True Story - Aku kembali Part 1

Sabtu. Pukul 13:00 WIB.

Aku yang tengah berada di kediamanku yang berlokasi di Cilebut, mendapatkan kabar dari Ferdy yang memintaku untuk segera kembali ke Bogor. Guna memantau aktivitas pembangunan rumah Loji.

Merasa kondisiku yang sudah sangat baik. Mengingat, tiga minggu yang lalu aku terkapar tak berdaya oleh penyakit Cacar Api yang menjalar pada Radang Tenggorokan, dan Maag Kronis, membuat Fisikku dalam keadaan sangat lemah.

Tidak lepas dari tanggung jawab, mendengar aku jatuh sakit, Ferdy lantas mengirimkan sejumlah uang dan memintaku untuk segera menjalani pengobatan—rawat inap—di rumah sakit ternama. Hingga hari ini kondisiku benar-benar pulih sepenuhnya.

Semua itu tentu saja membuat aku merasa tidak enak hati, jika menolak tugas yang diberikannya. Sampai hari ini aku telah memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaanku.

*****

Ditengah cuaca yang tidak begitu bersahabat. Angkutan umum yang perlahan menepi, mengantarkan aku tiba di depan Gg. Rantai.

Kondisi sekitar nampak masih basah, dengan genangan air mengisi lubang-lubang jalan. Semilir hembusan angin membawa serta udara dingin yang menerpa kulitku. Seakan jaket merah muda yang aku kenakan ini tak berguna menahannya.

Kurasa bukan hal baru, karena memang Bogor cukup terkenal dengan sebutan 'Kota hujan' Sama halnya dengan sore ini yang baru saja diguyur hujan deras. Masih terlihat sebagian orang yang sibuk membersihkan lantai depan dari genangan air. Bahkan ada sebagian orang yang berjalan dengan celana tergulung hingga di atas tumit, sambil menyandang payung berlalu-lalang di sekitar Gg. Rantai.

Aku berteduh dari hujan halus yang masih berjatuhan pada warung kelontong tepat di pintu masuk Gg. Rantai.

Melihat kondisi cuaca dan jalan yang tergenang air, membuatku enggan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Walau ada beberapa tukang ojek yang melambai ke arahku, namun biasanya mereka mematok harga yang lumayan mahal, terlebih jika cuaca seperti ini.

Aku menghela nafas, mendongak menatap langit, dan kurasa hujan seperti ini takan reda dalam waktu singkat. Tak sabar menanti, aku pun membuka resleting pada tas selempang dan mengambil ponsel-ku.

"Hallo ... Rif?"

"Oit ... Udah di mana, Den??

"... Gue udah di Gg. Rantai, nih ... Bisa jemput nggak?" ucapku, dengan ponsel hinggap pada daun telinga.

"Siaapp ... Gue berangkat sekarang." Panggilan pun berakhir.

Kurang lebih 15 menit aku menunggu setelah panggilan kami berakhir, dan akhirnya nampak dari kejauhan Rifaldy menggunakan sepeda motor, menyusuri jalan yang lumayan becek.

"Gimana, udah sehat, Bos?" seru Rifaldy, sambil menyambut tanganku dengan meriah.

"Sehat! Motor baru, tuh! ... Makin gagah aja lu Rif," balasku, ia terlihat rapih menggunakan celana Jeans hitam, dan sweater abu-abu, lengkap dengan jam tangan. Walau sepatu putih, hijaunya nampak kotor dan basah.

"Biasa aja, motor lama ini! ... Eh udah cepet naik. Gerimis, nih. Nanti masuk RS lagi," cibir Rifaldy, membuatku tersenyum lalu naik pada kendaraannya.

"Keluarga sehat, Den?" tanya Rifaldy, mulai melajukan motornya.

"Sehat Rif, cuma gue doang yang kena cacar ...."

"Waduh, terus sekarang udah sembuh total, kan?"

"Cacar si udah sembuh, cuma Maag aja yang agak bandel."

"Biasanya gampang nular itu penyakit, Den. Syukurlah kalau keluarga semuanya sehat."

"Eh, gimana itu Loji?" sanggah-ku, merubah pembicaraan.

"Ya, gitu aja, Den ... Lagi ribet."

"Ribet?"

"Pekerja selalu minta pulang, nggak ada se-minggu udah tumbang satu per satu."

Mataku berkeliling saat mendengar perkataannya, "Kok, bisa? Terus sekarang ada yang kerja apa nggak, Rif?"

"Ada, sisa tiga orang. Tadinya tim dia ada delapan orang, tapi yang lima udah pulang."

"Hayyyaah ... Hamsyong."

"Pusing gua juga. Mana yang tiga ini aja udah minta pulang, tapi masih ditahan-tahan."

"Alasannya apa, si, Rif?"

"Gak jelas alasannya. Istri lahiran, lah! Sodara meninggal, lah! Nggak sedikit juga juga yang alasan nggak betah tinggal di rumah itu."

"Emang bang Ferdy, nggak teliti orang yang mau masuk kerja dulu? Terus kalau yang sekarang minta pulang juga, bisa makin lama itu rumah jadinya."

"Pusing, kan? Sekarang aja Bang Ferdy lagi cari orang, tapi nggak dapat-dapat."

Percakapan kami terhenti ketika motor ini perlahan menepi. Nampak sekitar rumah Rifaldy begitu sepi, mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat membuat mereka enggan untuk keluar rumah.

Suara gemerincing yang diiringi hentakan kunci, mengalihkan pandanganku pada daun pintu yang bersebelahan dengan rumah Rifaldy.

Aku memanggut, tersenyum santun, ketika mang Rudi membuka setengah pintunya, dan melongok dari ambang pintu.

"Yeuuhhh, Pantes berisik ... Ternyata ada, si, Cuprut ...." gurau mang Rudi, diakhiri dengan tawa gembira.

"Sakit Mang ... Kena Cacar Api," sahutku, menghampirinya, lalu mencium lengannya.

Mendengar itu, raut wajah gembira mang Rudi berubah menjadi iba, "Ya, Allah ... penyakit, mah, nggak bisa di prediksi, Den. Makanya jaga kondisi baik-baik." Aku mengangguk dengan senyum dalam,

"ini juga, nih ... Si, Gorif, begadang terus sama si Dede¹. Belom aja kena penyakit ... Penyakit mabok Janda!" tambah mang Rudi, sedikit mengejek hingga membuat Rifaldy terhentak dan tertawa geli. (¹ Dede, adalah panggilan untuk Aidan.)

"Atuh, Mang ... Mau begadang di rumah Loji massa-nya ngga ada, jadi weh di sini begadangnya," balas Rifaldy, mengusap kepalanya.

"Gelo si eta, mah¹—" mang Rudi menoyor bahuku halus, "Coba bayangin sama Deni ... Sampe jam empat subuh masih pada main Karambol!! Meuni hayang nyebor teh aing²," papar mang Rudi, seakan curhat namun membuatku geli terbawa oleh gelagat tubuhnya.

(¹Gila si itu mah 'Rifaldy')

(²Sampai mau nyiram Mamang)

"Aduh ... Mang ... Ampun-ampun ... hampura¹," komentar Rifaldy, sambil terbahak-bahak.

(¹ Maaf)

Krreeeekekkk ...

"Yeh, Deni udah sampai." Aku menoleh cepat ketika mendengar suara Uwa Wati yang baru membuka pintu rumahnya, "kirain suara si Dede ... Ternyata, Deni."

"Iya, Wa, baru banget sampai," balas ku, santun mencium tangannya.

"Masuk atuh, kehujanan nggak? Rif ... Bikinin kopi, atuh."

"Weh ... Biar bikin sendiri aja, Mah ...."

"Apa mau di rumah Mamang aja, Den?" sambar mang Rudi, masih penuh seru.

"Iya Mang, gampang di depan aja ngopinya," balas-ku, sedikit sungkan.

"Yeh ... Mau di dalam juga gak apa-apa Den, lagi gak ada siapa-siapa, Bi Ida lagi pergi," sahut Mang Rudi, lantas menggandeng pundak-ku agar ikut bersamanya.

"Ya udah atuh, kalau mau di rumah Mamang. biar Uwa yang siapin makan," ucap Uwa Wati.

"Iya, Wa, jangan repot-repot," balasku dengan nada rendah.

"Ikut atuh Mang ... Main tinggal aja," seru Rifaldy, menyusul dengan langkah cepat.

"Nggak ... Mamang mah mau juga sama, si, Deni ... Bosen maneh wae, Rif," ejek mang Rudi, tertawa dan membawa-ku masuk ke dalam rumahnya.

