NovelToon NovelToon

Kos-kosan Sus Banget!

Chapter 1 - Kos-Kosan Baru, Masalah Lama

Fandi menatap langit senja yang mulai memudar. Warna oranye yang tertutup mendung seolah mengolok-oloknya. Dia mendesah panjang, langkah kakinya terhenti di depan sebuah bangunan tua yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk beberapa waktu ke depan.

Kos-kosan murah ini adalah satu-satunya pilihan masuk akal di tengah kondisi keuangannya yang sedang kacau.

Sebagai anak kuliahan, Fandi sibuk dengan tugas kuliah dan pekerjaan paruh waktunya. Belum lagi permintaan keluarganya akan uang yang datang akhir-akhir ini. Dompetnya yang tipis tidak dapat digunakan untuk menyewa Kos lamanya sehingga, mau tidak mau, dia harus pindah.

Dan tempat ini, kos-kosan yang terlihat cukup menyeramkan ini adalah kos dengan biaya paling murah yang dapat ditemukan Fandi.

'Ya Allah, kenapa tidak ada yang ngasih tau gue kalau kosan yang bakal gue tinggali kayak gini,' pikirannya penuh penyesalan, matanya memandangi cat tembok yang mulai mengelupas. Dan pepohonan rindang dibelakang kos tersebut.

Fandi mengawasi tempat yang akan dia tinggali mulai sekarang. Lalu dia melihat bayangan hitam melintas diantara dedaunan pohon yang menutup atap kos. Tubuhnya bergetar karena terkejut.

'.... Itu nggak mungkin,' pikir Fandi dengan tidak percaya.

Masalah finansial mungkin berat, tetapi itu bukan satu-satunya beban yang Fandi tanggung. Dia punya rahasia yang jarang dia ceritakan pada siapa pun.

Dia bisa melihat hantu.

Bagi sebagian orang, kemampuan itu mungkin terdengar luar biasa, tetapi bagi Fandi, tidak sama sekali.

Sejak kecil, dia sudah terbiasa melihat hal-hal yang orang lain tidak bisa lihat. Bayangan hitam yang melayang, suara-suara aneh di malam hari, bahkan wajah-wajah pucat yang tiba-tiba muncul di kaca jendela. Fandi benar-benar terganggu dan ketakutan karena mereka.

Yang paling membuat Fandi merasa berat, saat dipandang aneh oleh orang lain.

"Apa yang kamu lakukan, kemana kamu mau bawa kakek," dia pernah bertanya seperti itu kepada sosok dengan jubah hitam dan sabit besar, yang berdiri di ujung ruang tamu bersama arwah kakeknya saat Fandi kecil dulu. Membuat kedua orang tua dan tamu yang sedang melakukan takziah kematian kakeknya ketakutan dan berlari berhamburan.

Semakin bertambah dewasa, semakin Fandi menyadari bahwa dia... Abnormal.

Awalnya, Fandi masih penuh ketakutan dengan mereka. Untung kakek dan beberapa paman di desa yang membantunya setiap kali dia menemukan hal-hal aneh itu. Membuat banyak ketakutan Fandi mereda.

Namun tidak ada hal yang tidak memiliki akhir. Kehidupan remaja SMP yang seharusnya menyenangkan dilalui Fandi dengan kesepian dan kesendirian. Banyak anak yang menjauhinya karena dia dapat melihat dan berkomunikasi dengan 'hantu'.

Tanpa pilihan lain, Fandi memutuskan untuk menjauhi hal-hal gaib. Dia menarik diri, berpura-pura tidak melihat hantu dan mencoba menjadi remaja pada umumnya.

Itu berhasil, Fandi benar-benar mendapatkan teman saat SMA. Dia mulai tumbuh menjadi remaja yang bahagia meski terkadang bersikap aneh di depan teman-temannya. Tentu saja itu karena hal aneh yang tiba-tiba muncul di depannya.

Fandi menjalani kehidupan normal hingga lulus dan masuk ke perguruan tinggi. Selama dua tahun kuliah, meski Fandi melihat hal-hal aneh itu, dia bisa mengabaikannya.

Baginya sekarang, melihat hantu adalah seperti mendengar suara nyamuk. Menjengkelkan, tapi tidak berbahaya selama dia tidak memperhatikan mereka.

Namun, kos-kosan ini...

Fandi tertawa getir dalam hatinya. Kos ini entah bagaimana memberinya perasaan familiar. Hawa dingin menyusup melalui retakan tembok, membuat bulu kuduk Fandi berdiri. Sekali lagi Fandi menghela nafas, mencoba mengusir pikirannya yang mulai tidak karuan.

Tidak lama, seorang wanita paruh baya yang masih memiliki bentuk tubuh indah datang perlahan-lahan.

"Nak Fandi?" Panggilnya dengan suara tenang.

Fandi melihat wanita itu dengan mata lebar, terkejut, tidak bisa berkata-kata. Fandi menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Ibu kos-nya terlihat sangat cantik.

Fandi menarik nafas dalam-dalam, memenangkan dirinya.

Baik, sekarang dia tidak memiliki masalah dengan penampilan tempat ini. Kalau disuruh memberi rating, dia akan memberinya bintang lima!

"Nak." Panggil wanita itu lagi.

"Oh, iya, mbak. Saya Fandi." Jawab Fandi gelapan.

"Mbak apa, panggil aja Bu Asti seperti yang lain. Ini kunci kamarnya, Nak. Kamar kamu ada di pojokan sana ya, nomor 5." Kata Bu Asti dengan senyum kecil. Wanita mana yang tidak suka di sebut muda.

