Bukan untuk Nostalgia

Desi meraih ponselnya dengan penuh tekad. Dalam daftar kontak, ia menemukan nama Paman Adrian, Pengacara Keluarga. Ia menekan tombol panggil, menunggu nada sambung dengan sabar. Tak lama, suara berat tapi ramah menjawab di seberang.

“Halo, selamat pagi. Ini Adrian. Oh, tunggu, ini... Nona Desi? Lama sekali tak ada kabar dari Anda.”

“Halo juga, Paman. Ya, memang sudah cukup lama. Kali ini saya menelepon bukan untuk nostalgia, tapi ada hal penting yang perlu dibahas.” ucap Desi tersenyum miring.

“Tentu, tentu. Saya selalu siap membantu Anda, Nona Desi. Bagaimana kabarmu, Nona? Semoga semuanya baik-baik saja.”

“Baik? Hmm... Mungkin lebih tepatnya, saya baru saja kembali dari pintu kematian. Bapak pasti kaget, kan, tiba-tiba saya menelepon setelah sekian lama?” ucap Desi sambil tertawa kecil.

“Dari pintu kematian? Maksud Anda?” ucap diseberang telfon kaget.

“Ceritanya panjang, Paman. Intinya, saya mengalami kecelakaan, koma selama tiga hari, dan baru sadar kemaren. Sekarang saya masih di rumah sakit.” ucap Desi sambil menghela nafas panjang

“Astaga, Nona Desi. Saya benar-benar tidak tahu. Saya turut prihatin. Tapi syukurlah Anda sudah membaik. Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin bercerai.”

Adrian terdiam sesaat, lalu berkata dengan hati-hati, “Bercerai? Apakah Anda yakin, Nona Desi? Maksud saya, apakah keputusan Nona sudah bulat?.”

“Saya sangat yakin, Paman Adrian. Bahkan bisa dibilang, ini keputusan yang paling masuk akal yang pernah saya buat dalam hidup saya.”

“Baiklah. Kalau begitu, bisa Anda ceritakan lebih detail? Apa yang membuat Anda ingin bercerai? Apakah ada sesuatu yang terjadi selama ini?”

Desi tertawa dingin, “Pak Adrian, bahkan sebelum saya koma, suami saya sudah menjadi bencana. Ini juga bermula karena ada cinta pertama nya. Dan selama tiga hari saya koma, dia bahkan tidak repot-repot datang atau mengangkat telepon dari rumah sakit. Tidak ada yang perlu dipertahankan dari orang seperti itu. Detailnya nanti saya bicarakan jika bertemu.”

Adrian menarik napas panjang, “Saya mengerti. Kalau begitu, kapan kira-kira kita bisa bertemu?”

“Nanti setelah saya keluar dari Rumah Sakit akan menemui paman.”

“Baik, Nona Desi. Kalau begitu, saya akan mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Namun, saya harus bertanya, apakah Anda ingin ini selesai secara damai atau melalui jalur pengadilan?”

“Damai? Tidak, Paman. Saya hanya ingin menjauh dari laki-laki itu.”

“Baiklah. Saya akan mempersiapkan dokumen untuk kasus ini. Apakah ada hal lain yang ingin Anda tambahkan atau prioritaskan dalam proses ini? Harta Gono gini mungkin?”

“Harta gono-gini? Dia tidak tahu jika saya itu kaya dan punya perusahaan dari mendiang kedua orang tua saya. Yang dia tahu, jika saya punya rumah dan kendaraan dari peninggalan orang tua saya dan dari sebelum kami menikah. Jadi tak akan ada pembagian harta Gono gini. Jadi tidak mungkin dia akan mendapat sepeser pun dari aset saya.”

“Oh begitu. Baiklah Nona, saya akan menghubungi Anda lagi dalam waktu dekat untuk memberikan perkembangan hingga menunggu Nona datang kesini.”

“Terima kasih, Paman. Saya tunggu kabar dari paman. Dan tolong, jangan beritahu siapa pun tentang rencana ini. Saya ingin ini tetap rahasia sampai waktunya tiba.”

“Tentu, Nona Desi. Anda bisa mempercayai saya. Jaga kesehatan Anda, ya.”

“Pasti, Paman. Dan terima kasih sudah selalu membantu.”

Setelah Desi mengakhiri panggilan dengan pengacara keluarga, ia merebahkan dirinya di ranjang.

Tak lama, pintu kamar VIP itu diketuk sebelum terbuka perlahan. Dokter Andini masuk bersama seorang perawat muda yang membawa tablet catatan pasien.

