True Story - Rumah Tua Part 2

Gemerisik daun dan dahan yang saling bergesekan terdengar mengiringi angin yang berhembus cukup kencang, disertai aroma bakaran yang terendus samar di hidungku. Aku tertunduk, menatap waspada pada jalan setapak berbatu yang tengah kami lalui. Aku dan yang lain menyusuri pekarangan rumah yang gelap, cahaya satu-satunya hanya ada di teras depan, itu pun redup dan kuning.

"Ini orang nggak mampu beli bohlam, apa!" gumam Rifaldy, meraba jalan dengan kakinya.

"Hus! kalau ngomong! ...," sergah Ferdy, sedikit menoleh ke belakang.

Sang Nenek yang tiba terlebih dahulu di teras depan rumah, menyambut kami dengan senyum ramahnya, "Silahkan duduk Jang, biar Nenek buatkan minum untuk kalian," ujar Nenek itu, menjulurkan lengannya pada sebuh kursi bambu.

"Maaf Nek, jadi ngerepotin," sahut Ferdy, membungkukkan punggung sungkan.

"Tidak apa-apa, cuma air hangat, Jang." Nenek itu tersenyum, dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.

Aku melirik ke arah Rifaldy, dan berkata, "Andai aja keluarga Anis kayak Nenek, itu ...."

Rifaldy berdecak tak terima, melirik ke arahku dengan sinis, "Apaan sih, lu!"

"Kalau dibelikan rumah ... masih kayak gitu nggak," komentar bang Ferdy.

"Jangan ngomong doang!" pungkas Rifaldy, dan kami tertawa kecil.

Aku menghela nafas letih, merebahkan tubuhku—duduk pada bangku yang terbuat dari anyaman bambu, menyengadah memandang langit-langit. diikuti bang Ferdy yang duduk pada tembok pembatas yang mengitari bagian depan rumah.

"Bang!" sapa Rifaldy, sedikit berbisik, membuat Ferdy menoleh ke arahnya, "yakin mau beli rumah ini?"

"Yakin," singkat bang Ferdy, ia menyisir segala penjuru rumah dengan matanya. "Nantinya, bangunan tua ini akan digusur total, kita hanya mengambil tanahnya saja," tambah Ferdy.

"Ayo-lah, Bang .... Biarpun dibangun ulang, tetap saja rumah ini terisolasi," balas Rifaldy, menoleh ke sisi kiri yang masih dipenuhi tumbuhan liar. "Mending beli rumah diperkotaan, aja," lanjutnya, menggumam.

Aku menoleh pada sisi kiri. "Itu, ada tetangga," komentarku, menaikan dagu, menunjukkan rumah putih yang ada di samping.

Rifaldy berbalik bedan, lalu berseru, "Taruhan ... Kalau itu rumah kosong!"

"Ssssttt, nggak enak kalau ada yang dengar!" pangkas Ferdy.

Ditengah percakapan kami, tiba-tiba terdengar jeritan pintu yang terbuka perlahan, menyita perhatian kami—menanti seseorang yang hendak keluar.

Dan benar saja tak lama terlihat seorang Kakek Tua, mengenakan kaos putih polos, dan sarung yang menjadi bawahannya. Kakek itu berjalan perlahan melewati pintu, dengan bantuan sebuah tongkat yang ada di tangan kanannya.

"Kakek lupa, Kakek lupa ... sudah lama di sini tidak ramai seperti ini, Cu ...," gumamnya, menggelengkan kepala dengan nada lirih.

Entahlah apa yang dibicarakan kakek ini, aku dan Rifaldy saling bertukar pandang, tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Hanya satu pikiranku—Mungkin dia sudah pikun.

Sigap Ferdy beranjak dari duduknya, dan langsung bersalaman dengan sang Kakek, begitu juga dengan aku dan Rifaldy.

"Kek, saya Ferdy, yang pernah datang dengan anak Kakek," ujar Ferdy, setelah menyalami sang Kakek.

Kakek itu lalu duduk pada balai kayu dengan susah payah. Aku melirik wajahnya yang telah layu dan kering. Kedua matanya hampir terpejam melukiskan rasa lelah yang sangat teramat dalam. Entah mengapa mata kakek ini justru berkaca-kaca, seakan sedang terbayang akan suatu hal yang menyentuh batinnya.

Dengan nafas pendek kakek itu berkata. "Sudah lama  ...."

"Tidak Kek, kami baru tiba," sahut Ferdy, berusaha menghubungi seseorang dengan ponsel genggamnya.

Udara sekitar semakin terasa menjalar di sekujur tubuhku, hingga lantai rumah pun terasa begitu lembab. Aku merapatkan kedua tangan di atas dada, menahan dinginnya angin malam yang terus berhembus, dan tak lama sang Nenek pun kembali dengan membawa tiga gelas air di atas sebuah nampan yang berwarna hitam dan biru pada gagangnya.

"Minum dulu Jang, Nenek buatkan teh hangat ...." Diletakkannya  nampan itu di atas meja kayu, lalu menurunkan tiga gelas yang terisi oleh air teh.

Aku mengangguk, ketika sang Nenek menaruh satu gelas di di dekatku. "Iya Nek, terimakasih," ucapku.

"Maaf ... cuma ada air hangat Jang," tambahnya, seraya kerutan pada ke dua pipinya semakin nampak jelas, sebuah senyuman hangat terukir dari wajahnya.

"Jadi ngerepotin Nek," kikuk Ferdy, sambil menggosok-gosokan telapak tangannya, terlihat sungkan.

Selain Ferdy, Kakek dan Sang Nenek yang berbincang tentang rumah ini, aku dan Rifaldy hanya diam, tak banyak bicara. Lelah setelah menempuh perjalanan panjang membuatku ingin cepat pulang. Rasa gelisah mulai menyerang hatiku, berkali-kali aku melirik Arloji, dan berdecak malas. Tak terasa sudah hampir satu jam kami menunggu seseorang yang bernama Andre, tapi belum juga terlihat batang hidungnya.

"Nyasar kali nih orang!" gumam-ku, bersandar lemas menahan hawa kantuk.

Hingga pukul 10.30, barulah terdengar samar suara mobil yang mendekat, diiringi cahaya terang memecah kegelapan. Membuat suasana berubah seketika.

Sang Nenek yang menyadari, bangkit dari duduknya. "Itu, Andre ... Jang." Sambil menatap ke arah mobil Pick Up yang sedang menepi.

Dari kejauhan, terlihat seorang pria berbadan tinggi tegap, berjalan melewati pagar besi. Ia terlihat mengenakan kemeja putih, serta celana Levis panjang, sambil menenteng tas selempang yang berwarna coklat, dari kejauhan.

"Rif ... Den, kalian bermalam di sini, ya," ucap Ferdy, membuat Aku menoleh cepat ke arahnya. "Tenang, Babang beli rumah ini beserta isinya."

Aku tertegun, mendengar apa yang diucapkan Bang Ferdy. Karena, sejak tadi aku sudah tak tahan berada lebih lama lagi di rumah ini. Khayalan akan nyamannya sebuah tempat tidur hilang begitu saja.

Aku hanya tertunduk masam, tanpa sanggup berkata-kata. Namun tidak dengan Rifaldy, dengan lantangnya ia berseru, "Dih, ogah Bang!" gusarnya, bangkit dari duduknya untuk mengutarakan rasa ketidak setujuan-nya. "Mendingan nginep di hotel sekalian! Dari pada tidur di rumah bobrok, ini!"

Sudah kuduga, bukan Rifaldy namanya, jika ia bisa menjaga sikap dengan baik ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya. Tentu sikapnya itu berhasil mengejutkan semua orang yang berada di sini.

"Mungkin dia terlalu lelah, Jang.. " komentar sang Nenek, tertuju pada bang  Ferdy. "Biarkan saja dia pulang ...."

"Mak! semua kamar sudah dibersihkan, kan?" sergah Andre, bernada sedikit tinggi, meskipun aku tahu, jika sang Nenek masih memiliki pendengaran yang sangat baik.

Dan kulihat Nenek itu tertunduk, lalu mengangguk samar. "Sudah Nak ... " suaranya terdengar lirih, hilang bersama senyum hangatnya. Lirikku berganti saat sang Kakek berpaling wajah, seakan tak ingin melihat orang yang bernama Andre itu.

"Tolongin Babang, lah, Rif ... " timpal datar Bang Ferdy, lalu melirik ke arahku.

"Rif ... " ucapku, lalu menggeleng samar.

Tatapan sinis Rifaldy jelas terlihat dari caranya memandangku.

"Tau kayak gini ... gue nggak usah ikut sekalian," cetus Rifaldy, merobohkan diri pada kursi kayunya.

"Den ... tolong, ya?" lanjut Bang Ferdy, penuh permohonan, dari sorotan matanya.

"Oke ... " sahutku, mengacungkan jempol kanan padanya.

"Jadi ini alasannya, mengapa dia mintaku memanggil teman yang lain." Batinku, menggelengkan kepala, menghela nafas panjang.

"Kalau tau disuruh nginap, ngapain nunggu di depan rumah kayak orang bego!" Pekik Rifaldy, bangkit dari duduknya, lalu berjalan mengabaikan semua orang yang ada di teras depan.

"Rif ...."

Menyadari Rifaldy yang mulai larut dalam emosi, berjalan cepat menghampiri pintu utama, aku bergegas untuk menyusulnya. "Bang ... Deni permisi dulu ...."

"Rif ... tunggu ... "

"Bangke! Abis kaki gue, digigit nyamuk," gumam Rifaldy, masih saja ngedumel tak terima.

"Sikap lu ... masih aja belum berubah," pangkasku.

"Si Botak! bikin gue emosi aja!"

"Nggak boleh gitu ... sama Kakak kandung, lu!"

"Nyusahin orang!"

Hingga kami tiba di depan pintu rumah. Suasana yang berbeda sekejap terasa ketika Rifaldy membuka pintu yang bergaya khas Belanda itu. Udara dingin dan lembab, terasa begitu kental, seakan menyambut kedatangan kami.

"Kok firasat gue nggak tenang, ya," ungkapku, menatap ruang tamu yang kosong tanpa satu barang pun.

"Cari kamar, Den!"

Aku melangkah dengan mata melirik ke segala arah. Nampak ruangan tamu yang bagitu luas, membentang hingga sekat tembok belakang. Di sisi kiri terdapat tiga kamar yang berjajar dengan pintu yang tertutup rapat.

Rumah ini sungguh terlihat kusam, dengan Cat tembok berwarna hijau yang telah dipenuhi noda hitam, belum lagi retakan pada setiap sudut ruangan, yang bermula dari atap hingga menyentuh lantai, seakan hendak membelah rumah ini.

"Rif ...," ucapku, menarik pundaknya dari belakang, "yakin bisa tidur di rumah kayak gini?"

Sesaat Rifaldy terdiam dengan mata menyusuri ruangan. "Dari awal juga gue udah ogah!" cetusnya.

Sebaiknya aku tidak menyinggung hal yang berkaitan dengan rumah ini, karena hanya akan menambah suasana hatinya manjadi semakin buruk.

"Oh iya, anak-anak jadi ke sini, Rif?"

"Jadi!"

"Mereka tau jalannya?"

"Si Jeinal tau, pernah main ke daerah sini."

"Syukurlah, kalau tau ...."

Pandangku terhenti, pada sebuah pintu kamar yang tertutup gorden berwarna kuning, dengan motif bunga berwarna coklat.

"Rif, itu kali kamarnya," kataku, menunjuk dengan dagu ke arah kamar tersebut, berharap menemukan kamar yang layak untuk gunakan.

"Ayo, kita buka," singkatnya, berjalan cepat menghampiri kamar itu.

Sesaat gorden terbuka, nampak pintu tua berwarna putih kucel, yang telah dipenuhi retakan pada setiap sisinya. Membuktikan jika rumah ini tak pernah di renovasi dalam waktu yang sangat lama.

"Ya ampun!" sergah Rifaldy, kesulitan membuka pintu kamar, meski berulang kali ia mendorongnya secara paksa, "susah amat!"

"Sambil, diangkat coba Rif." saranku, tapi Rifaldy malah memaksanya dengan cara, menendang bagian bawah pintu dengan sangat keras.

"Nah!, kuncinya pakai otot, ternyata!" pekik Rifaldy, merasa puas dengan apa yang ia lakukan. Seakan lautan amarahnya tertuangkan pada pintu itu.

Terlihatlah ruang gelap dan dingin sesaat pintu terbuka dengan lebar.

Aku berpaling wajah, ketika angin yang berhembus dari dalam kamar membawa aroma tidak sedap.

"Lu, nggak nyium bau apa, Rif?"

"Bau?" Rifaldy membeo, ia sibuk meraba tembok untuk mencari saklar lampu.

Aku menggeleng samar, merasa sedikit aneh dengan indra penciumannya, padahal aroma ini terasa sangat menyengat.

Kamar yang semula gelap, kini sudah terlihat dengan jelas, ketika Rifaldy menekan saklar lampu pada dinding kamar.

"Kosong!" pekik Rifaldy, nampak kecewa dengan apa yang ia lihat, "terus, kita tidur di mana, bajing! ...."

Aku menunjuk pada gulungan tikar yang tersandar pada sudut kamar, "Pakai itu ...."

Melihat itu, justru membuat raut wajah Rifaldy semakin kecut, mendengus sebelum akhirnya berkata, "Najis! Mending gue balik! ...." Rifaldy berpaling dari dalam kamar, hendak keluar rumah.

Masih terdengar jelas, riuh percakapan dari teras depan, akan sangat kacau jika Rifaldy sampai protes kepada bang Ferdy yang tengah berbincang dengan pemilik rumah.

Aku menghela nafas, dan lalu mengejarnya, "Rif ...," Sergahku, seraya lengan menahan bahunya, "masih ada dua kamar lagi ... mungkin di antaranya ada yang layak  kita gunakan."

"Lu, kalau mau di sini silahkan!" bantah Rifaldy, menepis lenganku dari pundaknya. "Rumah gembel kayak gini, mana bisa gue tidur!"

"Oke ... Kalau itu mau, lu! Biar gue sendiri yang bermalam di sini!" Mendengar perkataanku yang juga sedikit bernada tinggi, membuat Rifaldy terdiam, tak menimpali perkataanku. Aku tahu, ia hanya menggertak—agar aku mengikuti sifat manjanya.

"Gue, besok pulang, Rif ... begitu juga dengan, lu ...." Aku melirik Rifaldy, mencoba meyakinkannya. "Apa salahnya, kita penuhi permintaan bang Ferdy."

Rifaldy mengacak-acak rambutnya dengan geram, ruat wajah terlihat melayu, seiring pudarnya emosi dari hatinya.

"Gue sumpah ... hanya kali ini!" datar Rifaldy, sepertinya ia mengurungkan niatnya untuk berdebat dengan Kakak kandungnya.

Aku berbalik badan, menatap kamar kosong itu. "Jika tak ada pilihan lain ... Kita bisa pakai tikar itu, Rif ...."

Rifaldy hanya berdecak malas, sepertinya memang sulit baginya menerima keadaan seperti ini, karena selama kami tinggal di Bandung, dirinya bagikan seorang raja-yang selalu mendapatkan tempat enak dan apapun yang dia inginkan.

"Untuk apa kita bermalam di rumah kosong ini," kata Rifaldy, duduk bersandar pada dinding kamar. "Kalau nggak boleh pulang—untuk apa kita dibawa ke Bogor!"

Aku menghela nafas pendek.

"Pasti bang Ferdy punya alasan tertentu, Rif!"

"Alasan apa? Ini sih emang kemauan dia aja!"

"Mungkin bang Ferdy, tidak ingin jika transaksi jual beli rumah ini diketahui oleh keluarga yang lain ... Itu sebabnya, kepulangan kita kali ini disembunyikan."

"Pasti karena hutang!"

"Entahlah... "

"Mending nggak usah ajak kita, kalau kayak gitu, sih."

"Lu tau sendiri, kan, Rif ... Bang Ferdy bawa uang banyak ... "

"Siapa juga yang tau!"

"Kalau orang mau ngerampok, apa mereka asal tunjuk korban? Tentu saja tidak! Terlebih dahulu mereka mengintai calon korbannya ... Dan rata-rata dari targetnya usai mengambil uang dalam jumlah yang banyak."

"Lu salah, Den ... " Rifaldy mendongak ke arahku.  "Dia takut! lewat jalan Loji sendirian ... " pekik Rifaldy, sedikit tersenyum.

"Tapi itu terdengar lebih masuk akal," batinku.

"Lu istirahat aja di sini aja, Rif," ucapku, "biar gue yang periksa kam—" Aku terdegup, saat kulihat noda hitam bekas terbakar yang terukir pada salah satu dinding di dalam kamar. Noda hangus itu cukup besar, mungkin seukuran Pria Dewasa.

"Noda ... " gumam-ku, yang terdengar oleh Rifaldy.

"Tuh .... Liat aja, Segala macem ada di rumah ini," cetus Rifaldy, mendekati noda tersebut.

Aku tak tahu pasti benda apakah yang pernah terbakar di kamar ini, namun jika diperhatikan dengan seksama, bekas hangus itu hampir menyerupai sosok manusia, yang meronta-ronta dari selimut api. Dengan kondisi rumah yang seperti ini tak heran dijual dengan harga yang sangat murah, namun aku berani bertaruh, jika peminat rumah ini hanya Ferdy seorang.

Setalah melihat noda itu, aku justru jadi semakin penasaran dengan semua ruangan yang ada di sini, seperti ada sesuatu yang menarik perhatianku.

"Gue periksa kamar sebelah, Rif," ucapku, bersiap meninggalkan kamar ini, "siapa tahu jauh lebih layak."

Aku kembali berjalan menuju kamar lainnya, hingga aku tiba di ambang pintu nomor dua.

Tanpa basa-basi, aku mendorong pintu dengan sekuat tenaga, hingga terbuka lebar.

Meski lebih terasa hangat di kamar ini, namun tetap saja, aku masih mencium aroma aneh yang sama.

Seiring cahaya lampu yang menerangi kamar, nampak jelas tempat tidur tua yang melintang angkuh di tengah ruangan. Tempat tidur ini terbungkus gorden putih yang sangat tipis, mungkin untuk mencegah serangan agar tak masuk ke dalamnya. Namun, semakin lama aku memandangi tempat tidur itu, aku semakin merasa tidak nyaman, seakan ada sesuatu yang tengah memperhatikanku di balik gorden tersebut.

"Rif ...," sergahku, memanggil Rifaldy yang masih berada di kamar nomor satu.

"Kenapa?" Pekiknya.

"Ada tempat tidur, nih."

Derap langkah kaki terdengar semakin dekat, mengiringi Rifaldy tiba di bibir pintu.

"Mana?" seru Rifaldy, yang baru tiba. "Beh, ajib.. ini baru kamar ... " lanjutnya, menepuk telapak tanganya dengan ceria.

"Coba lu liat bantalnya deh ... terasa beda!" kataku, dan Rifaldy berjalan menghampiri tempat tidur itu.

"Mungkin karena ini," pekik Rifaldy, menarik-narik kain putih penutup ranjang itu. "Kita lepas aja kali, ya?"

"Ide bagus," seruku, lalu mendekat untuk membantunya menarik gorden itu.

"Den ... " gema teriakan Bang Ferdy terdengar memecah kesunyian.

"Ya, Bang," lantangku.

"Si, Aidan di depan, nih ...."

aku menaikkan kedua alis melirik ke arah Rifaldy. "Akhirnya ...," bisikku.

"Bakal seru ini malam!" Rifaldy berseru.

"Suruh pada masuk Bang ...."

"Lagi bongkar gorden ...," tambah Rifaldy.

Sesaat terdengar riang tawa dari teman-temanku yang bergurau cakap dengan Bang Ferdy di terasa depan. Suasana terasa sedikit membaik berkat kehadiran mereka di rumah ini.

"Woy .... Diem-diem bae, Pak Bos," seru Kevin.  ia tiba di depan pintu kamar, diikuti oleh Aidan dan Jainal, wajahnya penuh keceriaan.

"Ehhh ... orang susah udah pada datang," kata Rifaldy.

"Nyet ... bukan disambut malah dikatain," timpal Jainal, melengkingkan nadanya, membalas guyonan Rifaldy.

"Widih ... agak gemukan lu, Den," seru Aidan, yang melihatku lalu menjulurkan tangannya, mengajak bersalaman.

"Wah .... Makin gagah aja lu, Vin," seruku. berjabat tangan dengan Kevin. Tentu membuat Kevin melongo.

"Kampret ...," komentar Aidan.

"Ha ha ha .... Ada juga Lu yang makin bengkak, Dan ... " seruku, menepak perutnya.

"Ah, bisa aja lu, Pak," cibir Aidan.

"Senang dia ikut gue," komentar Rifaldy, aku meliriknya sedikit sinis.

"Payah, gue nggak pernah diajak," penggal Aidan, mendengus dengan tatapan sinis.

Sekejap suasana berhasil kami kendalikan, rumah sunyi yang dipenuhi kegelisahan kini menjadi rumah yang begitu ceria.

Kami pun luput oleh rasa bahagia dalam pertemuan. Mengingat sudah hampir satu tahun aku tak berjumpa dengan mereka, adakalanya aku pulang, namun itu pun hanya untuk bertemu dengan keluargaku.

"Tadinya, gue kira lu cuma bercanda, mau beli rumah di sekitar sini ...," ujar Jainal.

"Emangnya lu .... Orang sukses sih bebas beli rumah di mana aja," timpal Rifaldy, Jainel membuang muka mendengar perkataan Rifaldy.

"Iya tau deh ... yang udah sukses," celoteh Jainal, sedikit malas dari raut wajahnya.

"Itu gorden kenapa dilepas, Rif," tegur Kevin, yang melihatku dan Rifaldy sibuk membongkar tempat tidur.

"Kepingin aja, sini Bantu, Vin," balasku.

"Siap ... " Kevin mendekat dan ikut menarik kain putih yang telah separuhnya terlepas.

Bip-bip !!!

Terdengar suara kelakson dari depan rumah, yang diiringi suara mobil mulai melaju menjauh.

Aku menjulurkan kepala dari pintu kamar, ternyata bang Ferdy dan pemilik rumah sebelumnya telah pergi.

"Sisa kita di rumah ini," gumamku, kembali masuk ke dalam kamar.

"Kalian tau nggak, cerita tentang tepat ini?" ucapan Jainal, membuat kami menatap ke arahnya.

"Mulai deh ... " Komentar Aidan. "Males gue!"

"Jangan ngomongin yang aneh, kenapa," ucap Kevin, "Nyali gue aja belum balik, gara-gara jalan tadi," tambah Kevin.

"Najis, penakut!" gurau Jainal, terlihat meledek,

"Ganti tuh bohlam ... biar lebih terang," lanjutnya, menunjuk ke langit-langit kamar.

"Nah, itu baru ide yang bagus," seruku. "Sekalian beli perlengkapan buat begadang!"

"Minta ijo tuh muka?" Cibir Aidan.

"Hayo, jadilah ... " Tambah Kevin.

"Yang jadi masalah, siapa yang mau jalannya?" pangkasku, membuat yang kain saling memandang.

"Sini gue yang jalan!", Seru Jainal, penuh semangat dan percaya diri.

"Mantap, paling suka, gue. Kalau dia jadi budak ... " gurau Rifaldy, tertawa lepas.

"Kampret!"

Mungkin Jainal telah mengenal tempat sebelumnya, itu sebabnya ia jauh lebih berani ketimbang kami.

"Nah, akhirnya!" seru Rifaldy, yang berhasil melepas gorden itu dibantu Aidan dan Kevin.

Tak berpikir panjang lagi, ia lantas merobohkan diri ke atas kasur yang terbungkus oleh seprai putih.

"Lumayanlah.. " gumam Rifaldy, membolak-balikkan badannya.

Namun tidak denganku. Entah mengapa rasa penasaran yang semakin kuat, membuatku ingin menjelajahi semua ruangan di dalam rumah ini.

*****************

Bersambung ...

*****************

-Vote, Like, Save To Favorit jika kalian suka dengan cerita ini.

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Terima kasih telah membaca, semoga terhibur. dan jangan lupa untuk Vote dan Komentar jika kalian suk cerita ini jika kalian suka.

-Update aku usahakan secepatnya.

Terpopuler

Comments

Annisa 🌹🌹

Annisa 🌹🌹

enk bngt punya babang kya bang yudi

2020-03-25

0

Tysa

Tysa

serem juga

2019-12-18

0

lihat semua
Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!