True Story - Interaksi Astral Part 1

Tiga bulan berlalu semenjak aku meninggalkan rumah tua bergaya khas belanda itu. Entah sudah seperti apa sekarang bangunannya, selama ini aku hanya menghabiskan waktu di rumahku yang berlokasi di Cilebut Bogor.

Keseharian-ku di sini sangat tidak jelas, tanpa ada aktifitas yang berarti,  selain bermain Game, makan dan tidur.

"A ... Bangun ...."

"Baru juga jam berapa, Mah ...."

"Itu ada telpon ... Lagian ini udah siang! Bangun ...."

"Iya-ia ...."

Dengan mata sayup-sayup, aku duduk di atas kasurku. Akhirnya ini aku

"Abis itu langsung mandi!"

"Iya, Mamah ...." sahutku,"lagian siapa juga yang telpon, pagi-pagi kayak gini!"

"Kamu ini ... Kerjanya cuma main Game, Game terus!, hampir tiap malam!" gerutu Ibuku, dan berlalu.

Kring..!! kring..!!

Pandangku beralih pada ponsel yang terdengar sangat menggangu. Nomor siapa lagi, ini ....

"Hallo," sapaku, mengerutkan satu alis saat mendengar suara bising dari lawan bicaraku, "Ini Siapa!?"

"Den ... ini Babang." Berapa banyak nomor ini Orang ....

"Deni kira siapa ...."

"Gimana kabar, Mamah, Den."

"Alhamdulilah baik Bang," jawabku. "Lagi di mana si Bang? bising amat."

"Syukurlah kalau sehat, Babang lagi di Loji Den, lagi ngeliatin yang pada kerja."

"Wah, udah mulai dibangun, toh, Bang?"

"Udah setengah jadi Den," jawabnya, terdengar ia sedang berjalan menjauh dari kebisingan.

"Gini Den ... Babang, kan, gak bisa kalau terus menerus mengawasi pekerja di sini ... Babang harus pulang ke Serang. Si, Rifaldy, disuruh mandorin tapi ga becus ... Dia pengen berdua sama Deni, katanya, gimana bisa gak?"

Mengingat tabunganku yang sudah semakin menipis, karena tidak ada pemasukan semenjak aku tinggal di rumah.

"Bisa, Bang ...," seruku, dengan semangat, "Asal ada arus ke ATM, Bang ... " gurauanku, membuat bang Ferdy tertawa ringan.

"Itu bisa diatur, Den ... Tapi, Berangkat sekarang, ya, Den, Babang tunggu, di Loji." Tak sempat menjawab Ferdy mengakhiri panggilannya.

Selalu saja berakhir seperti ini jika berurusan dengannya, semua harus dilaksanakan cepat, walau aku bukan tipikal orang yang tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah.

Aku lantas beranjak dari kamar, untuk membersihkan diri, dan bersiap—meluncur ke Bogor.

Ibuku yang menyadari anaknya ini sangat sibuk mempersiapkan segala yang hendak aku bawa, ia pun bertanya, "Mau kemana, A?" datar ibuku, yang sedang asyik menonton TV di ruangan tamu.

"Mau ke Bogor, Mah."

Derap Langkah kaki mendekat, seraya Ibuku berdiri di ambang pintu kamarku, "Ketempat, Ferdy?"

"Iya, Mah ... Tadi dia telpon aku."

"Sampai kapan, kamu mengikutinya?"

"Aku tidak sampai hati, Mah. Jika menolak tugas darinya ... Saat aku di Bandung, dia yang memfasilitasi, aku."

Ibuku menghela nafas ringan, "Iya, Mamah tahu, tapi memang sewajarnya dia seperti itu."

"Tetap saja, Deni nggak enak, Mah."

"Lantas berapa lama kamu di sana?"

Ibuku sudah tahu betul, setiap kali aku bersama bang Ferdy, pasti akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan sampai berbulan-bulan.

Kendati demikian, bukan berarti aku mengabaikan keluarga tercintaku. Setiap bulan aku tetap mentransfer sejumlah uang ke rekening Adikku, untuk memenuhi semua kebutuhan orang rumah. Mengingat aku sudah tak lagi memiliki seorang Ayah.

