True Story - Aku Kembali Part 5

Suara aktifitas dari para pekerja sudah mulai terdengar mengisi pagi hari yang cerah ini. Sungguh suasana yang jauh berbeda jika dibandingkan saat malam tiba. Andai saja setiap malam bisa seperti ini, tentu akan sangat tenang bagi siapapun yang menempati rumah megah ini.

Air yang segar membasuh kulit layu dari rasa kantuk yang masih melekat kuat. Usai mandi aku segera menuju dapur hendak membuat secangkir kopi, dan bertemu oleh salah satu pekerja yang bernama Ento. Nampaknya ia sedang sibuk membersihkan sendok Sement yang sedikit dipenuhi kerek kering.

Aku menghampirinya dan berdiri di ambang pintu, "Gimana, Mang. Nyaman tidur di Gg. Rantai?"

Sontak ia menoleh dan mengangkat dagunya. "Eh. Mas ... Nyaman, Mas, bisa tidur pulas saya," jawabnya, seraya tersenyum. "Nggak kayak di sini, banyak hal anehnya, Mas." Ia kembali melanjutkan aktifitasnya.

"Maksudnya?" tanyaku, melangkah menghampiri meja dapur.

"Ya ... Gangguan aneh gitu, deh, Mas," sahut ragu mang Ento.

"Oh, itu ... Ya, ada si, Mang." Aku sambil mencoba mengingat sesuatu, "pernah nggak, Mang Ento mengalami tidak bisa bergerak saat tidur?"

Mendengar perkataan-ku, mang Ento menghentikan aktifitasnya, dan berseru, "Wah! Ngalamin juga, Mas?" Kedengarnya mang Ento sedikit terkejut dan lalu berdiri dari jongkoknya. "Saya sering begitu Mas, hampir tiap malam!"

"Tadi malam badan saya terasa kaku, tidak bisa digerakkan sama sekali," sanggahku.

"Itu dia Mas! Kenapa saya males kalau harus tidur di rumah ini ... Serem Mas."

"Ah, sudahlah, Mang, jangan terlalu terbawa suasana." Melihat gelagat mang Ento yang begitu mudah percaya, aku jadi tak ingin melanjutkan pembahasan ini, kerena khawatir itu akan membuatnya semakin takut. "Saya juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi."

"Kalau di tempat saya itu namanya Rep-repan, Mas, konon katanya, badan kita ditindih oleh makhluk halus," ungkap Mang Ento.

Aku mengernyitkan alis, dan membeo, "Rep-repan?"

"Iya, Mas!"

Aku mengusap dagu, mencoba mengingat sesuatu, seakan pernah mendengar istilah itu tapi entah di mana, "Ah, sudahlah, Mang, tak perlu dibahas." Aku menuang air panas ke dalam gelas putih yang terisi gula dan kopi. "Oya, mang Tohir sudah mencatat bahan yang kurang?" lanjutku, sambil mengaduk kopi yang aku buat.

Mang Ento terlihat berpikir dengan jari-jarinya yang nampak sedang menghitung sesuatu, dan berkata terpenggal-pengal, "Sement, batako, pasir, Sama cat dinding, Mas."

"Itu saja?" balasku, diiringi mang Ento mengangguk samar, "oke, saya akan sampaikan pada pak Ferdy," lanjutku, lantas berjalan ke ruang tamu.

"Siap, Mas."

Setibanya di kamar, Aku segera mengangkat ponsel genggam untuk menghubungi Ferdy.

"Bang, maaf ganggu. Ini di Loji bahan bangunan menipis, gimana?" Namun aku menangkap sesuatu yang berbeda dari lawan bicaraku, "lagi ada pengajian, Bang?" lanjutku, mendengar lantunan Ayat Suci Al-Quran yang bergema. Mungkin Ferdy sedang menghadiri suatu pengajian.

"Den, maaf, Babang lagi sibuk banget nggak bisa urusin itu hari ini, coba Deni bilang ke Wa Wati dulu, nanti biar Babang yang jelasin semuanya," lugas Ferdy, seakan ingin cepat mengakhiri panggilan.

"Oh, ya udah Bang, Deni ke Wa Wati sekarang," balasku, dan panggilan berakhir.

Jika aku perhatikan akhir-akhir ini. Setiap kali aku menghubunginya, pasti ia sedang berada di lokasi pengajian. Tapi memang sudah seharusnya seperti itu, mengingat ia memiliki beberapa rumah yang baru selesai dibangun. Puji syukur haruslah ia lakukan atas semua rezeki yang ia miliki.

"Mang, kalau Rifaldy tanya, bilang aku sedang menyiapkan makan siang di Gg. Rantai," kataku, pada mang Tohir yang sedang mengaduk Sement di halaman depan rumah.

"Oh iya Mas, siap," singkatnya, mengangkat lengan kanan, menunjukan hormat sambil melempar senyum.

Tak membuang waktu lama, aku segera mengenakan Helm dan menyalakan kendaraan,  bergegas meluncur ke rumah Rifaldy untuk mengkonfirmasikan Stok bahan bangunan yang semakin menipis.

Berapa menit kemudian, aku telah tiba di rumah Rifaldy. Dan terlihat Wa Wati membuka pintu depan rumah.

Ia melongok keluar, "Rifaldy tidak ikut pulang, Den?" tanya Wa Wati, berdiri di ambang pintu.

"Ngga Wa, Masih tidur di Loji," sahutku, sambil membuka Helm.

Beliau mendengus, dan sedikit menggumam, "Itu anak kebiasaan bangun siang melulu ... Masuk, Den, bikin kopi, gih."

"Iya Wa, biar Deni di depan aja," kataku, duduk di kursi depan. "Oya, Wa Andy ada, Wa?"

"Ada, Den ... Bentar Uwa panggil," balas Wa Wati dan berlalu. "Kopinya jadi tidak, Den?"

"Deni udah ngopi, Wa, di Loji."

Tak lama Wa Andy menemuiku, dan kami pun berbincang sesaat sebelum akhirnya menghubungi Ferdy dari ponsel genggamku.

Walau sempat ada berdebatan diantara Ferdy dan Wa Hasan, namun akhirnya Wa Andy sepakat untuk meminjamkan sejumlah dana, demi kepentingan pembangungan rumah Loji, dan akhirnya aku pun bergerak meninggalkan rumah yang berada di Gg. Rantai, bersama Ayah Rifaldy untuk menuju Toko Material.

Sekitar jam 11:00 siang, kami tiba di toko material yang cukup besar. Toko ini di kelilingi oleh pagar tembok yang setengah pagar besi. Terdapat gudang penyimpanan yang besar di sudut kanan toko. Pipa Paralon, dan Pipa Galvanis tersusun rapih dari barbagai macam ukuran. Dan tepat di atasnya, tersusun pula tumpukan Asbes yang terlihat seperti kartu yang disejajarkan.

Pada sisi kiri terdapat dua truk besar yang terparkir rapih nampak bersiaga untuk mengantarkan pesanan para konsumen di Material ini.

Di sini biasanya Ferdy memesan berbagai macam bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan rumah Loji, dan Ferdy merekomendasikan kami untuk ke Toko ini.

Motor telah menepi tepat di depan ruang Office, seluruh bagian depannya tertutup oleh kaca. Lebih terlihat seperti kantor ketimbang Toko Material.

Aku tak banyak bicara di sini, hanya membuntuti Wa Andy yang telah berjalan masuk ke dalam ruang Office.

Namun aku dan WA Andy sempat kebingungan setelah mengetahui harga yang dibandrol oleh toko ini terbilang cukup mahal. Tentu saja raut wajah Wa Andy berubah kecut.

"Si, Ferdy teh gimana! Toko serba mahal begini dilirik," gusar Wa Hasan, yang baru mendapatkan kwitansi atas semua barang yang kami pesan.

"Iya, Wa. Buat apa jauh-jauh datang ke sini, kalau mau mahal, di depan Gunung Batu juga banyak," timpal-ku.

"Ini alamat pak Ferdy yang di Loji, ya, Pak?" tanya pekerja yang sedang melayani kami.

"Iya, betul" singkat Wa Hasan, dan pekerja itu lantas meninggalkan kami memberikan kwitansi yang berisi alamat kepada seorang pria yang di panggil Koko yang sedang duduk di balik meja kasir.

Pria itu bertubuh ideal, tingginya mungkin 170. Ia berkulit putih agak kemerahan, dengan mata sipit dan rambut bergaya tentara. Sangat terlihat jika ia berasal dari Cina. Mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Ferdy. Entah apa yang mereka sedang bicarakan, namun sepertinya hal yang cukup serius.

Tak lama Pria Cina itu menemui kami, "Bapak orang, siapanya Ferdy?" tanya si Koko.

"Saya, Ayah, Ferdy," singkat Wa Andy membalas perkataanya.

"Kita orang dibuat pusing, Pak! oleh anak Bapak," cetusnya, berlogat khas, ia lalu duduk di belakang Etalase kaca yang memisahkan kedua jarak.

"Dia orang belum bayar, bahan bangunan yang terakhir kita kirim ke rumah Loji," lanjutnya, membuat Wa Andy tertegun mendengar itu semua, raut wajahnya terlihat bingung dan gugup.

"Untuk perihal ini, saya selaku Ayah Ferdy, tidak mengetahui akan hal itu," jelas Wa Hasan, terdengar bergetar dari nadanya, "Intinya sekarang, saya ingin membeli bahan bangunan, dan ini di bayar Cash," lanjut Wa Hasan.

Mendengar itu sang pemilik toko terdiam sesaat, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Baiklah, Tapi tolong Bapak bantu kami, sampaikan salam saya kepada pak Ferdy, karena anak Bapak tidak pernah menjawab panggilan telpon saya," tutupnya, memberikan kwitansi kepada salah satu pekerja, untuk segera diproses.

Setelah semuanya jelas, dengan menggunakan sepeda motor, kami pun segera meninggalkan Toko ini untuk kembali ke Gg Rantai.

Cuaca siang hari terasa begitu panas, bagaikan matahri tepat di atas kepalaku. Angin yang bercampur debu, nampak berterbangan pada badan jalan. Beruntung aku menggunakan Helm, jadi tidak terlalu terkena imbasnya.

Saat di perjalanan pulang aku dan Wa Andy tidak banyak bicara, sepertinya beliau sangat fokus dalam berkendara. Wajar saja ia sangat berhati-hati dalam berkemudi, selain usianya yang rentan ditambah jalur yang kami tempuh nampak begitu padat.

Aku membuka kaca Helm dan sedikit menjulurkan leher ke bahu Wa Hasan."Wa ... Nanti Deni turun di Pasar Gunung Batu, ya?"

"Tidak ke Gg. Rantai, dahulu?"

"Biar nggak bolak-balik, Wa," tambahku.

Dan tak lama Wa Andy menepikan kendaraan tepat di depan pasar Gunung Batu. "Nanti minta jemput atuh kalau sudah beres, mah," ujarnya, memberikan secarik kertas—daftar belanjaan yang harus aku beli.

"Nggak perlu, Wa. Biar Deni pulang naik ojek aja," sahutku.

"Oh, begitu, Uwa duluan, ya, Den," tutupnya, aku mengangguk samar dan ia pun berlalu.

Suasana pasar yang sudah tidak begitu ramai lagi, membuatku cemas

akan toko yang akan aku tuju. Aku mempercepat langkahku, memasuki pasar melewati ruko-ruko yang berbaris menghimpit jalan yang sempit—oleh barang dagangan.

Tujuanku hanya satu yaitu untuk menemui mang Bedi, ia memiliki toko sembako yang cukup lengkap di pasar ini, selain itu ia pun masih terbilang saudara dari Nenek-ku.

Sudah dua kali aku memesan semua keperluan bahan pokok darinya, dan yang membuatnya berbeda dari toko lain. Selain harganya yang jauh lebih hemat, aku juga tidak harus pusing memikirkan cara membawa semua barang belanjaan, karena ia mengantarnya langsung ke rumah Rifaldy yang berada di Gg. Rantai.

Dari kejauhan aku melongok-longok ke arah tokonya yang nampak ramai seperti biasa. "Assalamualaikum, Mang," Ia terhentak, lalu mencari sumber suaraku di antara barisan orang lain yang memenuhi tokonya.

"Wa'allaikumsalam. .... Eh.. si, Ganteng," serunya, sedikit berteriak dari dalam toko. "Sini atuh! Masuk ...."

"Iya, Mang, biasa mau naro pesanan lagi," tambah-ku, sambil mencari secarik kertas dalam saku celanaku.

"Oh, sok atuh, mana sini catatannya," sahut mang Bedi, menyambut kertas yang kuberikan padanya. "Lengkap! Ada semua ini ... Nanti Mamang antar, Den."

"Oke, siap! Terima kasih, Mang," balasku. "Di jalan kepikiran. Masih buka nggak toko Mamang, dan Alhamdulillah, ternyata masih ...."

"Eh, makanya gaul dikit atuh, Den! nih, simpan nomor Mamang, yeuh!" tukas Mang Bedi, memberika kartu namanya, "Tinggal 'Halo' di kirim ku-Mamang belanjaannya."

"Nah! Coba dari kemarin-kemarin, Mang ... Kalau ada nomor, kan, jadi enak," sahutku, tertawa kecil, sambil mengantongi kartu yang di berikannya. "Ya, udah, Deni permisi dulu, ya, Mang," balasku. Namun mang Bedi malah mengernyitkan alis.

"Mau ke mana, sih? Nggak ada! Ngopi dulu, sini!" ujarnya, ia hendak menarik lenganku. Tapi aku berhasil menghindar.

"Iya, Mang! Makasih ... Lain waktu aja, ya, Mang," sahutku, perlahan melangkah menjauh.

"Payah!. Ya udah atuh ... nanti abis ini Mamang antar pesanan Deni ke rumah Wa Wati," balasnya.

"Oke Mang, Deni permisi dulu Mang, Wassalamu'alaikum."

"Wa'allaikumsalam. Hati-hati, Den."

"Siap," sahutku, melanjutkan langkah.

Saat itu aku lantas pergi dari toko mang Bedi, dengan menggunakan ojek kembali ke rumah Rifaldy untuk mengambil makan siang pekerja.

"Mang, ke Gg Rantai ya." kataku pada seorang tukang ojek di depan pasar.

"Oh, siap," sahut tukang ojek.

30 menit kemudian aku tiba di rumah Rifaldy, di sana aku disambut oleh Wa Wati yang tengah menyapu halaman depan rumahnya.

"Yeh! kok naik Ojek, Den?" kata Wa Wati, melihatku yang baru turun dari motor. "Bukan minta jemput."

"Iya, Wa biar cepat, jadi nggak bolak-balik." sahutku.

"Ya, udah masuk, gih ... Apa mau Uwa siapkan makan di dalam?"

"Nanti aja Wa bareng sama yang lain, Rifaldy juga masih di Loji," balasku.

"Kenapa atuh bukan ikut pulang si Rifaldy teh, jadi Deni yang ngurusin semuanya."

"Ngga apa-apa Wa, capek kayaknya  dia."

"Masuk atuh, Uwa bikinin kopi di dalam," kata Wa Wati, lantas masuk ke dalam rumah.

***

Singkat cerita.

Tak lama berada di rumah Rifaldy, aku mendapat panggilan telpon dari Ferdy yang meminta tolong untuk mengambil uang dari salah satu temannya yang berada di Ciomas, tak jelas uang apa itu, namun jumlahnya tidaklah sedikit.

Pertemuan aku dan teman Ferdy pun terbilang sangat singkat, ia hanya menanyakan siapa namaku, setelah itu memberikan amplop coklat yang sangat tebal dan memperbolehkanku pergi. Usai aku melakukan setor tunai di suatu Bank ternama, aku segara meluncur ke rumah Loji.

Hingga Tepat jam tiga sore aku tiba di rumah loji. Baru aku memasuki lahan parkir rumah, ponselku sudah kembali berdering. Edi pasti, nih!

"Halo ... Udah sampai mana?" tanyaku, menjawab panggilan Edi, sambil turun dari motor.

"Masih di Stasiun Cilebut A, Naik angkot turun di mana A." jawab Edi.

"Naik angkot 07, bilang aja turun di Loji, depan Yoniv 315," balasku. Masuk ke dalam rumah.

"Oh, Oke A, nanti Edi SMS kalau udah di angkot A."

"Oke. Hati-hati, Di," singkatku, mengakhiri panggilan.

Setibanya di dalam rumah, kulihat pintu kamar yang setengah terbuka dan nampak Rifaldy masih disibukan oleh Video Game yang ia mainkan.

"Ah, payah amat," cetusku.

Rifaldy menoleh cepat ke arahku, "Wes, gimana, Den, beres?" serunya, mengakhiri permainan game-nya.

"Beres, lah," singkatku, duduk di sisi tempat tidur, "Kasihan Wa Hasan, Rif, jadi dia yang material."

