True Story - Malam Penuh Cemas Part 2

Suasana seperti ini yang paling aku rindukan. Meskipun Bogor dikenal sebagai kota hujan, namun udara paginya terasa begitu sejuk.

Ditambah secangkir kopi hangat yang menemaniku, aku siap menjalani hari ini dengan penuh semangat.

Aku membuka lembar dari sebuah majalah misteri, hanya untuk melihat-lihat, namun ada satu bagian yang membuatku tertarik.

"*Rumah Tua Berhantu.

Mahkluk halus merasa terusik dengan keberadaan rumah baru yang dibangun pada lahan keramat, atau pernah terjadi peristiwa tragis di lahan tersebut.

Makhluk halus sengaja dikirim oleh seseorang yang tidak menyukai Pemilik rumah.

Tanda-tanda sebua*—"

—"Den, mau mandi tidak ..." pekik Wa. Wati, dari ruang dapur, "Rifaldy sudah selesai tuh mandinya."

"Aku sudah mandi, Wa."

"Oh ... Mandi di Loji, ya?"

"Betul, Wa ..."

Seusai Rifaldy mandi, kami hanya menghabiskan waktu untuk bermain Game di kamar, yang berada di lantai dua. Sembari menunggu semua hidangan yang sedang disiapkan, Wa. Wati.

Hingga pukul 11.30, semua masakan telah siap untuk dikirim ke rumah Loji.

"Rif ... masakan sudah siap," Pekik Wa. Wati, "Jangan lama-lama ... cepat sedikit, sudah hampir jam 12 siang!"

Kurasa tak ada bedanya dengan Ibuku, selalu semangat jika sedang memanggilku. Meskipun terkadang suara tingginya itu terdengar berlebihan.

Aku menepuk paha Rifaldy, yang tak mengindahkan teriakan Ibunya itu, "Ayo ... Cabut, deh!"

"Iya-iya ... "

Kami pun bergegas menemui panggilannya, menuruni anak tangga yang tersusun dari balok papan.

Wa. Wati sudah menjagal kami di bawah, dengan kantung plastik yang ada di lengannya, "Ini gantungin di motor, yang ini kamu pegang saja, Den .... Sayur takut tumpah," tambah ibu Rifaldy, menyodorkan bungkusan besar kepadaku.

"Babang jadi ke sini tidak, Rifaldy."

"Ngga tau Mah, belum ada kabar lagi."

"Ya, sudah, kamu antar dulu itu, takut sudah nunggu."

Aku mengerutkan alis, saat tiba di halaman depan rumah. Siang hari yang begitu panas. Mata hari seakan menjulurkan lidahnya, membakar siapa saja yang bernaung dibawahnya. Panasnya ...

Setelag aku berpamitan, Kami mulai beranjak dari rumah Rifaldy dengan menggunakan kendaraan roda dua. Hanya ini fasilitas satu-satunya yang diberikan selama kami tinggal di rumah Loji.

"Tiga jam kita nanam Aidan dan Kevin di rumah, Loji!"

"Ha ha ha ... Gue sampe lupa sama mereka berdua, Den!"

Rifaldy memacu kendaraan secepat mungkin, mengingat kami sudah sedikit terlambat. Beruntung saat ini jalan raya tidak begitu padat, mungkin hanya jalan rusak Loji yang akan memperlambat kami.

Hingga pukul 12 lebih—tak lama Adzan Dzuhur berkumandang—kami tiba di depan gerbang rumah Loji.

Dan terlihat para pekerja sedang duduk bersantai—membuang letih setelah bekerja—di teras depan. Sepertinya mereka sudah tak sabar lagi untuk menyantap sarapan siangnya.

"Maaf Mang ... Nunggu lama, ya?" saruku yang baru tiba.

"Tidak apa-apa, Mas," saut seorang pekerja. Aku menyodorkan bingkisan—berisi santap siang mereka—yang diterima oleh salah seorang pekerja, lalu membawanya ke dapur.

Dengan beralaskan tikar, kami makan bersama di ruang tamu, hingga jam makan siang pun berlalu.

Walau aku tidak begitu akrab dengan para pekerja, tapi nampaknya Rifaldy, Kevin, Aidan, sudah lebih dahulu mengenal mereka.

Dan yang kudengar—dari percakapan pekerja dan Rifaldy—jika para pekerja masih tinggal di Bogor. Tapi mereka tidak bermalam di rumah ini kerena bangunan rumah yang belum layak huni. Oleh sebab itu, Ferdy menyediakan mobil Pick Up terbuka, untuk mengantar, jemput mereka.

