True Story - Menguji Mental Part 3

Mendengar apa yang diceritakan Mahyong aku hanya terdiam dengan sejuta tanda tanya.

Mungkinkah semua kejadian ini saling berkaitan. Pikirku melayang pada Kakek dan Nenek pemilik rumah ini sebelumnya.

Tapi aku tidak bisa begitu saja berspekulasi, karena belum tentu apa yang aku alami itu benar-benar terjadi.

"Lantas apa yang terjadi setelah rumah Ayu terbakar?" tanyaku, semakin penasaran dengan kisah Ayu.

"Setelah kejadian itu keluarga Ayu menghilang entah ke mana, jazad Ayu dimakamkan jauh dari desa ini, namun, arwah Ayu selalu menghantui setiap kali warga melintas tepat di depan rumahnya, itu semua membuat Desa sangat tidak nyaman," tambah Mahyong.

"Apa ada hubungannya dengan rumah ini?" tanyaku.

"Nggak ada, lah! Jauh banget sampai ke sini-sini," Mahyong menatap langit-langit mengusap dagunya, mencoba mengingat sesuatu, "Oya ... Tapi aku tidak tau pasti, menurut warga. Jazad anak Siti tidak pernah ditemukan. Entah dikebumikan di mana."

Aku terdegup, sesaat tubuh ini terasa begitu berat dan dingin, "Aku sendiri yang memakamkan anak itu ...."

"Oy ... Den ... Kenapa, lu?" Kopral mengusap punggungku, saat ia tahu hampir saja muntah.

"Udah, lah! Nggak usah bahas yang kaya gitu lagi! Lagian kita ke sini buat senag-senang, bukan buat cerita horor," potong Jainal, yang mulai merasa risih dengan percakapan kami.

"Gue nggak apa-apa ... Mungkin masuk angin," lirihku.

"Ya tadikan gue bilang, gak perlu cerita yang aneh-aneh ... Tapi Bapak ini pengen tahu banget," balas Mahyong menunjuk padaku.

"Dah, sini main game aja lawan gue," jawab Rifaldy.

Jainal, Kopral dan Mahyong menerima ajakan Rifaldy untuk bermain game bersama. Namun tidak denganku.

Entah mengapa, hatiku terasa teriris-iris ketika mendengar kisah Siti dan Anaknya. Rasa penasaran yang kuat begitu berkecamuk dalam batin-ku.

Waktu terus merambah, membuka tabir malam semakin jatuh dalam kesunyian. Hening yang tercipta hanya menyisakan ruang gelap penuh keraguan. Nyanyian serangga kian menemani desir angin yang berhembus sedang.

Rifaldy, Jainal, Kopral dan Mahyong tengah asyik bermain Game, tapi itu tidak terlalu lama. Kami dialihkan oleh suatu suara yang sangat aneh.

Dduuuggg ...

"Ssseeett," Lengan Kopral membentang, membuat kami serentak membisu—meningkatkan indra pendengaran.

Dddduuggg ...

Suara yang saru kini terdengar sangat jelas. Bunyi itu seperti benda tumpul yang dipukulkan pada dinding kamar.

"Nah, tuh, dengar nggak?" lanjut, Kopral.

"Jelas! Kayaknya ada yang getok tembok di kamar sebelah, deh!" Jawab Rifaldy berbisik.

Aku terperanjat dan berdiri, "Awas maling, nih!" Mendengar itu serentak semua pun ikut bangki.

"Sseett. Ayo kita cek!" bisik Janial.

"Ada yang isi kamar sebelah, Rif?" tanya Mahyong.

"Cuma ada bahan bangunan di situ! Nggak ada orang lain," jawab Rifaldy.

"Yu! Takut maling!" bisik-ku, lalu berjalan, mengendap-endap yang diikuti Rifaldy dan yang lain.

Kami semua beranjak dari ruangan, dan mulai melangkah perlahan-lahan menghampiri pintu kamar nomor dua, yang tertutup rapat.

"Lu, lah! Duluan!" Mahyong menukar posisi dengan Rifaldy.

"Ssssttt, pelan-pelan," bisik Rifaldy yang memimpin di depan kami.

