Malam semakin larut, hanya menyisakan kegelisahan yang tak berarti. Suara gemerisik dari daun dan dahan yang bergoyang, semilir terdengar, tertiup angin sedang yang membawa udara dingin .
Nampak Rifaldy tengah bersantai, berbaring pada tempat tidurnya bersama Kevin. Mereka hanya sibuk dengan ponsel genggam masing-masing. Sedangkan aku dan Aidan, masih berdiri di ambang pintu dengan pandangan mengedar ke segala ruangan.
"Den," aku menoleh cepat ke arah Aidan, "rumah ini dibeli bang Ferdy?" lanjut Aidan.
"Ya, begitulah ... kenapa memang, Dan?" balasku, menaikan satu alis.
"Ya, nggak apa-apa sih.. " jawab Aidan, dengan mata mengedar. "Udah lapuk banget rumahnya," tutupnya.
"Rencananya, sih. Mau dibangun ulang," sahutku, berjalan ke ruang tamu. "Dan ... mending temani gue, yuk?"
"Ke mana?"
"Liat ruangan lain ... Masih penasaran, gue."
"Boleh."
Mungkin dengan ditemani Aidan, aku bisa jauh lebih percaya diri. Meskipun rumah ini terlihat usang, namun sangatlah luas, belum lagi lahan tak terurus yang mengitari rumah.
Namun, masih ada tandanya besar di kepalaku, tentang Kakek dan Nenek pemilik rumah ini sebelumnya. Bagaimana bisa, mereka tinggal di rumah yang keadaannya sudah mengkhawatirkan ini. Dan bukan sangat mustahil jika ancaman ular dan hewan lainnya bisa mengintai kapan saja.
Suara derap langkah kaki yang beradu dengan lantai, terdengar lirih memecah keheningan malam.
Mataku tak henti mengedar, mengamati setiap sudut ruangan. Memang tidak ada yang istimewa pada bangunan kosong ini. Bahkan langit-langitnya begitu kotor dan berlubang-meskipun ada beberapa yang telah ditutup oleh Karung Goni. Sedangkan untuk lantainya, rumah ini menggunakan keramik kuning berukuran kecil yang terhampar disepanjang ruang.
Langkahku tercekat saat tiba pada suatu ruangan dibalik tembok pemisah--antara ruang tamu dan belakang rumah. Dan tepat disudut kanan, terdapat koridor yang entah menuju ruangan mana.
Di ruangan ini Hanya ada meja jati yang berbentuk bundar sempurna, dan sebuah lemari jati dengan lebar kurang lebih satu meter setengah, berwarna coklat pekat, dengan pintu yang dihiasi cermin bersegi empat pada kedua belah pintu.
"Den, periksa nggak?" tanya Aidan, sambil menarik lengan bajuku-meminta perhatian atas apa yang ia temukan.
Aku melirik pada sebuah kamar yang ditunjukan Aidan, "Buka aja Dan ... siapa tahu ada tempat tidur di dalamnya," jawabku. dan Aidan pun melangkah perlahan menghampiri kamar itu.
Suara dari pintu tua yang terbuka terdengar sengat memilukan-bagaikan seorang yang menjerit menahan siksaan yang pedih-Pantulan cahaya dari ruang tamu mulai menerobos, menerangi celah pintu yang belum terbuka sepenuhnya.
Aidan menjulurkan kepalanya ke dalam kamar tersebut, "Gelap amat."
Tidak lama kami berdiri di bibir pintu, aku dan Aidan di kejutkan oleh dentuman keras yang berasal dari dalam kamar.
Bruuaaaakkkkk!!!
Suara yang tak terduga itu terdengar sangat keras, seakan membuat jantungku mati seketika. Aku dan Aidan terperanjat, hingga membuat wajah Aidan terlihat pucat, syok dengan apa yang kami alami. Bahkan tubuhku terasa membeku dan gemetar.
"Apa yang jatuh! Woy! ... " sergah Kevin, merasakan hal yang sama, ia berlari dengan panik keluar dari kamarnya.
"Suara apaan sih?" tambah Rifaldy, menoleh ke segala arah dengan rakus, mencari sumber suara yang juga didengarnya.
"Dari dalam sana, Vien," sambut Aidan, menunjuk ke dalam kamar.
"Kayak ada benda jatuh!" tambahku, mencoba mengatur nafas yang terasa semakin berat.
Kevin yang penasaran, lantas mendorong pintu kamar, agar terbuka lebih lebar lagi.
"Gelap banget!" gumam Kevin, ia mencoba masuk ke dalam kamar, dan dikuti Rifaldy yang membuntutinya.
"Percuma nggak bakal keliatan ... kalau mau pakai senter." Nada Aidan terdengar gemetar, nafasnya pun terengah-engah.
"Mana, sini ... ada yang punya senter nggak?" seru Kevin, menarik kepalanya dari dalam kamar, dan menjulurkan lengan kanannya.
"Bentar.. " tukasku, mengambil ponsel di dalam tas, lalu kuberikan pada Kevin.
"Yakin dari dalam sini?" ujar Kevin, menerawang seisi kamar dengan cahaya Handphone.
"Gue dari tadi di sini, Vien!" sahut Aidan, "gue yakin suaranya dari dalam sana!"
"Nggak ada apa-apa ...," tukas Kevin.
"Jangan-jangan tikus? ...," kataku, melongok ke dalam ruangan.
"Nggak mungkin tikus, Den," timpal Kevin, mengembalikan Handphone-ku.
