Mimpi dan Kenyataan

Pikirannya terlempar kembali ke hari kecelakaan itu. Suara Desi saat dia menghubunginya pertama kali terngiang jelas di telinganya

"Mas Bima! Aku… aku di toko Doremi! Bangunan ini runtuh, aku terjebak! Tolong aku!" suara Desi terdengar panik di telepon.

"Kamu di mana? Di Doremi? Tunggu, aku—" Aku kaget kala itu namun perbincangan itu terputus karena ternyata Maya dan anaknya juga ada ditempat itu. Dia Menangis ketakutan dan aku mencoba menenangkannya.

Telfon itu masih berjalan, Desi pasti mendengar percakapannya. Tak berapa lama Bima mendengar suara istrinya lagi.

"Mas Bima… aku masih di sini. Mas Bima?"

Namun Bima bukannya menenangkan sang istri, malah ia berbicara, "Aku harus menolong Maya dan Abas dulu. Mereka terjebak di bagian terdalam. Desi, aku tidak bisa bicara lama. Bertahanlah, ya. Aku akan menyuruh tim lain mencari kamu!"

Lalu Bima memutuskan telepon nya. Dia bahkan tidak memberi kesempatan pada Desi untuk berbicara lebih jauh. Saat itu, pikirannya hanya terfokus pada menyelamatkan Abas dan Maya.

Bima menghela napas panjang, dadanya terasa sesak. Dia teringat bahwa setelah itu, dia melihat beberapa panggilan masuk dari Desi saat mereka semua berada di rumah sakit. Tapi dia sengaja tidak mengangkatnya.

"Aku sengaja tidak mengangkat teleponnya... Karena aku tidak ingin Desi tahu aku lebih memilih berada di sisi Maya dan Abas. Apalagi Abas memintaku menemani nya. Apa yang sebenarnya kupikirkan? Bagaimana mungkin aku lebih mementingkan mereka daripada istriku sendiri?"

Bima menutup matanya erat-erat, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Kepalanya terasa berat dengan beban penyesalan yang terus menghantamnya.

"Aku salah... Salah besar. Aku seharusnya berada di sana untuk istriku. Aku seharusnya mendahulukannya, mendengarnya, memastikan dia baik-baik saja. Tapi aku tidak melakukannya. Aku bahkan memutuskan panggilannya tanpa tahu bagaimana kondisinya. Aku benar-benar suami yang buruk."

Dia mencoba menenangkan diri, tetapi pikirannya terus-menerus diserang oleh bayangan wajah Desi yang ketakutan. Wajahnya saat dia memohon bantuan, saat dia terjebak di reruntuhan itu.

Dia mencoba menenangkan diri, tetapi pikirannya terus-menerus diserang oleh bayangan bagaimana wajah istrinya yang ketakutan. Wajahnya saat dia memohon bantuan, saat dia terjebak di reruntuhan itu.

Bima menunduk, menggenggam erat ponselnya. Dia mencoba menelepon Desi lagi, tetapi tidak ada jawaban. Dia semakin panik.

Desi, di mana kamu sekarang? Kenapa aku tidak tahu apa-apa tentangmu? Kenapa aku begitu bodoh sampai membiarkanmu menghadapi semuanya sendiri? Apa kamu masih hidup? Bagaimana dengan anak kita?

Dia teringat kata-kata Dika tadi di kantor, tentang Desi yang mengeluarkan banyak darah saat kejadian. Dika bahkan menyinggung kondisi kehamilannya. Pikiran itu membuat Bima merasakan sakit yang menusuk di hatinya.

Dia membuka galeri ponselnya, mencoba mencari sesuatu yang bisa memberinya petunjuk. Dia terhenti pada foto terakhir mereka bersama, saat Desi tersenyum manis dengan perutnya yang mulai membesar. Air mata mulai mengalir tanpa henti.

Dia memikirkan ulang keputusannya hari itu, ketika dia memilih Abas dan Maya, ketika dia memutuskan panggilan Desi. "Aku pikir aku melakukan hal yang benar saat itu. Tapi sekarang, aku sadar itu keputusan paling egois dalam hidupku."

