Tahun 2001 tepatnya pada bulan Juni. Aku tengah berada di Bandung, tinggal bersama sepupuku yang bernama Rifaldy. Selain kami tinggal bersama, kami juga satu perguruan di salah satu SMK Negeri yang berada di Kota Bandung, namun aku lebih dulu menyelesaikan pendidikan.
Rifaldy memiliki seorang Kakak pria berusia 32 Tahun yang bernama Ferdy.
Sejak kecil Ferdy tinggal bersama keluargaku, dan dibesarkan oleh ibuku hingga beranjak dewasa. Entah karena hal apa itu bisa terjadi, tapi menurut ibuku, keluarganya yang tak ingin jika Ferdy terjangkit penyakit yang serupa, sama seperti Kakak pertamanya yang selalu sakit-sakitan. (Almarhum.)
Hingga beranjak usia 17 tahun, Ferdy merantau bersama temannya untuk menjalankan bisnis batu bara—kini telah merubah nasibnya secara drastis—Saat itu masa-masa di mana Ferdy tengah berada dipuncak kejayaannya, bahkan rumah yang aku tinggali bersama Rifaldy ini pun terbilang begitu megah bak Istana yang kerap terlihat pada serial TV.
Di rumah ini, kami difasilitasi cukup mewah dan sedikit berlebihan bagiku. Di garasi bawah, siaga selalu, empat buah sepeda motor keluaran terbaru, dan tiga unit mobil Honda Jezz berwarna biru dan putih yang siap kami gunakan untuk keperluan sehari-hari.
Hingga suatu ketika Ferdy berambisi untuk membangun rumah sebanyak mungkin, terutama pada daerah yang menurutnya cocok. Apa lagi saat ia mendengar--jika ada tanah yang dijual berukuran luas dengan harga murah, pasti pantang pulang sebelum membelinya.
"Bikin rumah yang banyak, kalau susah bisa dijual atau disewakan." Kurang lebih itulah yang ia ucapkan dengan tawa menangnya.
Hingga kini ia sedang membangun 6 Rumah sekaligus yang berlokasi di Bandung, Sabi Banten, Pandeglang Banten, dan Satu di Bogor.
*****
Tapi akhir-akhir ini cuaca di Bandung terasa sangat menyengat, meliputi seluruh bagian penjuru kota yang tengah mengalami musim kemarau, padahal biasanya kota ini terasa sangat sejuk dan dingin.
Merasa cuaca yang kurang bersahabat, aku dan Rifaldy lebih memilih menghabiskan waktu luang untuk bermalas-malasan di dalam rumah, seperti yang sedang kami lakukan saat ini, aku tengah berada di lantai tiga yang hampir menyerupai BAR Mini.

Cetar!! Brukkkk-Brukkk-brukk! ...
Bola Billiard yang saling beradu terdengar memecah kesunyian dalam ruangan. Dengan tubuh membungkuk, tatap tajam pada ujung Stick, Rifaldy mendorong kuat bola putihnya. saat ini kami telah hanyut dalam permainan.
"Gimana hubungan lu sama Nurul, Den?"
"Hubungan apa? Akrab juga nggak."
"Dia sering tanya tentang, lu. Dan dia berharap lebih sama, lu."
"Berapa kali gue harus bilang—gue belum tertarik dengan dunia percintaan—berhentilah jadi Mak Comblang!"
"Sekali-kali nggak apa, kan."
"Sekali? Ini udah kesekian kalinya, Rif!"
"Abisnya ... Lu tuh kenapa susah banget sih, buat nerima cewek?"
"Gue nggak suka Drama!"
Kring! ... kring! ...
"Oy, Telp. Tuh ...."
Aku berdecak malas, membuang nafas. Menghampiri ponsel yang tak henti berteriak, pada sebuah Sofa Bludru berwarna biru, tidak jauh dari meja Billiard.
Aku mengeritkan gigi, saat kulihat nomor tidak dikanal. "Cih, siapa sih." gusarku, menekan tombol dengan gemas. "Hallo!" Sedikit bernada keras.
"Galak amat, Den. Ini Babang ... " ('Bang' panggilan dari 'Babang' yang artinya sama seperti 'Kakak'.)
Aku terperanjat, hampir saja aku tersedak oleh ludahku sendiri. Ternyata panggilan itu dari Bang Ferdy.
"I-iya, Bang. Deni kira siapa ...."
