Rencana yang sia-sia

Malam itu, Kota Canyu tampak tenang seperti biasa. Namun, di balik ketenangan itu, ada permainan licik yang sedang berlangsung. Para penjahat yang menyusup ke kota mulai melancarkan rencana mereka. Insiden kecil mulai bermunculan di berbagai sudut kota: gudang bahan pangan terbakar, sumur utama tercemar, dan beberapa toko besar melaporkan kehilangan barang berharga.

Di sebuah ruangan gelap di penginapan kecil, pemimpin kelompok penjahat, pria dengan bekas luka di wajahnya, menyeringai puas. “Lihatlah, mereka tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Kota ini lebih rapuh dari yang terlihat.”

Wanita berambut merah, ahli strategi mereka, mengangguk. “Penduduk mulai panik, dan itu hanya masalah waktu sebelum kepercayaan mereka terhadap Zhang Wei runtuh. Kita tinggal menunggu momen yang tepat untuk melancarkan serangan besar.”

Namun, apa yang mereka tidak sadari adalah bahwa setiap langkah mereka telah dipantau sejak awal.

Di menara pusat, Zhang Wei berdiri di depan peta besar Kota Canyu, bersama dengan Song Meiyu dan beberapa pejabat kota lainnya. Tanda-tanda merah kecil yang menandai lokasi para penyusup terus berubah-ubah.

“Rencana mereka terlalu sempurna,” ujar Zhang Wei sambil tersenyum tipis. “Mereka berpikir bahwa kita benar-benar tidak menyadari keberadaan mereka. Sungguh percaya diri.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan Zhang Wei?” tanya Song Meiyu.

“Biarkan mereka merasa menang,” jawab Zhang Wei. “Tapi kita akan memandu kemenangan mereka ke arah yang kita inginkan.”

Dengan bantuan masternya, Lian Xuhuan, Zhang Wei telah menyiapkan formasi pengawasan tingkat tinggi yang tidak hanya memantau pergerakan mereka tetapi juga menganalisis pola serangan mereka. Setiap kebakaran, pencurian, dan sabotase yang terjadi sebenarnya adalah umpan yang sengaja dibiarkan oleh Zhang Wei untuk mengukur strategi musuh.

Keesokan harinya, kelompok penjahat itu semakin percaya diri. Salah satu dari mereka, seorang pria kurus yang bertugas sebagai informan, melaporkan bahwa penduduk kota mulai resah. “Mereka mulai kehilangan kepercayaan pada Zhang Wei. Beberapa bahkan mulai menyalahkannya atas semua kekacauan ini.”

Pria dengan bekas luka tertawa keras. “Bagus. Ini lebih mudah dari yang aku bayangkan. Saat mereka berada di puncak kekacauan, kita akan mengambil alih kota ini.”

Namun, di malam yang sama, segalanya mulai berubah. Ketika salah satu anggota mereka mencoba menyusup ke gudang senjata kota, dia menemukan bahwa pintu gudang telah terbuka. Dengan hati-hati, dia masuk, tetapi yang dia temukan hanyalah ruang kosong yang penuh dengan perangkap. Sebelum dia bisa melarikan diri, formasi pengikat aktif, menjebaknya di tempat.

Hal serupa terjadi di berbagai lokasi lain. Penyusup yang mencoba mencemari sumber air mendapati bahwa sumur itu telah dikeringkan sebelumnya. Bahkan gudang bahan pangan yang mereka bakar ternyata hanyalah gudang palsu yang sengaja dipasang oleh Zhang Wei sebagai umpan.

Di ruang rahasia di menara pusat, Zhang Wei duduk dengan santai sambil memandang layar kristal yang menampilkan semua lokasi jebakan. “Seperti yang kuduga, mereka terlalu percaya diri. Sekarang, saatnya untuk menjaring mereka semua.”

Masternya, Lian Xuhuan, tertawa kecil. “Rencana mereka memang rapi, tapi terlalu dangkal jika dibandingkan dengan pengalaman bertarungku selama ratusan tahun. Mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi.”

Zhang Wei mengangguk. “Tapi ini belum selesai. Pemimpin mereka masih bersembunyi, dan dia pasti akan bertindak begitu tahu anak buahnya tertangkap.”

