Baru berapa menit saja aku berada di rumah ini, namun sudah mendapat sambutan hangat dari penghuni tak kasat mata. Tak heran jika para pekerja enggan berlama-lama tinggal di sini.
"Oke ... Kita bisa mencari solusi bersama. Tanpa harus memilih pulang," kataku, membuat mang Tohir dan rekannya kembali saling bertukar pandang.
"Gimana, ya, Mas ...." Mang Tohir terlihat gugup dan bimbang untuk mengambil keputusan yang tepat.
"Kalau begitu ... Mamang tinggal pilih saja, mau tinggal di sini, dengan ditemani kami, atau tinggal di rumah Rifaldy yang di Gg. Rantai? Biar aku dan Rifaldy yang menjaga rumah ini." Mendengar itu membuat mereka saling berbisik. "Atau akan memilih pulang, dengan hasil tak sepadan?" lanjutku.
"Pilihan pertama bagus, Mas! Asalkan kami tidak bermalam di sini-" Mang Tohir mengangguk samar, "Kita mau Mas!"
"Oke, berarti semua tetap melanjutkan kerja, ya? ... Pulang pukul lima sore, dan datang pukul tujuh pagi, bagaimana?" Mataku menatap wajah mereka satu per satu, yang sudah bisa tersenyum halus, "Nanti aku yang bilang pak Ferdy, agar memberi fasilitas motor untuk pulang para pekerja.
Mang Tohir pun berseru dengan penuh semangat, "Siap ...."
Aku menoleh ke arah Rifaldy yang masih melongo mendengar percakapannya kami.
"Rif ... Kamar di lantai bawah kosong, kan? Dari pada ribet mencari pekerja baru yang belum tentu betah apa nggak."
"Kosong! ... Gue setuju kalau gitu," balas Rifaldy, ia menghela nafas sesaat kembali berucap, "Tahu kaya gitu dari kemarin-kemarin saja gue suruh yang kerja tinggal di rumah, gue."
"Kadang, di dunia ini, ada hal yang sulit diterima oleh akal sehat, Rif ... Seperti 'Angin' ia terasa namun tak berwujud. Sama halnya dengan masalah ini, kalau kita bisa mencermatinya. Pasti bisa menemukan titik terang," paparku, beranjak dari duduk. "Gue rasa ... Nggak ada satupun yang mustahil terjadi di dunia ini."
"Iya ... Sama kayak otak, lu ... Gue rasa ketuker waktu di R.S," sahut Rifaldy, yang malah mencibirku.
Aku berbalik ke arah Rifaldy yang masih berwajah penuh tanda tanya.
"Hah?"
"Nggak ... Ada yang aneh aja dari cara lu ngomong," lugas Rifaldy, sesaat berpaling wajah dariku, "Terus. Mau mulai kapan Mang ke Gg. Rantai?"
"Ka-kapan ...." Ia terdengar masih ragu, namun teman mang Tohir sedikit mencuil lengannya, "Boleh sekarang saja Mas?"
"Kasih deh kunci motor, terus lu telpon orang rumah," saranku, "tapi janji semangat lagi kerjanya, ya, Mang?" tambahku, tersenyum, penuh penekanan padanya.
"I-iya, yakin semangat, Mas. Jam enam pagi kita kembali ke sini untuk berkerja, Mas!" sahutnya, dan ia mengambil kunci yang di sodorkan Rifaldy.
Aku sedikit melirik jendela samping dan kulihat hujan masih turun cukup deras, "Masih hujan, Mang! Nanti aja nunggu reda."
"Iya nggak apa-apa, Mas, saya bawa baju salin dari sini."
Karena merasa tidak tahan ingin buang air kecil, aku bergegas melangkah untuk pergi ke toilet.
"Bikin kopi, Den?" tanya Rifaldy, yang melihat aku berjalan mengarah ke dapur.
"Toilet!" singkatku, terburu-buru.