"Den, Babang lagi di jalan, mungkin jam empat Babang sampai di sana, kalian segera siap-siap kita pulang hari ini," lanjut Bang Ferdy, terdengar hening di sekitarnya, mungkin ia sedang berada di dalam mobil.
"Pulang Bang?" Aku membeo, melongo mendengar ucapannya. "Tumben dadakan banget."
"Babang mau beli rumah di daerah Loji, Den."
"Loji, Bang?" aku mengerutkan kedua alis, hanya merasa tidak asing dengan nama itu.
"Kalian segera bersiap-siap," tegas Bang Ferdy. "Babang sebentar lagi sampai," lanjutnya, menutup percakapan kami.
Aku menoleh ke arah Rifaldy yang masih bermain Billiard.
"Rif, kayaknya emang bukan jodoh lu sama Anis," celotehku, dengan senyum meledek.
Rifaldy berkata dengan cepat, "Maksud lu?"
"Kita disuruh balik," seruku, membuat Rifaldy menoleh cepat. "Babang mau beli rumah lagi," tambahku, lalu bersandar pada sisi meja Billiard, masih dengan ponsel yang kugenggam.
"Gue, udah janji mau ke rumahnya," gusar Rifaldy, mengetuk keras Stick Billiard ke lantai. "Lagi-an! tuh Orang gak pernah puas beli rumah terus!"
Begitulah Rifaldy, terkadang ia lupa akan semua yang telah diberikan Bang Ferdy padanya, cenderung besar kepala dan merasa memiliki segalanya. Karena sifat pemalas dan angkuh itulah yang membuat pendidikannya selalu tercekat.
"Seharunya lu bersyukur, mungkin bisnisnya lagi bagus," sahutku, dengan menggeleng kepala samar.
Melihat waktu sudah hampir pukul empat sore, aku beranjak meninggalkan ruang menyenangkan ini, untuk bergegas mempersiapkan diri.
"Mau kemana Den?" sapa Rifaldy, melihatku berjalan hendak keluar ruangan.
"Baiknya lu siap-siap Rif, Babang bentar lagi tiba," singkatku, membuka pintu kaca, dan berlalu.
Kami harus cepat, karena Bang Ferdy bukan tipikal orang penyabar, tidak bisa mengimbangi waktu saat bersamanya, maka akan membuat situasi grasak-grusuk, membuat kacau suasana.
Sungguh jauh berbeda jika dibandingkan dengan Rifaldy, yang lebih senang membuang-buang waktu, tak pernah serius dalam menyikapi masalah, mungkin karena hidupnya yang terlalu di manjakan oleh materi.
Selang berapa menit, setelah aku selesai bersiap, samar terdengar kelakson mobil dari arah depan rumah.
Bip-bip! ...
Aku mengintip dari celah jendela yang ada di kamarku, dan kulihat sebuah mobil sedang memasuki lahan parkir dengan perlahan.

Menyadari Ferdy telah tiba, aku segera menyambar Tas Selempang yang tergeletak di atas kasur lalu bergegas keluar kamar, namun aku sempatkan untuk berhenti di depan kamar Rifaldy yang masih tertutup rapat.
"Rif, Babang udah di bawah," pekik-ku, setelah mengetuk pintu kamarnya, namun tak ada jawaban darinya.
Dengan tas selempang yang melintang pada *Sweater *merah bludru, celana levis hitam yang sedikit mengerucut di pergelangan kaki, dan sepatu putih bergaris hitam yang selalu aku gunakan berpergian. Kini aku siap untuk pulang.
Wwuuss...!
Seketika pintu terbuka terasa udara panas bercampur debu menabrak kuat wajahku, memang sudah berapa hari ini, di Bandung tidak diguyur hujan, tak heran rumah yang berada tidak jauh dari jalan raya akan mendapatkan hadiah berupa debu pada musim kemarau.
Nampak Bang Ferdy sedang berdiri di sisi pintu mobilnya, sepertinya ia hendak menyusul kami ke dalam.
"Den, si Rifaldy mana?" sapa Bang Ferdy, dari kejauhan.
Ia nampak seperti orang kantoran hari ini, dengan mengenakan kemeja biru polos yang menutupi tubuh gemuknya, disambung celana panjang hitam, selaras dengan sepatunya coklat yang berujung kotak mengkilap. Ia hanya berdiri di samping pintu mobil menatap ke arahku yang tengah berjalan menghampirinya.
"Lagi siap-siap Bang, bentar lagi beres. Mungkin," jawabku, yang baru tiba di belakang mobil.
