Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu

Tengah malam, Raka membiarkan pintu kamarnya terbuka, sementara boneka kayu perempuan itu melangkah perlahan masuk ke dalam ruangan. Di meja, laptop Raka menyala, menampilkan episode Hamtaro dari sebuah situs streaming. Entah bagaimana caranya, Raka berhasil menemukan versi Hamtaro yang memiliki dubbing bahasa Indonesia.

Dengan wujudnya yang menyeramkan, boneka itu l duduk diam di atas meja kecil, matanya yang kosong menatap layar laptop. Sementara Raka dan Fandi duduk di atas tempat tidur, berusaha keras untuk tidak panik atau menunjukkan rasa takut mereka.

"Fan, kita sekarang harus gimana?" tanya Raka, suaranya bergetar. Matanya terus melirik ke arah boneka itu, seolah-olah memastikan kalau benda tersebut tidak akan tiba-tiba menyerangnya.

Pandangannya tentang logika dunia sudah mulai runtuh sejak dia menyaksikan boneka kayu itu bergerak sendiri.

"Lo yakin nggak ada yang main-main sama kita?" lanjutnya, mencoba mencari penjelasan masuk akal. "Mungkin ada mesin atau semacamnya di dalam boneka itu. atau prank?"

Fandi menggeleng pelan, ekspresinya serius. "Gue juga lebih suka kalau ini Prank. Tapi Lo sendiri juga bisa liat kalau nggak mungkin ada mesin di dalam boneka itu. Atau Lo mau bongkar pasang boneka itu buat mastiin?"

"Ngaco lo." Mana mungkin dia berani. Raka menggigit bibir, pikirannya kacau. Dia melihat boneka kayu yang tenang itu. "Jadi... kita biarin aja dia nonton nih?" bisik Raka, setengah tidak percaya dengan situasi aneh yang sedang mereka hadapi.

Fandi mengangkat bahu. "Ya mau gimana lagi. Paling nggak, sekarang dia tenang. Dan selama kita nggak bikin gerakan tiba-tiba, dia nggak akan ganggu."

Mendengar itu, Raka langsung menegakkan punggungnya, tubuhnya menjadi kaku. "Ganggu?" desisnya panik. "Maksud Lo kaya buat pisau terbang terbang gitu, terus ngejar buat nusuk kita."

"Kebanyakan nonton Chucky lo." Fandi menggelengkan kepalanya perlahan, seraya berusaha menenangkan temannya. "Selama kita nggak ngapa-ngapain, dia nggak akan ganggu, tenang aja. Lagian, anggap aja dia kaya tamu."

"Tamunya boneka, Fan!" Raka memelototi Fandi, frustrasi. "Gue nggak pernah diajarin cara ngelayanin boneka berhantu sama orang tua gue."

Fandi hampir tertawa mendengar komentar itu, tapi dia menahannya. Situasi ini terlalu serius untuk bercanda. Dia hanya bisa berharap bahwa boneka itu benar-benar tidak berbahaya selama mereka menjaga suasana tetap tenang.

Raka kembali mengalihkan pandangannya ke boneka itu, yang sekarang tampak terhibur dengan adegan Hamtaro dan biji bunga matahari di layar. "Jadi... Hantu juga suka kartun, ya?" gumamnya, masih tak percaya.

"Kelihatannya gitu," jawab Fandi, akhirnya sedikit lebih rileks. "Paling nggak, ini nggak jadi nyeremin." Dia mengangkat tangannya untuk meregangkan tubuh. Namun tubuhnya tiba-tiba kaku. Dia merasakan hawa dingin melewati tangannya.

Pak Kromo, hantu penghuni kos yang sering muncul di kamar Fandi, saat ini menembus tembok kamar Raka. Wajahnya terlihat serius, meskipun ada sedikit kehangatan dalam sorot matanya. Tanpa berkata sepatah kata pun, dia melayang perlahan dan duduk di sebelah Fandi.

Pak Kromo mulai berbicara entah darimana seperti biasanya. Namun kata-kata yang dia ucapkan mengandung informasi yang tidak disangka Fandi.

"Boneka itu milik seorang anak perempuan," ucapnya perlahan. "Dia tinggal di sekitar sini beberapa dekade yang lalu."

Fandi mengedipkan matanya melihat lurus. Fandi sangat terkejut karena hantu bapak-bapak ini memilih untuk tidak menggodanya dan memberi informasi.

Fandi berpikir lama, haruskah dia berinteraksi dengan hantu itu. Tapi dia sudah menahan diri selama hampir 2 bulan di tempat baru ini.

'Kamu spesial. Kamu seperti kakekmu ini, hahahaha...'

Sebuah ingatan melintas dipikiran Fandi. Fandi memiliki senyum kecil diwajahnya. Kenapa dia tiba-tiba mengingat kata-kata orang yang sudah meninggal itu.

'... Tapi kakekmu... bukanlah orang bijaksana.'

'Fandi... Mungkin ada kalanya kamu ingin melarikan diri dari kelebihan mu ini... Tapi jangan takut...'

'... Meskipun anugerah ini membawa beban. Kamu bisa menggunakannya dengan bebas. Tentu saja, jangan sampai kehilangan dirimu sendiri. Ingatlah untuk terus membantu orang lain. Jangan melakukan sesuatu yang mirip dengan kakekmu. Jangan sampai menyesal seperti ku...'

Fandi menunduk dengan mata sendu. Tapi dia segera tertawa kecil ketika mengingat kata-kata terakhir orang itu, 'Oh, tapi kalau kamu benar-benar membuang kekuatan ini. Lihat apa yang akan aku lakukan saat kita bertemu di akhirat nanti.'

Memaksanya, mengancamnya...

Yah, kakek yang menyebalkan. Tapi kata-katanya benar. Sudah 5 tahun dia menghindari hal ini, sepertinya tidak masalah untuk menghadapinya sekarang.

Fandi menoleh pada Pak Kromo. Meskipun jantungnya bergetar karena sudah lima tahun tidak berinteraksi dengan hal-hal ini, dia masih memberanikan diri bertanya. "Anak perempuan? Maksudnya bagaimana?" tanyanya.

Dia harus mengetahui hal-hal dibalik semua ini jika dia benar-benar ingin menyelesaikannya. Kerena jika masih ada hal yang masih belum selesai, dia harus membantu untuk menyelesaikannya.

Yah, ini bukan seperti dia tidak pernah melakukannya.

Raka, yang dari tadi hanya duduk mematung sambil melihat boneka kayu di depan laptop, segera menyela dengan bingung. "Lo bilang apa Fan? Aneh banget. Lo ngomong sama siapa, dah?" tanyanya dengan nada bingung.

Raka merasa merinding sesaat sebelum Fandi mulai berbicara, tapi tak melihat siapa pun selain mereka berdua dan boneka di meja. Sekarang Fandi mulai bicara tidak jelas, dia jadi sedikit ngeri.

Fandi yang juga menahan rasa takut memiliki wajah pucat, dia perlahan menoleh ke Raka dengan raut wajah sedikit canggung. "Ini... Pak Kromo," bisiknya pelan. "Hantu pria paruh baya yang tinggal di kamar gue. Dia juga yang ngasih tau gue informasi sebelumnya. Lo harus berterimakasih sama beliau, kalau bukan karena beliau, gue mungkin nggak ambil pedang kayu dan Lo masih sakit."

Raka menatap Fandi dengan tatapan tak percaya. "Lo serius? Jangan bercanda, Fan. Nggak lucu."

Di saat bersamaan dengan jawaban Raka, Pak Kromo juga mendengus pelan sambil menyilangkan tangan di dadanya. "Huh, kamu bisa melihatku selama ini, tapi malah pura-pura nggak tahu. Dasar anak muda," gerutunya kesal. Meskipun dia juga mengerti kalau Fandi melakukan itu untuk menghindari masalah.