"Mungkin lama, Mah." Aku menutup resleting tas-ku, seusai memasukan beberapa pakai ke dalamnya.

"Boleh, kan. Mah?" Aku menoleh, dan tersenyum hangat ke arah ibuku.

"Kalau itu baik untukmu ... Mamah tidak bisa melarangnya," ucap Ibuku, seraya senyuman terukir dari wajahnya.

Aku mengangkat tas-ku, lalu mencium lengan Ibu untuk berpamitan.

"Jaga diri kamu baik-baik ... Jangan sekali-kali kamu salah dalam pergaulan."

"Mamah tenang saja ... Deni selalu ingat semua nasehat, Mamah," ucapku, yang dianggukan oleh Ibu, "Deni pergi, Mah. Salam buat kedua adikku ... Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsallam, hati-hati di jalan."

Usai berpamitan, aku pergi meninggalkan rumah, dan seperti biasanya, aku berjalan kaki, menggunakan kendaraan umum untuk sampai ke Bogor, karena hanya ada satu kendaraan di rumahku, itupun digunakan untuk keperluan sekolah adikku.

Untunglah udara sekitar masih tidak begitu panas, aku berjalan dengan langkah cepat, untuk segera tiba di Stasiun Cilebut.

Walau bisa juga menggunakan angkutan umum lainnya. Namun aku lebih memilih Kereta Api sebagai transportasi favoritku. Selain cepat, juga sangat mengirit kantong, karena harga tiket-nya yang sangat ekonomis yaitu, hanya 1,000 rupiah.

Sangat jauh berbeda jika di banding dengan angkutan umum lainnya, yang bisa merogoh kocek hingga 3,000 rupiah, itupun membuang waktu yang sangat lama.

Selang berapa jam aku menempuh perjalan. Kini aku telah tiba di depan Gg Loji. Mobil angkutan umum yang membawaku, perlahan menepi tepat di bibir jalan Gg Loji.

Bip-bip ....

Aku kembali berbalik badan,

"Mas ... Kurang, nih ...."

Aku mengernyitkan alis, lalu menghampiri mobil Keri berwarna biru tua itu.

"Biasanya juga segitu, Bang."

"Jaman Belanda!? Ini cuma seribu, Mas."

Mataku melebar, melihat selembar uang yang dijulurkan ke arahku oleh sang Supir. Beruntung cuaca saat ini sedang panas, cukup untuk berkamuflase, menutupi wajah merahku—malu setengah mati.

"Sorry, Bang ... Salah ambil uang," sahutku, mengganti selembar uang itu dengan pecahan lima ribu. Namun sial, sang Sopir tidak memberikan kembali padaku, ia justru tancap gas, pergi. Kampret!!!

Aku menghela nafas panjang, lalu melanjutkan perjalanan. Namin di depan Gg. Loji, sudah menanti beberapa tukang Ojek, yang tengah memperhatikan-ku dari kejauhan.

"Ayo ..."

"Ojek, Mas ...."

Tak perlu diminta jika ingin menaiki Ojek di sini, karena mereka semua terlebih dahulu melambaikan tangan, pada siapapun yang hendak masuk kedalam Gg. Loji.

"Boleh, Mang." Aku mendekat pada sekumpulan orang yang duduk pada sebuah pos terbuat dari kayu, yang beratap daun kelapa kering.

"Oke, siap ... Kemana mas?" seru seorang tukang Ojek, dengan gesit menaiki motornya.

Aku tidak tahu tepatnya, nama Jalan ataupun RT/RW rumah Loji,

"Nanti saya tunjukan arahnya," ucapku, naik pada motornya, "Saya lupa namanya jalannya, apa," lanjutku. dan kami pun mulai melaju.

Hingga tepatnya Jam dua siang, akhirnya aku tiba di tempat yang aku tuju.

