapannya kosong, tapi ada sesuatu yang membuat Fandi merasa terhubung. Dia berjongkok di hadapan boneka Dek Anis, menatapnya penuh rasa iba. "Dek Anis," ujar Fandi lembut, "maaf, ya. Tapi kak Fandi mau kirim kamu ke tempat ibu sama ayah. Dek Anis mau, kan?"
Suasana mendadak sunyi. Bahkan dengan mata boneka yang kosong, Fandi bisa merasakan kegembiraan kecil yang terpancar dari anak itu. "Baik, baik. Ketemu papa sama mama," jawab suara lembut itu, penuh antusiasme.
Ketiga pemuda yang belum pernah melihat dunia seperti ini merasa dadanya sesak. Ada rasa pahit yang tidak bisa mereka ungkapkan. Mereka tidak bisa menahan diri untuk mengingat orang tua mereka di rumah.
"Baiklah," Fandi berdiri sambil memegang obor, tatapannya kembali serius. "Siap-siap, jangan lengah."
Mereka berdiri di empat sudut lingkaran, sementara Kang Roy berdiri di belakang Arief, menunggu aba-aba. Mereka memperhatikan Fandi mulai bergerak. Tangannya menari di udara, seolah menggambar sesuatu yang tidak terlihat. Simbol-simbol itu tampak hidup, membentuk pola di udara.
"Sekarang, taruh ke sekitar boneka," ujar Fandi pelan namun penuh wibawa. "Semua mundur sedikit. Dan jangan panik apa pun yang kalian lihat."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Krisna Adhi
/Facepalm/
2025-03-31
1