Fandi bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, dia segera melihat Pak Kromo dengan senyum menyanjung, "Hehe... maaf, Pak. Saya pikir nggak perlu, lagian saya nggak mau bikin orang-orang panik. Coba deh bapak pikir, kalau saya ngomong sendiri pasti dikira aneh. Selain itu, kalau saya cerita juga nggak ada yang percaya. Jadi saya cuma bisa pura-pura nggak tau. Saya benar-benar minta maaf, Pak," ujarnya pelan, mencoba menenangkan suasana.

Raka menyatukan kedua telapak tangannya, tampak kebingungan total. "Beneran, Fan? Gue di sini udah setengah mati takut gara-gara boneka itu, tapi sekarang lo bilang kalau ada hantu lain? Dan dia lagi duduk di sebelah lo sekarang?"

"Terimakasih dulu!" Bisik Fandi dengan tertekan dan tidak berdaya.

Raka memutar matanya, "ya, ya, ya, gue berterimakasih. Udah?"

Fandi menarik nafas dalam dalam. Tidak menyadari Pak Kromo menoleh ke arah Arka.

Pak Kromo tiba-tiba tersenyum aneh. "Anak ini cerewet sekali. Ingin bisa melihatku?" tanyanya, meskipun dia tahu dari tatapan kosong Raka bahwa dia tidak mendengarnya.

Fandi segera mengucapkan kata-kata Pak Kromo pada Raka. Wajah Raka memucat. Meskipun dia menyepelekannya, dia masih merasakan perasaan diawasi. Setelah Fandi mengatakan itu, Raka segera menggeleng cepat dia juga melambaikan tangannya di udara. "Nggak, nggak, Saya nggak mau lihat, Pak. Tolong jangan tiba-tiba muncul depan saya. Maaf nggak sopan, saya berterimakasih soal sebelumnya, sungguh," katanya panik.

Fandi melihatnya dengan polos sementara Pak Kromo menggelengkan kepala.

Pak Kromo berpikir kalau masalah Raka tidak terlalu penting, jadi dia mengalihkan pandangannya ke boneka kayu yang duduk diam di atas meja. Dia menghela napas panjang, raut wajahnya menunjukkan rasa iba sekaligus kelelahan. "Nak, boneka itu membawa aura yang cukup berat. Kalau Kau tidak berhati-hati, dia memang bisa menjadi sangat berbahaya," ujarnya dengan suara tenang namun penuh peringatan.