Rasa bersalah menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia merasa tidak pantas menyebut dirinya suami. Bima menggelengkan kepala, mencoba melawan pikiran-pikiran buruk yang menghantuinya. Dia menghapus air matanya dengan kasar.

Bima duduk di tepi ranjang, tubuhnya lelah setelah segala emosi yang bercampur aduk sejak pagi. Perutnya kosong, dadanya terasa sesak. Ia menatap kosong ke arah ponselnya yang telah tergeletak di atas meja. Semua panggilan tak terjawab dari Desi masih terpampang jelas di sana, seolah-olah menuduhnya.

Tangannya meremas rambutnya sendiri. "Kenapa aku bisa seburuk ini? Kalau sesuatu terjadi pada mereka, aku tidak akan pernah memaafkan diriku."

Pikirannya terus bergelut dengan rasa bersalah dan kecemasan. Namun, tubuhnya mulai menyerah. Sejak pagi ia belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya. Dengan segala kepanikan dan rasa bersalah, ia bahkan lupa untuk sekadar minum air.

Kepalanya mulai terasa berat, dunia di sekelilingnya seperti berputar. Ia mencoba mengatur napas, tapi rasa pusing itu semakin menjadi. Apa ini? Apa aku sedang dihukum atas semua kesalahanku?

Dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri. Tapi begitu matanya terpejam, tubuhnya terasa makin lemah. Nafasnya mulai melambat, pikirannya perlahan tenggelam dalam kegelapan.

Beberapa menit kemudian, Bima tertidur di tempat itu. Wajahnya masih menyiratkan rasa bersalah dan kekhawatiran, meskipun tubuhnya mencoba mencari jeda sejenak dari segala tekanan.

Bima bermimpi. Dalam mimpinya, ia berdiri di tengah reruntuhan bangunan. Debu memenuhi udara, dan suara rintihan terdengar di sekelilingnya. Ia berusaha mencari sesuatu, atau seseorang.

“Desi! Sayang! Desi!” teriaknya.

Tidak ada jawaban. Ia terus berjalan melewati puing-puing, napasnya terengah-engah. Lalu, ia melihat sebuah bayangan di kejauhan. Itu adalah Desi, duduk sendirian sambil memeluk perutnya.

Bima berlari ke arahnya. Tapi anehnya, semakin ia berusaha mendekat, semakin jauh Desi terlihat.

“Desi! Sayang! Tunggu aku!”

Desi menoleh dengan mata penuh air mata. "Kenapa kamu tidak datang saat aku butuh kamu?" tanyanya dengan suara yang lirih namun menusuk.

Bima terdiam. Ia ingin menjelaskan, tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bisa menatap Desi yang semakin jauh darinya.

“Aku sudah mencoba meneleponmu. Tapi kamu tidak pernah menjawab,” lanjut Desi sambil menangis. “Apa aku tidak penting bagimu?”

Bima ingin menjawab, ingin berlari ke arah Desi. Tapi tubuhnya terasa berat, seperti diikat rantai yang tak terlihat.

Kemudian, suara bayi menangis terdengar dari belakang Desi. Bima mencoba melihat ke arah sumber suara itu, tapi semuanya tiba-tiba gelap.

Bima terbangun dengan napas terengah-engah. Dadanya naik-turun, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menatap sekeliling, mencoba memahami di mana ia berada.

Mimpi... Itu hanya mimpi. Tapi kenapa rasanya begitu nyata?

Bima memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Ia mencoba mengatur napas, tapi suara tangisan Desi dalam mimpinya terus terngiang di telinganya.

Aku harus menemukannya. Aku harus memastikan dia baik-baik saja. Jika sesuatu terjadi pada Desi atau anakku, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku.

Dengan tekad yang diperbarui, Bima bangkit dari tempat tidur. Meskipun tubuhnya lemah dan perutnya kosong, ia tahu ia tidak bisa berhenti sekarang. Apa pun yang terjadi, ia harus mencari istrinya dan membawa pulang keluarganya.

