Sesampainya kami di tempat Kakek misterius itu, aku tak banyak melakukan apapun, selain duduk pada sebuah balai bambu dengan menyandarkan punggung pada dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Rasa lelah dan letih menjadi alasan kuat, mengapa kami hanya berdiam diri.
Bahkan, Rifaldy dan Aidan yang semula memilik gagasan untuk memperbaiki sepeda motor bobroknya itu, hanya berdiam diri—berbaring dengan separuh badan di atas balai ini—Meski sesekali Rifaldy memeriksa layar ponselnya dan berdecak, kecewa karena tak juga mendapatkan sinyal.
Sudah hampir satu jam kami menunggu sang Kakek—di rumah remang-remang ini—tapi belum juga nampak batang hidungnya. Entah ia pergi ke mana. Kembali atau tidak. Namun yang pasti, aku dan yang lain hanya menjadi santapan lezat bagi serangga malam penghisap darah.
Pemandangan satu-satunya di rumah ini, hanya menyajikan deretan pohon pisang dan pepohonan yang menjulang tinggi—terhampar tak terkendali—membuat keadaan di sekitar terasa sangat mencekam, ditambah dengan adanya suara burung hantu yang semakin melengkapi kegelisahan dalam diri ini.

"Mau sampai kapan kita di sini, Rif?"
"Ya ... Tunggu si Aki itu balik, Den."
"Gue jadi penasaran sama ini rumah ...," sela Aidan, ia bangkit dan berjalan menghampiri pintu rumah yang terbuat dari papan pipih. "Kayak apa, sih, dalamnya!"
"Heh! ... Jangan!" gusar Rifaldy, menarik baju Aidan, "nanti disangka yang bukan-bukan!"
"Cuma ngintip doang!" gumam Aidan, kembali pada tempat duduknya. "Kenapa nggak ketok aja, sih?"
"Benar juga, lu. Dan," seruku, "Gue ketuk, nih. Ya?"
Tempatku duduk memang tidak begitu jauh dari pintu utama—hanya perlu menjulurkan tangan kiri sudah bisa menggapai pintu itu—dan aku pun mengetuknya, sebanyak tiga kali, dengan halus.
"Permisi ...." Kami hening sesaat, berharap ada seseorang yang meresponnya.
"Lagi coba!"
"Permisi ...." Kembali aku mengetuk pintu itu, tapi kali ini sedikit bertenaga.
"Permisi! ...." Namun tetap saja, tak ada siapapun yang menjawab suaraku.
"Jangan-jangan, si Kakek tinggal sendiri di rumah ini?" tutur Aidan.
"Bisa jadi ...," sahutku, dengan nada lemas, "kenapa nggak coba oprek si Jagur, Dan?"
"Mana alat-alatnya?" pangkas Rifaldy. "Tadinya gue kira bisa pinjem perkakas sama itu Kakek."
"Nggak ada yang bisa kita lakuin ...," gumam Aidan, dengan nada lirih.
Punggungku kian merosot ke kanan, hingga akhirnya terbaring. Hawa dingin yang menyergap kulitku—terasa begitu menusuk—membuat kelopak mataku semakin berat.
"Tidur lu, Den?" Rifaldy menepuk lenganku.
****
Suara kicauan burung terdengar samar di telingaku, aku mengernyitkan alis, saat kudengar aliran sungai yang begitu jelas.
Sungai? ... Aku terperanjat, seketika bangkit dari tidurku, dengan berjuta tanda tanya besar di kepala.
Dengan keadaan panik dan linglung, aku menepuk Rifaldy dan yang lain. Dengan Mata tak henti mengedar ke segala penjuru.
Apa aku sedang bermimpi, jelas ini sangat mustahil terjadi.
Bagaimana bisa, kami semua berpindah tempat tanpa kami sadari.
Ingatanku masih sangat baik, dan aku masih sangat waras, tapi mengapa semua ini membuatku menjadi seperti orang lupa ingatan. Otakku tak mampu menerima semua ini.