"Masuk Den," singkatnya, lalu masuk kembali ke dalam mobil.
"Bang, Loji di daerah mananya?" tanyaku, setelah menutup pintu mobil, dan duduk pada kursi depan, "Bukannya Loji nggak ada perumahan, ya."
Karena yang aku tahu, di daerah itu masih jarang rumah, bahkan terbilang masih banyak pohon rimbun dan lahan kosong yang tak jelas siapa pengurusnya—lebih cocok disebut hutan.
Sekilas Ferdy mengangkat dagu dan menoleh ke arahku dengan mata yang masih tertuju pada layar Handphone-nya.
"Loji Den, ada satu rumah pokoknya," aku mengerutkan alis mendengar perkataannya, "Lahannya luas, cocok kalau dijadikan Villa," lanjutnya, tak mewakili pertanyaan-ku.
Seperti inilah jika berbicara dengan Bang Ferdy, tak pernah mendetail. namun kita dipaksa untuk mengerti, itu semua disebabkan oleh lima ponsel miliknya, yang tak hentinya berteriak.
Hingga perhatianku tertarik oleh suara pintu mobil yang terbuka, diiringi Rifaldy yang merangsak masuk, lalu duduk di kursi belakang.
"Sorry, lama. Nyari jam tangan lupa naruhnya," ujarnya, sambil nyengir kuda.
Lirik sinis mengarah padanya, sebelum bang Ferdy berkata, "Susah amat diajak buru-burunya!" ia lantas menaruh ponsel miliknya di Dasboard dan menyalakan mesin mobil.
Menghindari Death Time saat di berjalanan, aku memasang Earphone di kedua telingaku, dan menyandarkan kapala pada kuris untuk mencari posisi senyaman mungkin, karena aku tahu perjalanan ini akan menyita banyak waktu. Belum lagi jika jalan macet total tentu akan terasa lebih menyiksa.
***
Kurang lebih pukul 19.00, kami baru keluar dari pintu Tol Ciawi, hampir dua jam kami di perjalanan, membuat pinggangku terasa remuk. Kulihat Rifaldy sedang sibuk dengan ponselnya, dan Ferdy masih fokus dalam mengemudi, walau sesekali dia bergumam akibat situasi jalan yang begitu padat.
"Den, ajak teman yang lain, biar lebih seru ... itung-itung untuk menemani kalian di rumah yang baru nanti," ucap bang Ferdy melirik sesaat ke arahku.
"Siap ... Bang," seruku, lalu menoleh ke arah belakang dan menaik turunkan alis.
Menyadari hal itu, raut wajah Rifaldy berubah mesem, dan lalu berkata, "Apa?"
"Telp yang lain, lupa isi pulsa, Euy." Rifaldy menurunkan bibirnya dan mengangguk samar.
Tak terasa sudah hampir dua jam berlalu, setelah kami berhasil keluar dari kemacetan yang lumayan parah, dan kini kurasakan kendaraan kami seakan berguncang ketika melintasi jalan yang masih berupa tanah bergelombang. Jarak pandang sangat terbatas, karena tiadanya lampu yang menerangi bahu jalan, cahaya satu-satunya hanya bersumber dari lampu mobil yang kami kendarai.

Mataku tak henti berkeliling melihat keadaan sektiar jalan. Entah perasaan takut atau karena masih asing dengan tempat ini, namun aku merasa tak nyaman melihat pemandangan sekitar yang terkesan menyeramkan.
Nampak berjajar, pepohonan berdahan besar serta daun lebatnya terlihat begitu mencekam. Belum lagi,
rumput dan ilalang liar yang menghimpit bibir jalan, hanya beberapa rumah saja yang terlihat, itu pun berada tidak jauh dari persimpangan jalan raya.
Semakin dalam, semakin terasa sepi dan hening, hingga akhirnya mobil pun menepi, aku menoleh ke arah kanan, tampaklah satu rumah yang terlihat sangat usang, bahkan genting pada bagian depannya sudah tidak tersusun rapih lagi, seperti akan terjatuh. Pagar besi hitam yang melintang membatasi perkarangan rumah yang dipenuhi tanaman liar tak terurus.

Namun di sisi kanan terlihat rumah lainnya, yang ber-cat putih berpagar besi dan tembok yang mengitari setiap sudutnya. Rumah itu sangatlah gelap tanpa ada cahaya sedikitpun. Ditambah tiga pohon besar yang berdiri diantara rimbunnya semak-semak yang memenuhi pekarangannya. Entah rumah itu berpenghuni atau tidak.
