Chapter 17 : Dikejar-kejar

Fandi dan yang lainnya baru saja melangkah beberapa meter jauhnya, ketika mereka dihentikan oleh tiga sosok yang muncul dari langit.

Tiga pocong dengan kain kafan yang berbeda warna, Putih, merah muda, dan hijau, muncul di depan mereka. Kain kafan mereka bergoyang-goyang, menambah kesan menyeramkan. Namun Raka, Arief, dan Alya tak bisa menahan tawa kecil melihat kain kafan mereka yang cerah dan mencolok.

Raka yang rasa takutnya dikalahkan oleh kelucuan berbisik ke Arief, "Pocong, tapi kok lebih kayak cosplay gitu ya? Gue kira pocong itu harusnya serem, kenapa mereka malah pake kain warna-warni gini?"

Arief tertawa kecil, terbatuk, mencoba menyembunyikan senyumnya. "Iya, sih. Kain merah muda dan hijau... Kayak warna di lagu balonku nggak, sih!"

Alya, yang sedikit ketakutan, tetap merasa aneh melihat penampilan pocong-pocong ini. "Kenapa mereka pakai warna-warna gitu ya? Apa ini fashion di dunia lain?"

Fandi hanya mendengus, matanya tajam menatap ketiga pocong itu. Mereka bukan ancaman, tapi tetap saja harus hati-hati. Blue berjalan perlahan di belakang, memerhatikan dengan penuh perhatian.

Ketiga pocong itu bergerak maju dan bersuara serempak, dengan suara serak dan seram.

Pocong Putih: "Siapa yang berani melintasi jalan ini? Untuk bisa lewat, jawab teka-teki kami."

Raka, Arief, dan Alya hanya saling memandang dengan cemas. Tapi Fandi menatap tiga pocong itu dengan tajam. Dia menghitung waktu dan mengawasi sekitar.

Pocong Merah Muda memiliki wajah lengkap namun terlalu pucat, dia tersenyum lebar, meski terlihat aneh. "Teka-teki pertama! Sapi sapi apa yang jago kaRate?"

Semua terdiam. Fandi melirik ke arah Raka dan Arief yang kebingungan. Raka memutar otak, tapi Arief malah tertawa kecil.

Raka berpikir keras, tapi Arief malah tertawa kecil. "Sapi yang punya sabuk hitam?"

Alya berusaha menebak juga. "Sapi yang dilatih di dojo?"

Pocong Merah Muda tertawa seram. "Salah! Jawabannya, Sapi-tarung!"

Semua terdiam. Raka dan Arief saling menatap, mencoba mencerna, lalu langsung memegangi kepala mereka. "Astaga, ini jokes bapak-bapak banget!"

Semua terdiam kembali, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Raka, Arief, dan Alya saling melirik dengan pemahaman, mereka sepertinya akan menghadapi joke bapak-bapak garing lagi!

Mereka hampir melupakan bahwa mereka masih dihadang oleh pocong-pocong ini.

Pocong Hijau: "Teka-teki kedua! Buah, buah apa yang paling receh?"

Fandi menghela napas. "Buah Receh?" dia tidak bisa memikirkannya.

Arief menebak. "Buah mengkudu? Buah Khuldi."

"Ini anak ngawur, Buah Rambutan, kan?" kata Raka.

Pocong Hijau tertawa lagi. "Salah! Jawabannya, Buah ha ha ha ha!"

Mereka semua langsung meringis. Alya bahkan menepuk dahinya, "Aduh, kenapa nggak kepikiran ke sana!"

Pocong Putih: "Teka-teki terakhir! Pisang pisang apa yang bisa terbang?"

Arief langsung berbisik ke Raka, "Pasti ini plesetan."

Raka mencoba berpikir keras. "Pisang pesawat? Pisang jet?"

Alya menebak juga. "Pisang yang dilempar?"

Pocong Putih tertawa semakin kencang. "Salah! Jawabannya, Pisang Gorila!"

Fandi mengerutkan kening. "Apa hubungannya!?"

Pocong Putih menjawab dengan bangga, "Karena Pisang Gorila... TERBANGun di pagi hari!"

Seluruh kelompok langsung ingin mundur saja. Raka memegangi kepalanya seolah tidak menerima apa yang dia bayangkan. "Tolong, itu lebih serem daripada hantunya!"

Fandi hampir tidak bisa menahan diri lagi ketika melihat beberapa hantu patroli yang mendekat.

Selain itu, Teka-teki itu jelas-jelas hanya lelucon konyol dari hantu kurang kerjaan. Akhirnya, dia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah jimat emosi yang terlipat. Jimat yang sudah disiapkannya untuk situasi seperti ini. Dengan suara pelan, dia mengucapkan mantra yang membuat jimat itu berkilau.

Jimat ini digunakan untuk mengeluarkan emosi dari sebuah objek. Bahkan jika benda itu merupakan benda mati, mereka masih akan bicara dengan benda ini. Kebetulan jimat yang dikeluarkan Fandi adalah jimat kesedihan.

Sekejap, ketiga pocong itu tiba-tiba terhenti. Air mata mereka mengalir deras, tawa mereka berubah menjadi tangisan keras yang menggetarkan seluruh udara di sekitar mereka. Mereka terhuyung, terjatuh di tempatnya, tak bisa bergerak. Bahkan tubuh mereka mulai bergetar, jimat Fandi benar-benar mengendalikan setiap emosi mereka.

Raka melihat dengan takjub dan terkejut, "Apa yang lo lakuin, Fan?!"

Fandi menatap ketiga pocong yang emosinya campur aduk, entah menangis dan tertawa bersamaan itu dengan tenang. "Kita bahas nanti, udah nggak ada waktu lagi. Kita harus cepet."

Namun, tindakan Fandi itu tidak hanya membuat pocong-pocong itu terhenti. Beberapa hantu petugas patroli yang mendekat jelas mengenali tindakan Fandi, dengan ekspresi yang semakin mengerikan. Mereka berteriak, menyadari siapa yang mereka hadapi.

Salah satu hantu Petugas berteriak. "Buronan! Buronan Fandi Cakra Nur, terlihat! Cepat Tangkap!"

Fandi merasakan darahnya berdesir dengan cepat. Tanpa pikir panjang, dia segera memberi isyarat kepada yang lain untuk berlari.

Fandi mengambil langkah sambil berteriak. "Cepat, lari! Jangan berhenti!"

Mereka berlari sekencang mungkin, melewati lorong kabut dan kabut tebal yang mulai menyelimuti jalan di depan mereka. Raka, Arief, Alya, dan yang lainnya berlari dengan panik, sementara Fandi masih terus mengikuti dibelakang mereka. Blue memimpin diikuti oleh Raka, Arief dan Alya, Fandi menjaga mereka di bagian paling belakang.

Alya, Raka, dan Arief berlari terburu-buru melewati jalan setapak yang dipenuhi kabut, saling menghindar dari cabang-cabang pohon yang tiba-tiba muncul. Di belakang mereka, langkah hantu petugas patroli semakin mendekat, terdengar berat dan terputus-putus, seolah-olah mereka memang sengaja diperintahkan untuk mengejar tanpa peduli waktu.

“Aduh, gimana sih, gue beneran gak ngerti teka-teki tadi!” Raka terengah-engah, matanya melirik Alya yang berlari di sampingnya.

“Aduh, jangan dipikirin itu! Itu pasti cuma lelucon pocong kurang kerjaan,” Alya menjawab, meskipun napasnya juga mulai memburu. Dia melirik Arief yang berada di depan.

“Ya, betul itu, yang gue pikirin sekarang adalah gimana caranya kita selamat!” Arief balas dengan suara tenang, tampak paling bugar diantara yang lainnya. “Hantu itu masih di belakang kita, apa mereka nggak akan nangkep kita kalau kita ngasih tebakan kaya pocong tadi!”

Raka menoleh ke belakang juga, dan terlihat wajah hantu patroli yang pucat, dengan mata yang kosong dan wajah kaku di kejauhan, tapi semakin dekat. Dia berusaha menenangkan diri, walaupun napasnya sudah ngos-ngosan.

“Mulai nih anak. Mana bisa sama, yang ada kita bakal ketangkap sama mereka.” Raka tertawa canggung, mencoba mengusir rasa paniknya. “Rasanya kayak dikejar-kejar mantan yang gak terima putus, nih.”

Alya yang mendengar itu meliriknya dengan geli. “Jangan-jangan Kak Raka malah lebih takut sama mantan daripada hantu.”

Raka tertawa lepas. “Kenyataannya. Mendingan gue mending dikejar hantu, khususnya pocong yang tadi daripada dikejar mantan!”

"Kalau pocong kaya tadi sih, gue juga mending itu." Sahut Arief sambil tertawa geli.

Mereka tertawa sambil berlari. Namun mata mereka masih waspada.

“Gue rasa, daripada mikirin mantan, mendingan kita nyari jalan keluar dulu, deh,” Arief menyarankan dengan serius, meski senyum masih terukir di wajahnya. “Kalo lo berdua terus bercanda, kita malah yang jadi target hantu dibelakang.”

Namun, seiring dengan tawa mereka yang mengalir, langkah kaki hantu semakin jelas terdengar, dan tiba-tiba suara berderak terdengar tepat di belakang mereka.

“Ayo, buruan!” Fandi mengingatkan agar mereka harus kembali fokus.

Mereka bertiga berlari lebih cepat, namun tawa dan canda masih menggema di antara mereka, seolah-olah kebersamaan itu memberi mereka sedikit kekuatan untuk menghadapi bahaya yang ada.

"Belok kanan!" perintah Fandi tiba-tiba. Teman-temannya mempercayai Fandi dan segera berbelok. Hanya Blue yang mengetahui arah yang mereka tuju, melotot kaget.

"Fan, lo gila mau kesana?" Kata Blue penuh keraguan. Membuat tiga orang itu kebingungan.

Fandi hanya mengangguk. "Tenang, gue tahu apa yang gue lakuin."

Setelah berbelok, Fandi yang ada di paling belakang melemparkan jimat. Seketika pandangan para petugas patroli terhalang. Disisi Raka dan yang lainnya, mereka juga tidak lagi melihat hantu yang mengejar mereka. Mereka mendesah lega, seolah bahaya telah berlalu. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Mereka tiba-tiba terhenti saat melihat seorang hantu nenek tua melayang di depan mereka.

"Ada perlu apa manusia ke Hutan Bayangan ini?" suara nenek itu terdengar seram, menggelegar di udara.

Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!