Malam itu, Kota Canyu menjadi saksi dari pertarungan kecerdasan yang intens. Zhang Wei membuktikan bahwa kekuatan saja tidak cukup untuk melindungi kota ini. Dengan strategi matang dan bantuan masternya, dia telah menggagalkan sebagian besar rencana musuh tanpa harus mengangkat pedang. Namun, pertempuran sejati belum dimulai. Musuh utama mereka masih bersembunyi di bayang-bayang, menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Pagi berikutnya, Kota Canyu kembali ke suasana normal. Banyak penduduk tidak menyadari bahwa malam sebelumnya adalah puncak dari permainan kucing dan tikus yang dipimpin oleh Zhang Wei. Namun, di salah satu sudut kota, suasana jauh dari tenang. Para penyusup yang tersisa mulai panik ketika mendengar kabar bahwa banyak dari rekan mereka telah tertangkap atau hilang tanpa jejak.

Pemimpin mereka, pria dengan bekas luka, menghantam meja kayu dengan tinjunya. “Apa yang terjadi? Bagaimana bisa rencana kita terungkap?”

Wanita berambut merah, yang selama ini menjadi otak di balik strategi mereka, menggelengkan kepala. “Tidak mungkin. Semua langkah kita sudah diperhitungkan. Kota ini seharusnya tidak memiliki kekuatan untuk melawan kita.”

Namun, mereka segera menyadari kesalahan fatal mereka. Ketika mereka mencoba meninggalkan kota untuk menyusun ulang strategi, mereka menemukan bahwa semua jalur keluar telah diblokir oleh formasi pelindung yang tak terlihat. Setiap usaha untuk melewati perbatasan itu membuat mereka terpental mundur.

“Tidak mungkin! Ini jebakan!” salah satu dari mereka berteriak.

Zhang Wei, yang telah memantau situasi dari menara pusat, akhirnya memutuskan untuk turun tangan sendiri. Dengan mengenakan jubah hitamnya yang sederhana, dia melangkah keluar ke alun-alun utama kota, di mana para penyusup yang tersisa berkumpul, mencoba menemukan jalan keluar.

“Kalian terlihat seperti tikus yang terjebak,” kata Zhang Wei dengan suara tenang namun menusuk.

Mereka semua menoleh, dan pria dengan bekas luka melangkah maju. “Kau!” serunya dengan marah. “Kau pikir hanya karena formasi bodohmu ini, kau bisa menghentikan kami?”

Zhang Wei tersenyum tipis. “Kalian salah mengira. Ini bukan sekadar formasi. Kota ini adalah wilayahku, dan aku adalah penguasanya. Di sini, aku menentukan siapa yang bisa hidup atau mati.”

Salah satu dari mereka, seorang pria berbadan besar, mencoba menyerang Zhang Wei. Namun, saat dia melompat ke udara, kekuatannya tiba-tiba lenyap, tubuhnya terhempas ke tanah dengan keras.

“Apa yang terjadi?” tanya pria itu, terkejut.

Zhang Wei melangkah mendekat. “Di dalam kota ini, kekuatan kalian ditekan hingga ranah Martial Grandmaster. Itu adalah aturan formasi yang kutanamkan. Hanya aku yang bisa menggunakan kekuatanku sepenuhnya.”

Pria dengan bekas luka menggertakkan giginya. “Kau pikir itu cukup untuk menghentikan kami? Kami masih memiliki jumlah yang cukup untuk mengalahkanmu!”

Namun, sebelum dia bisa memerintahkan serangan, Zhang Wei mengangkat tangannya, dan pedangnya, Pelahap Embun, muncul dengan aura yang mengancam.

“Cobalah,” tantang Zhang Wei dengan nada santai.

Para penyusup menyerang secara serempak, berharap bisa mengalahkannya dengan jumlah. Tapi, bagi Zhang Wei, mereka hanyalah gerombolan serangga yang mencoba melawan badai. Dengan satu ayunan pedangnya, dia mengeluarkan gelombang energi yang memaksa mereka mundur.

“Tidak ada gunanya,” kata Zhang Wei. “Kalian terlalu lemah.”