Fandi mengangguk sopan. "Baik Bu, makasih."

"Sama-sama. Selain kamu ada lima orang yang tinggal disini. Tapi dua dari mereka sepertinya lagi KKN. Nanti kamu kenalan sendiri saja, Ibu tinggal ya, mau angkat jemuran." Jelas Bu Asti dengan lembut sambil menunjuk beberapa pintu yang tertutup.

Fandi sekali lagi mengangguk. "Iya Bu, Sekali lagi makasih." Kemudian Bu Asti pergi. Fandi memandang punggung Bu Asti hingga menghilang sebelum menghela nafas.

Gila, pantesan masih ada yang mau nyewa.

Tapi aneh, sepertinya Fandi ingat orang yang menjawab panggilannya itu laki-laki.

Fandi menggelengkan kepala, menyingkirkan hal-hal tidak penting dan mendekati ruang nomor 5 perlahan-lahan.

Fandi membuka pintu kayu tua itu dengan pelan. Suara derit yang keras membuatnya berhenti.

Fandi tiba-tiba ingin menangis.

Keluarga Fandi tidak tahu seberapa besar beban yang dia pikul. Mereka selalu menganggap Fandi sebagai anak yang kuat, anak lelaki yang bisa diandalkan. Mungkin karena melihat Fandi menyelesaikan hal-hal aneh dengan baik sejak kecil, mereka tidak begitu mengkhawatirkan Fandi.

Tapi....

'Kemana semua hasil begadang gue bantu dosen. Kenapa gue harus pindah ke kos kosan ini!' pikir Fandi penuh keluhan.

Sebenarnya uang yang dikirim keluarganya selalu cukup untuk menyewa Kos sebelumnya. Tapi keluarganya mengalami gagal panen berturut-turut dua tahun terakhir. Hasil sawahnya hampir tidak cukup untuk menjadi modal awal. Karena itu, mereka mulai meminta kiriman uang dari Fandi. Memang tidak seberapa, tapi cukup untuk menggarap sawah tahun itu.

Kekurangan uang Fandi juga dikarenakan biaya kuliah dan membeli buku untuk pelajarannya yang tidak murah. Untung saja biaya kuliah telah sedikit dikurangi melalui program bidik misi, namun Fandi masih merasa ingin menangis jika mengingat dompet kosong di sakunya sekarang.

Fandi menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini. Ruangan kos itu kecil, hanya cukup untuk satu tempat tidur, meja belajar, dan lemari reyot di pojok. Namun harus diakui tempat ini bersih, terlihat terawat.

Namun, Fandi masih merasa tidak nyaman. Dia meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah sementara.

Fandi meletakan tas di atas tempat tidur yang berderit, lalu duduk sambil memijat pelipisnya. Kelelahan mulai menyergap, tetapi matanya tertuju pada sudut ruangan yang gelap. Matanya segera melayang ke gantungan baju yang ada di sebelahnya.

“Wah, ada gantungan baju. Lumayan lah.” katanya pada diri sendiri. Namun jika diamati lebih dekat, seseorang pasti bisa melihat tangan Fandi yang gemetar.

Fandi sendiri menangis keras dalam hatinya. 'Seharusnya gue nggak liat kesana!'

Fandi coba mengalihkan perhatiannya dengan menata pakaian dan barangnya agar tidak memikirkan hal-hal itu.

Tiba-tiba, dia mendengar suara pelan, seperti seseorang yang berbisik di telinganya.

"Selamat datang," suara itu terdengar serak, tetapi entah kenapa seperti sedang menahan tawa.

"Wah, udah!" Fandi langsung bangkit dari tempat tidur, dia mengambil ponsel dan pergi ke luar. Suara yang menyambutnya tidak melihat mata Fandi yang bergetar karena takut. Fandi menggigit bibirnya, mencoba mengontrol rasa takut yang mulai merayap.

"Hei." Fandi mengangkat kepalanya dan melihat seorang pemuda datang. Dia sepertinya pernah melihat orang ini. Tapi dia tidak bisa mengingatnya.

Setelah mendapat sambutan yang cukup mendebarkan, Fandi melirik pemuda yang datang dari ujung rambut ke ujung kaki. Dia memastikan tidak ada bercak darah, penampilan yang hidup, dada bergerak ke atas dan bawah yang menunjukkan kalau orang itu masih bernafas dan paling penting kaki yang menginjak tanah.

Fandi menghela nafas. Untungnya itu manusia. Fandi mengangguk sebagai balasan.

Pemuda itu berdiri di depan Fandi. "Penghuni baru, ya. Dari mana?" Katanya dengan ceria.

"Iya, Bang. Dari kota J." Kata Fandi tenang.

Pemuda itu menepuk tangannya. "Wah, jauh juga. Gue dari kota M. Ngomong-ngomong kenalin, Nama gue Arief, jurusan Pendidikan Olahraga semester 4 di UB . Lo diruangan mana?"

"Gue di ruangan 5, bang" Kata Fandi dengan canggung. Dia benar-benar kesulitan berhubungan dengan orang ceria dan memiliki jiwa sosial tinggi seperti ini.

Fandi juga mengenali Arief sekarang. Fandi satu kampus dengan Arief meski jurusan mereka berbeda. Fandi telah sering melihat Arief. Arief terkadang bermain basket atau sepak bola, yang membuatnya terkenal dan menjadi idola banyak perempuan.

Di saat yang sama, sebuah suara berat muncul dari belakangnya. "Jangan panik, bocah. Aku di sini."

Fandi tiba-tiba merasa leher belakangnya dingin. Dia menoleh dan melihat sosok seorang pria berjubah panjang dengan kumis melintang berdiri di ambang pintu. Mata pria itu tajam, tetapi ada senyuman hangat di wajahnya.

"Siapa Lo?" tanya Fandi, suaranya serak karena terkejut.

"Hah? Apa? Gue Arief. Bukannya Gue baru bilang." Kata Arief dengan bingung. Kenapa anak ini tiba-tiba berbalik dan berteriak seperti itu.

Aneh.

Kesan pertama Arief pada Fandi adalah anak aneh!

"Oh, iya, Bang." Fandi sendiri terdiam karena dia sebenarnya tidak bertanya pada Arief. Tapi dia hanya tersenyum minta maaf sambil menjelaskan, "Gue Fandi. Maaf tadi agak nggak fokus."

Arief juga mengangguk seolah mengerti. Dia ingin mengatakan sesuatu yang lain. Ketika dia melihat ponsel di tangan Fandi, dan sepertinya mengingat sesuatu, "Oh iya, Gue lupa HP Gue mati. Bentar, Gue masuk cas dulu."

Ketika Arief tidak terlihat. Pria paruh baya dengan tongkat panjang dan baju tradisional mendekati Fandi. "Aku Kyai Jagakarsa, Penjaga mu," jawab pria itu dengan nada santai. "Aku dipercaya Nuhdin menjaga Kamu, cucunya. Jadi, jangan khawatir dengan mereka."

Fandi hanya bisa melongo.

Penjaga?

Khodam maksudnya?

Tidak, yang lebih penting itu 'jangan khawatir dengan mereka'.

'MEREKA'!!

Kata itu berputar di kepalanya, seperti sebuah kaset rusak. Hidupnya sudah cukup rumit, dan sekarang dia harus berurusan dengan penjaga gaib yang mengaku-ngaku melindunginya.

'Lagi-lagi, masalah baru,' pikirnya sambil mengusap wajah.

Pada hari pertama, Fandi menyadari sebuah fakta mengerikan di tempat barunya: kos ini lebih buruk dari kos yang dia tempati sebelumnya.

Jauh lebih buruk.

Chapter 2 : Penghuni Lain

Malam di kos-kosan terasa lebih sunyi dari yang Fandi kira. Dia melangkah keluar kamar menuju teras, berharap bisa menghilangkan perasaan takut dan sepi di dalam hatinya.

Saat dia tiba di teras, ada tiga orang yang sedang duduk di sana. Mereka tampak seperti sedang menikmati malam yang sepi, sambil berbincang ringan. Salah seorang dari mereka melihat Fandi dan melambaikan tangan.

"Eh, Lo Fandi kan?" kata Raka yang sedang duduk di kursi, menghadap arah Fandi datang. Wajahnya ramah dan terkesan santai.

"Iya," jawab Fandi, sambil melangkah mendekat. "Kenapa, ya?"

Raka tersenyum lebar. "Si Arief baru aja cerita tentang Lo. Dia mau ngasih tau tentang hal di sini tadi sore, tapi Lo keburu masuk. Btw, mumpung ketemu, sekalian aja kenalan. Gue Raka, ini Dimas, dan Lo udah tau si Arief." dia menunjuk pria di sebelahnya yang sedang sibuk bermain ponsel dan Arief.

Arief sedang fokus pada gelas kopi di tangannya, dia menunjuk kursi di sebelahnya, "duduk aja disini."

Fandi mengangguk dan duduk di sana,

"Mau kopi?" Tanya Arief sambil mengangkat kopi ditangannya.

"Nggak, Bang. Makasih." kata Fandi sambil menggelengkan kepalanya.

Arief mengangguk, "Btw, waktu Lo nanya siapa gue lagi, pikirkan Lo nggak lagi kosong, kan?"

Fandi berkedip beberapa kali sebelum menggelengkan kepala. "Nggak, Bang. Gue cuma agak pusing. Mikirin buku buat dibeli."

"Bagus kalau gitu," kata Arief sambil menepuk dadanya lega. Dia melihat Fandi lagi dan mengingatkan dengan serius. "Pokoknya, jangan sampai pikiran Lo kosong. Kamar gue sebelah lo, nomor 6. Gue nggak mau tiba-tiba harus bantu orang kesurupan. Nggak lagi."

Lagi?

Fandi melihat Arief dengan tatapan ragu, khawatir dan bingung.

Jadi, sebelumnya ada orang kesurupan di sini? Seberapa sering? Fandi bisa merasakan tubuhnya menjadi kaku.

“Lo baru pindah, kan?” tanya Dimas, akhirnya mengangkat muka dari ponselnya. “Gue Dimas, anak Informatika. Nggak usah terlalu dengerin kata-kata Arief. Santai aja, kos sini nggak terlalu serem kok... walaupun, ya... agak aneh sih.”

Fandi yang mendengar kata-kata Dimas merasa memiliki teman, dia segera tertawa kecil. “Bener, tadi aja ada suara aneh di kamar.” Namun wajahnya langsung pucat. Dia keceplosan mengatakan itu.

Tapi Raka dan yang lainnya tidak menganggap serius. Arief yang duduk di ujung kursi, tersenyum santai. "Gitu doang serem? Kali aja tikus atau angin." Dia lalu menambahkan,

Fandi merasa tertawa di hatinya. Itu akan menyenangkan jika apa yang dia dengar merupakan suara hewan. Tapi hewan mana yang mengucapkan, 'selamat datang'. Lagipula dia juga menemui sosok penjaga.