Aku mendorong pintu berwarna coklat dengan motif ikan Koi, dan terlihat bagian dalam kamar mandi yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
Bak-mandi yang dulunya hanya sebuah tong besar berwarna biru, kini sudah menggunakan keramik yang bermotif bunga mawar merah. Namun, sekejap aku teringat, akan suatu kejadian yang pernah aku alami di sini.
Ketika itu pantulan wajahku menyerupai sesosok wanita berambut panjang dengan kulit putih pucat. Walau aku tahu saat itu kondisi tubuhku sedang tidak stabil, tapi tetap saja sudah cukup membuatku ragu untuk kembali ke dalam toilet ini.
Bruuumm... Bruummm...
Lirih motor menyala yang lalu semakin menjauh, menjadi pertanda bahwa para pekerja sudah meninggalkan rumah ini.
"Den, mau kopi ngga lu?" tanya Rifaldy, sepertinya hendak membuat kopi di dapur.
Aku membuka pintu toilet, dan melangkah keluar, "Bukannya udah dibikin mang Tohir, ya?"
"Nggak jadi ... Kan, gue suruh masukin motor."
" ... Oya si Aidan sama Kevin nggak ke sini, Rif?" balasku, yang masih berdiri di ambang pintu.
"Tau tuh anak pada kemana, gue SMS juga ngga pada balas," jawab Rifaldy, ia nampak meletakan gelas pada meja keramik.
"Coba gue telpon mereka deh," singkatku, lalu menuju ruang tengah, untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tas selempang-ku.
Dengan santai aku merobohkan diri di atas tempat tidur, sambil menatap layar ponsel.
...
Pada kemana ini anak-anak, di telpon nggak diangkat-angkat..
Karena tak ada jawaban, aku menghentikan panggilan dan mulai menyalakan TV sembari menunggu Rifaldy yang sedang membuat secangkir kopi.
Beberapa menit telah berlalu, aku melirik jam dinding, sudah hampir 45 menit, tapi Rifaldy tak kunjung juga kembali.
Bikin kopi di Hongkong kayaknya, nih orang! Aku beranjak dari tempat tidur untuk meminta kopi yang tengah di siapkan Rifaldy.
Akan tetapi, langkahku terasa begitu berat ketika aku tiba di depan pintu nomor tiga, Aroma tidak sedap kental terendus oleh hidungku di sekitar ruangan.
Wuussssshhhh..
Angin berhembus menabrak wajahku dengan cepat, membuat langkah ini serentak terhenti. Aku menoleh dan tertegun saat kulihat Rifaldy tengah berdiri tegap, dengan wajah tertunduk menatap dua gelas yang ada di depannya. Secepat mungkin aku menghampirinya.
Telapak tanganku menepuk pundak Rifaldy, "Rif ...." Namun ia tak merespon. Tubuhnya terasa begitu kaku, bak patung yang terbuat dari balok Es.
Mataku menyipit, saat menyadari ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi padanya.
Dengan sekuat tenaga aku menepak bahunya sangat keras, "Oi! .... Rif!!" Rifaldy pun terperanjat, hampir saja ia menumpahkan satu toples gula yang sedang ia genggam. "Bikin kopi lama banget!"
Ia hanya terdiam, dengan nafas tak teratur. Tubuhnya mulai bereaksi, terlihat dari keringat yang mulai timbul membasahi dahinya.
"Udah sini biar gua saja yang bikin kopi," aku mengambil toples gula yang ia pegang dengan, namun Rifaldy memeganginya sangat erat. "Udah sana! ... Tunggu di kamar!" lanjutku, mendorong punggung Rifaldy agar ia menjauh dari lokasi ini.
Langkahnya terhuyung, wajahnya begitu pucat, tatapan matanya nampak kosong. Rifaldy berjalan perlahan meninggalkanku tanpa sepatah katapun.
Aku menghela nafas panjang, dan menggeleng kepala samar, Apakah Ini yang kerap dirasakan oleh para pekerja ...