"Den—" Janinal menunjukkan sebongkah balok yang tergeletak di kolong meja, "Itu, ambil!"

Aku mengambil balok tersebut, dan menentengnya. Mungkin tak terlalu besar, tapi cukup jika hanya untuk berjaga-jaga.

"Siap? gue buka, nih?" bisik Rifaldy, dengan jemari menggenggam gagang pintu dan sisi bahu menempel pada badan pintu.

"Satu, dua, tiga!"

Bruuaaakkk!!!

Rifaldy membuka pintu kamar dengan kasar hingga membuatnya terbuka lebar. Senter yang dipegang Jainal serentak menerangi setiap sudut kamar yang gelap gulita.

Kami saling memandang satu dan lainnya, saat melihat seisi kamar yang sekedar tampak bahan-bahan bangunan, tanpa ada seorangpun di dalam sini.

Bahkan kamar ini hanya ada satu jendela mati, yang berada di atas dinding—tak mudah untuk diraih dan membukanya.

Kamar ini begitu tercemar oleh debu yang sangat pekat, di dalam hanya ada ember-ember berisi perkakas pekerja dan tumpukan Sement memenuhi sudut kiri ruangan.

Sangat mustahil untuk tikus sekalipun bisa masuk ke ruang tertutup ini, dan lagi suara tadi terdengan di bagian tengah dinding yang bersebelahan dengan ruangan kami.

"Jendela aja jauh gitu, gak bisa di buka itu, kan?" tutur Jainal, sembari menyorot sebuah jendela dengan senternya.

"Nggak! Itu jendela mati," sergah Rifaldy.

"Ah sudahlah, mungkin cuma tikus," kilahku, tak ingin membesarkan masalah ini. Walau sejatinya aku merasa jika suara itu disebabkan oleh sesuatu yang tak terlihat.

"Ya udah, cabut, dah," sanggah Kopral.

Kami menutup kembali pintu kamar tersebut, dan kembali pada ruangan pertama. Tapi, tak lama aku berpaling dari bibir pintu, kami kembali mendengar suara ketukan yang sama namun dengan nada yang lebih besar.

Bleddduuggg!!

Aku dan yang lain terkesiap, menoleh cepat pada pintu kamar yang baru saja kami tutup.

"Wah! ... Nggak beres, nih!" gusar Mahyong.

"Cek lagi?" kataku, yang dianggukan oleh Rifaldy dan yang lain.

Kami sepakat untuk kembali mengecek kamar tersebut dan mencari tahu penyebab dari suara itu.

"Gua buka, ya?" ujar Kopral, bersiap di ambang pintu.

"Tahan!" sergahku, menarik bahu Kopral. "Tunggu keluar lagi suaranya!" Aku dan yang lain hening, menanti di depan pintu kamar.

Namun sungguh aneh. Suara kembali terdengar tapi kali ini jelas berbeda.

Kkkkrrrreeettttttt!!!

Suara kuku menggaruk badan pintu membuat kami terperanjat, mundur beberapa langkah menjauh dari pintu itu.

"Ah! Buka udah!" pekik Jainal, mendorong paksa pintu tersebut.

Gubraaakk!!

Nafasku mulai terengah-engah, melongok tergesa ke segala penjuru. Tak ayal pemandangan yang sama pun aku dapati. Di dalam kamar begitu sunyi, nampak tenang dan hening. Bahkan kami tidak melihat satu ekor tikus pun yang berlalu-lalang di dalam kamar.

Tak sampai di sini, kami yang penasaran lantas mencari ke segala penjuru kamar, sampai celah-celah terkecil sekalipun tak luput dari pencarian kami.

"Duh! Ini kamar lampunya mati!" gusar Rifaldy, menaik turunkan sakelar lampu.

"Lah! Emang hidup, ya?" sanggahku.

"Udah! Boro-boro tikus, kecoa aja nggak ada di sini," ujar Mahyong, sambil membuka beberapa ember yang tergeletak di atas lantai.