Lupakan saja, orang-orang ini juga tidak akan percaya jika dia mengatakannya.

Raka menghisap rokoknya sebelum berkata. “Itu cuma suara-suara biasa. Kalau Lo sampai denger suara langkah kaki atau suara bisikan halus malam-malam, baru deh itu...”

Fandi melihat Raka dengan bingung. "Apa?" Tanyanya.

"Ya lari, lah. Emang mau nungguin penampakan muncul." Kata Raka disambut gelak tawa yang lainnya.

Fandi hanya bisa mencoba mengeluarkan tawa kering, menganggap itu hanya candaan mereka.

"Gue pernah, sih. Waktu pulang malem. Kaya ada mbak mbak di koridor deket dapur. Cakep banget." Dimas tiba-tiba berkata sambil menatap langit malam, mengingat kejadian saat itu.

Tapi Fandi tiba-tiba merasakan merinding naik dari tangan ke lehernya. Fandi melirik koridor itu tiba-tiba. Memang, ada seorang hantu wanita dengan gaun kuning yang sangat cantik melompat-lompat kecil dengan bahagia di sana. Ketika Dimas mengatakan itu, Fandi melihat bayangan hitam dan wanita itu tiba-tiba ada di tengah mereka.

"Kenapa, kenapa, manggil aku?" Selain Fandi, tidak ada satupun dari mereka yang menyadarinya.

Fandi hanya menunduk sambil tertawa, tapi dia merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya. “Masa? Secantik Jisoo black pink?"

Belum sempat mendengar jawaban Dimas, tiba-tiba terdengar suara masuk ke telinga Fandi, suara yang datang tepat disebelahnya.

"Haah, anak-anak jaman sekarang," bisik suara itu dengan nada kecewa dan serak sambil menghela nafas kasar. "Suka sekali membicarakan hal-hal mistis semacam ini. Paling kalau kita muncul kalian akan takut dan lari."

Tanpa melihat, Fandi bisa membayangkan suara tua dan bijaksana di sebelahnya menggelengkan kepala tidak berdaya.

Fandi menutup mulutnya rapat-rapat, takut terlihat aneh. Dia melirik, berharap itu hanya imajinasinya. Tapi sebuah tubuh transparan seorang bapak-bapak benar-benar duduk di sana.

Hanya saja, Raka, Dimas, dan Arief yang tidak bisa melihat hal-hal aneh tidak menyadari mereka.

Namun Fandi berbeda. Dia dapat dengan jelas mengenali bapak-bapak ini. Siapa lagi kalau bukan hantu di kamarnya sore tadi!

"Ada apa, Fandi?" tanya Raka, melihat perubahan ekspresi di wajah Fandi.

Fandi terdiam sejenak. “Gak ada apa-apa, cuma... ya, kenapa tempat ini masih disewain kalau horor gitu?"

Raka menatapnya sebentar, kemudian menggelengkan kepala. “Oh, itu... kos ini emang udah lama, banyak yang pindah-pindah, tapi ya, harganya murah. Pemiliknya juga nggak mau naikin harga atau kadang ngasih kelonggaran. Jadi, walaupun kesannya kaya horor gini, tetap banyak yang nyewa. Lagian cuma kelihatan horor, nggak bener-bener horor kok. Selain itu, Bu Asti, ehem.”

Fandi terdiam. Itu tidak salah.

Suasana teras mendadak hening, karena kata-kata Raka.

Lalu suara berat dan serak kembali terdengar di sebelah Fandi. "Dasar anak jaman sekarang. Ini karena Roy dan Asti kasihan sama anak-anak muda seperti kalian. Udah datang dari jauh yang butuh tempat tinggal untuk pendidikan kalian tapi tidak memiliki cukup uang untuk menyewa atau saudara untuk menumpang tinggal."

Tapi, suara itu tidak berhenti. Tiba-tiba terdengar lagi, kali ini lebih jelas. "Kamu bisa dengar aku kan, Nak."

Fandi langsung berdiri, gemetar. “Oke, gue... gue rasa gue harus pergi. Gue, gue capek habis pindahan.”

Ketiga pemuda itu melihat Fandi dengan bingung, tapi tak lama kemudian, mereka saling mengangguk dan tertawa ringan.

"Fan, jangan bilang kalau Lo takut? Santai aja kali, nggak ada apa-apa kok," kata Dimas dengan suara tertawa.

“Oh ya, Lo belum kenal Kang Roy, kan?” Arief menambahkan sambil tersenyum.

“Siapa?” Fandi bertanya, sedikit kebingungan. Dia baru mendengar nama itu dari sosok disebelahnya.

Baru saja kata-kata Fandi jatuh. Sosok pria paruh baya menggunakan sarung dan kaos polos muncul dari balik tembok kos, berjalan perlahan mendekat ke arah mereka. Terlihat seperti orang biasa. Tapi Fandi yang ketakutan mengabaikannya. Dia mencoba sebaik mungkin agar tidak menarik perhatian. Saat malam, dia tidak bisa memastikan hantu atau manusia dengan pasti.

Kang Roy berhenti beberapa langkah di depan mereka. "Lagi pada santai?"

"Iya kang." Kata Dimas.

Raka juga bersiap berdiri sambil menawarkan, "mau kopi kang? Gue bikinin kalau mau."

Kang Roy melambaikan tangannya. "Nggak usah."

"Fandi, ini Kang Roy," kata Arief dengan nada santai. "Suami Bu Asti yang punya kosan. Dia yang paling tahu soal tempat ini."

Fandi yang tadi waspada saat ini sedikit malu. Jika bukan karena orang-orang ini bicara normal dengan Kang Roy, dia pasti tidak akan mengakui Kang Roy sebagai manusia. Pengalamanya dulu benar-benar membuatnya waspada pada hal-hal mistis!

Fandi mengangguk pelan, menatap wajah Kang Roy dengan sopan. "Aku Fandi, Kang. Penghuni baru."

Kang Roy duduk di kursi kosong diantara Raka dan Dimas, merapikan sarungnya sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. "Santai aja. Lagian gue udah tau Lo, gue yang terima telepon Lo kemarin," katanya santai dan tenang. Terlihat mudah di dekati. "Kos ini memang punya sejarahnya sendiri. Tapi bukan berarti kos ini angker kaya kelihatannya. Yah, pokoknya lo nggak aneh-aneh aja."

Fandi mengangguk. Sudah terlambat baginya untuk menemukan kos lain dengan harga semurah ini. Selain itu, bahkan jika dia ingin mengganti tempat, dia belum memiliki uang tambahan di sakunya.

Kang Roy tampak berpikir sejenak sebelum melanjutkan. "Sama inget, jangan bawa cewek ke sini, apalagi sampai ngelakuin...."

"Kalau itu sih, jangankan kamu Kang. Gue juga bakal ngasih paham nih anak." Kata Arief sambil mengapit kepala Fandi dengan lengannya.

Fandi memutar matanya keatas. Merasa semakin akrab dengan orang-orang ini. "Gue masih belum tertarik gituan. Gue cuma mau fokus lulus sekarang."

Kata-kata Fandi membawa gelak tawa pada yang lain. Memang, keinginan mereka saat ini hanya untuk lulus kuliah lebih cepat.

Kang Roy juga tersenyum, "Oh, tapi tempat apapun selalu memiliki hal-hal semacam itu. Jadi jaga diri kalian. Kalau kalian masuk sini ataupun tempat lain bawa niat baik, semuanya bakal baik-baik aja. Tapi kalau kalian datang dengan niat buruk... Yah, banyak contoh hasilnya."

Mereka mengangguk. Itu memang dasar sopan santun yang selalu dipelajari oleh Fandi. Entah dimanapun, seseorang harus benar-benar memperhatikan kesopanan.

"Oh, sama satu lagi. Gue nggak tau apa Arief dan lainnya udah ngasih tau Lo, tapi," kata Kang Roy, sambil mengambil kopi Arief yang baru di minum setengahnya, "jangan sekali-kali ambil atau nyentuh benda-benda yang ada di gudang belakang dan selalu jaga kebersihan dapur."

Fandi dapat melihat hantu perempuan dengan gaun kuning mengangguk senang. "Benar, benar. Kebersihan sebagian dari iman. Roy udah makin dewasa aja."

Kebersihan sebagian dari iman, bukankah itu hadis muslim. Tidak, bukankah dia hantu. Mengapa hantu semacam ini menerapkan ajaran agama tertentu dengan sangat baik.

Fandi merasa bingung, tetapi mencoba untuk mendengarkan dengan serius. Mereka mulai menceritakan banyak hal apalagi tentang pohon beringin besar yang ada di dekat ujung kos. Mendengar cerita yang menakutkan, Fandi perlahan-lahan bertanya, "Tapi, Kang... semua itu cuma cerita-cerita aja, kan? Kayak yang mereka bilang tadi, suara-suara itu bisa jadi cuma angin atau tikus. Bukan berarti ada beneran."

Kang Roy menggelengkan kepala perlahan. "Yah, gue sendiri nggak pernah ngalamin langsung. Tapi gue tahu dari orang yang lebih tua yang bilang kalau... ada hal-hal yang nggak bisa dijelasin suruh ngebiarin."

Fandi mengangguk paham. Lagipula dia sudah biasa menghadapi hal itu sejak kecil. Dan dia bisa mengabaikannya selama 5 tahun terakhir.

Mereka melanjutkan obrolan sampai malam. Tidak sampai Dimas mengatakan bahwa coding di komputernya selesai di proses dan dia harus melakukan debugging, atau Raka yang mengantuk.

Fandi juga mengatakan untuk kembali ke kamarnya. "Oke, gue juga mau istirahat," kata Fandi sambil berdiri dan menatap mereka semua.

Raka mengangguk. "Santai aja, Fan. Kalau Lo butuh apa-apa, jangan sungkan."

Arief tersenyum. "Bener, ngomong-ngomong jangan mikir aneh-aneh, mending Lo langsung tidur. Besok juga udah biasa sama tempat ini."

Fandi tersenyum kecil dan mengangguk, mengucapkan selamat malam kepada mereka semua sebelum akhirnya kembali ke kamarnya. Namun, meski tubuhnya lelah, pikirannya terus dihantui oleh hal-hal yang baru saja didengarnya. Hantu-hantu, suara aneh, dan cerita yang belum jelas kebenarannya.

Sesampainya di kamar, Fandi duduk di pinggir tempat tidur, merasakan beban yang berat di dadanya. Dia menatap sekeliling, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu tidak ada. Tetapi, entah kenapa dia tidak bisa menghilangkan mereka dari pikirannya.

Dia berbaring dan menutup mata, berharap tidur dapat menghilangkan kecemasan. Namun, suara bisikan itu masih terngiang di telinganya, seakan-akan menggema dalam kesunyian malam yang semakin mencekam.