Rumah kumuh berdinding bilik dengan balai kayu yang kami tiduri semalam, lenyap tak berjejak, seakan telah ditelan bumi.
Sejauh mata memandang, hanya ada aliran sungai yang menerjang bebatuan besar, di mana salah satunya menjadi tempat berpijak kami saat ini.
Aku masih tak percaya, bagaimana bisa aku tidur pada sebongkah batu besar yang berada di bibir sungai.
Aku menggeret lirik pada Rifaldy yang masih tertidur pulas bersama Aidan dan Kevin, "Oi! ... Rif! Bangun, lah!" Kukoyak tubuhnya hingga bergoyang hebat.
Tapi untuk yang ke-dua kalinya, Rifaldy menepis lenganku, "Berisik! ... " Rifaldy nampak geram, tentu saja aku harus lebih beringas lagi.
"Noh!," Aku mengarahkan wajah Rifaldy hingga menghadap sungai, "itu yang berisik, bukan gue!"
Tak lama ia terperanjat hingga terduduk. Kepalanya memutar—menyisir tepian sungai dengan tergesa.
"Kok!" Rifaldy menoleh dan berbalik ke sana-kemari dengan sangat rakus, "Gue kenapa bisa di sini!?"
Sesekali ia menepuk ke-dua pipinya—terdengar cukup kuat—dan itu pula yang aku lakukan saat pertama kali terjaga di tempat ini.
Iya mendongak, raut wajahnya menggambarkan kebingungan yang luar biasa—terlihat dari alis yang mengkerut hampir bersatu. "Ini di mana?"
"Lu, liatnya di mana!" Aku membalikan pertanyaannya, karena otakku pun belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Rumah ... Bale ... Mana!?"
Aku membungkuk, mendekati wajahku, "Batu! ... Lu tidur di atas batu, Rif!"
Rifaldy membuang muka. Ia berdiri tegap, masih dengan gelagat kalang kabut. "Ah, gila! ini nggak mungkiiinnn!" Rifaldy berseru-seru dengan nada yang meninggi. Tanpa sadar suaranya itu telah mengusik Aidan dan Kevin.
"Oi!" sergah Aidan, berdiri dengan menggerayangi tubuhku. "Mampus!"
"Pak, kenapa jadi begini!"
Tak kulihat satu orang pun di antar kami berempat yang memiliki raut wajah tenang. Semua nampak larut dalam kepanikan, menyadari dirinya terdampar secara misterius di tengah sungai berarus deras.
"Dari awal gue udah ngerasa ada yang nggak beres!" ungkap Kevin, masih terlihat lemas dari caranya berdirinya.
"Itu sebabnya, gue nggak percaya sama Kakek nggak jelas, itu!" tambahku.
"Rifaldy, noh ... Mau aja diajak orang!"
"Lu yang bilang semalam 'Dari pada di sini' Sekarang? Lu nyalain, gue?"
"Udah ... Nggak usah debat, lah!" Aku menyela perkataan mereka berdua, "Baiknya kita keluar dari sini!"
Rifaldy tersentak, semakin bertambah panik, "MOTOR GUE!"
"Oi! ... Jagur!"
"Jagurrr!"
"Pada ngaco banget, si! Cari, malah diteriakin!" Aku mungkin panik, tapi aku tak segila mereka.
Aku menyipitkan mata, menyisir tepi sungai, untuk mencari jalan yang bisa kami lalui. Namun sejauh mata memandang, tak kulihat sebuah jalan di manapun. Hanya ada tanah curam yang membentang di sepanjang sisi sungai.
Bagaimana kami bisa berada di bawah sini, semua masih menjadi misteri. Tak ada tanah datar yang bisa kami tempuh untuk naik ataupun turun ke bawah sini.
"Sebaiknya kita cari jalan, sebelum bendungan Katulampa terbuka!" Aku melangkah dari batu ke batu lainnya menuju bibir sungai.
Musim hujan seperti ini, arus sungai bisa naik kapan saja. Bisa kulihat di semua tepian sungai, begitu banyak sampah yang berserakan di mana-mana—menjadi pertanda jika air sungai pernah setinggi itu.
"Bikin ngeri aja, lu!"
"Pelan-pelan, licin ini batu!"
"Apes ... Apes!"
"Vin?"
"Oit?"
"Kondisi?"
"Aman, Den!"
"Sip ... "
Dan akhirnya kami tiba di bibir sungai—masih berupa batu karang yang besar dan pipih—yang membentang di sepanjang tapi.
Aku menaikan dagu, untuk melihat penghujung dari sebuah tebing curam yang membentang di sepanjang hilir sungai—seakan menjadi pagar raksasa yang mengurung kami di bawah sini.
Kami melangkah menyusuri tepi sungai dengan sangat waspada, karena yang menjadi pijakan kami berupa batu karang yang telah berlumut dan berlumpur.
"Gue rasa nggak akan ada jalan walau kita ngikutin ini karang sampai ujung," keluh Aidan.
Aku menoleh ke belakang, "Kalau belom di coba mana tau, si ...."
"Bukan gitu ... Itu liat sendiri—" Aidan menunjuk ke arah depan, "karang ini berakhir!"
Aku menghela nafas, berkaca pinggang mendongak ke atas tebing, "Nggak ada pilihan lain!"
"Naik?" Rifaldy menghampiriku dan ikut menatap ujung tebing. "Yakin mau naik setinggi itu?"
Grusakk ... Grusaakkk ...
Entah apa yang dilakukan Aidan, ia nampak mengorek rumput yang merambat di atas tebing. "Bukan cuma tinggi! Ini tanah basah, Den!"
"Iya ... Satu kali tergelincir—" Kevin mendongak dan menunduk, mengamati bagian atas hingga ke bawah, "maka kita akan mencium karang tajam ini!"
"Mampus nggak, Vin!" timpal Aidan.
"Nggak ... Paling cuma somplak pale lu!"
"Heleeh ... Malah pada becanda." Aku menghampiri badan tebing yang terlihat tak begitu curam. "Dari sini bisa kayaknya."
Jemariku mencengkeram kuat pada rumput-rumput yang tumbuh di badan tebing. Namun sia-sia, rumput itu tak kuat menahan beban berat.
Aku memutar kepala, mencari cara lain untuk menaiki tebing tanah ini.
"Vin ... Ambilin batang itu." Aku menunjuk pada sebatang dahan kering seukuran gagang sapu ijuk.
"Buat apaan?" Kevin memberikan batang yang aku maksud.
Aku mulai menusukan batang itu dalam-dalam. Mungkin batang ini tidak begitu runcing namun cukup untuk mencungkil tanah hingga berlubang.
"Ikutin gue ...." Dengan lubang yang kubuat pada badan tebing—menjadi tangga untuk kami berpijak. Aku mulai merangkak naik perlahan diikuti Rifaldy dan yang lain.
Mungkin aku beruntung karena tanah di sini cukup lembab, tidak begitu menguras tenaga untuk menggalinya. Tapi ini juga akan sangat berbahaya, sebab tanahnya begitu rapuh dan licin.
"Oii! Ati-ati ... Lu sampe jatoh, semua ikut jotoh ini!" pekik Rifaldy, berada tepat di bawahku.
"Bikin lobangnya sedikit cekung ke dalam, Den! Biar kaki masuk dengan mantap!" tambah Aidan.
"Udah kalian fokus naik aja, masalah lobang-melobangi, gue jagonya, lah!"
Langkah demi langkah aku lalui, hingga akhirnya aku dapat meraih rumput hijau yang berada di bibir tebing. Akhirnya!!!
Aku mencengkeram kuat alang-alang yang tumbuh di bibir tebing lalu merangkak naik ke permukaan.
