True Story - Malam Pertama Part 2

Hening dan dingin seketika menyergap tubuh ini, saat aku tiba di sebuah ruangan hampa dan lembab. Rasa cemas yang semakin mendalam, membuatku tak ingin berlama-lama berada di sini. Entah mengapa aku merasa sedang diawasi oleh sesuatu, yang tak nampak pada ke-dua bola mataku.

Aku terdiam membisu, dan manahan nafas ini sesaat, untuk memperjelas pendengaran-ku.

Semakin aku mendengarkannya, suara itu terdengar semakin jelas, hingga aku menyadari jika intonasi rendah ini berasal dari instrumen tradisional khas Jawa.

Angin yang berhembus sedang, seraya membawa lantunan berirama dari sebuah gong. Aku tidak habis pikir dari mana suara Gamelan itu bersumber. karena yang aku tahu rumah ini begitu jauh dengan pemukiman warga. Mungkin sedang ada Pesta Rakyat ...

Tak ingin memperdulikan Gamelan itu, lalu aku mendorong pintu papan yang ada di hadapanku, dengan perlahan.

Kreeekkk ... !!!

Dan nampak ruang lain persegi empat, dengan penampungan air yang cukup besar, mungkin aku bisa berendam di dalamnya. Lantainya tak ber-keramik dan sedikit berlumut.

Rasa ragu sempat menahan-ku untuk masuk ke dalam toilet yang sedikit berbau tak sedap ini, tapi tak ada pilihan lain bagiku, mungkin hanya ini satu-satunya toilet di rumah ini, tanpa ada pertimbangan lain aku segera melangkah masuk.

Namun ketika hendak menutup pintu, aku dikejutkan oleh seekor laba-laba besar seukuran telapak tangan pria dewasa dengan 8 kaki yang berbulu halus berwarna coklat gelap.

Aku kurang bersahabat dengan laba-laba jenis ini, lebih baik aku tak mengusiknya. Secara perlahan aku menutup pintu bergegas menyelesaikan urusanku.

Air yang tertampung pada Bak mandi tombok ini, terasa begitu segar, seketika menyapu seluruh rasa lelah dan dahaga yang kudapat dari hiruk-pikuk perjalanan panjang hari ini. Aku membasuh Shampo pada rambutku dengan merata. Namun saat hendak membilasnya, aku kembali merasakan firasat ganjil, yang memaksaku untuk menoleh pada suatu sudut di belakang.

Dengan mata sedikit tertutup, aku melirik ke arah itu, hingga samar terlihat seuntai kain putih menjuntai tepat di sudut kamar mandi. Semakin lama aku pandangi, bayangan itu semakin nampak jelas bagaikan wayang yang berdiri kaku.

Aku mempercepat kayuhan gayung dengan sangat tergesa-gesa, ingin segera meninggalkan ruangan ini. Karena yang aku tahu saat memasuki toilet ini tak ada kain ataupun benda yang mematung di sudut sana.

Merasa keadaan semakin mencekam, aku bergegas untuk keluar dari ruangan ini. Tapi sungguh sial, ketika aku menarik handuk yang tergantung pada paku pintu, dengan tiba-tiba seekor laba-laba melompat ke tubuhku. Sepontan aku memukul laba-laba itu hingga menggigit paha kiriku, Berengsekk! ... Rasa gigitannya begitu panas bagai tertusuk jarum, tentu itu tidak menghentikan langkah cepatku.

Hingga aku tiba di ruang tamu dengan tergesa-gesa. Aidan yang melihat tingkah anehku lantas bertanya, "Kenapa Den?"

"Apes, Dan ... " singkatku.

"Apes? Kenapa ... "

"Malah, ngobrol ... dudukin yang benar!" pangkas Kevin, yang tengah berdiri di atas sandaran kursi bambu, dengan Aidan dan Jainal yang menahannya. Mereka sedang berusaha mengganti lampu ruangan dengan yang baru.

"Ngomel mulu ... "

"Sedikit lagi nih," gumam Kevin, memutar bohlam lampu sedikit-demi-sedikit.

Tak lama ruangan terasa lebih terang, saat Kevin berhasil menggantinya, membuat Aidan berseru riang, "Nah, gini, kan, enak."

Aku mengangkat dua jempol ke arah mereka, "Kalian, luar biasa ...."

"Buat yang di kamar pertama dan ketiga gimana, Den?" tanya Aidan, "yakin bisa nggak tuh mangkok lampunya," lanjutnya.

"Wah, kalau itu si nggak tau, Dan ...." Aku berjalan dan terhenti di ambang pintu kamar pertama. "Kayaknya, si ... Bisa, deh."

"Belum juga di coba ...," tukas Jainal, penuh semangat mengangkat kursi kayu, menuju kamar pertama, hampir saja menyerempet pinggangku.

Aidan berdecak senang, menaik turunkan alisnya dan berseru, "Gitu dong ... laki itu harus semangat!"

