True Story - Aku kembali Part 2

Gemericik hujan terdengar jelas membasahi pepohonan sekitar dengan merata, bahkan Jas-Hujan yang aku kenakan kini tak lagi mampu menahan derasnya air yang mulai meresap membasahi Sweater dan celana jeans-ku.

Samar gemuruh petir sesekali terdengar menggelegar mengiringi hujan yang semakin menderas, beruntung aku dan Rifaldy telah tiba di gerbang rumah Loji.

Hampir tak ada perubahan signifikan pada rumah Loji, semua masih terlihat sama, seperti terakhir kali aku meninggalkan rumah ini, hingga menimbulkan tanda tanya besar dalam benakku. Apa saja yang mereka lakukan selama ini.

Di halaman depan nampak gundukan pasir yang tertutup terpal biru tertindih oleh saringan pasir yang terbuat dari kawat kasa dan balok. Dan pada sisi kanan, tepatnya sebuah ruang parkir, masih berjajar cangkul dan ember yang biasa digunakan para pekerja. Suasana rumah nampak sepi dan hening, walau lampu-lampu terlihat dalam keadaan menyala.

"Ini ada orangnya ngga, Rif? Jangan-jangan pada kabur lagi!" gusarku, dengan nada sedikit keras, mengimbangi suara hujan yang deras.

Aku pun turun dari kendaraan, lalu menghampiri pintu gerbang dan melongok ke dalam rumah.

"Ada pasti," jawab Rifaldy, menyandarkan motornya lalu mendekat pada pagar besi yang tergembok.

Drakk!! Drak!!

"Mangggg ... " Rifaldy berteriak sambil memukul pagar besi dengan kunci motornya.

Tidak lama kami menunggu, seorang pria berbadan gempal dengan rambut cepak hitam, keluar dari dalam rumah. Perawakannya tidak begitu jangkung, Pria itu nampak mengenakan kaos oblong putih polos dan sarung sebagai bawanya. Sambil menahan air hujan dengan lengan kiri yang menempel di kepala, ia berlari menggunakan sendal jepit untuk membuka gerbang yang tergembok dari dalam.

"Saya maaf Mas ... Lagi di dalam kamar, nggak kedengaran ada orang!" katanya, berusaha secepat mungkin membuka pagar.

"Pada kemana Mang, Ning sepi?" tanya Rifaldy, membantu menggeser pagar.

"Ada Mas ... Lagi pada nonton bola—" Ia bersiap menutup kembali gerbang depan, "Masuk-masuk, Mas!"

Dengan langkah cepat, aku menuju terasa depan dan segera membuka jas-hujan yang telah basah kuyup.

"Abis semua!" gumamku.

"Kacau!" timpal Rifaldy, baru tiba di terasa depan.

"Lagian kenapa hujan-hujanan, Mas? ... Saya buatkan kopi, deh."

"Nah, boleh, tuh!" sanggah Rifaldy.

Mataku membesar ketika menoleh pada ruangan yang biasa kami gunakan kini terlihat sangat kotor tak terawat.

"Amburadul amat ini kamar!" pekik-ku, sambil menggosok-gosok rambut yang hampir basah sepenuhnya.

"Iya, semenjak lu sakit, Den. Anak-anak gak pernah ke sini lagi," tutur Rifaldy, aku menaik-turunkan dagu samar.

"Mang, tolong masukin motor dong," lanjut Rifaldy, memberikan kunci motor pada Pria tersebut.

"Terus kita bersihin lagi?" nadaku sedikit sinis, kecewa melihat ruangan kami begitu kotor, bahkan karpet busa yang biasa kami gunakan kini terlihat sangat kusam—dipenuhi noda yang menghitam. Lantai disekitar ruangan sangat berdebu tercampur oleh Sement dan pasir kasar.

"Ngga usah, itu, kan, kamar nomor dua udah jadi!" jelas Rifaldy, sambil mencari pakaian pada tas yang kami bawa.

Aku beranjak dari duduk untuk menghampiri pintu kamar nomor dua dan, betapa aku terpesona ketika membuka pintunya. Seisi ruangan nampak begitu eksotis dan mewah.

"Wow, keren!" seru-ku, mengedarkan pandang ke segala arah.

Ruangan yang tadinya digunakan untuk gudang penyimpanan bahan bangunan, kini telah menjadi sebuah kamar yang mewah.

Seluruh bagian dinding dilapisi Wallpaper 3d yang menghiasi permukaannya. Langi-langit kamar sudah menggunakan plafon gypsum dengan motif awan biru kehitaman, terlihat sangat indah. Dilengkapi desain lampu yang menyerupai bulan dan bintang, terlihat gemerlap menerangi setiap celah pada plafon.

Bukan hanya ruangan saja yang telah dimodifikasi, tapi seluruh perlengkapan di dalam kamar ini terlihat terawat dan baru. Seperti tempat tidur berukuran besar, lengkap dengan bantal guling yang tersusun rapih di atas Bad Cover putih bercorak bunga kebiruan. Belum lagi perangkat yang dahulu kami gunakan telah dipindah sepenuhnya ke kamar ini.

"Gue masukin ke situ semua, AC, TV, PS, dan Kulkas. Dari pada ikutan rusak!" ungkap Rifaldy, penuh wibawa.