"Tega! Mamang satu ini," jawab Rifaldy.

"Sok ... duduk Deni, Mamang mau bikin kopi." Mang Rudi mempersilahkan-ku duduk, Ia lantas menuju dapur.

"Duh, jadi ngerepotin, Mang."

"Kayak sama orang lain aja atuh, Den!"

"Emang Bi Ida kemana, Mang," tanyaku, lalu bersandar pada sebuah sofa berwarna hitam kecoklatan.

"Bi Ida lagi ke rumah Kakaknya, Den. Baru lahiran," balas Mang Rudi, dengan membawa dua cangkir kopi panas.

"Mang, gimana ini, ya ... Rumah Loji?" tanya Rifaldy, setelah melihat layar ponsel miliknya. Wajahnya nampak dalam keraguan.

"Gimana apanya, Rif."

"Ini, si, Babang. Bingung mau cari pekerja kemana lagi. Tiga orang yang ada juga udah minta dipulangin," lanjut Rifaldy.

"Uwa Wati juga cerita sama Mamang, makanya kemarin dicariin orang lebak ... Mudah-mudahan aja ada yang mau," jawab Mang Rudi, membungkuk punggung perlahan duduk.

"Jadi penasaran, kenapa pada gak betah," timpalku, menarik kepala, melirik pada Rifaldy dan mang Rudi, "Padahal mereka enak, makan dapet, kopi ada, rokok-pun disediakan."

"Susah Den ... Ferdy narik orang dari Serang, mungkin nggak betah sama suasana di sini," balas Mang Rudi, menggelengkan kepala sedikit sinis.

"Bisa jadi, Mang—" aku memutar kepala ke arah Rifaldy, "Oi ... Jam berapa mau ke Loji?"

"Buru-buru amat, sih ... Abisin dulu itu kopi. Baru bahas Loji," sergah mang Rudi, menekan suasana yang mulai terasa serius. Sepertinya ia tak ingin kami cepat berlalu dari sini.

Setelah itu kami hanya berbincang penuh canda gurau, tak ada percakapan penting selain membicarakan 'Wanita' dan suasana Rifaldy bersama temannya saat aku tak berada di sini. Bahkan kami lupa, jika waktu kian berguguran.

Rifaldy nampak melirik layar ponselnya, dan terperanjat bangkit.

"Waduh! .... Udah jam tujuh—" Ia menjadi begitu panik, "Mang Rifaldy mau siap-siap dulu, deh."

"Tenang atuh, Rif ... Kayak kebakaran jenggot aja,"

"Tau sendiri jalan Loji kayak apa, Mang!"

"Dasar penakut ... Ya, udah hati-hati! Kalau ada apa-apa telpon Mamang Rif, Den," balas mang Rudi.

"Siap, Mang," balas Rifaldy, lalu berjalan keluar.

"Makasih, Mang. Kopinya, Deni permisi dulu ...." Aku pun pergi menuju rumah Rifaldy, untuk mempersiapkan segala keperluan kami.

"Den ... Tunggu!" Langkahku tercekat dan menoleh cepat ke arah mang Rudi.

Aku terdiam, menanti mang Rudi bicara. Namun, baru hendak mengucap kata, mang Rudi memotongnya.

"Nggak jadi, Den ... Mmm ... Ya, intinya hati-hati aja di sana, Den. jangan terlalu terbawa suasana," tutupnya, menepuk pelan pundak kanan-ku. "Di antara cucu yang lain. Cuma Deni yang diperhatikan."

Aku mengernyit ketika mendengar kalimat terakhir. Entah apa maksud dari perkataan mang Rudi, namun itu terdengar baik untukku, "Makasih, Mang ...."

"Nggak ... Udah gitu aja pokoknya."

Aku menghela nafas, "Oke, siap, Mang ... Deni permisi." Aku melanjutkan langkah untuk segera menyusul Rifaldy.

Sesampainya di rumah Rifaldy, kami segera mempersiapkan segala keperluan untuk bermalam di rumah Loji. Sempat aku berbincang sedikit dengan keluarga Rifaldy, mencari solusi terbaik untuk para pekerja di rumah Loji. Namun kami belum mendapatkan titik terang untuk masalah itu. Meskipun demikian, aku sudah mengantongi sebuah rencana, semoga saja bisa membantu.

Usai semua kami kemas, aku dan Rifaldy segera meluncur ke rumah Loji, mengingat hujan yang telah sedikit mereda, kami tak ingin membuang-buang waktu lagi.

Malam semakin larut, membawa desiran angin yang kian terasa sangat dingin. Di bawah rintik hujan yang tidak begitu besar, kami melaju dengan kendaraan roda dua.

"Pasti! Jalan Loji makin suram ini, mana abis ujan lagi, Den!"

"Iya santai aja, Rif. Licin pasti jalan di sana," balasku, menyikap dada merasakan udara bertambah dingin.

Selang berapa menit kami melintas di atas jalan raya, kini motor perlahan berbelok masuk pada sebuah Gg yang terdapat pelang 'Loji'.

Seketika suasana berubah drastis, saat kami menyusuri jalan tanah yang terhimpit oleh pepohonan liar. Kendaraan kami semakin melambat, terhadang oleh kabut tebal yang menutupi sepanjang jalan.

Rifaldy berdecak malas, dan mengeluh, "Aduh ... Ini jalan apa bukan, sih!" Sesekali ia menggunakan lampu dim, ketika kabut terasa semakin tebal.

"Pelan-pelan aja, Rif! Dari pada jungkir balik kita!" singkat-ku, sedikit cemas dengan cara berkemudi Rifaldy yang sudah sedikit ugal-ugalan.

"Di bawa ngebut, ya licin. Gue bawa pelan, serem!" Ucapnya, ia tak henti mengeluh.

Mungkin ada baiknya jika aku mencairkan suasana, "Ciiiee, yang lagi deket sama cewek," cibirku, sedikit meledek, berbicara dekat daun telinganya.

Rifaldy sedikit terkejut, "Tahu dari mana lu."

"Orang Ciomas, kan?" nadaku, sedikit mengganggunya.

"Aidan pasti!" gumam Rifaldy, "iya, orang Ciomas. Nggak jauh dari sekolahan gue dulu," tambah Rifaldy. Ia memang alumni SMP PGRI 3. Saat itu Rifaldy belum satu perguruan denganku, namun setelah lulus SMP barulah kami melanjutkan sekolah bersama di Bandung.

"Kalau nggak jauh berarti satu sekolahan, Rif?"

"Emang satu sekolahan sama, gue."

"CLBK berarti? Cari Lama Beli Kaga! Nya-ha-ha-ha," candaku, membuat Rifaldy menahan tawanya.

"Oya, Gini-gini ... Gue ada carita lucu tentang, si, Aidan, kemar—"

Ditengah perbincangan yang hampir membuat kami tenang, tiba-tiba saja lambungku terasa sangat perih tak terkendali, usus-ku bagaikan tertusuk sebilah pisau yang sangat tajam. Menahan nyeri yang luar biasa hingga membuat fokus ini pudar dengan apa yang sedang Rifaldy bicarakan.

"Oe! Den? Dengerin nggak, si! Tidur lu, ya!"

"Oit ... Ia-ia Rif, terus?"

"Auh, ah! ... Terus apaan! Kang parkir!"

"Sorry, lagi baca SMS Rif."

Percakapan pun terhenti, saat kami melintasi sebuah kelokan yang memancing rasa penasaranku untuk menoleh. Suasana hening berselimut kabut halus, menambah kesan mistis pada sebuah bangunan tua yang berdiri tidak jauh dari bahu jalan.

Bulu kuduk serentak berdiri ketika teringat akan kejadian aneh yang kerap aku alami, saat terakhir kali berada di rumah Loji. Ditambah cerita Mahyong, membuatku mengerti akan kejadian kelam yang dialami oleh pemilik rumah itu di masa lampau.

"Den ... Diem aja dari tadi, gue ngomong dicuekin." Sontak aku terkejut, saat Rifaldy memukul paha kiri-ku dengan jemarinya.

"I-iya, kenapa Rif." nadaku gugup.

"Merinding, gue!" kata Rifaldy, mengusap tengkuk lehernya.

"Udah jalan aja, jangan mikir macem-macem," balasku datar.

Firasat-ku terasa berat untuk melanjutkan perjalanan ini. Entah apa yang akan kami dapati di depan sana. Meskipun batinku berkata jika akan ada hal buruk, namun kami harus tetap melaju hingga sampai pada tujuan.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!