Aktifitas kontraktor terasa ramai dari kejauhan, Truk Molen berukuran besar terparkir angkuh di depan rumah tua itu. Genangan air bercampur Sement mengalir di sepanjang jalan, begitu banyak debu yang mengepul, bersatu dengan angin yang berhembus—membuat udara sekitar terasa tidak segar.

"Stop di sini aja, Kang," ucapku, menepuk pundak tukang Ojek.

"Siap," jawabnya, dan motor pun menepi, "Makasih, Mas ..." lanjutnya, seusai aku turun dan membayar ongkosnya.

Aku turun tidak di depan rumah Loji, karena jalan satu-satunya sudah habis oleh beberapa Truk yang terparkir di sepanjang jalan.

Aku melangkah sedikit berjinjit, untuk menghindari genangan air yang bercampur Sement. Berjalan menyusuri bibir jalan, dengan lengan yang menutup hidung, menahan agar debu pekat ini tidak terhirup olehku.

Suara bising yang terdengar saat aku berbicara dengan Ferdy ternyata bersumber dari beberapa Truk yang sedang beroperasi ini. Selang berukuran besar—cukup untuk menelan satu bola sepak. Selang itu berwarna biru yang dipenuhi bercak Sement—mengering. Menjulur hingga berakhir di lantai tiga.

"Den ...."

Aku menoleh cepat, saat kudengar pekikan dari seorang pria.

Terlihat Rifaldy dengan pakaian kaos hitam bergaris kuning, mengenakan celana pendek, dan sebuah Handphone yang ada di genggamannya.

Ia sedang berada di depan rumah bersama Ferdy, dan dua orang pekerja lainnya.

Aku terpaku saat melirik ke rumah tua itu, Wow!!!

Bangunan lapuk bergaya khas Belanda itu, kini sudah tak nampak lagi di mataku.

Hanya tersisa puing-puing kayu yang tak berarti, tertumpuk begitu saja di pekarangan depan rumah,

yang telah menghitam. Mungkin sisa dari bangunan lama.

Rumah tua itu telah berevolusi menjadi bangunan baru yang sangat kokoh dan megah. Dua tiang penyangga di teras depan rumah, menopang balkon di atasnya, keramik bercorak bunga, berukuran besar, terhampar menghiasi lantainya.

Bahkan dua jendela yang menghimpit pintu utama, memiliki corak indah, berupa ikan Koi yang bertabur bunga mawar merah. Meskipun dinding itu belum dilumuri cat, tapi sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya.

"Den, sini ... Banyak debu di situ," sergah Rifaldy.

"Mantap, ya ... Den," tambah Ferdy penuh wibawa.

"Jiwa mantap, Bang," sahutku, membuat Ferdy tertawa menang.

"Nanti Deni dan Rifaldy sementara tinggal di sini dulu ... Banyak barang bangunan mahal yang tersimpan di kamar nomor dua," kata bang Ferdy, sambil menepuk-nepuk bahuku perlahan, "siap, kan. Den?" lanjutnya.

"Siap ... Bang, lagian aku udah ada di sini, juga. Nggak mungkin aku nolak," jawabku, membuat Ferdy tertawa terbahak.

"Tapi ... Jangan pulang tanpa ijin lagi, ya?" gurau Ferdy, membuatku teringat akan sesuatu yang membuka senyum dan menahan tawaku.

"Maaf ... Rif, gue lupa ngasih tau kalau ada tukang yang akan merubuhkan bangunan waktu itu," jawabku sambil mengusap rambut belakang.

"Parah-parah ...," ucap Rifaldy dengan tawa tak tertahan, "gue terbangun gara-gara denger suara Buldoser di depan rumah ... Untung mang Usaman bangunin, kita."

"Tepatnya .... Untung nggak ikut di gusur, lu, Rif," komentarku, sambil cekikikan.

"Maaf, Pak, menggangu," kata seorang kontraktor berpakaian rapih, lengkap dengan helm kuningnya. "Ini truk yang terakhir Pak, tadi Bapak pesan lima truk berisi Full Sement," lanjutnya, lalu memperlihatkan sebuah kertas catatan yang ia berikan kepada Ferdy.