Mungkin dahulu pilihan itu menjadi yang paling tepat, tapi tidak untuk saat ini. Dengan kondisi rumah yang sudah layak huni, kurasa cukup untuk menampung para pekerja.

Merasa memiliki gagasan yang bagus, setelah mendengar keluh-kesah dari para pekerja, yang mengaku terlalu membuang waktu dan energi, jika harus pulang dan pergi setiap hari.

"Rif ... Gimana kalau para pekerja ikut tinggal bersama kita?" Suasana mendadak hening ketika aku berseru. "Pada setuju nggak kalau kayak gitu?"

"Setuju, lah. Mas ... Memang tadinya kami ingin bicara dengan pak Ferdy, tapi nggak pernah ketemu."

"Oke ... Biar saya yang bicara sama bang Ferdy." jawabku, dan menaik turunkan dua alis ke arah Rifaldy.

"Coba ngomong aja, Den."

Tanpa basa-basi aku segera menghubungi bang Ferdy.

"Hallo ... Bang."

"Ada apa, Den?" terdengar riuh lantunan ayat suci Al'qur'an, "Lagi ada pengajian, Bang?"

"Iya, Den, di rumah Babang."

"Deni, ganggu nggak, Bang?"

"Ada apa emang, Den?"

"Gini Bang, ini pekerja bisa nggak kalau ikut menginap di rumah Loji?"

"Tapi, kan mereka sudah ada yang antar jemput, Den."

"Kalau cuma Deni dan Rifaldy yang tinggal di rumah sebesar ini ... Takut ada yang bobol, juga. Bang."

"Oh, begitu ... kalau gitu, kasih telponnya ke pekerja, Den. Sekalian ada yang mau Babang bicarakan."

"Oke Bang, Wait."

Aku memandang para pekerja satu per satu, yang sedang berkumpul bersama.

"Mang, ketua group siapa, ya?"

Dan seorang pekerja mengacungkan lengan kanannya, "Saya Mas."

"Ini Mang ... Pak Ferdy, mau bicara." Aku lalu memberikan ponsel pada pekerja itu, dan entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang pasti semua pekerja sepakat untuk bermalam di rumah ini, bersama kami.

"Ini Mas ...." Pekerja itu mengembalikan ponselku, setelah ia bercakap panjam lebar dengan bang Ferdy.

"Bang?"

"Den, nanti Babang transfer uang, untuk membeli segala sesuatu yang kalian butuhkan di sana, Babang pesen belikan PlayStation 2 berserta kasetnya, ya!"

Tentu aku sangat senang mendengar kalimatnya, dan 100% setuju dengan saran bang Ferdy. Dengan difasilitas Game mungkin teman-temanku yang lain akan lebih sering bermalam di rumah ini.

"Oke siap bang, aku belikan sekarang juga!" seruku, dan pembicaraan pun berakhir.

Aku melirik ke arah Rifaldy, dan berseru, "Cair Rif! ... "

"Serius?!"

"Dua rius!"

Setalah itu aku menceritakan semuanya pada Rifaldy, dan tak lama pun ponsel kami berdering, mendapatkan informasi jika uang sudah masuk ke Rekening-ku.

Tak buang waktu lama, aku dan Rifaldy langsung mencari toko elektronik terdekat untuk membeli Game Console yang memang masih keluaran terbaru pada tahun itu.

Harganya masih berkisar 1.800.000. Untuk satu kasetnya saja masih sangat tinggi, hingga mencapai 50.000 per keping, tak mungkin jika teman lainnya menolak untuk bermalam di rumah ini.

Melihat jumlah uang yang cukup besar, aku dan Rifaldy sepakat untuk mempercantik ruangan yang biasa kami gunakan. Barang yang aku cari saat ini, AC, TV, karpet, lemari, dan kulkas.

Aku tak peduli meski hari ini terasa begitu panas. Hampir berjam-jam kami menghabiskan waktu, mondar-mandir dari toko ke toko lainnya.

Hingga pada akhirnya, pada Jam tujuh malam, aku dan Rifaldy kembali ke rumah Loji, dengan dikawal satu mobil Pick Up yang membawa seluruh belanjaan kami.

"Dan! Vin! Bantuin gue angkat barang!" pekik-ku, dari teras depan.

Tak kubayangkan yang keluar bukan hanya Aidan dan Kevin, tapi dua pekerja pun ikut keluar untuk membantu kami.

Dengan langkah cepat, sesekali Aidan melompat kegirangan dan berseru, "Wih ... Mantap, Bos, TV-nya gede banget! ... Ada PS.2, juga, Cuy ..." Ia melongok-longok di belakang mobil Pick Up.

"Wah, wih, wah, wih ... Bantuin!" pekik Rifaldy.