"Lu juga sih, asal jalan aja, bukan bangunin gue dulu," tukas Rifaldy.

Aku mendengus dan menatap wajahnya, "lu aja tidur kayak kebo!" gurauku. Dan ia tertawa sedang. "Oya ... Lu tau sesuatu terjadi tadi malam?"

Raut wajahnya kebingungan, sepertinya ia tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya saat tadi malam. "Nggak, deh, lupakan."

"Emang apaan, sih?"

"Nggak ... Nggak ada apa-apa!"

"Iya, iya ... Sorry, deh, nggak bantuin, lu, nanti kalau Babang transfer uang gw bagi dua sama, lu, deh," celoteh Rifaldy, sambil nyengir kuda.

"Hah? yang ada Babang, noh! yang gw kirimin duit," lugas-ku, sambil memberikan buku tabungan padanya. "Tapi, kalau ngomongin masalah uang, kayaknya, Babang lagi ada masalah, deh, Rif."

Iya membuka tiap lembar dari buku tabungan-ku, lalu berseru, "Waduh! ... 18jt?" Rifaldy terkejut saat melihat struk dan buku tabungan yang ia pegang. "Banyak duit gini, lu bilang banyak masalah?"

"Entahlah, tadi juga tagihan bahan bangunan ditalangin Wa Andy dulu." sahutku, menyambar buku tabungan, "Itu juga uang nggak jelas hasil apa! Gue ambil dari teman bang Ferdy. Di Ciomas."

Rifaldy menoleh cepat dengan sorot mata curiga, "Wah! Mulai gak beres, nih, orang! Ujung-ujungnya nanti main ungkit masalah lain. Gue yakin ini duit hasil utang. Males kalau dia udah kayak gini, Den!" cetus Rifaldy, nampaknya ia khawatir terhadap sikap Ferdy saati ini.

Aku berdecak malas, dan merobohkan diri di atas tempat tidur, "Yaa, mau gimana lagi, Rif ... Kita ikuti aja gimana kedepannya. Mudah-mudahan lancar," balasku, kemudian bangkit dari tempat tidur.

"Mandi?" tanya Rifaldy.

"Iya, lah! Debu semua kulit, gue," lanjutku, berjalan keluar kamar.

Aku pikir lebih baik membersihkan tubuh, Selagi menunggu kedatangan adik-ku, dari pada harus berdebat dengan Rifaldy, ia pasti bicara panjang lebar jika menyangkut keburukan Ferdy.

Namun baru saja aku membasuh tubuh dengan beberapa kali kayuhan gayung, lirih suara ponsel terdengar berdering.

"Den, ade lo telpon, nih!" teriak Rifaldy, terdengar menghampiri.

"Iya, iya ... Bilang nanti gue telp balik, bentar lagi beres, nih!" jawabku, tergesa-gesa menyelesaikan mandi.

Tak lama aku membuka pintu toilet dan bergegas menuju kamar, "Edi, telpon tadi, tuh," kata Rifaldy memberikan ponsel-ku.

"Hallo! Di. Udah sampai mana?" tanyaku, dengan me-loudspeaker percakapan.

"Ini udah di depan Gg Loji, terus kemana lagi, A?"

"Masih ada tukang ojek nggak di situ."

"Masih, A ... Dari tadi juga pada nawarin, tapi bingung bilangnya apa ke tukang Ojek," tanya Edi, membuatku mencoba mengingat alamat lengkap rumah ini.

"Ah! lupa Di ... Udah tunggu di situ, biar, Aa, jemput aja," aku mengakhiri panggilan, karena tak ingin membuang banyak waktu. Tahu sendiri betapa suramnya jalan Loji jika hari sudah mulai gelap.

Bruumm... Brum..

Aku segera meluncur ke depan Gg. Loji, untuk menjemput adikku. Terasa begitu banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya, mengingat kami jarang bertemu semenjak aku sering mondar-mandir ke Bogor.

Namun aku terdiam, sesaat mesin kendaraan yang menyala, aku mengedarkan pandang keseluruh penjuru rumah dengan tatapan tajam seakan penuh kekhawatiran.

Kalian boleh menggangguku, tapi tidak untuk adik-ku!

Bruummm ...

Aku menarik pedal Gas, dan melesat meninggalkan rumah Loji.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!