"Dasar anak jaman sekarang. Penakut. Mental lemah," bisik suara itu dalam kegelapan.

Fandi : ....

Fandi menggigil, namun dia memaksakan diri untuk tetap tidur. Mengabaikan semua hal mengganggu itu.

Chapter 3 : Sarapannya Kelihatan Enak

Pagi hari keesokan harinya.

Pukul 03.58 pagi, Fandi membuka matanya perlahan. Jam biologisnya selalu teratur, membuatnya terbangun tepat pukul 4 pagi. Kebiasaan baik yang telah terbentuk sejak kecil.

Suasana masih gelap, namun ayam jago dan sudah mengeluarkan suara mereka, menambah melodi di pagi hari. Dia menatap langit-langit kamar, mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Saat hendak membalikkan badan untuk sekadar meregangkan tubuh, pandangannya menangkap bayangan samar di ujung tempat tidur.

Sosok pria paruh baya berdiri di sana. Wajahnya serius, kening berkerut seperti sedang berpikir keras. Tangannya diangkat, menunjukkan gerakan seperti hendak menepuk sesuatu.

Itu adalah hantu bapak-bapak yang sebelumnya. Fandi menahan napas, terutama saat merasa tatapan mereka seolah bertemu. Dia segera mengalihkan pandangannya dan berkata santai, "Wah, udah jam 4 aja ternyata." Nada suaranya terdengar santai.

Matanya sengaja diarahkan ke jam dinding yang berada tepat di belakang sosok itu, berharap si hantu tidak menyadari bahwa dia sebenarnya melihatnya. 'Gue nggak lihat, nggak lihat,' gumamnya dalam hati.

Fandi merasa sangat dianiaya. 'Kenapa sih pagi-pagi begini udah nongol. Perasaan dulu di kos lama juga ada hantunya, tapi nggak separah ini...' Fandi menghela napas dalam hati.

Fandi bangkit perlahan dari tempat tidur, mengabaikan kehadiran hantu itu. Namun, dia tidak menyangka pria paruh baya itu akan bersuara, “Aneh, masih ada anak seperti ini zaman sekarang. Nggak perlu dibangunin buat sholat subuh.”

Fandi hampir tersedak napasnya sendiri mendengar komentar itu. Sebuah dengusan kecil keluar dari hidungnya, tapi dia menahan diri untuk tidak merespons. 'Siapa yang lo anggap remeh? Fandi nih, bos! Lima waktu nggak pernah bolong,' jawabnya dalam hati dengan bangga.

Meskipun begitu, dia tetap memasang ekspresi datar. Dengan gerakan kaku, dia meraih handuk, berjalan keluar kamar, dan menuju kamar mandi yang letaknya di ujung koridor, melewati dapur.

Saat melewati dapur, langkahnya terhenti tiba-tiba.

Di sana, seorang wanita bergaun kuning berdiri membelakanginya. Dia tampak tenang, memotong bawang di atas meja dapur. Suara pisau menghantam talenan terdengar ritmis dan pelan, seperti sebuah irama yang anehnya menyenangkan telinga.

Fandi yang sudah lewat terpaku. 'Nggak mungkin... Itu pasti cuma bayangan gue!' pikirnya dengan bingung.

Dia memutuskan untuk berjalan mundur perlahan, melihat dapur untuk kedua kalinya. Berharap apa yang dilihatnya hanyalah efek mata setengah mengantuk.

Dia memiringkan kepala untuk melirik. Wanita itu memang ada di sana. Gerakannya sama, terus memotong bawang merah tanpa sedikit pun menoleh. Namun dia tidak memiliki kaki.

Fandi merasakan bulu kuduknya berdiri.

Hantu? Memasak? What the hell!!

“Huuh.....” Fandi menghela napas, sebelum maju untuk memastikan ketiga kalinya.

Namun kali ini dia berhenti cukup lama, bahkan menolehkan kepalanya seperti burung. Tapi wanita itu tetap ada, dengan gerakan memotong yang sama monoton.

Fandi segera mengenali hantu wanita itu sebagai hantu yang disebut Dimas kemarin!

“Gue nggak lihat apa-apa,” bisiknya sambil berhenti di tempat. Tiba-tiba, bahunya ditepuk dari belakang.

“Fan! Ngapain lo jalan mundur kayak robot?” suara itu terdengar malas, diikuti bau napas orang baru bangun.

"Aduh." Fandi melonjak, hampir duduk lemas. Dia berbalik dengan cepat. “Ya Allah, Raka! Bikin sport jantung aja pagi-pagi!”

“Lah, kenapa lo? Aneh, ketakutan kayak habis liat setan,” kata Raka sambil mengucek matanya yang masih setengah terpejam.

“Setan atau bukan, gue nggak tau. Tapi tadi, di dapur....” kata Fandi pelan sambil menunjuk ke arah dapur. Namun, saat mereka berdua melihatnya, dapur itu tampak kosong melompong.

Raka mengangkat alis. “Hah? Ada apa di dapur? Lo halu ya, Fan. Masih ngantuk?"

Fandi melirik lagi ke dapur, mengerutkan keningnya. “Iya, kayanya gitu,” bisiknya. Lagipula mana ada hantu sekuat itu disini. Bisa memegang pisau dan memotong rempah. Mungkin dia memang halu.

Raka tersenyum saat menepuk-nepuk pundak Fandi. “Udahlah, paling salah lihat. Kalau emang ada, suruh aja dia masak buat kita. Lumayan buat sarapan.”

Fandi mendengus dan tertawa kecil. “Mimpi aja kali lo. Yaudah, gue mau ke kamar mandi.”