Bulu kuduk-ku serentak berdiri-menjalar dari lengan hingga ubun-ubun. Dengan tergesa-gesa aku mengaduk cangkir kopi yang sedikit meluap-luap, lalu seger meninggalkan ruang dapur yang sudah terasa sangat berbeda.
Sesampainya di kamar, Rifaldy sedang duduk bersandar pada sisi tempat tidur. Wajahnya tertunduk lesu sambil memeluk ke-dua kakinya. Membuatku tak tega melihatnya, terlebih bola matanya yang tak henti berkeliling, mengitari setiap sudut kamar.
"Gue udah coba telpon Aidan maupun Kevin, tapi nggak ada Jawaban," ucapku, sambil menaruh satu gelas kopi di dekatnya. Namun Rifaldy tak mengindahkan perkataan-ku.
Aku pun duduk di sisinya, lalu memainkan sebuah Game sambil menjulurkan Stick padanya, "Rif ... Kenapa, si, lu? Main, ayo!" ajak-ku, ia hanya menggeleng samar tanpa melirik-ku.
Kriingg!! kringg!!
Suara ponsel yang berdering, mengalihkan perhatian, "Nah! Dari Aidan, nih!" seruku, meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.
Aku mengernyit saat melihat layar ponsel yang kulihat panggilan ini tak memiliki nama, "Halo. Siapa, ya?"
"A! Ini, Edi ...." (Edy adalah adik kandungku, yang tinggal di Cilebut.)
"Aa, kira siapa. Kenapa Die?"
Kami berbincang tidak begitu lama, Edi hanya meminta tambahan uang untuk membeli sepeda motor pada seseorang yang ternyata penjualnya tinggal di Gunung Batu.
"Siapa, Den?" Aku menoleh ke arah Rifaldy, nampaknya ia sudah lebih tenang.
"Edi, Rif ... Mau beli motor, tapi uangnya kurang," balasku, merebahkan tubuh pada tempat tidur.
"Terus?"
"Besok Dia mau ke sini," singkatku, menarik beberapa bantal untuk menopang kepalaku.
"Ajak nginep sini, Den! Kangen gue sama dia, udah lama nggak ketemu," seru Rifaldy.
"Sip ...." Aku menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhku sebatas dada.
"Tadi ngajak main Game! Sekarang malah molor!" gusar Rifaldy, menarik kembali selimutku.
"Hayo, jadi! ... Gue selonjoran dulu," balasku, dengan mata mulai memudar.
********
Jang ... Kamana wae atuh, Jang ...
Aku terperanjat, menoleh cepat pada sesosok Wanita tua yang berdiri bungkuk, memandangku dengan senyum menyeringai.
Aku terpaku saat menatap wajahnya yang seakan tidak asing bagiku,
"Nenek?" tanyaku, membuat Nenek itu tertawa cekikikan tak jelas.
Wuuuuusssshhhh..
Serentak aku terjaga dari tidurku, ketika merasakan hembusan angin yang cukup kuat menggelitik daun telingaku.
Jantung ini berdetak semakin cepat, ketika aku sadar jika ada bayangan hitam, besar berdiri tegap di atas tubuhku. Bayangan Kaki itu hendak menginjak-ku dengan sangat brutal.
Ke-Kenapa ini ...!
Aku semakin panik saat tubuhku terasa kaku, tak bisa digerakkan sedikitpun. Bahkan aku kesulitan untuk bicara. Semakin lama aku berusaha bergerak nafas ini semakin tercekik, dadaku seperti tertekan oleh sesuatu yang begitu berat.
Sebisa mungkin aku mengumpulkan tenaga dan melepasnya dengan serentak, hingga akhirnya aku terbebas dari kejadian aneh ini.
Nafasku tak beraturan, badan ini terkulai lemas seraya keringat yang mulai bercucuran. Ini jelas bukan mimpi, aku benar-benar merasakannya.
Suara detak jarum jam mengisi kesunyian yang membisu ditengah heningnya malam, udara dingin yang sangat menusuk kulit, berhembus memasuki kamar dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Aku melirik pada jam dinding yang sudah menunjukan pukul satu pagi—lewat tengah malam.
Alisku mengkerut, saat kusadari jika aku tidur seorang diri, "Rif ...." Mataku mengitari ruangan, menyadari Rifaldy tak berada di dalam kamar.
Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah hendak menuju toilet, akan tapi ... Langkahku terhenti, ketika melihat pintu kamar nomor tiga dalam keadaan terbuka lebar—tanpa sedikitpun cahaya.
Aku melangkah perlahan, dengan wajah tak berpaling menatap ke dalam kamar yang gelap, "Rif?"
Semakin dekat firasatku bertambah kian memburuk. "Mang Tohir?" Langkahku tercekat saat aku tiba di bibir pintu.
Gelap yang begitu pekat, kini terasa semakin memudar, aku menghela nafas sambil mengusap dada.
"Oi! ... Ngapain lu di situ!" lantangku, saat aku temukan Rifaldy sedang berdiri tegap di tengah ruangan, dengan wajah mendongak—mengarah ke langit-langit. "Rif? ...."
Aku menatapnya penuh curiga, "Rif!"
Ia tak bergeming sedikitpun, bahkan wajahnya terlihat kaku. Menyadari hal tak beres terjadi pada dirinya, aku berlari menghampirinya.
Aku terbelalak saat melihat raut wajah Rifaldy yang sangat tak biasa. Matanya terbuka lebar hanya menyisakan putihnya saja yang hampir mengering.
Jemariku menyanggah dagu Rifaldy, dan menyingkap mulutnya yang menganga lebar.
Entah sudah berapa lama ia berada di sini, sungguh tak tega melihat kondisinya. Aku tak tahu jika Rifaldy memiliki penyakit Sleepwalking (tidur berjalan) karena ini kali pertama aku melihatnya.
Aku mengusap wajah Rifaldy, dari kening hingga hidung—untuk menutup matanya. Tubuhnya begitu dingin seperti mayat, mungkin karena terlalu lama berdiri.
Dalam situasi ini aku tidak boleh gegabah, sedikit saja ia terkejut maka bisa membuat jantungnya berdetak kencang, mungkin akan berakibat fatal, terutama jika memiliki riwayat lemah jantung.
Aku membuka-tutup pernafasannya dengan menjepit hidung Rifaldy beberapa kali, berharap bisa membuatnya tersadar.
"Rif ...." Meski ia tidak menjawab, namun Rifaldy mulai bereaksi. Wajah pucatnya mulai memerah, bibirnya tak henti bergetar, seakan sedang mengucapkan sebuah kalimat.
Aku menyandarkan lengan kirinya pada pundak-ku, dan segera memapahnya berjalan menuju kamar.
Baru kami tiba di ambang pintu, aku terperangah oleh suara tangisan wanita yang berasal dari lantai dua. Tangisannya sangat halus, namun sangat memilukan. Kini aku mengerti, jika Rifaldy bukanlah mengalami Sleepwalking dan aku yakin jika mereka dalang dibalik ini semua.
Bulu kudukku mulai merintih merasakan suasana yang sudah tak bersahabat lagi. Aku pun segera beranjak, melanjutkan langkah dengan memapah tubuh Rifaldy dengan tergesa-gesa.
Brrruuukkk!!
Aku merobohkan tubuh Rifaldy di atas tempat tidur, dan lalu menutup pintu dengan sigap.
Kenapa rumah ini tak pernah bisa memberikan ketenangan, walau sedikitpun ...
Aku mencoba mengatur nafas ini, lalu berbaring dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhku, berharap bisa kembali terpejam.
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Febriani Avatthy
koq ga ada yg inget akan Tuhan ya
2020-12-23
0
Een Een
seremmm bangettt
2020-11-06
0
Lusi Ana
mau tnya thor dri sekian ceritanya gak ada berbau mreka nyebut Allah ya.. atau menjaga sholatnya
2020-06-10
4