Semilir angin sepoi-sepoi meraba halus rambutku, membawa serta gemuruh kendaraan yang lalu-lalang. Mungkin kami tidak begitu jauh dari jalan raya.
Aku berdiri tegap dan merentangkan kedua tanganku, "Alhamdulilah .... Akhirnya!" Aku berseru saat menapaki kaki di atas tanah datar.
Aku mengernyit alis, saat menoleh ke arah bawah. "Oiii, kenapa masih pada di bawah!"
"Lu ... Nyongkel tanah pada masuk ke mata gue!"
"Ha-ha-ha. Sorry ... gue kira lu pada ikut naik!" Aku berjongkok masih tertunduk menatap Aidan dan yang lain. "Ya, Udah naik! Tapi pastikan alas-kaki kalian tidak basah!"
Rifaldy mengambil alih, ia mulai merangkak perlahan menaiki badan tebing dengan perlahan. Diikuti Kevin dan Aidan.
"Ah, gila, nyiksa amat!" ujar Rifaldy yang baru tiba, disusul Kevin dan Aidan.
"Tangan ... Tangan!" pekik Kevin menjulurkan tangan memintaku menariknya.
Aku mengamati sekitar lokasi dengan wajah memutar. Hanya ada kebun liar yang penuhi pepohonan dan semak belukar yang terhampar, sejauh mata memandang.
"Nah! Itu dia motor gue!" Rifaldy menjulurkan tangannya ke arah tepi sungai—tepat pada sebuah batu besar. "Jaguuuurrr!" Ia berseru seakan tak ingin kehilangan motor kesayangannya itu.
"Udah si Rif ... Nanti aja kita balik lagi ke sini!" saran Aidan, dan dianggukan oleh Rifaldy.
"Jangan bawa banda segede gitu! Bawa naik diri sendiri aja setengah mati!" timpal Kevin.
"Ayo ...."
Dan kami pun mulai berjalan semakin jauh dari bibir tebing itu, menerobos rindangnya ilalang yang cukup tinggi. Dengan berbekal ranting kering, aku menebas alang-alang yang menghalangi jalan.
Sejauh ini kami tidak menemukan jalan setapak pun di sekitar sini, padahal seingatku tadi malam kami melangkah di atas jalan setapak bersama sang Kakek misterius itu.
"Nah! ... Lihat—" aku menunjuk pada jalan di depanku, "Itu tempat motor kita mati!"
Raut wajah dari teman-temanku tak lagi berseri-seri, mereka semua terlihat sangat lelah dan tak bersemangat.
"Terus? Jalan, kan, masih jauh, Den." sahut Aidan, dengan nada lesu.
"Gg. Rantai masih jauh, Coy ..." lirih Kevin.
Merasa tak sanggup lagi berjalan, kami memutuskan untuk duduk di bahu jalan—berharap ada kendaraan yang melintas.
"Stop kalo ada mobil atau motor yang lewat," ujar Rifaldy, menaikan tangannya. "Gue bayar berapa pun yang ia minta!"
"Punya duit emang, lu?"
"Patungan, lah!"
Tak banyak yang bisa kami lakukan di sini, hanya duduk di atas selembar daun pisang pada tepi jalan. Terlihat seperti orang linglung, menggeret kepala—ke kiri dan ke kanan—menanti sesuatu yang belum pasti.
"Liat dong—" Aidan menyodorkan ubun-ubunnya ke arah Kevin, "ubanan nggak?"
"Nggak, lah!"
"Si Rifaldy aja yang lebih tua belum ada uban ...."
"Iya, bisa! Kelamaan di sini nanti juga beruban. Puas, lu!"
Aku menajamkan mata, saat samar terlihat sesuatu bergerak dari kejauhan. Aku bangkit dan menantinya tak sabar. "Motor ... Motor!"
"Serius, lu?" Rifaldy pun bangkit penuh semangat. Wajahnya naik-turun, ke kiri-kanan, "Stop! Dia!"
"Kalem! Nanti malah disangka mau niat jahat!" sergah Aidan.
"Kalian diam ... Biar gue yang stop!"
Hingga akhirnya kendaraan bermotor itu semakin dekat dari arah dalam Loji. Dan sepertinya ia menyadari jika kami akan melakukan tindakan padanya. Sampai-sampai ia memilih bibir jalan lainnya.
Trok...tok-tok-tok-tok ....
Merasa sudah semakin dekat, aku turun ke badan jalan, dengan lengan menjulur, "Pak!... Tunggu, Pak!" Aku berseru seraya melempar senyum padanya dan sedikit melambai.
Tak bisa mengelak lagi, akhirnya kendaraan itupun berhenti, tentu aku menghampirinya dengan langkah cepat, "Mohon maaf, Pak—" ia membuka kaca helmnya dan menatapku.
"Ada apa, ya. Mas?"
"Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu perjalanan, Bapak—"
"Iya, tapi saya buru-buru—"
"Saya hendak minta tolong, Pak. Motor kami terjebak di dalam sungai, kami ingin pulang namun tidak ada kendaraan. Bolehkah kami minta tolong?"
"Tolong apa, Mas?"
"Tolong sampaikan pada tukang ojek yang ada di Gg. Loji, untuk ke sini menjemput kami."
Pengemudi itu melirik ke arah Rifaldy dan yang lain, "Kalau begitu, Mas saja ikut dengan saya."
"Wahhh, boleh, Pak?"
"Kebetulan saya melewatinya," jawabnya menyuruhku menaiki motornya.
"Baik, Pak. Terima kasih banyak sebelumnya." Aku pun segera naik ke atas kendaraannya.
Tinnn ... Tinnn ...
"Iya, Pak ...," seru Rifaldy, saat kami mulai melaju.
Baru aku bisa menghirup udara segar yang berhembus sedang, mengiringi perjalananku.
"Memang, Mas dari mana? Kok, bisa motornya terjebak di sungai?"
"Ceritanya panjang dan aneh, Pak"
"Aneh?"
"Tadi malam, motor yang saya gunakan mendadak mogok. Dan seingat saya ada seorang Kakek tua yang menawarkan tempat untuk kami beristirahat."
"Ah! ... Mustahil di situ ada Kakek tua, Mas. Setahu saya di daerah situ tidak ada rumah satupun. Itu, kan. Bekas kebun karet yang tidak terurus lagi."
"Tapi saya yakin, Pak. Bahkan saya di bawa ke sebuah rumah gubuk ... Dan itu manjadi tempat terakhir kita bermalam."
"Rumah gubuk?"
"Anehnya, saat kita semua sadar. Ternyata saya dan kawan-kawan sudah berada di atas batu besar, tepat di tengah sungai! Dan itu sebabnya motor kami terjebak di sana."
"Waduh! ...."
"Awalnya juga saya mengira ini modus pencurian sepeda motor. Tapi ternyata motor kami tidak hilang!"
"Waduh ... Seram banget! Tapi kalau mencoba mengungkit masa lalu ... Memang tempat itu sangat angker, Mas!"
"Angker, Pak?"
"Di sini tukang ojek tidak ada yang berani melewati jalur itu kalau sudah lebih dari jam lima sore—" Pengemudi menjulurkan lengannya menunjukkan sebuah pertigaan yang tengah kami lewati. "Paling cuma sampai pertigaan ini."
"Oh, begitu, ya, Pak. Kalau Bapak sendiri tinggal di mana?"
"Rumah saya di Bubulak, Mas. Tadi saya habis dari Ciomas, jadi motong jalan lewat sini."
"Bisa tembus ke Ciomas, ya. Pak?"
"Bisa, Mas."
Pemandangan yang hanya menyuguhkan deretan pohon dan rumput liar, kini telah berubah menjadi kawasan padat penduduk yang sangai ramai. Rumah-rumah nampak berjajar di sepanjang jalan seraya aktivitas para warga yang lalu-lalang. Tapi tak jarang juga yang bersantai di depan rumahnya, dengan duduk di balai bambu ditemani secangkir kopi.
Tak lama kendaraan pun memperlambat lajunya, lalu menepi tepat di depan sebuah pos yang terbuat dari bambu—berukuran besar berwarna kuning kecoklatan—beratap ijuk. Terdapat pelang yang bertuliskan 'Pangkalan Ojek Loji'.
Aku turun, dan sedikit membungkuk, "Terima kasih banyak, Pak. Atas tumpangannya."
"Sama-sama, Mas." jawabnya, lalu pergi dan hilang di antara kendaraan lain yang memadati jalan raya.
Aku segera mendekati beberapa pria yang tengah berkumpul di dalam pos ojek itu. "Mang ... Aku butuh empat motor bisa antarkan saya?"
Mendengar itu, semua pria yang memang sedang menanti sewa berseru dan bangkit dengan sigap. Dan salah satu dari tukang Ojek itu berseru, "Empat motor, Kang?"
"Yu, Mang, segera. Kasihan temanku sudah menunggu cukup lama."
"Hayu! Siap ...."
Mendadak suasana menjadi riuh oleh suara kendaraan bermotor yang hidup secara bersamaan. Aku pun kembali dengan membawa empat motor yang mengular di belakangku. Guna menekan waktu saat di perjalanan, aku sedikit berbincang dengan pengemudi.
"Wah! ... Kok, bisa sampai ke sana, Kang? Kan, tidak ada jalan di situ, mah?" balas pengemudi ojek kepadaku.
"Saya juga bingung, Mang."
"Memang dari dulu, sih, Kang jalan di situ angker! Apa lagi di depan kobakan."
"Kobakan? Tempat pemandian bukan, Mang?" tanyaku memperjelas.
"Iya ... Sekarang mah udah lama nggak dipake lagi, Kang ... Kan, tidak jauh dari situ ada bekas rumah kebakaran, tapi sudah lama. Korbannya wanita! Hangus terbakar ... Mana lagi hamil." Tubuhnya bergidik setelah ia bercerita.
"Ah, yang bener, Mang?"
"Yeh ... Teu percaya si Akang, mah."
"Saya juga mengalami kejadian aneh tidak jauh dari kobakan itu, Mang!"
"Udah nggak aneh, Kang! Udah nggak bisa dihitung lagi ... Makanya orang sini kalau sudah lewat jam lima nggak ada yang berani masuk," tambah pengemudi ojek.
Pantas saja jalan ini sangat sunyi jika malam tiba, ternyata bukan tanpa alasan.
"Itu, Kang? Temannya?"
"Betul, Mang. Kita menepi, Mang."
*******
Setelah aku menjemput Aidan dan yang lain, kami lantas pulang ke rumah Rifaldy yang berlokasi di Gg. Rantai, dan sesampainya di sana aku menceritakan kejadian yang kami alami kepada keluarga Rifaldy, hingga akhirnya kami menyewa mobil derek untuk mengevakuasi kendaraan yang terjebak di tepi sungai.
Evakuasi memakan waktu berjam-jam, karena medan yang cukup sulit untuk dilalui oleh kendaraan beroda empat. Ditambah jalan yang licin menambah suram proses pengangkatan sepeda motor yang terjebak di bawa jurang. Hingga jam satu siang, kami berhasil mengangkat motor ke permukaan dan membawanya pulang.
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Afhrrr25
ini critanya dari orng yg pernah kstu ya author ataw orang yg pernah ngalamin tmnnya atw kuarga gtu penasaran bngett nih nyata atw ngak sihhh msih raguuu nih jawab dong thort
2020-04-01
1
Dafia Nuraini
Sereeem.....lanjuuut thoor
2020-01-15
2