Aku berjalan menuju kamar dengan tertunduk lesu. Aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Apakah aku tertidur di dalam toilet, lalu bermimpi.
Setibanya aku di kamar, terlihat Rifaldy sedang duduk bersila, dengan asap rokok yang masih mengepul pada asbak di depannya, ia sangat asik bermain game seorang diri.
Aku menatapnya dengan sinis, "Rif? ...." tanyaku, sesaat ia menoleh ke arahku.
"Dari mana, lu? Ke toilet lama bener!" Ia berbalik dengan tatapan curiga, "Wahhh ... Jangan-jangan, lu ... Ya?" Aku tak menanggapi gurauannya, karena masih tidak percaya dengan apa yang aku alami. Jika Rifaldy ada di ruangan ini. Lantas siapa yang kini berada di dalam toilet.
"Kebanyakan bengong nih anak, nanti kesambet baru tau," tambah Rifaldy. Aku tak mengindahkannya, lantas duduk bersandar pada tembok tepat di belakang Rifaldy.
Mataku tak henti menatap tajam ke arah Rifaldy, hingga aku menjulurkan kaki untuk menyenggol pinggangnya dengan jempol kakiku.
Ah, tidak tembus, berarti makhluk ini yang asli ...
Aku menghela nafas lega, walau rasa gamang masih menyelimuti diriku, bahkan bulu kudukku masih terasa menari pada ke-dua lengan ini.
Sempat terpikir untuk pergi dari rumah ini, tapi akankah aku bisa menerima resiko yang mungkin terjadi. Kurasa tidak, karena aku tak ingin menimbulkan masalah dikalangan keluargaku.
Andai saja di rumah ini ramai, mungkin aku bisa lebih tenang, "Rif, ada kabar dari yang lain?" tanyaku dengan nada sedikit bergetar, aku masih sangat syok dengan kejadian yang baru aku alami.
Rifaldy menjulurkan lengan—memberikan ponselnya, "Coba cek, ada balasan apa nggak."
Ada tiga pesan masuk yang berisi dari Jainal. Isi pesan itu 'Iya, nanti gw kesitu sama Mahyong dn Kopral ... tapi abis pulang latihan Band ... Agak malaman Rif' Aku sedikit lega, seakan ada harapan baru yang membuatku tenang.
"Sehabis latihan Band, Jainal dan dua temannya mau ke sini, Rif."
"Nah! Sekalian nunggu kita tarung!"
Aku menyambar Stick Game, "Ayo!" Dan memulai permainan.
{23:12}
"Jam segini baru pada dateng!" lugasku, saat terdengar suara kendaraan beroda dua yang datang menghampiri dan berhenti di gerbang depan.
Aku sudah mengenali suara motor Janial, lagi pula tidak akan ada lagi motor yang berani melintas di area ini saat malam menjelang.
Menyadari mereka telah memarkirkan kendaraannya, aku bangkit untuk membuka pintu utama yang terkunci.
Seraya pintu terbuka Jainal pun menoleh dan berseru, "Wey ... Ada Deni." Ia menghampiriku berserta dua temannya. "Sehat, Den ...."
"Alhamdulillah, sehat ... Masuk, Nal."
Dua rekannya manggut lalu melewatiku. Aku sudah beberapa kali bertemu Mahyong dan Kopral namun hanya sekedar nongkrong bareng, jadi tidak begitu akrab dengan mereka. Tapi bukan berarti mereka tak mengenaliku.
"Wis, anak ... Band! sama siapa Nal," seru Rifaldy, Jainal masuk ke ruangannya, di susul oleh Kopral dan Mahyong.
"Sorry lama ... Biasa, lah. Kalau sudah di dalam Studio, pasti minta nambah. Ha-ha-ha," guraunya, menepis suasana sunyi yang kini menjadi sangat riang.
"Kalau mau buat kopi ... ada di belakang, ya," ucapku.
"Bikin sendiri gitu, Den," timpal Rifaldy.
"Wey—" Janial menatap ke-dua temannya, "pada mau kopi nggak?"
"Boleh ... Boleh." sahut Kopral, ia jongkok di ambang pintu.
"Eh ... Ngapain duduk di situ! Sini, lah di dalam ... Masih kaku aje, sih!" seruku, yang dianggukan oleh Kopral dan ia pun duduk di atas karpet.
"Kerja di mana, Den. Sekarang?" tanya Mahyong.
"Ah! Gini aja kerjaan gue, sih. Paling sehabis rumah ini jadi. Baru gue cari kerja," sahutku.
"Masih tinggal di Cilebut, Den?" timpal Kopral.
"Masih, lah! Mau tinggal di mana lagi emang," seruku, sedikit bergurau. "Mau main game ada! Mau bikin kopi ada! Tiap hari, lah. Kalian ke sini?"
"Wah! Tawaran yang sukit ditolak, tuh ...," seru Kopral.
"Si Aidan sama si Kevin, mah, lemah!" timpal Rifaldy. "Baru kerja berat dikit langsung banyak alasan."