Hentakan pada pintu mobil yang tertutup, meliputi Ferdy yang telah berada di luar mobil, aku pun segara melepas sabuk pengaman yang melintang di dadaku untuk menyusulnya.
Wusssss! ...
Seketika terasa hembusan angin malam yang menerpa wajah, Kupingku terasa berdengung mewakili suasana yang sunyi, hanya ada suara ranting pohon yang saling bergesekan terhempas oleh kencangnya angin malam.
Aku melirik arloji, baru jam 8 malam, namun di sini sudah sangat sunyi, tak nampak sebatang hidung pun manusia yang berlalu-lalang di sepanjang jalan.
Rifaldy yang menyusul kami berdiri tepat di sisi kananku,
"Tempatnya kaya gini? gak salah pilih rumah?" cetus Rifaldy, dengan mata menerawang sekitar.
"Liat lahannya dong, mantap," jawab Ferdy, dengan penuh percaya diri.
Tak ingin membuang waktu lama, kami mulai berjalan mendekati pintu pagar yang berkarat, lapuk termakan usia.
Drakk-drakk-drakk ...
Ferdy mengetuk kuat pagar itu—menggunakan kunci mobilnya, melihat jarak dari pintu rumah ke tempat kami berdiri lumayan cukup jauh.
Lama kami menunggu di sini, hingga akhirnya terdengar suara hentakan kunci, diiringin suara pintu berdecit perlahan terbuka. Pintu itu terlihat tua dan bergaya khas Blanda yang terbagi menjadi dua sisi.
Samar terlihat seorang yang berjalan menghampiri kami dengan tertatih-tatih. Derap langkahnya sungguh lambat, terlihat dari cara ia menyeret alas kakinya dengan bantuan sebilah tongkat. Tubuhnya bungkuk, rambut putih sepenuhnya, lekuk Senyumnya hampir pudar oleh kerutan layu pada wajahnya. Nenek itu, mengenakan Kebaya khas Jawa berwarna coklat, bermotif bunga. Mungkin usianya lebih dari 78 tahun.
Raut wajah menyeringai, saat ia tiba di balik pagar dan melirik kami satu per satu, "M-maaf Jang, nunggu lama," ucapnya, dengan nada lirih bergelombang, "Maklum Jang, nenek sudah tidak bisa gesit lagi," lanjutnya, lalu tertawa terkekeh, ia mencoba membuka ikatan tambang yang membelit pada pagar.
Khawatir tidak akan kuat sang Nenek menahan pagar besi yang sudah doyong ini, dengan sigap aku menahannya, "Sudah, biar aku saja Nek."
sang Nenek mengangguk sungkan, dan tersenyum ke arahku, "Nuhun Jang," ucap sang Nenek. jika diartikan: (Terima kasih Nak.)
Segera aku menggeser pagar dengan hati-hati, karana memang kondisinya yang sudah sangat rapuh dan berkarat.
"Nek, apa Andre sudah datang?" tanya Ferdy yang mulai menyelip di antara celah pagar yang sudah sedikit terbuka.
"Dari pagi Nenek belum liat dia, Jang," sahutnya, mempersilahkan kami masuk. "Kemarin malam dia bilang kalau ada yang mau datang."
Aku dan Rifaldy berjalan sejajar, di belakang Ferdy dan Nenek itu. Tapi kulihat wajah Rifaldy nampak gelisah, ia tak hentinya melirik sekitar lokasi. Entah apa yang ia rasakan, tapi dari sikapnya itu, justru membuat aku semakin tidak nyaman.
Penasaran akan tingkah aneh Rifaldy, aku menjulurkan kepala—mendekat pada daun telinganya, "Sssttt, Rif," bisik-ku, membuat Rifaldy menoleh terkejut ke arahku, "Kenapa?"
"Bikin kaget aja, lu ... " sergah Rifaldy dan mengibaskan satu lengannya, "N-nggak ... " kilah Rifaldy, meski aku tahu itu bukanlah jawaban yang tepat.
*****************
Bersambung ...
*****************
-Vote, Like, Save To Favorit jika kalian suka dengan cerita ini.
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Terima kasih telah membaca, semoga terhibur. dan jangan lupa untuk Vote dan Komentar jika kalian suk cerita ini jika kalian suka.
-Update aku usahakan secepatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments