Chapter 12 : Selamat Tinggal?

"Sekarang, taruh obor di sekitar boneka," ujar Fandi tegas.

Mereka bergerak sesuai instruksi, menempatkan obor mengelilingi boneka. Cahaya api yang kecil namun stabil mulai muncul disekitar lingkaran ritual itu.

Mereka semua tampak heran. Bagaimana bisa, jelas tidak ada sumber api.

"Mundur. Agak jauhi lingkaran. Jangan membuat suara apa pun yang terjadi." Kata Fandi sambil menarik nafas dalam-dalam, "gue butuh konsentrasi."

Mereka mengangguk, kemudian mereka seperti melihat sesuatu yang aneh. Tangan Fandi mengeluarkan cahaya samar. Cahaya itu bewarna biru muda yang lembut dan tenang. Namun, mereka tidak bisa bertanya sekarang.

"Kang Roy," ujar Fandi tanpa menoleh, suaranya tetap tenang. "Tolong bakar obornya, ada celah di lingkaran dimana api tidak terbakar, lewat situ saja. Sebelum keluar dari lingkaran, panggil nama lengkap Dek Anis tiga kali."

Kang Roy mengangguk paham. Dia mendekati lingkaran, lalu menyalakan obor dengan gerakan cepat. Api menyala dengan suara krek kecil yang terdengar jelas di malam yang sunyi.

"Novida Anis Zakia Putri." Kang Roy menyebut nama itu tiga kali sebelum keluar dari lingkaran.

"Makasih Kang." Kemudian Fandi melihat teman-temannya yang menatap kosong ke kobaran Api dengan mata tajam.

"FOKUS!" Fandi menarik akal sehat mereka. Dia hampir saja menghentikan ritual.

Ritual yang dia lakukan adalah pelepasan jiwa. Meskipun tidak ada di dalam lingkaran mantra, jika sebuah tubuh memiliki pikiran kosong, jiwa orang itu bisa ikut tertarik keluar. Jika sudah seperti itu, mereka akan sama saja seperti meninggal.

Tangan Fandi kembali bergerak di udara, seperti melukis sesuatu yang tidak terlihat. Kali ini, simbol-simbol yang dia gambar dengan cahaya semakin nyata. Sebuah tulisan membentuk pola melingkar yang rumit bercahaya.

Perlahan, api di sekitar boneka mulai membesar, tetapi tidak merembet keluar dari lingkaran. Boneka itu terlihat lebih bersih dari aslinya, seperti boneka yang baru dipoles.

Dek Anis, atau lebih tepatnya arwahnya, perlahan muncul dari boneka itu. Sosoknya tampak seperti gadis kecil berusia tujuh tahun, mengenakan pakaian yang lusuh, dengan rambut panjang yang terlihat sedikit kusut. Namun, wajahnya sama sekali tidak menyeramkan, melainkan penuh kepolosan.

"Aku akan ketemu Papa sama Mama?" suaranya terdengar lirih, tapi jelas.

Fandi tersenyum kecil. "Iya, Dek. Kak Fandi udah siapin jalan buat kamu. Nanti kamu ikutin itu untuk ketemu mereka, nggak usah takut lagi, ya."

Arief, Dimas, Raka, dan Kang Roy hanya bisa memandang dengan perasaan campur aduk antara takjub dan sedih. Sosok kecil itu tampak seperti anak pada umumnya, namun dia memiliki tubuh transparan dan melayang-layang.

Dek Anis menatap mereka semua, lalu tersenyum polos. "Terima kasih… semuanya baik banget sama Anis." Dia berhenti sejenak, seolah mencoba mengingat sesuatu. "Maaf kalau Anis ganggu kemarin, Anis cuma kesepian, sekarang Anis akan ketemu Papa dan Mama, jadi nggak kesepian lagi."

Raka yang biasanya santai tampak memalingkan wajah, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memerah. Dimas mengepalkan tangan erat-erat, sementara Arief menghela napas panjang, tidak mampu berkata apa-apa.

Cahaya di sekitar Dek Anis mulai memudar, perlahan membentuk butiran-butiran kecil seperti kunang-kunang yang beterbangan. Sebelum benar-benar hilang, dia menoleh ke Fandi sekali lagi.

"Kak Fandi, hati-hati, ya. Yang nggak baik nggak suka sama kakak…" ucapnya pelan, namun nadanya terdengar serius meski dia tersenyum.

Fandi mengerutkan kening, tapi masih mengangguk pelan. "Iya, terimakasih. Kak Fandi hati-hati. Kamu juga, Dek Anis. Selamat tinggal."

Dengan ucapan itu, sosok Dek Anis menghilang sepenuhnya, meninggalkan keheningan yang berat di malam itu. Lingkaran yang tadinya bercahaya mulai meredup, api pun padam seolah tertiup angin. Hanya boneka kayu utuh yang tersisa di tengah-tengah lingkaran.

"Kelar," Fandi menghela napas panjang, lalu berbalik menghadap yang lain. "Makasih, gue nggak bisa ngelakuin ini tanpa kalian."

Namun, tak ada yang langsung merespons. Mereka masih sibuk dengan pikiran masing-masing, mencerna apa yang baru saja mereka saksikan.

Kang Roy akhirnya memecah keheningan. "Fan, kenapa Lo minta gue yang manggil nama Dek Anis tadi?"

"Ini karena Kang Roy tinggal disini. Meski kang Roy nggak kenal Dek Anis, Kang Roy dianggap sebagai penghuni lama disini dan harus mengenal keluarganya. Untuk membuka jalan ke alam lain, kita harus memanggil keluarga keluarga Dek Anis. Panggilan ini menggunakan nama Dek Anis sebagai media. Ketika keluarganya dengar, mereka akan datang membuka jalan. Mungkin Kang Roy nggak kenal orang tua Dek Anis, tapi Kang Roy tau keluarga lainnya yang berhubungan darah." Jelas Fandi.

"Begitu. Aku memang kenal Mbak Sukmo, kakek Dek Anis. Dia orang tua yang baik." Kata Kang Roy membenarkan.

Arief tiba-tiba bicara dengan nada riang.. "Serius, Fan. Lo keren banget!"

"Kayak film." Kata Raka.

Dimas menimpali, "Berasa kaya efek editan kalau gue nggak lihat secara langsung."

"Tapi beneran. Kalau gue nggak lihat sendiri, gue pasti nggak percaya hal ginian. Kalau lo butuh tugas mudah gini lagi, bilang aja. Kita pasti bakal bantuin lo." Kata Raka dengan kagum. Dimas dan Arief mengangguk.

Fandi tersenyum kecil, tapi sorot matanya penuh kehati-hatian. Ucapan terakhir Dek Anis tadi. Yang nggak baik nggak suka sama kakak… kalimat itu bergaung di kepalanya.

"Semua udah beres. Kang Roy, sebagai perayaan, gimana kalau Kang Roy masak kayak biasanya?" Raka memutus pikiran Fandi dengan nada senang. Raka sudah kembali ke penampilan biasanya, ceria dan berlebihan, menyeringai penuh kemenangan.

Kang Roy, yang sedang sibuk membereskan barang-barang, menoleh dengan alis terangkat. "Masak? Gue nggak pernah masak buat kalian, lho. Selain waktu Raka sakit kemarin."

Suasana mendadak hening. Semua orang saling pandang dengan bingung.

Raka memiringkan kepala, terlihat seperti baru menyadari sesuatu yang penting. "Eh, sebentar, Kang Roy. Kalau selama ini bukan Kang Roy yang masak sarapan buat kita, terus siapa dong?"

"Hah?" Kang Roy menatap mereka semua dengan kebingungan. "Gue cuma naruh bahan makanan sore-sore gini. Pagi-pagi gue harus langsung ke sawah, mana sempet masak."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Tapi kali ini, suasananya terasa lebih tegang.

Raka perlahan menoleh ke Fandi, matanya melebar. "Fan… Siapa yang masakin kita?" Nada suaranya terdengar penuh kepanikan, tapi menunjukkan bahwa dia yakin Fandi tahu jawabannya.

Fandi mendesah, terlihat sedikit ragu sebelum akhirnya menjawab, "... Namanya Mbak Lili. Hantu perempuan dengan gaun kuning."

Semua orang langsung terdiam. Udara di tempat itu tiba-tiba terasa dingin.

"Anjir," desis Dimas, memecah keheningan. Wajahnya tampak tidak percaya. "Jadi… kita dimasakin hantu selama ini?"

"GG," gumam Arief sambil melongo. "Ada hantu level Chef yang masakin kita."

Raka menatap Fandi dengan penuh kecurigaan. "Fan, gue inget Lo pernah cerita tengang hantu cewek di dapur. Apa ini..."

Namun, pikiran mereka segera di alihkan ketika melihat ekspresi Kang Roy berubah drastis. Matanya melebar, dan ada campuran ketidakpercayaan sekaligus kegembiraan di wajahnya.

"Lili? Lo bilang namanya Lili, Fan?" tanya Kang Roy dengan suara sedikit gemetar, tapi penuh antusiasme.

Fandi mengangguk pelan, wajahnya mencerminkan keseriusan. "Iya, Kang Roy. Itu Mbak Lili... Dia bilang dia kakaknya Kang Roy. Katanya, dia meninggal muda gara-gara kecelakaan."

Mata Kang Roy memerah, dipenuhi kesedihan yang mendalam. "Iya, bener, Fan. Mbak Lili emang kakak gue. Dia suka banget pakai rok kuning, itu warna favoritnya. Dia juga hobi masak. Dia pernah bilang pengen banget ikut Master Chef sebelum..." Kang Roy berhenti, suaranya sedikit bergetar. "Sebelum kejadian itu."

