True Story - Malam Penuh Cemas Part 1

Jam dinding seakan bernyanyi, mengisi kesunyian malam yang terasa begitu haning. Untung saja kami sempat memasang lampu pada ruangan lain, yang kini menerangi seisi rumah.

Aku, dan yang lain menghabiskan waktu dengan bermain Kartu Remi di kamar depan, tentu ini sangat menyenangkan bagiku, cukup untuk mengobati resah dan gelisah yang terasa membebaniku.

"Bentar gue mau ke toilet," kata Aidan, beranjak dari duduknya. "Awas kalau kartu gue berubah!"

"Kayak bagus 'aja kartu, lu. Dan," komentar Rifaldy. "Sekalian buat kopi!"

"Sip," sahut Aidan, dan berlalu.

Sejenak kami terdiam, menanti Aidan kembali dari toilet. Namun sifat jahil Kevin mulai timbul.

"Vin ..."

"Ssssstt ... Dari tadi dia menang terus!" ucap Kevin, mengintip satu per satu kartu milik Aidan. "Gue, udah diincar sama dia!"

"Kalah juga kartu gue," gumam Rifaldy.

"Rusak! Pada ngintip!" gumamku, meluruskan tubuh.

Duarr ... !

Aku terperanjat dan terdiam, kami saling menoleh dengan raut wajah bertanya-tanya. Suara dentuman keras santer terdengar dari arah dapur.

Trangg~ trang~ drukk ...!

Sebuah kaleng melesat begitu cepat, melewati ambang pintu kami, hingga akhirnya terhenti, setalah membentur pintu utama dengan sangat kuat.

Aku menghela nafas dalam, menggeleng kepala samar, saat Aidan kembali dengan tawa menangnya.

"Bababay! Kau!" gusar Rifaldy.

"Bikin orang jantungan aja, lu!" timpal Kevin.

"Jangan main-main Dan," ucapku, dengan nada datar, "Kita baru di rumah ini."

Aidan menyatukan ke-dua telapak tangannya, "Iya-iya, Sorry, Deh ..." Ia kembali duduk di tempatnya.

Kami melanjutkan permainan dengan penuh ceria, dan tak jarang suara tawa, candaan kami terdengar menggema, memecah malam yang membisu.

Hingga pukul dua pagi sesuatu terjadi, yang memaksa kami menghentikan permainan ini.

"Wha, mati lampu!" panik Rifaldy.

Kami digegerkan oleh padamnya aliran listrik dengan secara tiba-tiba. Entah apa penyebabnya, namun kami tidak siap untuk menghadapi situasi ini.

"Den, senter dong," ujar Kevin.

Aku meraba kasur untuk mencari ponsel genggam, yang ku-letakan tidak jauh dari tempat dudukku.

"Sabar-sabar," sahutku, lalu menyalakan senter yang ada di ponselku, diikuti cahaya Handphone milik Rifaldy dan Aidan.

"Mungkin MCB-nya turun," kata Rifaldy, bangun dari duduknya.

"Gue temenin, Rif," tambah Aidan.

Mereka berjalan dengan perlahan, menuju pintu depan.

Aku dan Kevin hanya duduk, menunggu Aidan dan Rifaldy mengecek MCB yang berada di luar rumah.

"Vin, merasa ada yang aneh gak sama rumah ini?" bisikku, menjulurkan cahaya handphone ke sekitar ruangan.

"Mungkin kita masih baru di rumah ini," sahutnya, menoleh kiri dan kanan, "Gue juga sama, ngerasa kurang nyaman."

Trang! ... Tangg! ...

Terdengar sura kaleng yang terhempas, diiringi derap langkah kaki semakin dekat.

"Rusak, nggak bisa On," kata Rifaldy, yang baru tiba.

Aku berdecak malas, saling bertukar pandang satu dengan lainnya, "Pagi kita cari tukang listrik, atau menghubungi petugas, PLN."

"Tidur ...," pekik Aidan, merebahkan tubuhnya di atas kasur.

"Sini ponsel kalian."