Aku menggeleng melihat tingkah riang mereka. Tak bisa kubayangkan jika hanya aku dan Rifaldy yang bermalam di rumah ini, "Oya, kalau kalian udah beres kunci pintunya," lanjutku, beranjak menuju kamar Rifaldy.

Aidan menoleh cepat ke arah, "Lah ... tidur? ... Begadang, lah. Udah lama gak main kartu bareng, kan."

Belum sempat aku menjawab, Kevin menimpali perkataan Aidan, "Capek dia Pak, butuh istirahat."

"Hayo, lah ... " seruku.

"Hajar ... Dan."

"Kopi ... mana kopi ... "

"Bah ... Bahaya kalau si Deni udah minta kopi ...."

"Bikin, Vien ... "

"Siap ... Nal, bikin kopi abis itu, ya?"

"Biji mata lu kendor ... bikin, lah!"

Itulah temanku, selama bersama mereka, pasti kami selalu ceria. Tak perduli di manapun tempatnya. Baru akan berhenti jika makian dari Warga yang merasa terganggu oleh sikap kami. Segaduh apapun kami di sini, mustahil ada yang melarangnya.

Aku mengernyitkan kening, melirik ke arah Rifaldy yang telah tertidur pulas. "Udah tidur aja ini anak," gumamku, sambil merebahkan diri pada tempat tidur hingga menghadap langit-langit kamar yang berwarna putih kusam, sekaligus menjadi pemandangan terakhirku di malam itu.

Sebaiknya esok aku pulang ke rumah, untuk menemui ibuku ...

"Si, kampret malah tidur!"

*********

Yuut ... Yuuttt ... Yuutt ...

"Sayuurr..!! sayuurr..!!"

Dengan mata sayu dan rasa dingin yang masih melekat kuat pada tubuhku, aku membuka mata dan bangkit dari tidur.

Aku tersenyum ketika melihat tempat tidur tua ini telah terisi penuh oleh teman-temanku, bahakan kaki Aidan tidak sepenuhnya berada di atas tempat tidur.

"Dasar bocah-bocah aneh ... Untuk apa kalian bersihkan dan memberi lampu kamar lain, jika akhirnya tidur semua di sini ...,"

aku beranjak dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju ruang tamu, dengan wajah yang masih kusut, aku menghirup nafas panjang, saat membuka jendela kayu yang tak berkaca ini.

Suasana pagi hari yang indah, sangat terlihat berbeda jika dibandingkan saat malam. Udara di sini terasa sejuk dan tenang, suara kicauan burung dengan nada merdu terdengar indah membius keheningan.

Masih dengan rasa penasaran, aku mengedarkan pandang ke setiap sudut dan terhenti saat kulihat seorang pria tangguh, sedang berusaha mendorong gerobak dagangannya dengan penuh semangat. Pria paruh baya itu tengah berjuang, melewati jalan bergelombang yang dipenuhi bebatuan dan tanah merah.

Tidak puas hanya melihat dari balik jendela, aku yang masih penasaran dengan sekitar rumah lantas berjalan menuju pintu depan.

Setibanya di halaman depan rumah, aku sedikit kecewa. Pemandangan di sini tidaklah jauh berbeda pada saat malam hari.

Semak belukar dan pepohonan pisang nampak memadati sisi kiri halaman. Aku melongok ke sebelah kiri ... Dan terlihat rumah putih yang berada tidak jauh nampak sunyi tanpa ada aktifitas seorang pun di sana, Mungkin memang rumah itu tak berpenghuni ...

Kring ... kring ... Kring ...

Dering ponsel yang terdengar dari dalam kamar, membuatku beranjak dari teras depan.

"Yha, hallo, Bang."

"Den ... Nanti siang tukang bangunan sampai di situ, tolong kosongin dulu rumahnya, yah," kata bang Ferdy, dalam panggilan ponsel, "mau dibongkar!"

Aku mengernyitkan alis mendengar apa yang disampaikan bang Ferdy, Secepat ini, kah?

"Oke, Bang," singkatku, dan Ferdy mengakhiri panggilannya.

Aku menaruh kembali Handphone dan bergegas menuju toilet. Namun langkahku tercekat ketika melihat sebuah pintu bilik yang tertutup angkuh di sudut ruangan dapur. Pintu ... Sejak kapan ...

Aku membuka kawat kecil berkarat yang menjadi kunci utama pintu bilik ini, dan tanpa aku mendorongnya, pintu itu pun terbuka dengan lebar, memperlihatkan semak-semak liar memenuhi lahan luas yang ada di belakang rumah. Ada tiga pohon rambutan yang besar, lengkap dengan daunnya yang rimbun, di sisi lain terdapat gelondongan bambu kering, yang saling bertumpang tindih tersusun tidak jauh dari pohon rambutan tersebut.

Dan di sudut kiri terdapat lubang bersegi empat yang dipenuhi sampah, berserakan di bibir lubang itu. Namun sesuatu yang nampak aneh, menarik perhatianku.