"Turut sedih, Kang," ujar Dimas dengan suara pelan, memecah kesunyian. Yang lain segera mengikutinya, menyampaikan belasungkawa.

Kang Roy mengangguk kecil, mencoba menenangkan mereka meskipun matanya masih basah. "Nggak apa-apa, gue cuma nggak nyangka kalau dia masih di sini dan malah masakin buat anak kos. Dulu kos ini sebenernya mau dikasih bapak ke dia. Tapi karena dia pergi duluan, akhirnya jatuh ke gue. Kalau bukan karena pensiun, mungkin cuma istri gue yang jagain kos ini."

Dia menatap Fandi dengan sedikit khawatir. "Tapi, Fan, kalau Mbak Lili masih di sini, apa itu berarti dia belum pergi ke dunia lain?"

Fandi menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil. "Bukan gitu, Kang. Ini bukan masalah dia nggak pergi. Sejak manusia lahir, mereka punya sepasang jiwa dalam tubuh mereka. Kalau di kebiasaan Jawa, salah satu jiwa itu dikenal mendiami ari-ari, yang sering dikubur dekat rumah, orang Jawa menyebutnya "Batur" yang artinya teman. Jiwa ini sebenarnya adalah jiwa lain bayi yang lahir, atau doppelganger? Gue lupa sebutannya. Pokoknya mirip itu. Lalu jiwa itu juga tumbuh didunia yang tidak kasat mata. Mereka berkembang seperti jiwa dalam tubuh hidup. Lalu saat manusia meninggal, arwah ini berhenti berkembang. Oh itu, jin qorin sebutannya, Kang."

Mendengar itu, Kang Roy menghela napas lega. "Syukur kalau gitu. Berarti Mbak gue nggak kenapa-napa."

Namun, Dimas langsung duduk di tanah sambil memegangi kepalanya. "Gue nggak tau harus bangga apa takut. Tapi... masakannya enak, sih."

"Enak apanya?" seru Arief, mulutnya setengah terbuka karena syok. "Lo masih bisa makan dengan tenang setelah tau fakta ini? Gue bahkan nggak tau gue harus ketawa apa teriak sekarang!"

Fandi menghela napas panjang sambil menatap teman-temannya. "Yah, anggap aja Mbak Lili masih pengen hidupin impian terakhirnya. Lagian kita udah sering makan dan baik-baik aja."

Raka melihat Fandi dengan tidak percaya. "Gila. Cuma anak indigo kali yang berani makan setelah tau itu dari hantu." Lalu dia menghela nafas, "Ini bukan hal normal, Fan. Mana berani kita."

Fandi mengangkat bahu ringan. "Sejak pindah ke kos ini, apa sih yang normal."

Kang Roy menepuk pundak Arief dengan santai. "Udah lah, nikmatin aja. Lagian, kapan lagi kalian bisa makan masakan level profesional, coba? Meski dari hantu" Dia lalu menoleh ke Fandi dengan senyum tipis. "Fan, kalau Mbak Lili masak lagi, panggil gue, ya. Gue juga pengen cobain masakannya."

Semua orang saling pandang, bingung harus tertawa atau merinding. Namun akhirnya, tawa kecil pecah di antara mereka, meskipun terselip rasa ngeri di baliknya.

Malam itu, mereka sepakat untuk tetap menikmati masakan Mbak Lili.

Lagipula masakannya enak. Siapa yang tahan nolak!

—————

Keesokan paginya, Raka muncul di depan pintu kamar Fandi dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Wajahnya kusut seperti habis dikejar mimpi buruk seperti yang pernah dilihat Fandi.

Fandi : ....

Sumpah, ini masih pagi.

Fandi merasa sakit kepala.

"Lo kenapa lagi, Rak?" tanya Fandi sambil mengerutkan kening, bukan kesal, hanya bingung.

Raka menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada kesal. "Sialan, Fan. Kalau semalam lo nggak bahas jin qorin, gue mungkin udah lari keluar kos ini sambil teriak-teriak. Bisa-bisanya laptop gue nyala sendiri tengah malam! Gue kira kena angin atau apa, tapi ternyata Dek Anis masih nongkrong di kamar gue! Asu, gue nggak bisa tidur lagi, padahal pagi ini gue ada kelas."

Fandi hanya tertawa kecil, menahan diri agar tidak membuat Raka semakin kesal. Meski kos-kosan ini penuh kejadian aneh, dia tidak bisa menyangkal bahwa ada sesuatu yang menghibur dari kekacauan ini.

Namun, jauh di lubuk hati, Fandi berharap tidak ada kejadian yang lebih parah dari ini. Karena, seberapa pun serunya, dia masih ingin hidup dengan tenang.

Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!