Dalam waktu singkat, Zhang Wei menangkap semua penyusup yang tersisa. Mereka terjebak dalam formasi pengikat yang dirancang oleh masternya, Lian Xuhuan. Setiap kali mereka mencoba melarikan diri, formasi itu akan semakin memperketat cengkeramannya.

Zhang Wei mendekati pemimpin mereka, pria dengan bekas luka. “Katakan padaku, siapa yang mengirim kalian? Jika tidak, aku tidak akan segan-segan menghancurkan kalian di tempat.”

Namun, pria itu hanya tertawa getir. “Kau pikir kau menang? Ini baru permulaan. Orang-orang yang menginginkan kepalamu jauh lebih kuat daripada kami. Kau tidak akan bertahan lama, Zhang Wei.”

Zhang Wei menghela napas. “Kalau begitu, aku akan menunggu mereka. Tapi kalian, hari ini, akan menjadi pelajaran bagi siapa pun yang berpikir untuk mengganggu kotaku.”

Dengan itu, Zhang Wei menyerahkan mereka kepada pasukan keamanan kota untuk diinterogasi lebih lanjut. Penduduk kota yang mendengar tentang kejadian itu memuji Zhang Wei atas keberaniannya. Kota Canyu, sekali lagi, membuktikan bahwa ia bukan tempat yang bisa diremehkan oleh siapa pun.

Di atas menara pusat, Zhang Wei berdiri dengan masternya, memandang kota yang semakin hidup di bawah cahaya bulan.

“Langkah kecil menuju rencana besar,” gumam Lian Xuhuan.

Zhang Wei tersenyum. “Tapi cukup untuk menunjukkan pada dunia bahwa Kota Canyu adalah milikku, dan aku akan melindunginya dengan segala cara.”