Dokter Andini tersenyum hangat, "Selamat siang, Ibu Desi. Bagaimana kondisi Anda hari ini? Semoga semakin baik setelah istirahat tadi malam."

Desi dengan nada santai, "Siang, Dok. Saya merasa jauh lebih baik. Cuma badan masih sedikit pegal, tapi lumayan lah kalau dibandingkan kemarin."

Dokter Andini.memasang stetoskopnya, "Syukurlah. Kami memang memantau perkembangan Anda dengan ketat. Sekarang, mari saya periksa dulu, ya. Kalau tidak keberatan, saya akan memulai dari tekanan darah."

Desi tersenyum kecil, "Oh, silakan, Dok. Saya siap diperiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki."

Perawat tersenyum sambil menyiapkan alat, "Ibu Desi selalu semangat 45."

Desi tertawa kecil, "Hidup saya sudah terlalu banyak drama, Mbak. Kalau saya tambah mengeluh, rasanya malah makin rumit. Jadi lebih baik santai saja."

Dokter Andini ikut tersenyum, "Bagus kalau begitu. Tapi, tetap jangan memaksakan diri, ya. Kita harus memastikan pemulihan Anda berjalan optimal."

Dokter Andini mulai memeriksa tekanan darah Desi, memantau alat monitor, dan mengamati denyut nadi melalui pergelangan tangan. Sementara itu, Desi memperhatikan dengan tenang.

Dokter Andini dengan nada profesional, "Tekanan darah Anda normal, Ibu Desi. Denyut nadinya juga stabil. Bagaimana dengan rasa sakit di tubuh Anda? Masih terasa intens di area tertentu?"

Desi menghela napas pelan, "Kalau sakit sih, masih ada di punggung bagian bawah, Dok. Tapi nggak separah kemarin. Mungkin efek dari obat yang diberikan, ya?"

Dokter Andini mengangguk, "Betul sekali. Obat antiinflamasi yang kami berikan memang dirancang untuk meredakan nyeri. Namun, kami tetap harus berhati-hati agar tidak ada efek samping jangka panjang."

Perawat menambahkan, "Oh iya, mungkin Anda salah posisi tidur. Apakah Ibu Desi merasa kurang nyaman waktu tidur?"

Desi tersenyum, "Saya tidur seperti mayat, Mbak. Diam, nggak bergerak. Jadi mungkin memang posisi tidur saya yang salah. Tapi nggak apa-apa, masih bisa saya toleransi."

Dokter Andini tertawa kecil, "Bagus kalau Anda bisa tetap positif. Sekarang saya akan memeriksa kondisi luka-luka luar Anda, ya."

Dokter Andini membuka perban di lengan dan memeriksa luka yang sebelumnya dirawat. Ia berhati-hati agar tidak menyakiti Desi, sementara perawat mencatat setiap pengamatan.

Dokter Andini mengangguk puas, "Lukanya membaik dengan sangat baik. Tidak ada tanda-tanda infeksi, dan jaringan kulit baru mulai terbentuk. Ini kabar bagus, Ibu Desi."

Desi tersenyum, "Syukurlah, Dok. Jadi kapan saya bisa mulai jogging lagi?"

Perawat tertawa kecil, "Ibu Desi bercanda, kan?"

Desi tertawa, "Iya dong, Mbak. Jogging sih masih jauh. Tapi ya, siapa tahu besok sudah bisa pulang, ya kan?"

Dokter Andini tersenyum, "Kalau semua berjalan lancar dan tidak ada komplikasi lain, Anda bisa pulang besok sore. Tapi, tentu saja, dengan syarat Anda harus mengikuti panduan pemulihan yang kami berikan."

Desi mengangguk serius, "Siap, Dok. Saya pasti akan mengikuti semua instruksinya. Tapi, Dok, ngomong-ngomong soal pemulangan, bagaimana dengan urusan administrasinya? Saya perlu mengurus sesuatu sebelumnya?"

"Oh, jangan khawatir soal itu, Bu. Semua administrasi akan kami siapkan, dan Anda hanya tinggal menandatangani beberapa dokumen nanti." ucap perawat itu.

Desi tersenyum kecil, "Terima kasih, Mbak perawat. Jadi, besok sore saya bebas, ya?"

"Betul. Tapi ingat, Anda harus istirahat total setidaknya selama dua minggu setelah pulang. Jangan terlalu banyak aktivitas berat dulu." ucap Dokter Andini.

"Oke, Dok. Dua minggu, saya catat." ucap Desi meyakinkan.

Dokter Andini tersenyum, "Kalau begitu, kami akan pamit dulu. Anda istirahat saja, dan kami akan datang lagi nanti untuk pemeriksaan akhir sebelum jadwal pemulangan."