"Sip, lah! Mantap! Tadinya gue mau marah karena bingung mau molor di mana," balasku, aku menutup kembali pintu kamar,

"terus gimana ini masalah pekerja, Rif?" Aku menutup kembali pintu kamar dan berjalan ke tempat duduk yang berada di ruang tamu.

"Ya, gimana, ya! Lu aja deh yang coba bilang sama mereka."

Bruuukkk!!

Pria paruh baya itu kembali ke ruangan kami dengan menjulurkan tangannya, "Ini Mas, kunci motornya."

"Oh, iya makasih, Mang—" Rifaldy melirikku, "Oya ... Kenalin ini, Deni. Ia adik pak Ferdy juga," tambah Rifaldy, diikuti anggukan samar Pria itu.

"Oh ... Adik Pak Bos—" Ia menyodorkan lengannya ke arahku, "Saya Tohir, Mas."

"Oya ... Mang. Dengar-dengar mau pada izin pulang?" lugasku, duduk menyandar di bangku ruang tamu, namun aku melirik padanya yang nampak mulai risau dengan baju basahnya. "Duh ... Mending ganti dulu, Mang!" Aku merasa tidak tega melihat baju dan celananya yang basah kuyup.

"I-iya ... Sebentar saya handukan dulu, ya, Mas ... " Mang Tohir berlalu, dan masuk ke kamar nomor tiga.

"Mau gimana ngomongnya, Den?"

"Ya, Kalau alasannya masuk akal. Kita nggak bisa nahan mereka, Rif. Paling yang bisa kita lakukan hanya mengantisipasi kejadian kayak gini terulang lagi, dengan cara memberi kontrak perjanjian untuk semua pekerja yang akan masuk berikutnya."

Terdengar samar percakapan beberapa pria dari dalam kamar nomor tiga, mungkin mang Tohir sedang mengajak dua temannya untuk menemui-ku. Dan benar saja, dua Pria nampak melongok dari ambang pintu.

"Sini atuh malah ngintip ... Mang kumpul sini!" panggil Rifaldy, dan dua Pria itu menghampiri kami. Diikuti mang Tohir.

Tak ingin banyak bicara, aku lantas melempar pertanyaan, "Mang ... Benar mau pada pulang?" Mereka berdiri dengan bersandar pada tembok.

"Betul, Mas—" mang Tohir menekuk wajahnya, "kita pengen pulang saja." Sepertinya ia Leader di tim ini, karena hanya ia yang angkat bicara. Ketimbang dua rekannya yang hanya berdiri dengan wajah tertunduk.

Aku terdiam sesaat, memikirkan solusi tepat untuk masalah ini.

"Gini Mang ... Pertama, pasti pak Ferdy ingin rumah ini untuk segera selesai, Beliau sudah banyak mengucurkan dana demi proyek ini," aku melirik wajah mereka satu persatu yang nampak datar. "Jadi, kalau mang Tohir ingin mengundurkan diri. Paling tidak harus ada! Yang sudah siap untuk menggantikan posisi Mamang," lanjutku.

"Iya Mas, saya paham itu. Tapi kita sudah nggak sanggup lagi, lama-lama di sini," saut Mang Tohir, dengan lantang.

"Oke ... Lantas apa masalahnya, Mang? Mungkin kita bisa mencari solusi bersama," jawabku, membakar sebatang rokok.

Mereka hanya saling bertukar pandang satu dengan yang lainnya, nampak ingin bicara namun ragu.

Disela waktu perbincangan, fokus ini serentak berpaling pada sesosok pria berbadan kekar, yang berlari menuruni anak tangga dari lantai dua dan hilang di balik tembok kamar nomor tiga—menuju dapur. Perawakannya hampir sama dengan para pekerja, namun kulitnya begitu hitam pekat.

Aku mengerutkan alis, dan menoleh ke arah Rifaldy, "Pekerja di sini Bertiga, apa berempat, Rif?" tanyaku datar.

Tapi justru malah mang Tohir yang terlihat gelisah dan berseru, "Kita cuma sisa Bertiga, Mas!" Aku mengangguk samar penuh keraguan.

"Mang Tohir nggak perlu kasih alasan apapun. Aku sudah mengerti!" balasku, dengan nada datar. "Tapi masih pada niat kerja, kan?"

Mendengar itu, kembali mang Tohir bertukar pandang dengan rekannya, "Kita sudah berkeluarga, Mas. Sudah sewajarnya saya bekerja. Tap—"

Aku menjulurkan lengan, dan membuka jemariku, "Stop, Mang! Aku udah dapet solusinya," pangkas-ku, tentu membuat mereka terdegub dan menyeringai tersenyum.

Kini aku mulai mengerti mengapa mereka tidak betah berkerja di rumah ini. Kukira semua itu sudah hilang, namun dugaan ini salah.

*****************

Bersambung ...

*****************

Untuk pembaca tercintaku ...

#Note:

Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.

Namun aku sedang melakukan

revisi. Jadi, mohon maaf

jika Update sedikit lebih lama. 🙏

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:

Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,

cerita akan terus aku update.

-Terima kasih telah membaca,

semoga bisa menghibur dan

mengisi kekosongan waktu kalian.

-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏 secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.

Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!