Meskipun ada 10 jiwa yang bernaung di bawah rumah ini–rumah yang belum rampung dibangun sepenuhnya–namun tetap saja tak mengurangi rasa gelisah, yang kudapatkan, setelah mendengar suara mesin air itu menyala.
Aku berjalan menuju ruang dapur hendak mematikan mesin air yang–berada tepat di bawah tangga–masih dalam kondisi berdering, saat aku tiba di depannya. Tak berpikir panjang, aku pun segera mencabut kabel yang terhubung pada sakelar listrik, hingga mesin itu lagi berdering, mati seketika. Ini jauh lebih baik, Man ... Setelah berhasil melancarkan aksiku, aku pun kembali ke ruangan pertama, untuk bergabung dengan Rifaldy dan yang lainnya.
"Mondar-mandir mulu, lu?" tanya Aidan, menoleh ke arahku, "Udah kayak setrikaan."
"Eh ... Nggak mau main Game?" tambah Rifaldy.
Kurasa gagasan Rifaldy tidak terlalu buruk. sembari menunggu hawa kantuk tiba, tak ada salahnya aku mengadu strategi dengan mereka, "Mau dibantai berapa kosong?!"
"Beh ... Kalau ngomong ... Sini tanding!" seru Aidan.
"Main, nih ... " kata Rifaldy, meletakan Stick Game di lantang, dan lalu bangkit yang diikuti Kevin.
"Sekalian buat kopi Vin." Kevin hanya mengangguk menanggapi perkataan+ku.
Tak lama aku bermain Game, terdengar teriakan panik Rifaldy dan Kevin menggema di seluruh ruangan, "Api ... Api ... Kebakaran!" Sontak itu membuatku dan Aidan terperanjat, yang lalu lari menuju dapur.
"Kenapa! Rif!" lantang-ku, melihat Rifaldy sedang panik, tergesa-gesa mengambil satu ember yang terisi air penuh.
Mataku membesar, saat ketika melihat nyala api yang sudah meninggi sedang melahap subah pohon rambutan yang berdahan rindang.

Aku berbalik dan berlari menuju kamar mandi–untuk mengambil air–namun sungguh sial, hanya ada satu ember yang tersisa, itu pun bekas cat yang berukuran sedang, dan satu tong air yang berisi 250 liter.
Para pekerja yang mendengar kegaduhan yang kami timbulkan, mulai berhamburan dari dalam kamarnya.
"Bantu kami memadamkan api di belakang rumah!" lantang-ku, dengan tergesa-gesa lari membawa sebuah ember kecil.
Aku menyiramkan air kebagian dahan pohon yang mulai terbakar hebat, namun seakan tiada arti. Kobaran api yang sudah membesar, sangat sulit untuk di padamkan. Ditambah titik api yang berada di atas pohon, menyulitkan kami untuk menyiramnya. Namun aku tak perduli dengan itu, karena akan sangat berbahaya jika api merambat dan melahap bagian belakang rumah, yang masih dipenuhi bambu kering.
"Kuranggg!! Tambah lagi airnyaa!!"
"Woyyy! Bawa itu tong air ke sini!"
"Lu, Ngapain di situ, Kevinnn!!"
"Sabar, Pak!"
Percuma! Ini jelas percuma! Nafasku sudah tersengal-sengal, tak mampu lagi mengimbangi gerak tubuhku. Semua hanya terlihat sia-sia. Lidah api terus menjilati semua yang ada di sekitarnya, hingga begitu sulit untuk dikendalikan. Meskipun akan terlambat, Baiknya aku menghubungi Petugas Pemadam!
Namun, di saat aku hendak berpaling dari kobaran api yang terus membesar, tiba-tiba aliran ari membasut deras, melintas di atas kepalaku. Sekita aku menoleh pada sumbernya, "Mang Ubun!"
"Woohh ... Mantap Mang!"
"Maaf, Mas. Lama, tadi narik selang dulu." jelasnya.
"Hajar! Mang!"
Kami sangat bersyukur, untung saja mang Ubun bertindak sigap, tidak seperti kami yang malah panik tak karuan! Hingga tak menyadari jika rumah ini memiliki selang, yang biasa digunakan untuk keperluan mengaduk Sement.
Tapi akan lebih buruk lagi jika saja Rifaldy dan Kevin tidak pergi ke dapur. Entah sudah menjadi apa rumah ini. Kerena di lantai dua masih dipenuhi gelondongan bambu kering untuk digunakan sebagai pijakan para pekerja, guna meratakan dinding belakang, ditambah bagian dalam lantai dua, yang masih dipadati oleh balok-balok kering, sebagai penopang atap bangunan.
Selang berapa menit, si jago merah pun sudah padam, asap begitu mengepul ke udara, terlihat Pak Tanto menghampiri kami dengan wajah tertekuk bersalah.
"Mas, Rifaldy, sa ... Saya mohon maaf, Mas," Terdengar suara lirih penuh penyesalan, menahan rasa bersalah yang amat mendalam, "Saya lupa jika tadi sedang membakar sampah di bawah pohon itu, saya kira tidak akan menjalar, karena itu, saya tinggal begitu saja, saya mohon minta maaf, Mas."
"Jadi! Ini gara-gara ulah, Mamang! Hah?" gusar Rifaldy, raut wajahnya tergambar geram, menatap mang Tanto yang tengah berdiri dihadapannya, dengan tertunduk lesu. "Mikir, Mang! Kalau rumah ini sampai terbakar ludes gimana? Emang Mamang sanggup ganti!"
Suasana mendadak hening, saat nada tinggi Rifaldy terdengar menggema di sekitar kami, tentu saja Pria paruh baya itu tak mampu berkata-kata, hanya menyisakan suara dari percikan dahan yang telah hangus terbakar.
"Gaji, Mamang seumur hidup pun, belum tentu sanggup menggantinya!" Kami hanya terdiam, menyaksikan Rifaldy menunjuk-nunjuk wajah mang Tanto, yang sudah nampak pucat pasi, "Pantas aja miskin, otaknya tolol!"
Aku melangkah menghampiri Rifaldy yang telah termakan oleh lautan amarah, "Rif ... Se'nggaknya mang Tanto udah minta maaf ... Lagian ini musibah, bukan kemauannya."
"Iya, emang ini musibah, Den! Tapi.. apa lu masih bisa bilang kayak gitu, kalau rumah ini ludes terbakar karena ke-tololan, Dia?!"
Aku sedikit mengibaskan lengan kiri, tanpa sepengatahuan Rifaldy, mengisyaratkan agar semua orang meninggalkan kami di sini. Dan para pekerja pun meresponnya dengan baik.
"Liat getir wajah mang Tanto, Rif ... Nangis batin dia, Dia tidak lebih dari seorang pria, yang mencari nafkah demi keluarganya, Dia rela membanting tulang untuk mendapatkan rezeki yang halal. Dan sekarang.. ia sedang diuji ... Bukan hanya Dia, tapi kita semua Rif."
"Iya, Rif ... Kasihan mang Tanto," tambah Aidan, "Dia, kan. Udah minta maaf."
"Lagian ada selang, kok. Pak," timpal Kevin, "Tuh ... Apinya udah mati."
"Maafin, dia Rif ... Jangan putuskan sumber rezekinya,"
"Iya ... iya, gue maafin!" ucap Rifaldy, yang dianggukan oleh mang Tanto, "Kali ini saya maafkan perbuatan, Mamang, tapi jangan sampai terulang lagi."
"Saya tidak di pecat, kan. Mas?"
"Tidak, Mang."
"Alhamdulillah, Anak saya sedang sakit, Mas. Saya nggak tahu lagi harus cari kerja di mana, kalau sampai Mas Rifaldy pecat saya," sedu mang Tanto, meraih lengan Rifaldy, penuh syukur. "Terima kasih banyak, Mas."
"Sama-sama, Mang."
"Nah, gitu dong! Itu baru Rifaldy ...," seru Aidan, "Ayo! tanding lagi, lah."
"Yoossh ... Bubarr!!" Aku berseru, dan Kami pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Gara-gara tegang! Kok, bikin laper, yak?" celoteh Kevin.
"Masak mie enak, nih. Vin," tambah Aidan
"Nah, gagasan yang bagus tuh," timpalku.
"Biar gue yang masak!" seru Kevin.
Hari ini sungguh melelahkan, terlebih lagi, kejadian besar yang aku alami tadi, rasa lelah pun membuatku ingin segera berbaring di atas tempat tidur.
Aku melirik Rifaldy yang tengah berbicara melalui jaringan seluler. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Den ... Kita disuruh ke Gg rantai."
Aku menghela nafas, berdecak malas, "Mau ngapain?"
"Bokap, gue, Den ...."
"Kenapa Wa. Andy?"
"Penyakitnya kambuh, lagi."
"Ya, udah, hayo, kita ke Gg. Rantai."
Memang yang aku tahu, jika ayah Rifaldy akhir-akhir ini kondisinya sedang tidak baik, bahkan aku mendengar kabar waktu lalu, yang katanya Beliau masuk rumah sakit.
"Belum pada tidur, Mas? sudah hampir tengah malam, lho?" tanya pak Ubun, yang masih berjaga di dalam rumah.
"Kami akan pamit pulang sebentar, Mang," jawab Rifaldy.
"Pulang, Mas?"
"Ada keperluan mendadak, Mang," pangkasku, sambil mengenakan Sweater.
"Oke, Siap, Boss."
"Mau pada ke mana?" tanya Aidan, melihat kami sudah berpakaian rapih.
"Balik, dulu," jawab Rifaldy, tergesa-gesa mengenakan jaket hitamnya. "Mau ikut?"
"Lha, cuma ada satu motor, kan?" tambah Aidan.
"Bisa, dua kali balik," tambahku.
"Naik semua, berempat juga bisa," timbal Rifaldy.
"Oy ... Vin? Balik nggak, lu?" pekik Aidan.
"Ha? Balik?" sahut Kevin, dari ruang dapur, nampaknya ia belum selesai menjadi koki di rumah ini. "Gue, udah bikinin Mie ini, Pak!"
"Sudah, biar buat saya saja mie-nya, Mas," sambar mang Ubun, sambil tertawa kecil.
"Heleh ... Ya-udah, nih. Lanjutin masaknya," jelas Kevin, lantas ikut bersiap bersama kami.
Beruntung kendaraan roda dua yang kami gunakan memiliki tangki dan Jok yang cukup panjang, hingga cukup meski membawa lima orang sekaligus.
"Yakin ingin pulang mas?" tanya pak Ubun yang mengantar kami hingga gerbang depan.
"Iya, Mang. Titip rumah, ya. Mang," jawab Rifaldy, diiringi mesin motor yang menyala.
"Siap, Pak Bos, hati-hati, Mas," ujar pak Ubun tersenyum dan menutup gerbang.
Dinginnya angin malam terasa menusuk kulitku, kami pun memulai perjalanan ini, menempuh jalan berbatu dan bergelombang, membuat kami bergerak sangat lambat. Sejauh mataku memandang, hanya terlihat deretan pohon yang menjulang tinggi dengan rumput liar yang terhampar di sepanjang bahu jalan.

"Bang Ferdy meminta kita kumpul di rumah, Rifaldy?" tanya Aidan.
"Wa. Andy, sakit, Dan," komentarku.
"Oh ... "
"Kabar buruk malah di jawab 'oh' gimana si, Pak."
"Ya, Sorry ..."
Kendaraan terus melaju, menerjang gelap dan sunyinya malam, mataku tak bisa berhenti mengedar ke segala arah. Hingga kami dihadapkan dengan satu lokasi yang menurutku, ini tempat terseram di sepanjang jalan Loji.
Firasat buruk seketika mengganjal batinku melawati jalan ini, di kanan jalan terdapat satu rumah tua yang sudah rapuh termakan oleh tumbuhan liar yang menyelimuti setiap sudutnya. Dinding-dindingnya sebagian telah ambruk dan menghitam, atap dan pintunya sudah tiada, menyajikan pemandangan yang cukup membuatku bergidik, saat melirik ke dalamnya rumah tersebut. Dan tepat di sebelah kanan, tidak jauh dari rumah itu. Terlihat bekas pemandian tua yang telah rapuh termakan waktu, entah masih digunakan atau tidak.
Aku terperangah saat merasakan laju kendaraan kami melambat dan tersendat-sendat, diiringi Rifaldy yang menggerutu, "Apes amat ini malam!" Dan tiba-tiba mesin motor mendadak mati begitu saja.
"Mampus!" gusar Kevin.
"Aduh, gimana ini!" pekik Aidan.
"Elah! Pada turun dulu, kenapa!" gusar Rifaldy, membungkukkan badannya, seperti sedang meraba bagian dalam mesin motor.
Siapa sangka kendaraan ini akan mogok total, membuat aku dan yang lainnya, terdampar di pertengahan jalan yang gelap gulita ini, di kiri dan kanan, hanya ada pepohonan liar, seakan menatap kami penuh curiga.
Aidan dan Rifaldy sedang berusaha menghidupkan mesin motor bobrok itu, namun belum juga membawakan hasil, ini seakan menjawab firasat buruk-ku.
"Udah hampir 15 menit kita di sini," ucapku, melirik jam pada layar ponsel, "Aneh ... kenapa bisa nggak ada sinyal?"
"Gerutu aja, bukan bantuin ...," timpal Rifaldy.
"Kalau gue ngerti mesin, udah gue bantuin dari tadi, kali."
"Lu, kira gue ngerti, apa?" timbal Aidan.
"Hubungi orang rumah, Rif," saranku, "Hp, gue nggak ada sinyal."
Mendengar masukan dariku, Rifaldy dan Aidan berhenti bergelut dengan kabel yang dibanjiri oli hitam.
"Nah-lho, Ini kenapa Hp gue juga nggak ada sinyal!" Rifaldy mengangkat ponselnya ke langit-langit, berharap menemukan sedikit sinyal, "Coba punya lu, Dan."
"Sama ..."
Aku menoleh ke arah Kevin yang sedari tadi hanya membisu, sejak awal kami tiba di lokasi ini, "Oy ... Diem aja, lu."
"Serem! Najis! iiii!" gumam Kevin, yang berdiri tidak jauh dariku, ia terlihat seperti orang yang sedang kedinginan, dengan kedua lengan mendekap dadanya, dan wajah tertunduk sejadi-jadinya, seakan berpaling pandang dari sesuatu.
"Lu, kenapa, Vin?"
"Ja ... Jangan, liat ke sana, Den!" ucapnya, dengan nada tersekat, ia menunjuk ke arah sebuah pohon besar.
"Liat apa?" sahutku, dengan netra mengamati sebuah pohon besar, "Nggak ada apa-apa, Vin."
Kevin hanya membisu, tubuhnya terlihat menggigil.
"Rif, itu motor masih belum bisa?" tanyaku. "Ini si Kevin sakit kayaknya."
"Hah? Sakit?" sanggah Aidan, menoleh sesaat ke arah Kevin.
"Lagi di bersihkan Bussy-nya, sabar, lah," pekik Rifaldy, ia masih fokus memperbaiki mesin motor.
Suasana bertambah buruk dengan kondisi Kevin yamg semakin melemah. Bahkan untuk berdiri saja ia bergantung pada pundak-ku.
Entah apa yang ia alami hingga membuatnya seperti ini, padahal saat kami meninggalkan rumah, ia masih terlihat segar bugar, tak ada tanda-tanda atau gejala jika ia sedang sakit.
"Eh! Itu lihat ... Ada cahaya!" Seru Aidan, menjulurkan lengannya merujuk pada sebuah cahaya redup, yang bergerak perlahan.
Lama kami pandangi, cahaya itu bergerak semakin dekat, menerobos rimbunnya ilalang di antara pepohonan besar.
Hingga tak lama kemudian, barulah terlihat seorang pria dengan menjinjing sebuah lampu semprong pada lengan kirinya.
"Keur naraon, Jang? (Lagi apa, Nak?)"
Kerena begitu gelap, aku tak bisa melihat wajahnya, namun dari
suara berat yang ia keluarkan, dan dari cara berdirinya yang sudah tidak tegak lagi, bisa ku-pastikan jika ia berusia 60 tahun ke atas.
Kakek itu berdiri pada bahu jalan, mungkin berjarak tiga meter dari tempat kami.
"Motor na kunaon, Jang? (Motornya kenapa, Nak?)."
Jujur saja, aku tidak nyaman dengan kehadirannya, karena cukup aneh jika ada seorang Kakek di tempat seperti ini. Kurasa Rifaldy dan Aidan pun merasakan hal yang sama, mereka saling bertatap muka, seakan penuh tanda tanya besar.
Kami hanya membisu, menatapnya penuh curiga, hingga ia mengulang pertanyaan, "Motor na kunaon, Jang? (Motornya kenapa, Nak?)"
Dengan ragu, Rifaldy pun menjawabnya, "Iya Ki, mogok ... Apa di sekitar sini ada bengkel, Ki?"
"Ngiring ka imah Aki weh, Jang. (Ikut ke rumah Kakek aja, Nak),"
Rifaldy menoleh ke arahku dan menaikan dagunya sesaat, "Gimana?" Aku hanya menggeleng samar, menyampaikan ketidak setujuan-ku
"Moal bener mun icing didieu, mah, Jang! (Tidak akan benar kalau tetap di sini, Nak!)"
"Gimana, Rif?" kata Aidan, nampaknya ia mempertimbangkan perkataan Kakek itu.
"Jalan masih jauh! Belum lagi medannya kalian tau sendiri," jelas Rifaldy. " Mau dorong motor sampai rumah?"
Apa yang dikatakan Rifaldy memang tidaklah salah, namun aku tidak yakin jika ini gagasan yang bagus. Bagaimanapun juga kami tidak mengenal siapa Kakek misterius ini, dan entah apa tujuannya.
"Mangga, Jang, (Mari, Nak,)" ucap sang Kakek, mempersilahkan kami untuk mengikutinya.
Dengan memapah tubuh Kevin, aku mencoba menghampiri Rifaldy dan Aidan.
"Rif ...," bisik-ku, Rifaldy dan Aidan menoleh ke arahku, "lu, yakin? Firasat gue nggak enak, lho!"
Rifaldy menghela nafas malas, "Ya, terus? Kita harus gimana!"
"Si Kevin aja lemes kayak gitu, Den," timpal Aidan. "Bisa nggak jalan sendiri sampai Gg Rantai?"
Mungkin memang tidak ada pilihan lain, aku terpaksa harus mengesampingkan firasat buruk ini. Terlebih tubuh Kevin terasa semakin panas. Aku khawatir jika ia tak mampu lagi berjalan.
Dengan berat hati aku berkata, "Terserah lu, Rif." Membuat Rifaldy bangkit dan bersiap menggandeng kendaraannya.
"Intinya kita pindah dari sini dulu, Rif," pangkas Aidan, yang dianggukan oleh Rifaldy.
Setelah mempertimbangkan segalanya, kami pun sepakat untuk ikut bersama Kakek tersebut, tentu saja kami memiliki sebuah rencana. Rifaldy dan Aidan sudah bersiasat untuk memperbaiki kendaraan kami setibanya di tempat Kakek itu.
Melihat sang Kakek sudah mulai berjalan—memasuki semak belukar yang tepat berada di sisi jalan—kami pun mulai mengikutinya.
"Dan ... Bantu gue dorong motor!" Mendengar itu, Aidan Dengan sigap membantunya mendorong motor dari belakang.
"Eh! ... Emang itu jalan, ya?" Mataku tak bisa luput dari sosok Kakek misterius itu, yang kini menanti kami di antara rimbunnya ilalang.
"Dia aja bisa lewat masa kita nggak?" cetus Rifaldy, dengan nafas beratnya. "Den ... Si Kevin kenapa, si?"
"Nggak tau gue juga, tapi badannya panas bener, Rif."
"Ah ... Waktu berangkat dia sehat-sehat, aja!"
"Rif ... Kalau ternyata Kakek itu menjebak kita, gimana?"
"Ya, elah, Den ... Udah, lah. Kita liat aja dulu!"
"Bukan gitu, Rif ... Gue aneh aja."
"Aneh kenapa, Den?" sela Aidan.
"Ya! Mana ada kakek-kakek yang keluyuran tengah malam begini, ditengah kebun, lagi!"
Rifaldy mendengus, menoleh sesaat ke arahku, "Suudzon aja lu, sama orang!"
"Apa yang ditakutin dari Kakek tua kayak gitu?" timpal Aidan. Aku memilih membisu, tak ingin memperdebatkan masalah ini.
Gemerisik daun dan dahan kering, mengiringi langkah kami menelusuri jalan setapak yang terhimpit semak dan pepohonan lebat. Aku sangat berhati-hati dalam melangkah, selain tak memiliki penerangan, tanah di jalan ini begitu lembab.

Perjalanan kami sungguh sangat menguras tenaga. Bagaimana tidak, aku harus memapah tubuh Kevin yang sudah terkulai lemas, bahkan untuk melangkah saja sulit baginya. Sedangkan Rifaldy dan Aidan berusaha menuntun sebuah sepeda motor, yang tak jarang terperosok oleh lubang yang tertutup dedaunan.
"Satu! Dua! Tarik! ...," Pekik Rifaldy, manarik roda motor yang terjebak pada sebuah lubang, dengan dibantu Aidan,"Sip!"
Sesekali Aidan menyeka alisnya dan menggerutu, "Gila! Ini sih, bukan jalan!"
"Itu si Kevin nggak bisa jalan sendiri apa?" gusar Rifaldy, "Sini ... Gantian sama gue, Den."
Ternyata menuntun sepeda motor lebih suram dari pada membantu Kevin berjalan, baru beberapa menit saja tubuhku sudah dibanjiri keringat dingin. Dan sang Kakek masih berjalan santai di dapan kami. Bahkan ia tak pernah menoleh sedikitpun, meski kami dalam kesulitan. Padahal, cahaya satu-satu hanya dari lampu semprong yang ia bawa. Entah aku harus berterima kasih atau marah padanya.
"Kek ... Masih jauh?" tanyaku, dengan nada terpenggal-penggal.
"Sakeudik deui, Jang. (sedikit lagi, nak.)"
"Dari tadi! Perasaan sedikit mulu!" gumam-ku. "Rif, gantian sama si Aidan."
"Nggak ... Gue dorong 'aja, lah."
Dan hingga akhirnya, langkah sang Kakek itu melambat, "Geus nepi, Jang. (Sudah sampai, Nak)" Ia menjulurkan lengan kanan pada suatu tempat.
Aku menghela nafas lega, begitu juga Rifaldy dan Aidan. Setelah beberapa menit kami bergelut dengan jalan setapak yang morat-marit.
Nampak sebuah rumah gubuk, berdiri di antara pohon-pohon yang mengitari lokasi ini. Rumah berdinding bilik itu tak memiliki penerangan yang cukup, seakan bersembunyi di balik gelapnya malam.

Melihatnya saja sudah membuat bulu romaku meremang, seakan aku semakin dekat, dengan firasat buruk yang sejak tadi melekat kuat pada batin ini.
"Asup kadieu, Jang! (Masuk sini, Nak,)" lirih sang Kakek, "Aki bade kadinya heula.(Kakek mau ke sana dulu." Sang Kakek menunjuk pada jalan setapak yang berakhir masuk ke dalam perkebunan liar.
Kami tak sanggup berkata-kata, hanya terdiam dan membisu melihat sang Kakek melanjutkan perjalanannya, dan hilang di tengah gelapnya malam dan rimbunnya pepohonan. Cahaya redup dari lampu semprong miliknya, kini sudah tak nampak lagi.
Entah rumah siapa yang ada di hadapanku ini. Pintunya tertutup rapat, tak kudengar sedikitpun suara manusia yang bernaung di bawahnya. Hanya ada nyanyian serangga yang berseru, memecah keheningan malam.
Merasa lelah dengan beban yang kubawa sedari tadi, aku pun membaringkan tubuh Kevin di atas balai bambu yang berada di depan rumah. Udara di sekitar sini begtu terasa dingin, hingga terasa menembus kulitku.
"Terus, gimana?" ucapku, menghela nafas letih. "Si Kakek, udah pergi."
"Nanti dulu, deh!" tugas Rifaldy, lalu ia rebahan di samping Kevin, "Pada sakit badan, gue!"
"Mungkin, si, Kakek cari bantuan," sahut Aidan.
"Cari bantuan ketengah kebun!?"
"Tenang dulu, kenapa, Den."
*****************
Bersambung ...
*****************
Untuk pembaca tercintaku ...
#Note:
Jumlah keseluruhan Chapter ada 46.
Namun aku sedang melakukan
revisi. Jadi, mohon maaf
jika Update sedikit lebih lama. 🙏
-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏
-Jika kalian suka dengan cerita ini, dukung kami dengan memberikan:
Vote dan komenter yang positif, selama masih ada permintaan,
cerita akan terus aku update.
-Terima kasih telah membaca,
semoga bisa menghibur dan
mengisi kekosongan waktu kalian.
-Sampai berjumpa lagi di-Episode berikutnya. 👋👏
secepat mungkin kami menyelesaikan lanjutannya. Insyaallah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Kanis Kanis
seluuuu
2020-03-22
1
Dafia Nuraini
Aq plng sebel sm orang yg cemaskan dan marah" gk karuan disaat situasi genting. Menambah kacau aja....
2020-01-15
2