Terpopuler

Comments

teguh andriyanto

teguh andriyanto

kok ngga dihabisin sih musuh2nya? nanggung amat

2025-03-24

1

Mamat Stone

Mamat Stone

oke Doski

2025-03-28

0

Nanik S

Nanik S

Mantul.... 👍👍👍

2025-03-17

0

lihat semua
Episodes
1 Bayangan Perang di Tanah Barat
2 Mangsa ingin Memangsa
3 Menerobos ranah Martial Ancestor
4 Musuh Lainnya
5 Pertempuran Dimulai
6 Ancaman yang Sebenarnya
7 Pertarungan dua Martial Ancestor
8 Kekalahan yang Memalukan
9 Perkembangan Pesat
10 Musuh Baru
11 Rencana yang sia-sia
12 Hukuman Tak Terhindarkan
13 Musuh Bodoh
14 Mengakhiri Kebodohan
15 Lalat Pengganggu
16 Perlawanan yang tak berguna
17 Memasuki Alam Rahasia
18 Mencari Material
19 Harta Karun Lembah Terlarang
20 Menantang Menara
21 Akar Pohon Dunia
22 Api Abadi dan Mahluk Suci
23 Penghancur Semesta & Warisan
24 Entitas Aneh
25 Mei si Misterius
26 Kota Diserang
27 Pangeran Bodoh
28 Undangan Kaisar
29 Menerima Undangan
30 Tiba di Istana
31 Dibalik Tirai Kekaisaran
32 Rencana Zhang Wei
33 Perjamuan Kekaisaran
34 Bersiap
35 Memulai Aksi
36 Misi Berhasil
37 Kerajaan Tianlan
38 Kota Haifeng
39 Konflik di Restoran
40 Zhao Heng
41 Kesombongan Kosong
42 Para Penjilat
43 Memilih
44 Menyebrangi Samudera
45 Jejak Baru di Benua Selatan
46 Kota Tanpa Hukum
47 Yue Lian
48 Serikat Langit Senja
49 Tiba di Gurun Kuno
50 Sekte Seribu Belati
51 Iblis Kelabu
52 Menjelajahi Reruntuhan Kuno
53 Ancaman Tak Terlihat
54 Pertemuan Kembali Dua Jiwa Kuno
55 Pecahan Kegelapan Mutlak
56 Dilema
57 Situasi Tak Terduga
58 Pusat Reruntuhan
59 Pasukan Hitam
60 Zhang Wei Terdesak
61 Amarah Jiwa Kuno
62 Cerita Lama
63 Tragedi
64 Pewarisan
65 Tepat Waktu
66 Mencegah Bencana
67 Kepergian Lian Xuhuan
68 Perpisahan
69 Menerobos Martial Sovereign
70 Menguji Kekuatan
71 Meninggalkan Gurun Kuno
72 Pertarungan Tanpa Pemenang
73 Kembali ke Benua Timur
74 Menyerang Kota Canyu
75 Menyerang Kota Canyu II
76 Kaisar Turun Tangan
77 Duel Entitas Terkuat Dari Benua Timur
78 Perbedaan Yang Membuat Perbedaan
79 Era Baru
80 Kemakmuran Wilayah Utara
81 Melanjutkan Misi Utama
82 Menantang Mei
83 Pengakuan dan Petunjuk
84 Membantai Naga Bumi
85 Panen Yang Luar Biasa
86 Diusir
87 Langkah Menuju Benua Tengah
88 Mulai Berlayar
89 Memasuki Samudera Petaka
90 Rintangan Pertama Samudera Petaka
91 Kepulauan Misterius
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bayangan Perang di Tanah Barat
2
Mangsa ingin Memangsa
3
Menerobos ranah Martial Ancestor
4
Musuh Lainnya
5
Pertempuran Dimulai
6
Ancaman yang Sebenarnya
7
Pertarungan dua Martial Ancestor
8
Kekalahan yang Memalukan
9
Perkembangan Pesat
10
Musuh Baru
11
Rencana yang sia-sia
12
Hukuman Tak Terhindarkan
13
Musuh Bodoh
14
Mengakhiri Kebodohan
15
Lalat Pengganggu
16
Perlawanan yang tak berguna
17
Memasuki Alam Rahasia
18
Mencari Material
19
Harta Karun Lembah Terlarang
20
Menantang Menara
21
Akar Pohon Dunia
22
Api Abadi dan Mahluk Suci
23
Penghancur Semesta & Warisan
24
Entitas Aneh
25
Mei si Misterius
26
Kota Diserang
27
Pangeran Bodoh
28
Undangan Kaisar
29
Menerima Undangan
30
Tiba di Istana
31
Dibalik Tirai Kekaisaran
32
Rencana Zhang Wei
33
Perjamuan Kekaisaran
34
Bersiap
35
Memulai Aksi
36
Misi Berhasil
37
Kerajaan Tianlan
38
Kota Haifeng
39
Konflik di Restoran
40
Zhao Heng
41
Kesombongan Kosong
42
Para Penjilat
43
Memilih
44
Menyebrangi Samudera
45
Jejak Baru di Benua Selatan
46
Kota Tanpa Hukum
47
Yue Lian
48
Serikat Langit Senja
49
Tiba di Gurun Kuno
50
Sekte Seribu Belati
51
Iblis Kelabu
52
Menjelajahi Reruntuhan Kuno
53
Ancaman Tak Terlihat
54
Pertemuan Kembali Dua Jiwa Kuno
55
Pecahan Kegelapan Mutlak
56
Dilema
57
Situasi Tak Terduga
58
Pusat Reruntuhan
59
Pasukan Hitam
60
Zhang Wei Terdesak
61
Amarah Jiwa Kuno
62
Cerita Lama
63
Tragedi
64
Pewarisan
65
Tepat Waktu
66
Mencegah Bencana
67
Kepergian Lian Xuhuan
68
Perpisahan
69
Menerobos Martial Sovereign
70
Menguji Kekuatan
71
Meninggalkan Gurun Kuno
72
Pertarungan Tanpa Pemenang
73
Kembali ke Benua Timur
74
Menyerang Kota Canyu
75
Menyerang Kota Canyu II
76
Kaisar Turun Tangan
77
Duel Entitas Terkuat Dari Benua Timur
78
Perbedaan Yang Membuat Perbedaan
79
Era Baru
80
Kemakmuran Wilayah Utara
81
Melanjutkan Misi Utama
82
Menantang Mei
83
Pengakuan dan Petunjuk
84
Membantai Naga Bumi
85
Panen Yang Luar Biasa
86
Diusir
87
Langkah Menuju Benua Tengah
88
Mulai Berlayar
89
Memasuki Samudera Petaka
90
Rintangan Pertama Samudera Petaka
91
Kepulauan Misterius

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!