Desi menatap mereka dengan senyum, "Terima kasih, Dok. Mbak juga. Jangan lupa, kalau ada sisa obat atau vitamin, kasih tahu saya ya. Siapa tahu bisa jadi oleh-oleh."

Perawat tertawa kecil, "Ibu Desi benar-benar punya selera humor yang bagus."

"Humor itu penting, Mbak. Kalau nggak ketawa, nanti malah stres lagi." ucap Desi sambil terkekeh.

Dokter Andini tersenyum sambil mengangguk, "Kami setuju. Sampai jumpa nanti, Bu Desi. Selamat beristirahat."

Dokter Andini dan perawat meninggalkan kamar, sementara Desi menatap keluar jendela besar di ruang VIP itu. Ia mengamati taman rumah sakit yang hijau, lalu menarik napas dalam.

Desi dalam hati bertekad, "Besok sore, semuanya dimulai. Aku akan membenahi hidup ini satu per satu. Dari bayimu, Desi, sampai si brengsek yang berani mempermainkanmu. Tunggu saja, semuanya akan kubalikkan ke arahku." ucapnya menyeringai kecil.

Terpopuler

Comments

Ning Suswati

Ning Suswati

kasian sekali mati jadi penasaran, semoga gendis benar menjalankan wasiat dri desi, dan suaminya dan selingkunhannya mengalami derita yg lebih buruk lagi

2025-03-18

0

Kamiem sag

Kamiem sag

setelah menguburkan bayi Desi tolong cepat pecat itu suami plinplannya Desi ya Ndis

2025-03-04

0

Meistiana Wulandari

Meistiana Wulandari

aneh suaminya masa istrinya gak pulang berhari-hari kok gak khawatir nyarii

2025-03-18

0

lihat semua
Episodes
1 Reruntuhan Bangunan Vs Reruntuhan Hati
2 Operasi Darurat Yang Mencekam
3 Begadang Nonton Drama Korea
4 Harus Menerima dan Terus Berjalan
5 Bukan Sembarang Orang
6 Bukan untuk Nostalgia
7 Niat Menjual Rumah
8 Lupa Dengan Prioritas
9 Berbohong dan Ke Egoisan Bima
10 Mimpi dan Kenyataan
11 Mencari Keberadaan Desi
12 Plin Plan dan Tidak Berpendirian
13 Bermimpi Bertemu Brian Arfi
14 Pikiran yang Berkecamuk
15 Di Cuekin Emang Enak
16 Oh O.. Kamu Ketahuan..
17 Kemarahan dan Penyesalan
18 Trauma Butuh Ditemani Suami
19 Heboh Heboh Heboh
20 Ambil Saja Beserta Ampas nya
21 Bertemu Keluarga Benalu
22 Keluarga yang Menarik
23 Berbohong Demi Reputasi
24 Mau Jadi Anak Durhaka
25 Menikahlah Dengan Pilihan Mama
26 Sudah Selama Itu Ternyata
27 Cari Yang Lain Aja Sih
28 Jauh Jauh dari Hidupku
29 Hallo Tampan
30 Penyakit Langka
31 Penthouse Hunian Milik Desi
32 Bertemu Lagi...
33 Kekesalan Gabriel
34 Lelah Hati, Fikiran dan Fisik
35 Kedatangan Maya dan Abas
36 Mulai Rileks Bersama Mereka
37 Cerita Dalam Lift
38 Cerita Berlanjut....
39 Aku Punya Kejutan Istimewa
40 Bukan Na Hee Do
41 Kebohongan Terungkap
42 Kejutan Yang Tak Terduga
43 Kekecewaan Yang Besar
44 Senyuman Mahal Gabriel
45 Drama Asyik Di Pagi Hari
46 Kenyataan Pahit
47 Bebas.. Cheers
48 Sebenarnya Kau Siapa
49 Semua Salahmu Sendiri
50 Kenyataan Yang Menyakitkan
51 Tetangga Tampan
52 CEO Gadungan
53 Malas-Malasan Di Kantor
54 Bertemu Pelakor
55 Kedatangan Rendra
56 Cerita Desi Panjang x Lebar x Tinggi
57 Hidup Tak Seindah Yang di Bayangkan
58 Mulai Perhitungan
59 Ada Pertunjukan Hari Ini
60 Hukuman Untuk Pencuri Identitas
61 Akhir Dari Karyawan Nakal
62 Akhir Dari Maya Si Pelakor
63 Pacar Pura-Pura
64 Kabar Terbaru Ibu Bima
65 Penyesalan Yang Terlambat
66 Turut Berduka Cita
67 Aku Janda...
68 Selamat Datang di Kediaman Arsenio
69 Kapan Menikah?
70 Sebuah Panggilan Pagi
71 Keluhan Yang Tiada Henti
72 Curiga dan Mulai Gelisah
73 Siapa Pemilik Perusahaan
74 Saling Menyalahkan
75 Hancur Bersama
76 Keluarga Sat Set
77 Kejutan Untuk Desi
78 Dunia Ini Sempit
79 Mulai Posesif
80 Menikmati Momen Langka
81 Persiapan Menikah
82 Sah
83 Masakan Pertama Untuk Istri Tercinta
84 Benar-Benar Hancur
85 Acara Dansa
86 Waktu Berdua di Kamar
87 Gila, Jantungku Hampir Copot
88 Hallo Para Pembaca Setia
Episodes

Updated 88 Episodes

1
Reruntuhan Bangunan Vs Reruntuhan Hati
2
Operasi Darurat Yang Mencekam
3
Begadang Nonton Drama Korea
4
Harus Menerima dan Terus Berjalan
5
Bukan Sembarang Orang
6
Bukan untuk Nostalgia
7
Niat Menjual Rumah
8
Lupa Dengan Prioritas
9
Berbohong dan Ke Egoisan Bima
10
Mimpi dan Kenyataan
11
Mencari Keberadaan Desi
12
Plin Plan dan Tidak Berpendirian
13
Bermimpi Bertemu Brian Arfi
14
Pikiran yang Berkecamuk
15
Di Cuekin Emang Enak
16
Oh O.. Kamu Ketahuan..
17
Kemarahan dan Penyesalan
18
Trauma Butuh Ditemani Suami
19
Heboh Heboh Heboh
20
Ambil Saja Beserta Ampas nya
21
Bertemu Keluarga Benalu
22
Keluarga yang Menarik
23
Berbohong Demi Reputasi
24
Mau Jadi Anak Durhaka
25
Menikahlah Dengan Pilihan Mama
26
Sudah Selama Itu Ternyata
27
Cari Yang Lain Aja Sih
28
Jauh Jauh dari Hidupku
29
Hallo Tampan
30
Penyakit Langka
31
Penthouse Hunian Milik Desi
32
Bertemu Lagi...
33
Kekesalan Gabriel
34
Lelah Hati, Fikiran dan Fisik
35
Kedatangan Maya dan Abas
36
Mulai Rileks Bersama Mereka
37
Cerita Dalam Lift
38
Cerita Berlanjut....
39
Aku Punya Kejutan Istimewa
40
Bukan Na Hee Do
41
Kebohongan Terungkap
42
Kejutan Yang Tak Terduga
43
Kekecewaan Yang Besar
44
Senyuman Mahal Gabriel
45
Drama Asyik Di Pagi Hari
46
Kenyataan Pahit
47
Bebas.. Cheers
48
Sebenarnya Kau Siapa
49
Semua Salahmu Sendiri
50
Kenyataan Yang Menyakitkan
51
Tetangga Tampan
52
CEO Gadungan
53
Malas-Malasan Di Kantor
54
Bertemu Pelakor
55
Kedatangan Rendra
56
Cerita Desi Panjang x Lebar x Tinggi
57
Hidup Tak Seindah Yang di Bayangkan
58
Mulai Perhitungan
59
Ada Pertunjukan Hari Ini
60
Hukuman Untuk Pencuri Identitas
61
Akhir Dari Karyawan Nakal
62
Akhir Dari Maya Si Pelakor
63
Pacar Pura-Pura
64
Kabar Terbaru Ibu Bima
65
Penyesalan Yang Terlambat
66
Turut Berduka Cita
67
Aku Janda...
68
Selamat Datang di Kediaman Arsenio
69
Kapan Menikah?
70
Sebuah Panggilan Pagi
71
Keluhan Yang Tiada Henti
72
Curiga dan Mulai Gelisah
73
Siapa Pemilik Perusahaan
74
Saling Menyalahkan
75
Hancur Bersama
76
Keluarga Sat Set
77
Kejutan Untuk Desi
78
Dunia Ini Sempit
79
Mulai Posesif
80
Menikmati Momen Langka
81
Persiapan Menikah
82
Sah
83
Masakan Pertama Untuk Istri Tercinta
84
Benar-Benar Hancur
85
Acara Dansa
86
Waktu Berdua di Kamar
87
Gila, Jantungku Hampir Copot
88
Hallo Para Pembaca Setia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!