"Oi! Tadi suaranya jelas dari balik pintu ini, lho!" timpal Jainal, ia menelaah keseluruhan badan pintu dengan cahaya senter. "Tapi aneh! Nggak ada baret sedikit pun!"

Aku tertarik untuk memeriksanya, "Coba ..." Alisku hampir menyatu, saat  aku menatap pintu itu dari atas hingga bawah. "Suaranya jelas begitu, masa nggak ada bekas sedikitpun!"

Kami berkerumun di balik pintu kamar nomor dua, meneliti sebuah pintu yang masih nampak mulus, tanpa ada satupun guratan yang terlihat.

"Gue bilang, apa?" Mahyong berbalik dan melangkah keluar kamar, "pasti ada yang nggak beres ini!"

"Yo! Keluar!" pekik Jainal.

Pencarian sia-sia kami hentikan, tak ada satu ekor-pun tikus yang terjebak di dalam kamar ini. Dan pintu itu, sungguh membuatku semakin yakin, jika pelakunya bukanlah hewan maupun manusia.

"Suara tikus? Nggak mungkin bisa kayak gitu! Kalaupun suara itu dari tikus ... Segede apa itu tikusnya?" papar Jainal, masih menerawang pada celah-celah tumpukan Sement.

"Terus?" sahut Kopral, menatap kami satu persatu.

Aku menaikan pundak samar, "Entahlah ...."

"Main Game lagi aja, yu? Biarin aja ini pintu terbuka ... Kalau tikus dia pasti keluar sendiri," ujar Rifaldy, dan berlalu menuju kamar pertama. Diikuti aku dan yang lain.

"Sering nggak, sih, kayak gini?" ucap Mahyong, dalam perjalanan menuju kamar pertama.

"Ngga sih, baru kali ini doang," komentarku.

"Gue mending tidur, deh. Udah jam dua pagi ini, Wa," tukas Jainal, merebahkan tubuhnya pada karpet.

"Cemen, amat! Gadang, lah!" pekik Kopral, menepuk paha Jainal yang tertidur tengkurap.

"Bodo amat!" jawabnya, dengan cepat.

"Oi! ... Lu juga tidur, Den?" Aku menurunkan bibir dan mengangguk samar.

Kami tidur berjajar pada karpet bludru yang berada di ruangan tak berpintu ini. Kurada cukup luas untuk menampung lima orang di dalam sini.

Aku berbaring tepat di sisi paling kiri, menatap langi-langit dengan penuh keraguan yang tak menentu.

Hantu bukannya hanya ada di dalam TV ... Apakah mungkin jika terjadi pada dunia nyata?

Aku sangat penasaran dengan suara ketukan yang baru saja kami alami dan memutuskan untuk mencoba hal konyol yang tak mungkin terjadi.

Aku melirik pada teman-teman, nampaknya mereka sudah tidur dengan pulas. Ngatain orang cemen! Dia sendiri tepar! Aku beranjak dari tempat tidur, merangkak perlahan melewati barisan tubuh—menuju dinding yang memisahkan ruang ini dan kamar nomor dua.

Dugg ... Dugg ...

Aku mengetuk dinding dengan lenganku ... Namun tak ada jawaban.

Dugg-Dug-Dugg ...

... Masih juga tak ada jawaban.

Aku tersenyum tipis walau rasa cemas menekan kuat dalam diri, Tindakan yang sangat bodoh!!

Aku pun kembali berbarangi pada tempatku, dengan mata sayup aku mulai terpejam.

Daaaaarrrrrrs! ...

Bantingan pintu menggelegar keras, memecah keheningan. Aku terperanjat hingga terduduk dengan nafas boros.

Detak jantungku terasa mati seketika, sebelum akhirnya berdebar dengan cepat. Aku menoleh Rifaldy dan yang lainnya yang masih tertidur pulas.

Belum usai tubuhku terguncang oleh hentakan pintu. Aku kembali dihadapkan oleh sebuah bayangan hitam yang melintang dari arah dapur hingga melintas di depan ruangan ini—tertuju pada pintu utama.