"Oke ... Ini yang terakhir berarti, Pak?" kata Ferdy, mengambil selembar catatan itu dan mengobrol dengannya, seperti mengacuh pada pembayaran.

Waktu terus berlalu, tepat pukul 16:30 WIB, satu per satu truk sement itu sudah mulai meninggalkan lokasi diiringi para pekerja lainnya.

"Rif ... Cari orang yang bisa beres-beres," kata Ferdy.

"Itu bisa diatur, Bang."

Langkah Ferdy tercekat, sejenak melihat ponsel miliknya yang berdering, "Wah! Babang harus pulang ke Serang sekarang," kata bang Ferdy dengan tergesa-gesa.

"Buru-buru banget, Bang?" kataku diiringi suara motornya yang menyala. "Hati-hati, Bang."

"Nanti Babang transfer ke-ATM kalian, buat pegangan selama tinggal di sini," kata bang Ferdy dan berlalu dengan sepeda motornya.

Kami hanya melongo, melihatnya pergi. Dia ingin aku cepat datang ke sini, namun ia sendiri ingin cepat meninggalkan rumah ini.

"Akhir-akhir ini ... Si Baso, suka kayak gitu," ucap Rifaldy, membuatku memutar otak.

"Buru-buru pulang?"

Rifaldy, menurunkan bibir, dan mengangguk-angguk samar.

"Masuk, yuk."

Angin berhembus semakin kencang, seiring mentari yang semakin redup.

Dan untuk kedua kalinya, aku menginjakan kaki di rumah ini. Meskipun kini seluruh bangunan sudah berubah total, namun tidak dengan pepohonan nan rimbun, serta rumput liar yang nampak memadati sisi lain dari rumah ini.

Aku mengerutkan alis melihat tajam pada pagar tembok yang menjadi pemisah antara rumah kami dan rumah sebelah, aku tersenyum kecil setelah membaca pelang yang cukup besar bertuliskan, 'JANGAN KOTORI RUMAH KAMI' aku pikir sebelumnya rumah itu tak berpenghuni. Paling tidak kini aku tahu. Jika kami memiliki tetangga.

Setibanya di dalam rumah aku menoleh ke kiri pada sebuah kamar nomor satu, yang sekarang menjadi ruangan tak berpintu yang telah di kosongkan, mungkin ini akan difungsikan menjadi ruang keluarga.

Sedangkan, untuk ruang tamunya terasa jauh lebih besar dibanding sebelumnya, jika memandang lurus ke depan dari pintu utama, aku bisa melihat dapur, dan sebuah tangga pada sudut kanan, yang menuju lantai berikutnya.

Hanya ada dua tempat duduk dan satu meja jati kotak, di ruangan tamu seluas ini. Dan masih tercium bau Sement yang membuat seisi rumah terasa pengap.

Seperti biasa, rasa penasaran ini takan terobati jika aku belum melihat seluruh ruang yang ada di rumah ini.

"Mau kemana, Den," sapa Rifaldy, ia duduk pada sebuah bangku.

"Liat dapur," singkatku, tak menghentikan langkah.

"Bikin kopi?"

Aku melambaikan lengan kananku, "tidak!"

Langkahku tercekat, saat tiba di ruangan yang aku tuju. Dapur ini cukup mewah, dengan Kitchen modern yang megah. Padahal belum sepenuhnya jadi, dapur ini ....

Pintu belakang yang terbuka, menyajikan pemandangan yang tak aneh bagiku, namun kini hanya ada satu pohon rambutan, padahal saat itu berjumlah tiga pohon. 'Berarti ini tempat sumur itu ... Sekarang menjadi dapur.'

Hilir suara mesin motor, terdengar semakin mendekat.

"Den ... Cewek, lu datang, nih ...." Rifaldy berseru dari ruang tamu.

"Ambil ... Buat, lu, Rif!"

Karena masih belum puas melihat-lihat, aku tidak ikut serta, menyambut mereka yang baru tiba.

Meski matahari belum sepenuhnya terbenam, namun di dalam rumah ini sudah terasa sangat gelap. Ini karena tidak adanya lampu yang terpasang pada setiap ruangan. Ini akan Sangat menarik!

Mataku bergulir pada lemari bekas yang nampak tidak asing bagiku. Lemari ini pernah aku jumpai, saat pertama berkunjung ke rumah ini. Mungkin karena kondisinya yang masih layak pakai.

"Woy!" Refleks aku berteriak, saat aku dikejutkan oleh seorang yang menepuk bahuku dari belakang.

"Kampret ...." Pekik-ku, menggelengkan kepala, saat melihat Aidan berjalan menjauh menuju ruang tamu.

Aku pun memutuskan untuk menyudahi penelusuran ini, lantas membuntuti Aidan yang berbelok masuk pada salah satu kamar.

Namun ketika aku sampai di ruangan yang aku tuju. Aku hanya melihat Rifaldy dan Kevin, tentu saja itu membuatku merasa aneh.

"Lho ... Aidan mana?" tanyaku mengerutkan kedua alis, melirik ke-sana sini.

Kevin yang baru melihatku nampak begitu senang, hingga ia berseru, "Widih ... Ke-mana 'aja, lu, Den?" Kevin menghampiriku, sambil menggeleng samar, "Sorry, Den ... Tadinya dia mau ikut cuma nggak jadi. Gara-gara, si, Adam minta anter ke Laladon."

Dengan tatapan hampa dan bingung aku melirik lurus ke arah dapur. Lantas yang tadi itu apa ...

"Ya sudah, sekarang mending kita beli kasur busa dan beberapa pelengkapan untuk beres-beres rumah," tukas Rifaldy.

"Hayu, Rif," jawab Kevin.

"Sini duitnya ... Biar gue sama Kevin yang jalan," tambahku, Rifaldy memberikan sejumlah uang padaku, "Lu nggak apa-apa, sendirian?"

Rifaldy berdecak cemas, terlihat dari raut wajahnya, "Ya. Jangan lama-lama, lah."

"Tenang 'aja, Pak ... Lu nggak akan ada yang perkosa, kok."

"Sial, lu!"

Mengingat hari sudah mulai gelap, akan sangat tidak menyenangkan jika harus melintasi jalan Loji yang sunyi dan mencekam saat malam hari.

Aku dan Kevin pun pergi, bergegas untuk membeli semua kebutuhan yang kami perlukan di rumah ini.

***

Tepat pukul 18.25, aku dan Kevin berhasil membeli semua yang kami perlukan, dan tiba di depan rumah Loji.

Bip..!! bip..!! bip..

Kevin membunyikan kelakson, menandakan kedatangan kami.

"Woy ... Bukalah!" Pekik Kevin, tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah.

Tak lama terlihat Rifaldy berlari dari dalam rumah, untuk membuka gerbang yang telah terkunci rapat.

"Cepat sedikit ... Berat ini kasurrr!" Pinggangku serasa ingin patah, memikul kasur busa yang cukup berat ini, di sepanjang jalan.

"Bawa masuk, nih ...."

"Sabarlah ... Sini gue yang bawa, Den."

Kami lantas membawa belanjaan kami masuk ke dalam, dengan dibantu Rifaldy.

"Rig, kita bagi tugas, 'aja," saranku, yang mendapatkan perhatian dari mereka berdua.

"Boleh, Den."

"Baru juga nyampe ... Tugas apa, sih. Pak?"

"Gue, menyapu semua ruangan." Aku menoleh ke arah Kevin, "Lu, ngepel lantai ... Dan, lu. Rif. Siapkan tempat tidur." aku melirik mereka bergantian. "Gimana?"

"Sip ... Setuju."

"Setubuh, lah. Pak!"

Tak mau membuang waktu, aku mulai berkerja, menyelesaikan tugasku. Sedangan Rifaldy dan Kevin sedang membuat secangkir kopi.

"Gantian kau, Govin!" Aku menarik lengan Kevin hingga ia terhuyung bangkit dari duduknya.

"Sue ... " Ia berlalu, setelah mengambil perlengkapan kerjanya.

"Kopi lu, tuh."

Tak kusangka mengurus rumah bisa selelah ini. Mungkin aku harus lebih menghargai kebersihan.

Aku menghela nafas, seraya mengangkat cangkir kopi yang telah disiapkan Rifaldy.

"Alangkah murkanya, gue! Kalau besok ini rumah kotor lagi!"

"Nggak separah ini, lah. Den."

"Syukurlah ...."

Nampak Kevin yang sedang mengepel bagian dapur sudah tak terlihat lagi terhalang oleh dinding kamar nomor tiga, yang juga menjadi batas ruang dapur.

"Cepat amat itu bocah ngepelnya?"

"Yang penting udah kerja dia, Rif."

Namun tak lama terdengar sesuatu yang jatuh dengan keras diiringi suara Kevin yang merintih.

"Vin!" Aku bangkit dan berlari untuk menghampirinya.

"Vin ..."

Terlihat Kevin sudah terkapar di lantai dengan kedua tangan yang terus mengusap belakangan kepalanya.

Tubuhnya basah kuyup oleh cairan pembersih lantai, yang juga tercecer pada lantai beserta ember yang tergeletak di sisinya.

Aku meraih tubuh Kevin dan mengangkatnya hingga ia terduduk, "Vin?" tanyaku, mengingat suara benturan yang sangat kuat, aku memeriksa kepalanya—takut terjadi pendarahan.

"Lu, kenapa, Vin!" sergah Rifaldy, yang juga tiba di dapur.

"Gue juga nggak ngerti kenapa bisa jatoh ... cuma ngerasa ada sesuatu di lantai, setelah itu aku terpelanting mencium lantai," lirih Kevin.

"Bisa jalan, kan. Lu?" Kevin mengangguk samar, ia berdiri perlahan dengan bantuan aku dan Rifaldy.

"Biar gue yang lanjutin."

"Oke, Rif. Tolong, ya."

"Santai, Vin, lu istirahat dulu, aja."

Aku lantas membawa Kevin ke kamar yang telah Rifaldy sediakan, lalu membaringkannya pada kasur busa.

"Gue buat susu, dulu," kataku, lalu berjalan menuju dapur.

Langkahku tercekat diambang pintu kamar, mataku melesat tajam ke arah dapur, Baru berapa jam saja aku di sini ini, namun firasat buruk kerap kali menusuk batinku.

Aku menghampiri Rifaldy yang sedang berada di dapur, ia melanjutkan pekerjaan Kevin seorang diri.

"Rif, ngerasa ada yang aneh ga sih dengan rumah ini," Rifaldy menoleh ke arahku dan melanjutkan pekerjaannya.

"Aneh gimana?"

"Gelisah, was-was, gitu?"

"Nggak ... Lu, gitu emang?"

"Dari pertama gue masuk rumah."

"Cuma perasaan, lu doang."

"Iya-kali, ya."

Disela percakapan, tiba-tiba suara mesin air terdengar berdering.

Grrriiiinnggggg...

"Udah ada mesin air ... Tapi lampu belum di pasang!"

"Komentar mulu, lu, Den!"

Rifaldy yang telah usai membersihkan lantai, lalu beranjak menuju ruang tamu, "sekalian kopi Den," celoteh Rifaldy.

"Kopi apa susu?"

"Oh, iya. Susu 'aja ...."

Aku menaruh tiga gelas di atas meja tembok berkeramik, aku sempat mencari gula dan kopi yang ternyata di simpan pada lemari jati tua yang tertutup rapat, karena hari mulai gelap, aku sedikit kesulitan untuk menuang gula dan kopi ke dalam gelas.

"Ya, ampun!" gumamku mendekatkan wajah pada gelas tersebut.

Namun Sesuatu aneh terjadi..!!

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk kalian, membaca tercintaku ...

#Note: Jumlah chapter keseluruhan ada 46.              Namun aku sedang melakukan tahap              Revisi. Jadi, mohon maaf jika Update              akan lebih lama. 🙏🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung

kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama

masih ada permintaan,

 cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca, semoga bisa

menghibur dan mengisi kekosongan waktu

kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaalla

Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!