"Buat ape, Den?"

"Jangan di matiin senternya," ucapku, menyandarkan semua ponsel pada dinding kamar.

"Penakut!"

Melihat sudah terlalu larut kami memutuskan untuk tidur dengan cahaya remang-remang.

******

Cuu.. Tolong jangan rusak rumah kami Cu!! ... Nenek lapar, Cu! ke mana yang biasa memberi makan nenek!

Aku seakan terperangkap di dalam ruang yang gelap dan hampa, hanya ada diriku dan suara lirih dari seorang Nenek.

Aku bangkit, untuk mencari sumber suara itu. Aku berjalan tak tentu arah, mata ini tak bisa melihat apapun selain ruangan yang gelap dan dingin.

Cu..

"Nenek di mana?"

"Di sini, Cu ... "

Aku menoleh cepat, dan terkesiap, saat kulihat seorang Nenek di antara cahaya redup, yang selimuti gumpalan asap tips sedang.

"Nenek siapa?" tanyaku, dengan nafas memberat. "Rumah mana yang Nenek, maksud?"

Nenek itu terdiam, sesaat kemudian terdengar mengerang, lalu bernada tinggi, "Ini rumah kami!" Raut wajahnya terlihat sangat mengerikan. "Pergi kalian dari tempatku!"

Aku meronta dan terbangun dari tidurku, dengan nafas tak beraturan.

Aku menghela nafas panjang, dan mengusap keningku, yang basah oleh keringat. Hanya mimpi ...

Nampak Rifaldy dan yang lainnya, masih tertidur dengan sangat nyenyak.

Merasa masih sangat larut aku pun kembali memejamkan mata...

*******

Hingga cahaya putih yang menyilaukan, membuatku kembali tergugah. Aku meraih ponsel dan meliriknya. Udah jam delapan!

Aku lantas beranjak dari tempat tidur, dan terlihat Rifaldy sedang duduk di kuris ruang tamu, ia sedang sibuk dengan Ponsel miliknya.

"Aidan, Kevin ke mana Rif?" tanyaku, berjalan menghampirinya.

"Mereka sedang menjemput tukang PLN di jalan raya," singkatnya.

"Mandi dulu, gue."

Aku lantas mengambil handuk yang kubawa dari rumah, dan segera pergi ke toilet.

Udara pagi yang sangat berbeda! Aku tak lagi bisa menghirup udara segar yang dihasilkan oleh pepohonan. Seperti saat pertama kali aku menyambut pagi di tempat ini.

Hanya ada bau Sement, dan debu halus yang terbawa oleh semilir angin sedang.

Langkahku tercekat, ketika aku tiba di depan pintu toilet, dan menarik senyum halus. Sudah jauh lebih baik sekarang...

Terdengar suara mobil yang menepi diiringi riuh percakapan dari beberapa Pria dalam bahasa Daerah. Kurasa itu para pekerja yang telah tiba. Aku harus cepat karena tidak ingin menghambat pekerjaan mereka.

Seusai mandi aku berjalan menuju ruang tamu, dengan handuk yang masih terbelit di leherku. Rumah yang tadinya sunyi kini terdengar sangat bising, Truk pengangkut Sement dan pasir mulai berdatangan mencari lahan parkir tepat di depan rumah.

Terus ... Terus ... Balas!

"Rif, kita di Gg Rantai 'aja, yuk?" kataku, sambil berpakaian.

"Naik onta?" sahut Rifaldy, "motor-nya juga dipakai Aidan."

Aku menepak kening, "Oh.. Iya, lupa!"

Tak banyak yang bisa aku dan Rifaldy lakukan, selain duduk menanti Aidan dan Kevin kembali.

"Permisi, A. Ini kok listriknya mati, ya?" Seorang pekerja terlihat bicara dengan Rifaldy, sambil membawa mesin pemotong keramik.

"Nanti dulu ... Sabar! Lagi jemput tukang listrik," jawab Rifaldy.

"Kalau ganti MCB. pak Marun juga bisa, Mas," kata Pekerja itu, sambil mencoba mengingat sesuatu.

