"Fan?" Raka menghentikan gerakannya dan menatap Fandi dengan kebingungan. Fandi sendiri merasa sangat kalut. Dengan cepat, dia pergi ke kamarnya.
Sudah lima tahun, tapi dia masih memiliki benda-benda ini.
Fandi kembali ke kamar Raka dengan kertas kuning transparan dan Kuas kayu yang indah. Bristle kuas itu berwarna kuning keemasan yang sangat memukau.
Tanpa memberi penjelasan apapun, Fandi mulai menulis di atas kertas itu. Lebih tepatnya, dia menulis beberapa ayat dari Al-Qur'an.
"Orang Buddha biasanya berbicara tentang karma dan pahala, mungkin ada kaitannya dengan Taoisme atau ajaran sejenisnya, orang Kristen atau Katolik menggunakan rosario atau Alkitab untuk pengusiran setan, tapi kebetulan gue orang Muslim. Gue tahu ruqyah atau ritual-ritual kyai itu benar-benar efektif, tapi itu bukan solusi masalah Lo. Karena gue nggak bisa gunain teknik dari kepercayaan atau agama lain. Jadi gue nemuin cara yang sejalan sama agama gue." Jelas Fandi sambil menulis.
Setelah selesai menulis, Fandi melipat kertas itu dengan tenang dan memberikannya kepada Raka. "Bawa ini kemanapun lo pergi. Kalau warna kertasnya berubah, segera datang ke gue."
Fandi menatap Raka yang kebingungan dengan serius. "Lo baru aja menerima banyak aura negatif dari boneka Dek Anis. Karena sekarang lo makhluk hidup yang bawa aura negatif, bakal banyak mahluk gaib yang tertarik sama lo. Apa yang gue kasih ke lo bisa mengurangi dampak itu."
Raka terdiam sejenak, matanya terbuka lebar. "Hah?! Aura negatif? makhluk gaib? Fan... maksud Lo apaan?" Raka masih merasa bingung, tetapi mencoba mencerna apa yang baru saja dijelaskan Fandi.
Melihat semua tindakan Fandi, baik Pak Kromo maupun Dek Anis tampak terkejut dan ketakutan. Mereka tidak yakin dengan identitas Fandi yang sebenarnya.
Fandi sepertinya merasakan sesuatu. Dia menatap dua hantu yang ada di ruangan itu dengan senyum kecut. "Sebenarnya, gue udah sering berurusan sama hal-hal semacam ini, membuat jimat, mengusir hantu, menangkap hantu. Tapi waktu SMP, banyak anak yang jadi ketakutan dan menjauh karena kemampuan gue, dan yah, gue jadi nggak punya teman. Sejak saat itu, gue lebih milih mengabaikan hal-hal kayak gini dan berusaha hidup normal. Lucunya gue berhasil bertahan lima tahun terakhir." Fandi menyentuh kepala boneka Dek Anis yang sekarang ada di lantai. "Tapi sekarang, gue nggak bisa diem aja. Meski agak takut, gue harus bantu. Soalnya ini berbahaya dan merugikan orang lain."
Raka masih terheran-heran, menatap Fandi dengan tatapan campur aduk. "Lo udah terbiasa sama hal kayak gini? Gila, gue nggak nyangka... Gue pikir lo cuma cuma bisa lihat hantu. Gue nggak nyangka lo ngerti soal dunia mistis kayak gini. Beneran deh, jangan menilai makanan dari bungkusnya."
Fandi tersenyum kecil. "Jangan pakai peribahasa yang aneh-aneh. Sekarang, masalah Dek Anis harus diselesaikan. Gue nanya ke temen yang lebih ngerti dulu." Fandi membuka ponselnya dan mengirim pesan.
"Lo punya temen orang pinter?" tanya Raka penasaran.
"Hmm, bukan sih," kata Fandi. "Dia bukan dukun, tapi dia ngerti soal barang-barang kayak gini. Yang jelas, giok itu pasti masih ada di sekitar Dek Anis. Mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa Dek Anis terikat dan nggak bisa keluar dari boneka ini."
Raka menggosok telapak tangannya dengan tatapan licik, "Hehe, jadi dengan begini kita bisa balas dendam, kan, Fan?"
Fandi tersenyum kecil. "Mungkin," jawabnya singkat.
Setelah beberapa pesan singkat, Fandi mengetahui kalau masalah itu ada pada giok yang diceritakan Pak Kromo. "Kayanya kita harus cari giok itu dulu." Kata Fandi sambil menghela nafas.
Raka mengerutkan kening, "gimana kita tau dimana giok nya."
"Giok..." gumam boneka kecil itu, sepertinya sedang mengingat sesuatu. Dek Anis kemudian mendekati Fandi dan menyerahkan pedang kayu yang ada di pinggangnya. "Ini, ini, giok di sini," katanya dengan ceria.
Fandi terkejut, memang, aura negatif pada pedang kayu ini lebih kental daripada aura yang ada di tubuh boneka, tapi dia tidak menyangka kalau giok itu akan ada. Fandi menerima pedang kayu itu dengan tenang.
Melihat Fandi membaca pesan cukup lama, Raka tak kuasa menahan rasa penasaran. "Gimana sekarang, Fan?" tanyanya.