"Den ... sini deh, ada yang mau gue omongin," pangkas Aidan, menepuk pundak-ku, dan berlalu.
Dari cara bicara Aidan, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Aku pun mengikutinya berjalan ke ruang tamu.
"Kenapa, Dam?"
Aidan menoleh ke sekitar ruangan, hingga akhirnya ia berkata, "Seinget gue, di daerah sini pernah terjadi kasus bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga." Aku tertegun, setelah mendengar ucapannya, aku tidak tahu harus percaya atau tidak.
"Jangan ngarang!" pungkas Rifaldy, yang juga mendengar pembicaraan kami.
"Tapi gue nggak tahu tepatnya di mana ... yang pasti kejadian itu ada di daerah sini!" lanjut Aidan.
"Ah, yang bener, lu," singkatku, sedikit ragu dengan apa yang dikatakan Aidan.
"Kayaknya gue pernah dengar juga, deh," tambah Kevin, berjalan menghampiri aku dan Aidan, sepertinya ia sedang mencoba mengingat sesuatu, "Ada yang bilang bunuh diri, ada juga yang bilang dibantai, ada juga yang bilang tewas terbakar," tambah Kevin.
Aku terdiam sesaat, setelah mendengar perkataan mereka, rasa gelisah kian menjadi dalam diriku. Karena bisa saja perkataan Aidan itu benar. Mengingat Aidan sudah sejak lahir tinggal di Bogor yang tidak terlalu jauh dengan lokasi ini.
Aku menghela nafas panjang, memandang sesaat ke arah Kevin dan Aidan, "Kalau pun perkataan kalian benar, terus apa hubungannya dengan rumah ini?" kilahku, sambil berjalan perlahan menuju kamar nomor dua. Namun langkah ini tercekat, saat lirih suara motor terdengar dari depan rumah.
"Nah, tuh si Jainal," seru Kevin, berjalan penuh semangat hendak menyambut Jainal.
"Kalau mau masak air coba cek di belakang, mungkin ada kompor yang masih bisa digunakan," ucapku, melanjutkan langkah.
"Siap, Den," sahut Aidan, dan kami pun berpencar, penelusuran-ku cukup sampai di sini.
Hampir saja kami terbawa oleh suasana menegangkan, andai saja terjadi sesuatu di rumah ini, tentu kami tidak bisa berbuat apa-apa, selain tidak adanya pemukiman warga di sekitar sini, kendaraan pun hanya ada satu yang bisa kami gunakan.
"Lebih baik aku mandi dan beristirahat ...."
Aku melangkah masuk ke delam kamar sebelumnya, hendak menaruh Tas dan Sweater. Di saat bersamaan, kulihat Rifaldy yang baru tiba merobohkan diri ke atas kasur.
"Mandi ... Biar tidur nyenyak," ucapku, melempar tas selempang ke tempat tidur, dan menggantungkan Sweater pada gantungan baju.
"Males, ah," singkatnya.
"Di sini ... mau belanja aja jauh," ucap Jainal, aku menoleh padanya yang baru kembali.
"Di pinggir jalan raya, baru ada warung. Ditambah, jalannya rusak parah," lanjutnya, sambil mengintip plastik berwarna putih yang ia bawa.
"Jangankan warung, rumah aja nggak ada di sini," sahutku, menjulurkan lengan-meminta, "Mana, perlengkapan mandi, gue?"
"Santai ... Lengkap, kok."
"Sisanya taruh di kasur aja, Nal. Gue Mau mandi dulu," tambahku, bergegas menuju toilet, meski aku belum tahu bagaimana kondisinya.
"Den, ini pasang nggak lampunya?" Sergah Aidan.
"Oh, Iya pasang, Dan," sahutku, kembali berjalan dengan siulan halus.
Senyumku memudar-seiring semakin jauh aku terpisah dari yang lain. Perasaan ragu untuk melangkah terasa menekan batinku. Langkahku terhenti, saat tiba di salah satu ruangan paling belakang. Tempat ini terlihat lebih kotor, jika dibandingkan dengan ruangan lain, dan lagi-sebagian lantai di sini masih berupa tanah.
Aku mendongak, menatap ke langit-langit yang tak memliki plafon, memperlihatkan deretan bambu-bambu yang tersusun rapih menjadi penyanggah genting. Tentu saja dengan kondisi yang telah usang.
Namun di ruangan ini terasa lebih hangat, oleh tengku api yang terbuat dari tumpukan bata merah. Sepertinya belum lama digunakan, terlihat dari asap halus yang keluar dari celah-celah bata.
"Apa yang berbeda dari ruangan ini, mengapa aku semakin gelisah seperti ini!"
*****************
Bersambung ...
*****************
-Vote, Like, Save To Favorit jika kalian suka dengan cerita ini.
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Terima kasih telah membaca, semoga terhibur. dan jangan lupa untuk Vote dan Komentar jika kalian suk cerita ini jika kalian suka.
-Update aku usahakan secepatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
zahwa
ini nyata kan ceritany
2020-05-05
1
Sastro
kampret serem ceritnya
2020-04-12
1
Afhrrr25
ihh ngak kebayang klw aku yg tinggal dstu pasti udah mati ketakutan gue tapi gue msih ragu nihh cerita benaran nyata ngak sihh tapi ehh lumayan seru dan smkin next story juga menengangkan smoga aja nih crita nyata bnran dahh???
2020-04-01
1