Beberapa waktu kemudian, Raka akhirnya melihat Fandi duduk di teras sambil memegang segelas wedang jahe. Ada lingkaran hitam yang sangat mencolok di bawah mata Fandi.
"Anjir, ngapain aja Lo, Fan? Item banget itu mata, Apa lo nggak tidur berhari-hari?" kata Raka, sambil bercanda. Namun juga khawatir. Meskipun urusan dek Anis penting, dia tidak ingin melelahkan temannya.
Fandi melihat Raka dengan malas. Dia melambaikan tangannya, memberi isyarat untuk mengabaikan masalahnya. Lalu dia berkata. "Lo mau nanya tentang Dek Anis, kan?" suaranya serak, penuh kelelahan, namun sorot matanya terlihat bersemangat.
Hening, Raka diam. Tidak tau bagaimana menanggapi.
"Tenang aja, gue bantu." Kata Fandi sambil menyeruput wedang jahe di tangannya.
"Tapi Lo keliatan lelah banget. Urusan Dek Anis kapan kapan aja nggak masalah gue." Kata Raka seolah tidak peduli. Lagipula dia tidak merasa terganggu oleh dek Anis sekarang. "Btw, Lo habis ngapain aja. Kelihatan capek gitu. Main cewek ya?"
"Ngawur. Gue nggak suka hal-hal kaya gitu. Dosa." Fandi diam sejenak sebelum berkata, "Gue bantuin temen gue, sambil biasain diri sama hal mistis lagi. Selain itu, gue juga disuruh buat soal ujian anak semester 1 sama dosen. Terakhir, gue masih harus belajar buat ujian lusa. Yah, gue banyak begadang, nggak aneh kalau gue kelihatan capek." Meskipun terlihat tenang, Raka yang mendengarnya langsung merasa capek seketika.
Raka mengangkat ibu jarinya di depan wajah Fandi, seolah memberi penghargaan. "Hebat Lo, Fan. Bisa-bisanya Lo kuat jalanin jadwal sepadat itu."
"Yaelah, biasa aja." Fandi memutar matanya dengan bosan. Meskipun dia memang lelah namun kelelahannya lebih karena temannya yang memberinya lebih banyak pelatihan daripada kegiatan lain. Fandi menghela nafas, "masalah Dek Anis, habis ujian gue aja. Mungkin lima hari lagi. Sama bilang ke Kang Roy dan yang lain, kita butuh bantuan mereka."
Raka mengangguk. "Oke, gue ajak yang lain nanti. Lo tenang aja dan istirahat hari ini, gue nggak bakal kasih Lo tambahan tugas." katanya dengan prihatin.
Fandi menggelengkan kepalanya, dia masih harus mengoreksi beberapa makalahnya, bagaimana dia bisa istirahat.
Raka sedang menyulut rokok saat Fandi minum wedang jahe dengan tenang. Pak Kromo dan Mbak Lili juga tidak mengganggu Fandi seminggu ini, yang membuat Fandi bisa sedikit beristirahat ketika kembali ke kosnya.
Saat ini, suara langkah kaki terdengar mendekat. Arief dan Dimas muncul dari balik sudut teras, berjalan menuju Fandi dan Raka dengan senyum lebar di wajah mereka.
Begitu melihat Fandi, Arief langsung ngakak. "Waduh, Fan, Itu lingkaran hitam di bawah mata Lo mirip banget sama panda. Lagi cosplay, kah?" katanya sambil tertawa hingga memegang perutnya.
Dimas yang mengikuti di belakang Arief juga memperhatikan mata Fandi. Mendengar ucapan Arief, dia ikut menimpali, "Lo kenapa, Fan? Kayak orang kepikiran gara-gara batal nikah aja." tanya Dimas sambil mendekat, dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
Fandi hanya mengerutkan kening, berusaha bertahan dari ledekan mereka. Tapi dengan suara serak dan wajah lelahnya, dia terlihat tidak meyakinkan.. "Gue cuma kurang tidur."
Raka segera angkat suara, membela Fandi. "Udahlah, Fandi emang lagi sibuk banget akhir-akhir ini."
Arief dan Dimas duduk di sebelah Fandi, ekspresi mereka penuh rasa ingin tahu.
"Yaudah, serius," kata Arief, mengambil sebatang rokok milik Raka dengan cara yang akrab lalu menyalakannya. Setelah mengembuskan asap pertama, dia mulai bertanya, "Lo ngapain aja sampe kayak gini? Nggak yakin gue kalau cuma belajar."
Fandi mendesah panjang, seolah sudah lelah menjawab pertanyaan yang sama berulang kali. "Belajar emang nggak seberapa capek. Yang bikin kayak gini tuh karena gue bantuin temen. Anggap aja gue ikut kursus keberanian. Ngadepin hal-hal yang nguras mental dan fisik."
Dimas langsung ngakak. "Njir, temen Lo kejem amat." Dia juga menyalakan rokok, lalu menepuk bahu Fandi. "Udah lah, mau latihan sekeras apa juga, yang penting jangan lupa makan enak."
Arief mengangguk setuju. "Bener, Fan. Lo juga mesti tidur yang bener. Jangan sampai mati muda, banyak kasusnya." Dia diam sejenak, lalu menatap Fandi sambil menyeringai. "Apa Lo mau ikut gue olahraga rutin? Ke gym gitu, biar tambah bugar."
Fandi melongo. Tubuhnya sudah hampir ambruk karena kelelahan, dan anak ini malah nyuruh dia ke gym?
"Sial, Lo harusnya nyuruh gue istirahat, bukan malah ngajak olahraga."
"Itu bener," timpal Raka, diikuti anggukan Dimas.
Arief menggaruk belakang kepalanya. "Iya, iya. Maaf. Siapa tau lo mau."!
Fandi hanya menggeleng pelan. Meski barusan nyaris kehilangan kata-kata, setidaknya dia merasa sedikit terhibur oleh mereka.
"Ngomong-ngomong, gue liat akhir-akhir ini si Raka nyariin lo. Ada apa?" tanya Dimas, mencoba mengalihkan topik.
Arief langsung menyeringai lebar. "Jangan bilang Raka ngejar Fandi. Ish, Fan, hati-hati sama dia. Selama cakep, baik laki-laki atau perempuan, diembat semua sama dia."
"Nggak usah aneh." Raka menyikut lengan Arief pelan, lalu menatap Dimas dan Arief dengan ekspresi misterius. "Kalau Lo mau tahu, lima hari dari sekarang, ketemu di gudang belakang. Kang Roy juga bakal ada."
Dimas dan Arief saling bertukar pandang. Ada rasa penasaran yang jelas di mata mereka. "Oke," jawab mereka serempak, meskipun ekspresi mereka masih penuh tanda tanya.
Fandi hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepala. Raka benar-benar suka bikin orang senam jantung.
Yah, mengingat dia dan Raka sebelumnya sudah merasakan debaran ketakutan karena hantu, sepertinya tidak ada salahnya membuat Arief dan Dimas ikut merasakannya juga.
——+++——
Pojok Penulis :
Yang mau kenalan sama Fandi dkk, yuk sini merapat...
Itu untuk penghuni Kos ya~
Buat setan dan penjaga (Khodam) Fandi juga ada. Ini dia...
Apa ada yang kurang? \=^-^\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Husein
kang Roy sama Bu asih
2025-02-17
1