"Kerjain yang lain dulu aja, si Mang!"

"Baik, A," sahut si Pekerja, lantas pergi.

Tak lama terdengar motor yang berhenti di depan rumah, dan percakapan kecil menanyakan letak MCB.

Aku dan Rifaldy pun keluar rumah, untuk menemui tukang listrik itu. Setelah mendengar penjelasan Rifaldy, petugas itu lantas memperbaiki MCB hingga tak lama listrik kembali menyala.

"Rif, balik dulu yuk, biar Aidan dan Kevin yang di sini."

"Yuk, sekalian ambil makan buat para pekerja," sahut Rifaldy, menjulurkan lengan ke arah Kevin, "Vin ... Sini kunci motor."

"Jangan lama-lama, yak," komentar Kevin.

"Sip."

"By ... By ... "

kami pun meninggalkan rumah Loji, dan dalam perjalanan, aku dan Rifaldy sedikit berbincang, mengenai kejadian yang aku alami tadi malam.

"Semalam banyak hal aneh yang terjadi, dari mesin air yang berdering, hingga gelas yang berjalan dengan sendirinya."

"Wah, yang bener, Den?"

"Apa lu nggak dengar suara mesin air yang begitu bising? Atau masakan yang nggak ada rasa?"

"Mesin air, lagi ...  Mana mungkin bisa nyala ... Gue yang cabut stop kontaknya, supaya irit listrik."

Mungkin memang tidak ada gunanya aku menceritakan hal seperti ini, jujur saja, baru kali ini aku mengalami kejadian aneh seperti itu. Ini, kah. Halusinasi?

Aku tak lagi bicara dengan Rifaldy, di sepanjang jalan kami hanya membisu, mengarungi jalan berbatu yang terhimpit pepohonan dan tanaman liar, di kiri dan kanannya.

Dan akhirnya kami tiba di rumah Rifaldy yang berlokasi di Gg Rantai dan kami disambut oleh keluarga Rifaldy, sepertinya mereka sudah tahu akan kedatangan kami.

Pada teras depan, nampak seorang wanita paruh baya, tengah berdiri di ambang pintu. Beliau ibu Rifaldy, Kakak dari Ibuku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan 'Uwa'. Di rumah ini Wa. Wati tinggal bersama Ayah Rifaldy. Hanya mereka berdua yang bernaung dibawa rumah bertingkat dua ini.

Tentu saja ia menyapaku dengan hangat, "Deni, kapan datang?"

"Kemarin sore, Wa," ucapku, menyalami lengannya.

"Mamah, sehat di sana, Den?"

"Alhamdulillah, sehat, Wa."

"Syukur, kalau sehat ... Masuk, gih. Mandi, makan, baru buat kopi, Uwa mau nyapu depan dulu."

"Iya, Wa."

"Mah, udah masak?"

"Itu, Bi Eneng lagi masak di dalam, Rif."

Kami berlalu dari depan rumah, dan aku duduk pada sofa bludru, berwarna abu-abu.

"Gue mau mandi dulu, Den ... Lu mau buat kopi, buat sendiri, ya?"

"Oke, sip ... "

Namun pandanganku tertarik pada tumpukan majalah yang tertata rapih di bawah meja kaca. Misteri ... aku mengambil salah satu dari majalah itu dan mulai membuka lembar demi lembar pada setiap halamannya.

Hingga terhenti pada satu halaman yang menurutku cukup menarik untuk dibaca.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk kalian, membaca tercintaku ...

#Note: Jumlah chapter keseluruhan

ada 46.

Namun aku sedang melakukan

tahap Revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update akan lebih lama.🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaalla

Terpopuler

Comments

Fatma Agustin

Fatma Agustin

gwe bacanya malam😭

2020-04-06

1

Merlina Sijabat

Merlina Sijabat

seruuu...thor..

2020-03-09

1

Dafia Nuraini

Dafia Nuraini

Lanjuuut thoor mantap ......

2020-01-15

2

lihat semua
Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!