"Dengan senang hati, tuan Muda!" celoteh Kevin, menegakkan dada, dan meletakan lengan kiri di atasnya, berpose bak pelayan kerajaan.

Kami segera membawa dan memasang perangkat baru kami pada ruangan yang tidak jauh dari pintu utama ini.

"SMS, yang lain suruh ke sini semua ... bilang sama mereka kita tarung bola! buat yang bernyali!" seruku, memancing Aidan agar menghubungi teman yang lainnya.

"Gue aja belum main ... Nanti, lah, kalau udah Paus, baru!" timpal Kevin.

"Tul ..." tambah Aidan.

"Setubuh!" tutur Rifaldy.

Waktu yang berjalan seakan sangat cepat, memaksa sang malam untuk meraja dalam keheningan. Tidak aku pungkiri, aku memang gemar dengan Video Game, namun kali ini, aku tidak memiliki selera untuk itu. Ini masih belum cukup!

"Vin ... Udah lu SMS yang lain?" tanyaku, ia terlihat sangat serius bermain Game.

"Lupa gue, Den!"

"Mending kita-kita aja dulu sampai puas!" pakas Rifaldy.

"Nah, bener tuh," tambah Aidan.

Sudah kuduga! Dasar kalian, rakus!

Aku menghela nafas panjang, dan menyeruput secangkir susu hangat.

Untung saja ada enam pekerja yang tinggal bersama kami, cukup membuatku sedikit lega.

Waktu terus berlalu, aku dan yang lain sedang berkumpul di ruang pertama yang telah kami modifikasi.

Ruangan bersegi empat ini, tak lagi terlihat suram, contohnya saja pada dindingnya. Sebelumnya dinding ini hanya memperlihatkan tembok halus yang tak berwarna. Tapi kini sudah nampak keren, berkat Wallpaper 3d yang menghiasi seluruh bagian dinding.

Dan TV LED berukuran 32 inci, tertempel kekar, pada dinding yang membatasi kamar ini dengan kamar ke-dua. Ditambah AC yang terpasang tepat di atas jendela. Dan kami duduk pada sebuah karpet bludru berwarna merah, bercorak bunga. Terasa hangat jika dibandingkan dengan kasur busa yang kini digunakan oleh para pekerja.

Jika sudah seperti ini, siapa pun pasti akan betah berlama-lama di rumah ini. Belum lagi minuman, dan buah-buahan yang siap siaga—menanti kami menyantapnya—tersusun rapih pada sebuah kulkas, meski kami meletakannya di dapur.

Bahkan sudah bisa terliht dampaknya, Rifaldy dan Kevin sangat serius dalam permainan Game, dan Aidan masih menanti dengan tidak sabaran, menyergap siapa saja yang tereliminasi dari permainan.

Sedangkan para pekerja hanya berkumpul di ruang tamu, yang sebagian dari mereka sedang sibuk membersihkan kamar, yang tidak jauh dari dapur. Sehubungan kamar nomor dua terlalu banyak bahan bangunan, jadi yang tersisa hanya kamar nomor tiga.

Merasa jenuh hanya berdiam diri, sebaiknya aku menghampiri para pekerja, yang tengah berkumpul di ruang tamu, untuk sekedar mengajaknya berbincang.

"Mang, udah ngopi?" kataku, sedikit basa-basi, lalu duduk bersama mereka dengan beralaskan tikar.

"Udah A, ini lagi pada ngopi," ucap sungkan seorang Pekerja. Mungkin memang aku tidak mahir dalam berbasa-basi. Sudah jelas gelas-gelas itu masih dipenuhi cairan hitam, tetap saja aku menanyakannya.

"Panggilan saja saya, Deni. Mang."

"Oh, iya atuh, Mas Deni, Saya Ubun, Mas," sahutnya, lalu menunjuk satu per satu pekerja lain, "Ini Pak Yahya, Kuming, Ipang, Pak Tanto dan Pak Halim."

Mereka semua manggut dan tersenyum kecil ke arahku, terkecuali mang Ipang dan mang Yahya yang sedang mempersiapkan kamar.

"Mas, itu gak apa-apa kamar kita pakai," balas seorang pekerja yang bernama Pak Ubun.

"Iya, pakai saja, Mang," jawabku, penuh senyum kepadanya, "Memang disarankan bang Ferdy untuk pekerja," lanjutku, melirik sekitar rumah.

"Iya A, di sini, mah. Emang rawan A," sambut mang Tanto, "Waktu itu saja, saya pernah tau, kalau ada kejadian satu rumah di bobol maling!"

Aku menaikkan dua alis, tertarik dengan perkataanya, "Masa, iya, Mang? kapan?" cecar-ku.

"Udah lama, Mas ...," sela mang Ubun.

"Yang nyuri perhiasan dan sejumlah uang, kan?" terang mang Halim.

"Emang pada tinggal di mana, Mang?"  tanyaku, membuat mereka saling menoleh, dan tersenyum.

"Kita, kan, satu grup, Mas. Jadi tinggal di Ciomas semua!"

"Oh ... Pantes saja kompak," seruku, tertawa kecil. "Terus yang kebobolan tadi?"

"Dulu, saya dipanggil sama saudara saya, untuk memperbaiki pintu yang rusak, di sekitar sini. Dan itu bekas dibobol orang!"

Kami terus berbincang hangat,  hingga tidak terasa sudah pukul 23.00, hampir tengah malam. terlihat para pekerja satu per satu mulai memasuki kamar. Hanya tinggal, aku, mang Ubun, mang Kuming dan mang Tanto.

"Ah, mau ke balang dulu," ujar Mang Kuming, lalu pergi.

"Mang Ubun dan mang Tanto, belum ngantuk?" tanyaku.

"Wah.. kalau saya si, Mas, biasa tidur malam, Mas!" serunya, penuh semangat, sambil menghembuskan asap rokok.

Namun tidak dengan mang Tanto, meski dari raut wajahnya masih segar, tapi sepertinya ia merasa bosan.

"Saya permisi, Mas," Ia bangkit dari duduknya, "mau bakar sampah yang di belakang rumah," jelasnya, yang dianggukan oleh mang Ubun, dan ia pun pergi menuju dapur.

"Ya, sudah. Saya juga mau ke kamar saja, Mas," ujar mang Ubun, "kalau ada apa-apa panggil saja, Mas."

"Oke, Mang."

Aku pun kembali ke ruangan di mana Rifaldy dan yang lain sedang bermain Game. Udara terasa sangat perbeda saat aku memasuki rungan ini, entah setebal apa kulit mereka.

"Gile! ... kecilin dong itu AC, dingin amat," ucapku, masuk dan mencari remote AC.

Namun tak lama AC pun padam, dan aku duduk di belakang Rifaldy yang sedang asyik bermain game.

Merasa perubahan udara, Rifaldy menoleh cepat ke arahku, dan berseru, "Dih! ... kecilin 'aja sih. Jangan dimatiin." Ia menyodorkan satu lengan ke arahku.

Namun Aku menepisnya, "apaan si, lu!"

"Remote ... Banyak nyamuk kalau dimatiin," tukas Rifaldy.

Aku menoleh ke segala arah, dan akhirnya melihat remote AC yang hampir tertutup oleh selimut di ujung karpet yang jauh di belakangku.

"Yang matiin AC tadi, siapa?" tanyaku.

"Lu ... Baru dateng rusuh!" timpal Aidan.

"Sini ...." Kevin menyambar remote AC yang ada di genggamanku.

Aku hanya terdiam, membisu. Merasa ada sesuatu yang ganjil di sini. Mengapa bisa? Mungkinkah terinjak olehku...

Tiba-tiba terdengar bantingan pintu yang sangat keras dari arah dapur, diiringi langkah kaki yang tergesa-gesa.

Dan tak lama, ricuh percakapan dari kamar para pekerja, aku sangat penasaran dan memutuskan untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

"Aya Awewe!! make baju bodas, jiga jelma Belanda awak na teh! Keur ngajegir di handapeun tangkal rambutan," kata seorang pekerja, dari suaranya seperti mang Tanto.

Jika di artikan:

"Ada seorang wanita, menggunakan baju putih, dari bentuk tubuhnya seperti orang Belanda, sedang berdiri di bawah pohon rambutam."

Aku menjulurkan kepala di pintu kamar, dan terlihat mang Tanto sedang menutupi seluruh tubuhnya dengan kain sarung. Tubuhnya bergetar hebat.

"Ada apa Mang?" sapaku, membuat mang Ubun sedikit tersentak.

"Ah ... Tidak ada apa-apa, A, ini si Tanto lagi becanda," jelas mang Ubun, lalu tertawa kecil.

"Oh, kira ada apa," sahutku, dan kembali ke ruanganku.

"Ada apa Den?" tanya Rifaldy.

"Entahlah."

Aku tidak mengerti mengapa firasat ini berkata, jika mang Tanto tidak sedang bergurau.

Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi padanya...

Malam masih sangat panjang, namun satu kejadian saja sudah cukup membangkitkan rasa gemang dalam diriku.

Gringggg..!!!

Suara dari mesin air yang berdering, membuka ingatanku akan suatu kejadian yang pernah aku alami.

Tak ingin itu terulang kembali, aku berniat untuk mematikannya.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!