"Tadi gue ketemu si Aidan di Elos ... Gue tau kalau kalian nginep di rumah Loji dari dia. Makanya gue ke sini," tambah Jainal, ia baru kembali dengan menjinjing dua gelas kopi.
"Ya, udah ... Kalian santai, lah, dulu," pangkasku.
"Siap, gampang itu sih," jawab Mahyong mengacungkan jempol ke atas.
"Ngomong-ngomong ini rumah berapa lantai, Rif, dari kapan mulai di bangun," tanya Kopral, ia berjalan dengan wajah memutar mengamati ruangan.
"Kenapa? Mangap, yo?" sahut Rifaldy. "Paling mewah di antara rumah yang ada di Loji, kan!" Rifaldy menanggapinya dengan angkuh dan sombong, Karena memang seperti itulah sifatnya.
"Emang calon keren ini rumah ... Mewah di antara hutan! Bah-ha-ha-ha," Komentar Jainal, lalu tertawa terbahak. "Lu nggak liat waktu kita di jalan tadi? Boro-boro rumah, lampu aja nggak ada!"
"Gemetar gue, sumpah! Sampai mogok di jalan tadi ... Mampus kita!" timpal Mahyong.
"Kayak nggak kenal daerah sini aja lu, Yong!" Aku mengernyit saat menangkap perkataan Kopral.
"Kenapa emang, Pral?" tanyaku memperjelas.
"Tanya, noh, Mahyong—" Kopral mengangkat dagu, menunjuk kawannya itu, "Rumah dia di Ciomas. Desa tetangga ... Cuma di tempat dia mah udah ramai, Den," tambah Kopral.
Aku begitu antusias dengan percakapan ini, "Serius, Yong?"
"Ya ... Ya, gitu, deh ... Intinya, harus jaga sikap kalian, jangan sekali-kali takabur!" jelas Mahyong, sambil menyeruput kopi hangatnya. Terdengar ragu dari nada bicaranya.
Aku merasa jika ia tahu banyak akan tempat ini, "Maksud, lu?" cecar-ku.
"Yakin? Mau gue ceritain?" Aku mengiyakan perkataan Mahyong.
"Ayo sini ... Duduk, kita kumpul bareng. Anak kuncen mau cerita ... " pekik kopral.
Tak terima dengan guyonannya, lengan Mahyong menoyor bahu Kopral, "Asu, lu!"
Dan kami pun mulai duduk menanti apa yang akan diceritakan Mahyong. Dengan menghela nafas ia mulai angkat bicara, "Tahukan belokan yang tidak jauh dari rumah ini! ... Itu, lho, yang ada dua pohon kapuk besar," ujar Mahyong sambil menjulurkan lengannya.
Walau awalnya aku tak begitu menangkapnya, namun lama-kelamaan aku menyadari apa yang dimaksud Mahyong, dan berseru, "Oh ... Iya gue tau! Iya emang ada pohon kapuk di sana!"
"Di mana si, Den?" tanya Rifaldy, nampaknya ia tidak begitu memperhatikan lokasi sekitar.
"Lah! Tiap hari lu lewatin, Rif. Ini belokan kedua dari sin—"
"Iya! Baru inget, gue. Tau-tau ...."
"Nah! Di sana tempat orang buang jin!" Celetukan Mahyong membuat aku terkesiap. Saling melirik dengan Rifaldy.
"Jaman dulu ... Lahan itu menjadi tempat favorit untuk mengakhiri hidup—bunuh diri!" Raut wajah Mahyong nampak begitu serius, terlihat dari lubang hidung yang merekah. Bahkan ia bergidik usai mengatakannya.
Aku hanya bisa menelan ludah, menanggapi apa yang diutarakan olehnya. Karena bisa saja itu benar jika melihat dari kawasan ini yang begitu terisolasi dari pusat keramaian.
"Sudah tak terhitung berapa banyaknya, mayat yang ditemukan di daerah ini." tambahnya mengakhiri percakapan.
"Dongeng, si, Mahyong, mah!" sergah Rifaldy. Ia berbalik dan kembali menatap layar tv.
"Jangankan di sini, Rif ... Kampung gue aja yang jauh, sering digangguin," sanggah Mahyong. "Ya ... Tapi, semoga aja nggak ada lagi yang kayak gituan!"
Kopral tiba-tiba terperanjat, ia menjulurkan kedua lengannya ke depan, "Eh ... Kok, gue merinding!"
"Hmmm!!! Bisa wae mang Dalim!" gurau Rifaldy.
"Dah ... Santaii dulu, lah!" sergah Mahyong. Ia kembali mengangkat cangkir kopinya.
Jika apa yang diucapkan Mahyong itu benar. Sudah sedikit menjawab akan semua hal ganjil yang kerap aku rasakan di rumah ini. Namun bisakah aku memegang pernyataannya itu.