Fandi menggelengkan kepala saat pergi. Dalam hatinya, dia tau apa yang dilihatnya memang ada. Tapi seperti biasa, lebih baik pura-pura bodoh daripada membuat masalah baru.

Sedikit yang diketahui Fandi, hantu wanita itu tidak pergi dan masih berada di dapur. Mendengar bahwa ada orang yang mau memakan masakannya, hantu itu tiba-tiba merasa bersemangat. Dengan cepat, dia mulai mempersiapkan bahan-bahan dan memasak dengan penuh perhatian. Dia memasak lebih bersemangat daripada biasanya.

Namun, tentu saja, Fandi tidak menyadarinya. Dia melangkah ke kamar mandi, mengabaikan hal-hal itu.

Di kos ini ada dua kamar mandi dan dua toilet terpisah. Meskipun bangunannya terlihat kurang menarik, fasilitas yang ada di dalamnya cukup lengkap. Dapur, kamar mandi, toilet, bahkan ruang sholat semuanya tersedia. Fandi sering merasa bahwa jika tempat ini mendapat renovasi, dengan segala fasilitas yang ada, uang yang dia miliki mungkin tidak akan cukup untuk menyewa tempat ini.

Uh, tentu saja penampilannya yang angker memudahkan Fandi untuk menyewa sekarang.

Setelah selesai sholat subuh berjamaah, Fandi dan Raka keluar dari ruang sholat. Tiba-tiba, Raka menghela napas panjang.

"Kenapa lo, Rak?" tanya Fandi. Berkat percakapan semalam, Fandi sekarang merasa lebih santai saat bicara dengan Raka dan yang lainnya.

Raka menggelengkan kepala. "Yah, sebenernya gue sering telat buat sholat subuh. Cuma sebulan terakhir gue bisa bangun pagi buat ibadah."

"Ya bagus dong," balas Fandi, sambil tersenyum.

"Bagus sih." Raka mengangguk. "Tapi gue ngerasa dibangunin terus, aneh banget."

Fandi terdiam, berpikir sejenak. Mungkinkah hantu bapak-bapak itu membangunkan seluruh anak kos untuk sholat subuh? Tapi Dimas dan Arief kan non-Muslim.

Fandi merasa ada yang ganjil.

Melihat Fandi terdiam, Raka melanjutkan ceritanya. "Awalnya sih gue juga nggak peduli. Tapi akhir-akhir ini gue denger suara anak kecil. 'Kak, bangun kak, kak bangun kak,' kayak alarm HP. Meski gue suka nonton anime yang banyak anak kecilnya, gue nggak sesuka itu sampe jadiin suara anak kecil buat alarm HP. Gue cari-cari juga nggak ketemu suara itu dari mana."

Fandi menghela nafas lega karena itu bukan hantu bapak-bapak di ruangannya.

Tapi tunggu, bukankah artinya ada hantu lain di kosan ini. Wajah Fandi menjadi pucat seperti terkena sembelit.

Fandi menatap langit yang mulai menunjukkan sinar oranye saat bertanya, "Lo nggak ngomong ke Kang Roy?"

Dari percakapan semalam, Fandi tahu kalau Kang Roy adalah orang yang tidak takut hantu. Dari obrolan kemarin, ternyata Kang Roy adalah mantan tentara yang pensiun dini karena cedera. Namun Fandi tidak tau apakah Kang Roy sudah sering berurusan dengan hal-hal gaib seperti ini. Yang jelas, Kang Roy terlihat dapat diandalkan.

Raka menggelengkan kepala. “Tadinya sih mau bilang. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, kayaknya nanti aja deh kalau gangguannya makin aneh. Lagian, nggak enak juga ngomong masalah sepele gini.”

Fandi mengangguk. “Ada benernya. Lagian ini juga bawa dampak positif buat lo. Kalau makin parah, baru cari solusi.”

Mereka berdua terdiam sejenak, menyaksikan matahari perlahan terbit, memberikan kehangatan di pagi yang masih sejuk. Fandi masih merasa aneh dengan apa yang baru saja dibicarakan, tapi dia tahu, lebih baik fokus pada hal-hal lain. Seperti bagaimana cara bertahan hidup di kosan yang ternyata penuh dengan misteri.

Raka kemudian menyeringai. "Eh, tapi, Fan, lo udah liat 'dia' lagi belum? Itu, hantu di dapur, cewek apa cowok?"

Fandi tiba-tiba menatap Raka, sedikit kaget. "Apa Lo... Lihat sesuatu yang aneh?" tanyanya dengan tidak percaya.

Raka tertawa kecil. "Hah, nggak mungkin lah. Cuma nanya aja. Kalau lo liat, ceritain dong! Kita di kos-kosan kaya gini, cerita horornya dikit banget, kali aja lo bisa nambahin."

Fandi menahan kesal. “Lo jangan aneh-aneh, deh. Gue ini orangnya penakut.”

Raka tertawa lebih keras. “Yaudah deh, gue mau ambil air terus tidur lagi, ada kelas nanti siang di UM.”

Begitulah, Raka berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum dan Fandi hanya mengamati dari kejauhan. Fandi akan pergi ke kamarnya saat suara langkah kaki tergesa-gesa menghentikannya.

Itu Raka, keluar dengan langkah terburu-buru, tampak seperti baru saja melihat sesuatu yang mengejutkan. Dia mendekati Fandi, meletakkan kedua tangannya di bahu Fandi, dan menatapnya dengan ekspresi bingung.