Fandi meletakkan pedang kayu itu di telapak tangannya yang terbuka, "Kata temen gue, giok nya nggak boleh langsung dihancurin. Kita harus nemuin rambut, kuku, atau barang pribadi lain di sekitar giok itu. Setelah itu, kita bakar barang itu. Kalau giok pecah atau hancur, artinya kita berhasil."
Raka terdiam, memperhatikan pedang kayu yang ada di tangan Fandi dengan seksama. "Oke, ayo cari."
Setelah beberapa saat memeriksa pedang kayu itu dengan hati-hati, mereka akhirnya menemukan mekanisme yang mencurigakan. Mereka memutar gagang pedang, dan sebuah celah terbentuk. Dek Anis mendekat dan menekan ujung tajam pedang kayu dengan jari kayunya. Pedang itu terbuka, dan di dalamnya ada giok hitam berbentuk seperti telur merpati.
Mereka melihat banyak helai rambut yang berbeda di sekitar giok itu.
Raka memiliki wajah hijau dan terlihat mual, "Bangsat, jijik gue njir. Masih ada aja guna-guna semacam ini. Lo sering berurusan sama hal ini dulu, Fan"
"Yah, biasain aja," kata Fandi, menatap rambut-rambut itu. "Sekarang kita harus bakar potongan rambut ini. Ini akan menghilangkan keberuntungan yang pernah diambil oleh orang yang mengikat Dek Anis dengan giok ini. Sebagai balasannya, kesialan mereka akan meningkat. Selain itu, kata temen gue, giok ini juga yang mempengaruhi kejahatan, yang bikin Lo sakit parah kemarin, Rak."
Mereka membawa rambut itu keluar, dan Fandi menyalakan api dengan hati-hati untuk membakar helai-helai rambut tersebut. Ketika api membakar rambut itu, mereka merasakan sesuatu yang berubah di atmosfer sekitar mereka, seolah beban yang terasa begitu berat perlahan menghilang.
Klik Klik Klik
Giok hitam retak dan hancur perlahan-lahan menjadi butiran pasir.
Di kota lain, seorang pria tua tiba-tiba terbangun saat ini. Tapi karena tidak memiliki alasan yang jelas, dia tertidur lagi. Beberapa hari kemudian, berita kebangkrutan perusahaan terkemuka XX tiba-tiba menyebar, pria tua itu meninggal karena tertabrak mobil. Bahkan sampai kematiannya, dia tidak tau langkah mana yang salah. Keluarga mereka berantakan dan mereka dikejar-kejar oleh milyaran hutang.
Tentu saja ini untuk nanti, sekarang, Raka bisa dengan jelas merasakan bahwa tekanan disekitar mereka perlahan-lahan menjadi jauh lebih lancar.
"Giok nya hancur. Kita berhasil?" tanya Raka.
Fandi mengangguk, "Kurang lebih." Dia melirik Dek Anis sebelum menghela napas dalam hati. Kemudian, Fandi pamit ke kamar, sementara Dek Anis kembali menonton Hamtaro. Entah karena kisah Dek Anis yang menyedihkan atau karena mereka berhasil menyelesaikan masalah giok itu, Raka tidak mempermasalahkan Dek Anis yang tetap tinggal di ruangannya.
Keesokan harinya, Kang Roy yang merasa gudang terasa lebih nyaman dari sebelumnya datang untuk bertanya kepada Raka, yang kebetulan sedang minum kopi di teras. "Rak, apa belakangan ini ada hal aneh terjadi? Kok rasanya gudang lebih nyaman ya?"
Raka tidak menyembunyikan apa pun dan menjelaskan semuanya dengan jujur. Gangguan di kos-kosan saat malam hingga kisah tragis Dek Anis.
Kang Roy mendengarkan dengan serius, lalu menghela napas berat. "Ternyata itu yang terjadi. Lalu, di mana Dek Anis sekarang?"
Raka menunjuk ke kamarnya, "Masih nonton Hamtaro."
Kang Roy tersenyum, tampak tak berdaya. Lalu, tiba-tiba Kang Roy seperti teringat sesuatu. "Karena si Fandi bisa mengatasi hal ini, dia pasti tahu kalau Dek Anis nggak bisa dibiarkan terus-terusan. Dia harus segera dikirim ke tempat yang seharusnya."
Raka juga memikirkan itu, tapi dia belum bertemu Fandi. "Gue tahu, Kang. Nanti kalau ketemu Fandi, gue tanya."
Kang Roy mengangguk. "Kalau butuh bantuan, jangan sungkan bicara."
Namun, setelah itu, Raka tidak melihat Fandi selama sebulan penuh. Bahkan bayangan Fandi sangat sulit ditemukan, seolah-olah dia jarang kembali karena benar-benar sibuk. Kalau bukan karena Raka sering melihatnya berangkat saat subuh, Raka pasti mengira Fandi pindah kos.
Raka tidak tahu, setelah bertanya pada temannya malam itu, Fandi harus pergi untuk membantu temannya dengan beberapa hal. Namun, karena sikapnya yang takut dan menghindari hantu sejak SMP, Fandi harus belajar menghilangkan rasa takut itu. Dia menjalani sebulan penuh pelatihan keras dari temannya. Untungnya, temannya berada di kota sebelah, jadi Fandi masih bisa mengikuti kuliah dengan baik meski harus meluangkan waktu lebih banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Guillotine
Asik banget bisa nemuin karya yang apik seperti ini.
2025-01-23
1