"Yang pasti kalian jangan sampai mengusik mereka ... Biarkan saja masing-masing," jelas Mahayong, terdengar mengingatkan kami.
"Gue pernah bermimpi, ada seorang Nenek yang sangat marah dengan kedatangan kami di rumah ini, apa itu seperti pertanda?"
Mendengar itu Mahyong justru nyengir kuda, ia mengusap belakang kepalanya, "He-he-he ... Kok jadi kayak dukun, gue, ya ... Ya, nggak tau juga, tapi moga saja bukan apa-apa."
"B.T.W, ada kejadian apa emang, Yong. Di kampung, lu?" lugas Kopral, mewakili pertanyaanku.
Mahyong mengusap-usap dagu dan mendongak, seakan mencoba mengingat sesuatu, "Yang paling hebo itu ... Kuntilanak!" Mahyong berseru saat mengingatnya. Namun membuat seisi ruangan menoleh cepat ke arahnya. "Terakhir kampung gue di gemparkan oleh sosok Kuntilanak yang meneror warga sekitar."
"Oh! iya!" Janinal pun ikut berseru, "Gue pernah dengar dari Bapak, gue!"
"Ternyata di sini, toh. Sumbernya," komentar Kopral.
Gubraaagggg ... gubraaagggg ....
Jendela terdengar bergetar, saat hembusan angin yang cukup kuat menerpanya. Membawa serta, udara malam kian terasa semakin dingin.
"Tahu apa penyebabnya?" Mahyong melirik pada kami dengan pandangan berganti, "Dulu, ada satu keluarga yang hidup miskin di desa kami. Suaminya meninggal akibat kecelakaan, Sehingga mengharuskan Siti—ibu dari satu orang anak itu—bekerja keras siang dan malam guna mencukupi kebutuhan mereka.
Hingga hari naas itu terjadi. Siti dijadikan kambing hitam oleh seorang teman kerjanya, ia dituduh sebagai pencuri perhiasan majikannya. Warga yang geram lantas mengusir Siti dan anaknya keluar dari kampung kami. Namun mereka tidak puas, jika hanya mengusir keluarga malang itu. Warga yang tak ingin Siti kembali ke desanya, lalu membakar rumah gubuk Siti, hingga rata dengan tanah. Selang beberapa hari dari kepergian Siti, warga mendapatkan kabar dari luar desa jika anaknya yang berusia tujuh tahun telah meninggal dunia, karena terserang penyakit demam berdarah. Dan dalam hitungan hari setelah berita itu tersebar, teror pun dimulai. Satu persatu warga desa disatroni oleh sesosok wanita berkain putih yang dipenuhi noda darah di sekujur tubuhnya. Hanya ada satu orang yang mendapat teror paling hebat dari sekian banyak warga. Orang itu bernama, Ayu, ia teman satu pekerjaan dengan Siti, dan ia juga yang telah menjadikan Siti sebagai kambing hitam. Kemana pun Ayu pergi, terutama saat menjelang malam, Ayu dan keluarganya selalu diteror habis-habisan oleh sesosok kuntilanak itu. Tak kuat dengan apa yang selalu menggangunya, Ayu dan keluarga memutuskan untuk menjual rumahnya dan berpindah ke desa sebelah dengan harap Ayu dan keluarga bisa lepas dari jeratan teror kuntilanak itu."
"Lantas apa yang terjadi terhadap Ayu dan keluarganya?" tanyaku yang semakin penasaran.
"Rumah yang baru ia beli, terbakar secara misterius. Beruntung suami dan tiga orang anaknya berhasil meloloskan diri dari insiden itu. Namun Ayu tewas! Dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya hangus terpanggang hingga sulit untuk dikenali."
Apa yang diceritakan Mahyong membuat kami hanyut dalam suasana menegangkan. Di tengah hening-nya malam, kami masih menjadi pendengar setianya.
"Masih bingung, gue ... Kan, yang mati anaknya Siti ... Kok, kenapa yang marah Kuntilanak?" potong Rifaldy dengan singkat.
"Nah! Gue juga lagi mikirin itu, Rif," timpal Jainal.
"Emang lu kira warga gue pada diem aja gitu? ... Ya nggak, lah. Mereka semua nyari tau siapa sosok itu!" Mahyong memperjelas perkataannya, dan ia kembali bercerita, "Tubuh Siti diketemukan tewas pada sebongkah batu di tepi sungai! Kepalanya pecah terbentur batu. Ia bunuh diri dengan cara terjun dari atas bukit!" Mahyong mengakhiri ceritanya.
Aku menjulurkan lengan, "Bentar ... Bentar ... Rumah terbakar ... Dan sungai ...." aku mencoba mengingat akan sesuatu, namun Mahyong memotongnya.
"Tul! ... Di depan sana ada sebuah rumah yang hangus terbakar, kan? Itu rumah di mana Ayu meregang nyawa!" pangkas Mahyong, aku mengangguk-anggukan kepala menyadari akan satu hal.
Oh, jadi seperti itu.. pantas saja..
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments