True Stroy - Menguji Mental Part 1

{17:25}

Aku terperanjat dari tidurku, saat melihat jam dinding telah menunjukkan pukul lima sore. Tak terasa aku tidur hingga menjelang malam.

Aku begitu lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Meski proses evakuasi kendaraan telah usai, namun masih meninggalkan tanda tanya besar di dalam kepalaku.

Aku menjulurkan kepala, saat riuh percakapan terdengar dari arah ruang keluarga. Sepertinya Rifaldy sedang berbincang dengan ke-dua orang tuanya. Entah apa yang mereka bahas.

Srreekkkkk ....

Aku menyingkap korden biru yang menjadi penghalang pintu kamar, dan berjalan lemas menuju ruang dapur. Namun Rifaldy yang tengah duduk pada ruang keluarga lantas berseru saat melihatku, "Den, sini, deh ...." Dengan rambut yang masih tak karuan, aku berjalan perlahan sambil mengucek mata menghampirinya.

"Sini duduk," ucap Ayah Rifaldy, menepuk halus karpet karet yang menjadi alas lantai.

Aku hanya mengangguk sungkan, masih dengan raut wajah acak-acakan. Mungkin nyawaku belum sepenuhnya pulih.

"Apa benar di rumah Loji ada sesuatu yang menggangu kalian?" tambah Wa Andy, menatap ke arahku dengan senyum kecil menggaris pada bibirnya.

Aku melirik Rifaldy dan menjawab pertanyaan, "Iya Wa."

Raut wajah Wa Andy nampak tersentak—terkejut namun di buat-buat, "Hantu?" tambah Wa Andy.

Entah mengapa aku merasa akan menjadi bahan ceramahnya, "Kurang lebih seperti itu, Wa." Aku tak ingin memperluas percakapan yang tabuh ini. Jangankan untuk bercerita, untuk diri sendiri pun aku masih belum mengerti.

"Iya sudah ... Tapi kalian masih berani, kan. Untuk bermalam di sana?"

Aku mengangguk samar, "Masih dong, Wa."

"Soalnya takut, Den. Kalau tidak ada yang mengisi rumah itu," tambah Ibu Rifaldy, "banyak bahan bangunan seperti, keramik, kaca, kusen, dll. Uwa cuma takut kalau ada tukang yang nggak jujur."

Aku menghela nafas halus, dan membungkuk sesaat, "Iya, Wa. Deni dan Rifaldy nggak masalah tinggal di rumah Loji."

Uwa Wati menyikap dada, dan menoleh ke arah Wa Andy, seakan lega mendengar perkataan-ku.

"Ya, sudah. Kamu mandi dulu, gih ... Terus makan."

"Deni tuh sodorin kopi, Mah ... Baru semangat dia!" seru Rifaldy, diiringi tawa kedua orangtuanya.

"Deni permisi mandi dulu, Wa." Aku beranjak dari duduk dan bergegas menuju toilet.

Kata Ferdy ada pekerja yang bermalam di sana juga, Rif?

Iya sih, tapi nggak banyak membantu, Mah.

Lagian, kamu ada-ada saja, sih!

*****

Usai membersihkan diri aku bersiap untuk kembali ke rumah Loji, namun Aidan dan Kevin masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Mereka berpamitan pulang setelah membantu evakuasi motor yang cukup banyak menguras tenaga kami.

"Rif, coba telpon Aidan sama Kevin," pintuku, Rifaldy nampak duduk di atas kasurnya sambil asyik memainkan ponsel genggamnya.

"Udah ... Tapi mereka nggak bisa ikut kita malam ini," saut Rifaldy, dengan sebelah senyum tergambar dari raut wajahnya.

"Lho kenap Rif!" sergahku, sambil mengenakan baju kaos putih polos.

"Aidan ada acara, sedangkan Kevin ... Katanya, sih, nggak enak badan."

"Emang dari semalam Kevin udah kayak orang sakit."

Rifaldy bangkit dari duduknya, dan melangkah hendak keluar kamar, "Gue tunggu di motor, deh—"

"Biar gue aja yang bawa, Rif!"

"Ya, udah cepet, lah!"

"Yo ..." Aku menyambar kunci di lengan Rifaldy. Dan mulai memanaskan motor.

"Sudah mau pada berangkat, ya?" Uwa Wati menemui kami, dan berdiri tepat di ambang pintu utama.

"Iya, Mah. Takut keburu gelap. Repot jalannya."

"Dari tadi Mamah ingetin, Rifaldy. Tapi jawabnya 'Nanti, Mah' ...."

"Deni juga baru bangun, atuh ...."

"Ya, sudah lekas berangkat. Ati-ati kalau ada apa-apa, langsung telpon rumah, ya."

"Beres, Wa ...." Kami pun berlalu dari rumah Rifaldy untuk segera menuju rumah Loji.

Walau terbilang masih sore. Namun tetap saja firasat ini selalu mengganjal jika sudah berhubungan dengan rumah Loji.

Langit senja semakin memudar, mendekap cahaya dalam kegelapan. Aku memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, karena tidak ingin terlalu malam melewati jalan Loji. Terutama pada jalan yang di klaim memiliki kisah kelam.

Kami beruntung karena jalan raya nampak sepi, hanya ada beberapa angkutan umum yang lalu-lalang. Tapi andai saja ini bukan hari Minggu, sudah dapat di pastikan jalan ini akan penuh sesak oleh berbagai macam kendaraan.

Bulu kudukku tak ayal mencuat, ketika kami mulai memasuki Gg. Loji. Pos yang biasanya di penuhi oleh barisan motor yang terparkir rapih di depannya, kini tak lagi nampak satupun.

Aku terus berdoa dalam hati, berharap kami tak menemukan masalah sedikit pun di sini. Udara dingin seketika menyergap kulitku, saat kami mulai memasuki jalan yang terhimpit oleh kebun liar. Dan di sini sangat mustahil bagi kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. Itu semua disebabkan oleh badan jalan yang masih berupa tanah merah nan bergelombang.

Hingga kami tiba di persimpangan jalan yang tidak jauh dari tempat angker yang waktu lalu membawa kami dalam situasi mengerikan. Tentu saja tubuhku bereaksi dengan baik—terbukti dari lengan ini yang tak henti bergetar hebat.

Biiiiippppp ... biiippip ... bipp-bipp-bip ...

Aku membunyikan kelakson beberapa kali ketika tepat melintas di depan rumah tua dan kobakan itu. Meskipun aku tak begitu percaya mitos, tapi tidak ada salahnya untuk mendengarkan saran orang lain, terlebih mereka penduduk asli yang tinggal di sekitar sini.

Dan akhirnya kami tiba di depan gerbang rumah Loji. Entah kebetulan atau tidak, namun kami sampai tanpa ada halangan sedikitpun.

Terlihat mang Ubun dan kawan-kawannya sedang duduk memenuhi teras depan. Nampaknya mereka tengah menunggu kami, terbukti dari cara mereka menyambut kedatangan kami dengan gembira.

"Akhirnya kalian datang juga, Mas," Seru mang Ubun beranjak sambil menepuk lengannya satu kali.

Aku tersenyum membalas sambutan mang Ubun, "Maaf, Mang, tadi kami sangat sibuk jadi tidak bisa mengantar makan siang." Aku memarkirkan motor di sisi rumah, dan Rifaldy berjalan terlebih dahulu menuju teras depan.

"Mas, sebelumnya kita mau minta maaf." Aku menoleh cepat, saat terdengar nada serius mang Ubun. Nampaknya ia hendak menyampaikan sesuatu.

"Maaf buat apa, Pak?" sanggah Rifaldy, ia duduk pada teras depan, mengimbangi mang Ubun dan kawan-kawannya.

"Gini Mas, malam ini kita semua akan pulang ...." Aku terdegup mendengar perkataan mang Ubun. Entah ada angin apa hingga membuatnya berkata seperti itu.

"Lho, lho, ada apa Mang? Kok, dadakan?" jawab Rifaldy, sedikit terkejut.

"Ah, tidak apa-apa Mas, kita sudah mendapat izin dari pak Ferdy. Beliau bilang akan membawa pekerja dari Serang untuk menggantikan kami."

Aku menghampiri mereka dengan langkah cepat, "Mang ... Kenapa bisa seperti itu?"

Mang Ubun menatap ke arahku seraya tersenyum. Ia mengusap-usap dadaku, "Tenang, Mas ... Tidak apa-apa ... Ini murni keinginan kita."

"Bilang aja, Mang! Biar aku yang ngomong sama Pak Ferdy," sergahku, hati ini merasa tak enak saat mendengar perkataannya. Bagaimana bisa Ferdy memecat mereka begitu saja.

"Bukan salah pak Ferdy, Mas ... Kami yang mengundurkan diri ...."

"Lho! Nggak bisa seperti itu dong, Mang! Harus jelas dulu apa masalahnya?"

"Gaji kecil?" timpal Rifaldy. Namun mang Ubun segera membantahnya.

"Kalau masalah gaji .... Kita, kan sudah cukup lama kerja di sini. Waktu jamannya rumah ini masih berupa pondasi."

"Iya ... Terus apa masalahnya?" lugasku. Namun mang Ubun hanya bertatap muka dengan pekerja lainnya.

"Kita dapet proyektor baru, Mas ...."

"Nah gitu, kan jelas!" sergah Rifaldy, berdiri dari duduknya, "udah pasti masalah gaji!" Ia berlalu begitu saja, masuk ke dalam rumah.

Aku hanya menghela nafas, tanpa bisa menahan mereka, terlebih jika mereka sudah mendapatkan izin dari bang Ferdy. Meski ada rasa curiga terhadap gelagat gugup dari para pekerja. Aku tak bisa berbuat banyak.

"Kalau itu yang terbaik buat kalian—" Aku menatap silih berganti pada deretan wajah yang tertunduk lesu. "Apa yang harus dikata."

Mang Ubun menabrak dan memeluk tubuhku, "Saya minta maaf, Mas ...."

Aku merenggangkan pelukannya, "Kenapa harus minta maaf ... Mang Ubun nggak salah. Justru pilihan yang tepat kalau buat masalah perut." Aku melempar senyum ke arahnya yang nampak dari ke-dua bola matanya sudah berkaca-kaca.

Hilir suara kendaraan terdengar samar, mencuat ditengah keheningan malam. Para pekerja yang juga mendengarnya, mulai mengambil tas yang telah mereka persiapan di teras depan.

"Saya mewakili tim. Mengucapkan terima kasih atas kebaikan, Mas Deni, selama kita bekerja di sini. Saya titip salam, untuk Rifaldy dan keluarga." Mang Ubun menyalami tanganku, diikuti para pekerja lainnya.

"Saya pamit, Mas ... Mohon maaf jika ada kesalahan yang tidak saya sadari."

Aku hanya mengangguk samar,

"Hati-hati di jalan, Mang! Salam buat keluarga di rumah!"

Mereka pun pergi dengan menggunakan mobil angkutan umum, yang sudah menantinya di penghujung jalan. Kini hanya tinggal aku dan Rifaldy yang akan bermalam di rumah ini.

Aku menghela nafas, dan mulai berjalan masuk kedalam rumah, saat tiba di ruang tamu. Mataku melirik Rifaldy yang tengah mencoba menghubungi seseorang. Raut wajah nampak begitu kecut.

"Bang! Aduh, itu pekerja kenapa dikasih izin pergi? terus siapa yang jaga di rumah?" Sepertinya ia  tengah menghubungi Ferdy, "Ah-Elah. Nggak ngaruh Bang! ... Cuma berdua ini ... Parah!" Rifaldy terdengar agak sewot dan mengakhiri percakapannya.

"Apa kata Babang, Rif?"

"Ngga jelas, katanya mau ganti pekerja orang Serang biar nggak bisa pulang seenaknya. Malah disuruh cari temen yang banyak buat nginep di rumah ini!" Rifaldy merangsak duduk pada kasur busa di ruangan yang biasa kami gunakan.

"Udah jam segini! Siapa juga yang berani masuk ke daerah ini."

Aku pun duduk pada kursi jati menyadarkan kepala, dan menatap langit-langit. Sesekali aku melirik ke arah dapur yang sepi dan sunyi. Entah apa lagi yang akan menimpaku malam ini.

"Dah!! ... Ketauan gue Main PS, lah!" seru Rifaldy. Menyalakan TV dan perangkat lainnya.

Aku merintih dan mendekap perutku, saat tiba-tiba terasa bergejolak hebat, "Perut gue! ...."

"Toliet sana!" sergah Rifaldy.

Perutku semakin menjadi-jadi, kini bertambah panas dan pedih, hingga membuat ke-dua telapak tanganku berkeringat. Tak ingin berpikir panjang, aku melangkah cepat ke arah dapur danberbelok tajam saat melewati kamar nomor tiga.

Gruuussaaaakk ...

Langkahku tercekat. Tubuhku terasa berat dan kaku, saat aku menoleh oleh suara aneh yang terdengar dari arah pintu toilet.

Detak jantungku meningkat pesat membawa darah, naik hingga ubun-ubun. Entah fenomena apa lagi yang sedang terjadi di hadapanku ini.

Aku melihat dengan jelas sebuah gumpalan hitam yang memunggul keluar dari dalam kamar mandi. Mata ini terbuka lebar, saat aku perhatikan gumpalan itu kian menyerupai rambut kusut kusam— berwarna merah jagung. Rambut itu bergerak lambat, namun semakin lama semakin jelas terurai.

Aku tak bisa berbuat apa-apa, jangankan untuk berlari, bicara pun aku tak bisa. Tubuhku seakan terpaku wajahku tak mampu berpaling sedikit pun dari sosok wanita yang kini menjegal—tepat di depan pintu kamar mandi.

Bau amis yang menyengat, menyergap menusuk ke dalam hidungku. Walaupun ia telah membentuk tubuh, namun rambut itu tak henti terurai, hingga menyatu dengan lantai.

Keringat kian mengalir deras melewati pelipis mata. Kakiku mulai kehilangan keseimbangan, tak lagi mampu menopang tubuh ini. Semua bertambah buruk, saat penglihatan-ku mulai kabur, hingga akhirnya termakan oleh kegelapan yang begitu pekat.

Duk, duk, duk,.. dukk!! duk!! duk!!!

Samar terdengar suara ketukan pintu yang sangat menggangu telingaku. Perlahan aku membuka mata. Terdiam dengan tatapan kosong.

dukk!! duk!! duk!!!

Ketukan pintu itu semakin bertambah kuat—seakan tak sabar menanti aku keluar. Mataku terbelalak lebar, ketika aku mulai mengingat semuanya.

Sedang apa aku di sini? sejak kapan aku masuk toilet!! ...

Aku bangkit lalu meraih gagang pintu dengan tergesa-gasa dan membuka lebar pintu yang tertutup rapat. Nampak Rifaldy sedang berdiri tegap, tepat di ambang pintu.

Aku mengernyit saat wajah Rifaldy nampak begitu datar, "Sudah selesai!" singkatnya, lalu ia menerobos masuk dan menutup kembali pintu toiletnya.

Mungkin dia sudah tak tahan lagi karena terlalu lama menunggu di luar. Mengingat di rumah ini hanya ada satu toilet yang bisa beroperasi dengan baik.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Terpopuler

Comments

Anisa Leliana

Anisa Leliana

kalo baca doang sih...gw masih kuat mental...tp kalo liat gambar hororr aduuhhh...kagak tahaann...takyuutttt 🙈🙈

2020-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!