Bayangan itu berbentuk pipih, tak jauh beda dengan bayangan pada umumnya, hanya saja bayangan itu bukan di sebabkan oleh faktor cahaya. Karena tidak ada lampu yang menyorot dari dapur hingga ke depan rumah—mustahil menciptakan bayangan yang memanjang.

Mata ini terpaku pada bayang yang ada di hadapanku, hingga aku menyadari, jika ada sesuatu yang menatap ke arahku, dari sudut kanan pintu. Aku tak ingin menolah pada sosok itu, karena tubuh ini sudah terasa begitu panas.

Namun bukan berarti aku tak melihatnya, meskipun aku tak meliriknya tapi aku yakin jika itu sebuah kepala dengan rambut yang sangat panjang.

Belum lagi, bayangan hitam yang aku pandangi, kini mulai mencuat menjadi sebuah rambut panjang yang kusam—bak kawat halus yang berkarat.

Jangankan untuk berbicara, untuk menalan ludah saja aku tak bisa, ingin rasanya aku berteriak atau menarik lengan Jainal yang tepat berada di sisi kananku, namun tubuh ini seakan mati rasa. Tak mampu gerakkan sedikit pun.

***

Bused, ini bocah panas amat, Rif?

Beh, sakit dia ...

Lagian ngapain juga dia tidur di kursi ...

Oi ... Den, Den. Bangun, udah siang!

Merasa hentakan kuat pada tubuh, aku membuka mata perlahan, terlihat teman-temanku sedang berkumpul menanti aku tersadar.

Aku menjambak rambutku, saat rasa nyeri yang teramat hebat menyergap kepala.  Sekujur tubuhku terasa pegal-pegal, seakan tulang punggung ini remuk berkeping-keping.

"Lu ngapain tidur di kursi? Kan, tempat tidur masih lega?" cecar Janial. Aku mengangkat dagu, menggeser lirik ke kamar.

Aku menghela nafas dalam, menggeleng samar. Dua kali dalam satu malam aku mengalami hal serupa. Di mana tubuhku berpindah dengan sendirinya.

Jemari Rifaldy menempel pada keningku, "Masak aer di jidat lu, mateng ini." Aku melirik lemas kearah Rifaldy.

"Pea ... Temen lagi sakit masih aja lu ledekin," timpal Jainal.

"Cuma panas doang ... Ya, nggak, Den?"

"Bawa ke dokter aja, Rif," tambah Janial.

"Ya, udah cuci muka sana, kita ke dokter, deh," ujar Rifaldy, meraih tubuhku bangkit dari duduk.

Langkahku tak karuan, Badanku terasa sangat berat. Bahkan aku kehilangan keseimbangan, saat mencoba berdiri—beruntung Rifaldy menahan tubuhku dengan sigap.

"Eh ... Nyaris! ... Gue bantu makanya!" Rifaldy membantuku berjalan hingga tiba di depan pintu kamar mandi.

"Dari sini gue bisa sendiri, Rif," lirihku, dengan wajah datar.

"Ya udah sana cepat, nanti keburu siang!"

Aku bergegas masuk ke dalam toilet berniat membasuh wajahku. namun ketika hendak mengambil gayung pada Bak mandi.

Aku terhentak hingga tubuhku menabrak dinding yang ada di sisi kiri. Ini tidak mungkin! dengan perlahan aku kembali menjulurkan kepala tepat di atas bak mandi.

Aku terpana, saat melihat pantulan wajahku di atas air. Entah mengapa pantulan itu justru berwujud seorang wanita, dengan kulit putih pucat.

Byuuaaarrrr....

Aku memukul kuat genangan air yang berada di hadapanku, hingga membuat Rifaldy bereaksi.

Ini halusinasi ... Ya! hanya Halusinasiku saja.

Dengan nafas masih tak beraturan, aku kembali mencobanya. Namun tetap saja pantulan wajahku kembali menyerupai seorang wanita. kulitnya begitu putih, wajahnya terlihat kecil oleh dagu yang hampir meruncing. Rambut panjang dan berponi, hampir menutupi bagian alis, tapi tidak dengan mata sipitnya. Lengkung hidungnya berayun, nampak memancung menghiasi bibir tipis-nya.

Aku terus memandangi pantulan wajahku dengan penuh tanda tanya besar. Sesekali aku menoleh ke belakang guna memastikan, jika tidak ada orang lain selain diriku.

Oke, ini hanya halusinasi ... Kondisiku sedang tidak stabil, dan lagi tidak akan ada hantu di pagi hari! Sebaiknya aku segera memeriksakan kesehatanku.

Beberapa saat aku memandangi pantulan wajahku, meski tidak menyeramkan namun tetap saja membuat jantung ini berdebar kencang. Aneh!

Krrreeeettt...

Aku berjalan ke arah ruang tamu, seusai keluar dari toilet, untuk segera bersiap-siap.

"Udah siap semuanya?" tanya Rifaldy bersandar pada tiang pintu, "jangan ada yang ketinggalan. Buat jaga-jaga takut nggak nginep di sini lagi," tambah Rifaldy, mengepulkan asap pekat dari batang rokoknya.

Tubuhku terhenti sesaat, menoleh cepat kearah Rifaldy yang berada di belakangku, "Maksud loe apa! Nggak balik ke sini lagi?" gusarku, yang tanpa sadar menggengam kerah baju Rifaldy dengan sangat kuat.

"Den ... " Wajah Rifaldy pucat, dan terlihat kebingungan, "Lu kenapa ...." Rifaldy mengoyak bahuku.

Amarah yang tak jelas kian memudar. Mataku terbelalak lebar, dan bertanya dalam hatiku, Apa yang terjadi padaku! Aku sepenuhnya sadar, tapi mengapa aku tak bisa mengontrol diri ini dengan baik.

Aku yang melirik kaki Rifaldy yang telah setengah berjinjit, serentak melepas genggamanku.

"Den?"

Aku hanya menunduk dengan tatapan kosong, dalam ketidak pastian aku mencoba mengatur laju nafasku yang berhembus dengan cepat.

Ada apa denganku? aku tidak bisa mengendalikan amarahku? aku hampir saja melukai, Rifaldy ... Saudara terbaikku!

"Ma-maafin gue, Rif! Gue benar-benar nggak enak bedan hari ini." ujarku dengan nada datar.

"Slow aja Den ... Udah siap?" aku mengangguk samar.

Bruuummm ... Brum...

Terlihat para pekerja yang mulai berdatangan, turun dari mobil mini bus. Tak kukenal satupun wajah mereka, masih sangat asing bagiku. Mungkin mereka yang dimaksud oleh bang Ferdy.

Namun ada yang mengalihkan perhatianku, Pria dengan tubuh gempal lengkap dengan seragam hijau loreng. Tengah turun dari kendaraan bermotor.

"Ngawal, nih ...," pekik Rifaldy.

"Eh ... Ada, Rifaldy, Deni," ucap mang Rudi, melangkah cepat menghampiri kami yang tengah berdiri di teras depan.

"Mau kemana?" lanjut mang Rudi, seusai kami mencium lengannya. "Parah! Mamang datang malah pada pulang?"

"Panas banget Mang badannya dari tadi pagi, ini juga mau ke dokter," balas Rifaldy.

"Yeh ... Pantes kayak pucat banget ini anak." Mang Rudi seperti terkejut saat menempelkan telapak lengannya pada kening-ku, "Gusti ... Panas amat ... Ya, udah cepet, Rif. Bawa ke dokter ... Nih, di pas pertigaan Ciomas ada," tambah Mang Rudi, menunjukan jalan.

"Iya Mang, bisa ya lewat situ."

"Iya bisa nanti lewat pintu keluar Yoniv."

Aku hanya terdiam, pandanganku sangat tidak fokus. Bahkan lantai ini terasa berayun-ayun.

"Ya udah Mang ya, Rifaldy nganter dulu," balas Rifaldy, bersalaman.

"Hati-hati, Rif ... Den."

Kami pun mulai meninggalakan Rumah Loji. berjalan menuju Ciomas untuk memeriksakan keadaanku yang sudah tak berdaya ini.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Terpopuler

Comments

Tina Tartina

Tina Tartina

serem ya ampun

2020-03-01

1

lihat semua
Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!