"Fan, siapa... bukan, kenapa ada masakan hangat di dapur?" kata Raka, suaranya bergetar.

“Hah?” Fandi tersentak, bingung dengan pertanyaan Raka. “Nggak tau, mungkin... mungkin Bu Asti yang masak?”

Raka menggeleng cepat. "Bu Asti cuma nyuruh, Alya, anaknya, buat nganterin sarapan. Itu pun nggak setiap hari, dan mereka biasanya langsung ngasih ke kamar, bukan naruh di dapur kayak gitu."

Fandi mulai mencerna ucapan Raka. "Gimana bisa ada masakan di dapur kalau bukan Bu Asti?"

"Makanya..." Hening sejenak, lalu Raka melihat Fandi dengan teror dimatanya, "Bukannya lo tadi bilang ada orang di dapur lagi potong rempah? Fan, siapa itu?" Raka berbisik ragu-ragu.

Fandi menutup mulutnya rapat-rapat. Tanpa sengaja, dia melirik ke dapur dan melihat sosok wanita yang dikatakan Raka melayang di jendela dapur, melambaikan tangannya seolah menyapa.

"Janc..." Fandi terkejut, hampir mengumpat, namun mereka tiba-tiba mendengar suara berdehem.

"Rak, gue udah kenal lo lama, tapi gue nggak tau lo punya hobi ginian." Fandi menoleh, dan Raka juga melihatnya melewati bahu Fandi, menemukan Dimas dan Arief berdiri tidak jauh dari mereka.

Raka kemudian sadar akan posisinya dan Fandi yang cukup mencolok. Wajahnya langsung berubah buruk, dan dia segera melepaskan Fandi. "Ngaco. Gue normal, anjir."

"Tenang, Rak, nggak apa-apa. Gue akhirnya tau selera lo ternyata kaya Fandi." Arief tersenyum nakal, sambil menganggukkan kepalanya.

"Pantesan nggak pernah godain gue dan Arief. ternyata lo punya selera kayak gitu," ujar Dimas dengan nada menggoda.

Raka memutar matanya, tidak bisa menahan senyum kecut. "Ngomong sekali lagi, gue sita keyboard lo. Dan Rif, bayar utang lo!"

"Dih, si anjir personal," kata Arief tidak terima. "Minggu depan lah Rak, baru cair gue."

Raka mengangguk paham. Kemudian Dimas yang tidak ingin keyboard pinjamannya di ambil kembali berkata, "jadi kenapa kalian pagi-pagi."

"Mesra gundulmu," kata Fandi jengkel, tapi ada sedikit ragu dan takut dalam matanya. "Tanya si Raka, deh."

"Hmm, cuma... Ya udah lah, kalian juga bantu ngasih ide. Kali aja tau," Raka menarik napas sejenak, kemudian melanjutkan, "Jadi, pagi tadi si Fandi bilang ada yang masak di dapur. Gue sih nggak liat apa-apa ya. Terus setelah itu kita mandi, sholat. Gue juga ngobrol dikit sebelum balik ke kamar. Lo juga tau kalau gue sering bawa air minum sebelum tidur. Eh, baru juga gue ke dapur ambil minum, ada masakan anget disana. Itu jelas bukan Bu Asti, karena biasanya dia cuma nganterin ke kamar kan, terus gue keinget kata-kata Fandi dan... Seperti yang Lo liat tadi, gue nanya."

Dimas mengernyit, mencoba mencerna penjelasan Raka. "Hah, Lo gimana sih Rak. Masa lupa. Mungkin aja itu bikinan Kang Roy. Biasanya juga gini, kan."

"Ah," Raka terperangah. Memang, Kang Roy biasanya memasak pagi atau meletakkan bahan di dapur untuk mereka. "Ini si Fandi sih. Gara-gara dia bilang lihat hal aneh sebelum sholat, gue jadi parno sendiri."

Fandi melihat dengan kaku. "Kok nyalahin gue. Orang bangun tidur wajar kali ngehalu."

Tanpa banyak bicara lagi, Dimas dan Arief langsung melangkah menuju dapur bersama yang lainnya. Arief adalah orang pertama yang mulai mengambil piring, dan lauk pauk yang ada di meja.

"Yok, lah, Gass. Kita makan aja. Kalau itu masakan Kang Roy, kita nggak bakal rugi," kata Dimas sambil menyendok nasi ke piringnya.

Arief mengangguk. "Makanan gratis? Siapa yang nolak?" katanya sambil tersenyum lebar.

Raka mengangkat bahu dan akhirnya ikut mengambil piring. "Lihat pembalasan gue karena udah bikin gue kaget." Katanya sambil mengambil banyak makanan.

Fandi hanya menyaksikan mereka, setelah memikirkannya, dia akhirnya ikut bergabung. "Ada benernya. Sarapannya juga kelihatan enak."

Ketiganya duduk mengelilingi meja dapur, menikmati hidangan yang ada. Tanpa disadari, di sudut lain dapur, sosok wanita yang di lihat Fandi tadi masih disana. Mengawasi dengan senyum bahagia saat mereka makan. Makanan itu memang makanan manusia, dan bukan makanan jadi-jadian. Setelah melahap makanan, mereka memutuskan untuk pergi. Fandi terdiam lama di dapur sebelum mengikuti mereka.

Saat berdiri sendiri di dapur, Fandi menunduk dan berkata, "Makasih buat sarapannya, Mbak. Masakannya enak." lalu keluar dengan tergesa-gesa.

Tidak melihat ada hantu wanita itu terkejut karena kata-katanya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!