Terpopuler

Comments

guntur moch

guntur moch

Sampai Detik ini saya TIDAK PAHAM DENGAN ISTILAH TDK BISA MEMAAFKAN DIRI SENDIRI,KATA-KATA INI SUDH RATUSAN MUNGKIN RIBUAN KALI SAYA BACA,MAKSUDNYA GIMNA KATA-KATA ITU DAN EFEKNYA BAGI KEHIDUPAN SETERUSNYA BAGAIMANA

2025-03-14

2

Ning Suswati

Ning Suswati

rasakan saja sekarang bagaimana perasaan seorangisteri jelas dlm kondisi darurat lebih memntingkan selingkuhan
semoga dg lahirnya gensis ditubuh desi, semua akan membalikkan dunianya bima

2025-03-18

0

Katherina Ajawaila

Katherina Ajawaila

Biar sampai kering juga, ngk akan kamu bahagia, Terima karma lo Bima terlalu an jadi suami. jalang lebih di no 1 . kere li jadi gembel

2025-02-17

2

lihat semua
Episodes
1 Reruntuhan Bangunan Vs Reruntuhan Hati
2 Operasi Darurat Yang Mencekam
3 Begadang Nonton Drama Korea
4 Harus Menerima dan Terus Berjalan
5 Bukan Sembarang Orang
6 Bukan untuk Nostalgia
7 Niat Menjual Rumah
8 Lupa Dengan Prioritas
9 Berbohong dan Ke Egoisan Bima
10 Mimpi dan Kenyataan
11 Mencari Keberadaan Desi
12 Plin Plan dan Tidak Berpendirian
13 Bermimpi Bertemu Brian Arfi
14 Pikiran yang Berkecamuk
15 Di Cuekin Emang Enak
16 Oh O.. Kamu Ketahuan..
17 Kemarahan dan Penyesalan
18 Trauma Butuh Ditemani Suami
19 Heboh Heboh Heboh
20 Ambil Saja Beserta Ampas nya
21 Bertemu Keluarga Benalu
22 Keluarga yang Menarik
23 Berbohong Demi Reputasi
24 Mau Jadi Anak Durhaka
25 Menikahlah Dengan Pilihan Mama
26 Sudah Selama Itu Ternyata
27 Cari Yang Lain Aja Sih
28 Jauh Jauh dari Hidupku
29 Hallo Tampan
30 Penyakit Langka
31 Penthouse Hunian Milik Desi
32 Bertemu Lagi...
33 Kekesalan Gabriel
34 Lelah Hati, Fikiran dan Fisik
35 Kedatangan Maya dan Abas
36 Mulai Rileks Bersama Mereka
37 Cerita Dalam Lift
38 Cerita Berlanjut....
39 Aku Punya Kejutan Istimewa
40 Bukan Na Hee Do
41 Kebohongan Terungkap
42 Kejutan Yang Tak Terduga
43 Kekecewaan Yang Besar
44 Senyuman Mahal Gabriel
45 Drama Asyik Di Pagi Hari
46 Kenyataan Pahit
47 Bebas.. Cheers
48 Sebenarnya Kau Siapa
49 Semua Salahmu Sendiri
50 Kenyataan Yang Menyakitkan
51 Tetangga Tampan
52 CEO Gadungan
53 Malas-Malasan Di Kantor
54 Bertemu Pelakor
55 Kedatangan Rendra
56 Cerita Desi Panjang x Lebar x Tinggi
57 Hidup Tak Seindah Yang di Bayangkan
58 Mulai Perhitungan
59 Ada Pertunjukan Hari Ini
60 Hukuman Untuk Pencuri Identitas
61 Akhir Dari Karyawan Nakal
62 Akhir Dari Maya Si Pelakor
63 Pacar Pura-Pura
64 Kabar Terbaru Ibu Bima
65 Penyesalan Yang Terlambat
66 Turut Berduka Cita
67 Aku Janda...
68 Selamat Datang di Kediaman Arsenio
69 Kapan Menikah?
70 Sebuah Panggilan Pagi
71 Keluhan Yang Tiada Henti
72 Curiga dan Mulai Gelisah
73 Siapa Pemilik Perusahaan
74 Saling Menyalahkan
75 Hancur Bersama
76 Keluarga Sat Set
77 Kejutan Untuk Desi
78 Dunia Ini Sempit
79 Mulai Posesif
80 Menikmati Momen Langka
81 Persiapan Menikah
82 Sah
83 Masakan Pertama Untuk Istri Tercinta
84 Benar-Benar Hancur
85 Acara Dansa
86 Waktu Berdua di Kamar
87 Gila, Jantungku Hampir Copot
88 Hallo Para Pembaca Setia
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Reruntuhan Bangunan Vs Reruntuhan Hati
2
Operasi Darurat Yang Mencekam
3
Begadang Nonton Drama Korea
4
Harus Menerima dan Terus Berjalan
5
Bukan Sembarang Orang
6
Bukan untuk Nostalgia
7
Niat Menjual Rumah
8
Lupa Dengan Prioritas
9
Berbohong dan Ke Egoisan Bima
10
Mimpi dan Kenyataan
11
Mencari Keberadaan Desi
12
Plin Plan dan Tidak Berpendirian
13
Bermimpi Bertemu Brian Arfi
14
Pikiran yang Berkecamuk
15
Di Cuekin Emang Enak
16
Oh O.. Kamu Ketahuan..
17
Kemarahan dan Penyesalan
18
Trauma Butuh Ditemani Suami
19
Heboh Heboh Heboh
20
Ambil Saja Beserta Ampas nya
21
Bertemu Keluarga Benalu
22
Keluarga yang Menarik
23
Berbohong Demi Reputasi
24
Mau Jadi Anak Durhaka
25
Menikahlah Dengan Pilihan Mama
26
Sudah Selama Itu Ternyata
27
Cari Yang Lain Aja Sih
28
Jauh Jauh dari Hidupku
29
Hallo Tampan
30
Penyakit Langka
31
Penthouse Hunian Milik Desi
32
Bertemu Lagi...
33
Kekesalan Gabriel
34
Lelah Hati, Fikiran dan Fisik
35
Kedatangan Maya dan Abas
36
Mulai Rileks Bersama Mereka
37
Cerita Dalam Lift
38
Cerita Berlanjut....
39
Aku Punya Kejutan Istimewa
40
Bukan Na Hee Do
41
Kebohongan Terungkap
42
Kejutan Yang Tak Terduga
43
Kekecewaan Yang Besar
44
Senyuman Mahal Gabriel
45
Drama Asyik Di Pagi Hari
46
Kenyataan Pahit
47
Bebas.. Cheers
48
Sebenarnya Kau Siapa
49
Semua Salahmu Sendiri
50
Kenyataan Yang Menyakitkan
51
Tetangga Tampan
52
CEO Gadungan
53
Malas-Malasan Di Kantor
54
Bertemu Pelakor
55
Kedatangan Rendra
56
Cerita Desi Panjang x Lebar x Tinggi
57
Hidup Tak Seindah Yang di Bayangkan
58
Mulai Perhitungan
59
Ada Pertunjukan Hari Ini
60
Hukuman Untuk Pencuri Identitas
61
Akhir Dari Karyawan Nakal
62
Akhir Dari Maya Si Pelakor
63
Pacar Pura-Pura
64
Kabar Terbaru Ibu Bima
65
Penyesalan Yang Terlambat
66
Turut Berduka Cita
67
Aku Janda...
68
Selamat Datang di Kediaman Arsenio
69
Kapan Menikah?
70
Sebuah Panggilan Pagi
71
Keluhan Yang Tiada Henti
72
Curiga dan Mulai Gelisah
73
Siapa Pemilik Perusahaan
74
Saling Menyalahkan
75
Hancur Bersama
76
Keluarga Sat Set
77
Kejutan Untuk Desi
78
Dunia Ini Sempit
79
Mulai Posesif
80
Menikmati Momen Langka
81
Persiapan Menikah
82
Sah
83
Masakan Pertama Untuk Istri Tercinta
84
Benar-Benar Hancur
85
Acara Dansa
86
Waktu Berdua di Kamar
87
Gila, Jantungku Hampir Copot
88
Hallo Para Pembaca Setia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!