Episodes
1 Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2 Chapter 2 : Penghuni Lain
3 Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4 Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5 Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6 Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7 Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8 Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9 Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10 Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11 Chapter 11 : Ritual Dimulai
12 Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13 Chapter 13 : Bersikap Aneh
14 Chapter 14 : Pena Antik
15 Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16 Chapter 16 : Dua Penjaga
17 Chapter 17 : Dikejar-kejar
18 Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19 Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20 Chapter 20 : Berhasil Lolos
21 Chapter 21 : Parti atau Parto?
22 Chapter 22 : Bagian Tengah
23 Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24 Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25 Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26 Chapter 26 : Calon Suami
27 Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28 Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29 Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30 Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31 Chapter 31 : Keberangkatan
32 Chapter 32 : Permisi, Paket...
33 Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34 Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35 Chapter 35 : Senior
36 Chapter 36: Kenan Anji
37 Chapter 37 : Keanehan Kenan
38 Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39 Chapter 39 : Mimpi Buruk
40 Chapter 40 : Bangun
41 Chapter 41 : Tayangga
42 Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43 Chapter 43 : Penawaran
44 Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45 Chapter 45 : Nuhdin
46 Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47 Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48 Chapter 48 : Dimas Kembali
49 Chapter 49 : Jayden
50 Chapter 50 : Tawaran
51 Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52 Chapter 52 : Kunti Nangis?
53 Chapter 53 : Latihan Jayden
54 Chapter 54 : Wilhelmina
55 Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56 Chapter 56 : Terror Night
57 Chapter 57 : Noni Belanda
58 Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59 Chapter 59 : Lolos
60 Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61 Chapter 61 : Parto In Action
62 Chapter 62 : Di mata Jayden
63 Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64 Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65 Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66 Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67 Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68 Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69 Chapter 69 : Ryan
70 Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71 Chapter 71 : Bu Asti?
72 Chapter 72 : Mantra Jawa
73 Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama
2
Chapter 2 : Penghuni Lain
3
Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak
4
Chapter 4 : Benda Aneh di Kamar Raka
5
Chapter 5 : Pedang Kayu dan Boneka Tua
6
Chapter 6 : Nonton Hamtaro
7
Chapter 7 : Ingatan Masa Lalu
8
Chapter 8 : Mengungkap Masa Lalu
9
Chapter 9 : Rencana Penyelesaian
10
Chapter 10 : Lima Hari dari Sekarang
11
Chapter 11 : Ritual Dimulai
12
Chapter 12 : Selamat Tinggal?
13
Chapter 13 : Bersikap Aneh
14
Chapter 14 : Pena Antik
15
Chapter 15 : Misi Gaib, Penumpang Gelap
16
Chapter 16 : Dua Penjaga
17
Chapter 17 : Dikejar-kejar
18
Chapter 18 : Mbah Semi, Keadaan Dimas
19
Chapter 19 : Daerah Hutan Bayangan
20
Chapter 20 : Berhasil Lolos
21
Chapter 21 : Parti atau Parto?
22
Chapter 22 : Bagian Tengah
23
Chapter 23 : Fandi Tertangkap?
24
Chapter 24 : Menjalankan Tugas, Momo
25
Chapter 25 : Rairo, Monster Dua Wajah
26
Chapter 26 : Calon Suami
27
Chapter 27 : Ampun, Aku Akan Mengembalikannya
28
Chapter 28 : Kyai Jagakarsa Vs Rinjani
29
Chapter 29 : Menyelesaikan Masalah
30
Chapter 30 : Keputusan Baswara, Kembali ke Bagian Tengah
31
Chapter 31 : Keberangkatan
32
Chapter 32 : Permisi, Paket...
33
Chapter 33: Aku Benar-Benar Merindukan Kos-Kosan
34
Chapter 34 : Akhirnya Pulang
35
Chapter 35 : Senior
36
Chapter 36: Kenan Anji
37
Chapter 37 : Keanehan Kenan
38
Chapter 38 : Masa Lalu Kenan
39
Chapter 39 : Mimpi Buruk
40
Chapter 40 : Bangun
41
Chapter 41 : Tayangga
42
Chapter 42 : Hai~ Titi disini~
43
Chapter 43 : Penawaran
44
Chapter 44 : Bachtiar Setianto
45
Chapter 45 : Nuhdin
46
Chapter 46 : Selamat Tinggal, Maaf, Terimakasih
47
Chapter 47 : Sosok Yang Harus Diwaspadai
48
Chapter 48 : Dimas Kembali
49
Chapter 49 : Jayden
50
Chapter 50 : Tawaran
51
Chapter 51 : Saran untuk Jayden
52
Chapter 52 : Kunti Nangis?
53
Chapter 53 : Latihan Jayden
54
Chapter 54 : Wilhelmina
55
Chapter 55 : Wilhelmina dan Jayden
56
Chapter 56 : Terror Night
57
Chapter 57 : Noni Belanda
58
Chapter 58 : Pergilah, Jayden!
59
Chapter 59 : Lolos
60
Chapter 60 : Mata-mata Kecil
61
Chapter 61 : Parto In Action
62
Chapter 62 : Di mata Jayden
63
Chapter 63 : Penyelamatan Arief
64
Chapter 64 : Bunga Terakhir Wilhelmina
65
Chapter 65 : Tak Kuasa Marahin Ayang
66
Chapter 66 : Kecemburuan Jayden
67
Chapter 67 : Hantu Aja Punya Jodoh, Kita Kapan....
68
Chapter 68 : Akhirnya Tenang
69
Chapter 69 : Ryan
70
Chapter 70 : Tidak Jadi Memberi
71
Chapter 71 : Bu Asti?
72
Chapter 72 : Mantra Jawa
73
Chapter 73 : Penyesalan Masa Lalu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!