Dengan sangat hati-hati aku menerobos semak-semak liar, yang setinggi lututku, hingga aku terhenti pada sebuah titik. Terlihat mencurigakan ...

Terlihat sebuah sumur yang tertutup rapat, bersembunyi di antara tingginya semak-semak belukar. aku yang penasaran lantas menggeser tutup sumur yang terbuat dari bilik itu dan menjulurkan leherku, melihat ke dalamnya.

Nampak pinggiran sumur yang telah dipenuhi busa putih yang bergelembung, mengitari seluruh sisi sumur, membuat tubuh ini bergidik melihatnya. Merasa suasana semakin tak mengenakan, aku memutuskan untuk beranjak dari sumur tua ini, untuk bergegas membersihkan diri. Mengingat hari ini aku akan pulang.

Beberapa menit berlalu, setelah aku bersiap-siap untuk meninggalkan rumah ini, aku menggelengkan kapala, saat kulihat Rifaldy dan yang lainnya sibuk berlomba mendengkur, meski hari sudah mulai siang.

"Rif ... " Aku mengkoyak tubuh Rifaldy, "Bangun ... Gue mau pulang, kalau ada perlu kontek, aja." Rifaldy hanya mengangguk dengan matanya terpejam.

Aku bergulir, dan menggoyangkan kaki Aidan, "Dan ... Dan ... Anter sampai jalan raya, yu?" namun Aidan tak menjawab.

Aku menggeleng kepala, Pada kebo amat tidurnya .... Dan akhirnya aku berjalan seorang diri berharap bertemu kendaraan yang bisa aku sewa saat di jalan nanti.

Selangkah demi selangkah, kini aku semakin jauh meninggalkan rumah tua itu, hingga aku teringat akan sesuatu, "Mampus ... gue Lupa ngasih tau kalau ada pekerja yang mau membongkar rumah." Melihat sudah terlalu jauh aku berjalan, tak mungkin untuk kembali, bahkan aku tak bisa menghubungi mereka, "Ah, sudahlah ...."

Ini bukan Ending dari kisahku, justru sebaliknya. Ini awal dari semua gangguan yang aku sering rasakan!

*****************

Bersambung ...

*****************

-Vote, Like, Save To Favorit jika kalian suka dengan cerita ini.

-Mohon maaf jika ada tutur kata yang kurang berkenan. 🙏

-Terima kasih telah membaca, semoga terhibur. dan jangan lupa untuk Vote dan Komentar jika kalian suk cerita ini

  jika kalian suka.

-Update aku usahakan secepatnya.

Terpopuler

Comments

My Cockcorn

My Cockcorn

lah kenapa denis dijebak nginap disitu sama yudi? toh akhirnya suruh ngosongin juga krna ada tukang bangunan

2020-05-30

1

lihat semua
Episodes
1 Opening & Perkenalan
2 Prolog
3 True Story - Rumah Tua Part 1
4 True Story - Rumah Tua Part 2
5 True Story - Malam Pertama Part 1
6 True Story - Malam Pertama Part 2
7 True Story - Interaksi Astral Part 1
8 True Story - Interaksi Astral Part 2
9 True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10 True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11 True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12 True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13 True Stroy - Menguji Mental Part 1
14 True Stroy - Menguji Mental Part 2
15 True Story - Menguji Mental Part 3
16 True Story - Aku kembali Part 1
17 True Story - Aku kembali Part 2
18 True Store - Aku kembali Part 3
19 True Story - Aku Kembali Part 4
20 True Story - Aku Kembali Part 5
21 True Story - Dia Adikku. Part 1
22 True Story - Dia Adikku Part 2
23 True Story - Dia Adikku Part 3
24 True Story - Dia Adikku End
25 True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27 True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28 True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31 Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32 True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33 Penderitaan: Bab 1
34 POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35 POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37 Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38 Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39 Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40 POV Kevin: Penderitaan Bab End
41 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43 POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44 POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48 Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49 Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50 Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51 Perjuangan Terakhir Bab 3
52 Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Opening & Perkenalan
2
Prolog
3
True Story - Rumah Tua Part 1
4
True Story - Rumah Tua Part 2
5
True Story - Malam Pertama Part 1
6
True Story - Malam Pertama Part 2
7
True Story - Interaksi Astral Part 1
8
True Story - Interaksi Astral Part 2
9
True Story - Malam Penuh Cemas Part 1
10
True Story - Malam Penuh Cemas Part 2
11
True Story - Malam Penuh Cemas Part 3
12
True Story - Malam Penuh Cemas Part 4
13
True Stroy - Menguji Mental Part 1
14
True Stroy - Menguji Mental Part 2
15
True Story - Menguji Mental Part 3
16
True Story - Aku kembali Part 1
17
True Story - Aku kembali Part 2
18
True Store - Aku kembali Part 3
19
True Story - Aku Kembali Part 4
20
True Story - Aku Kembali Part 5
21
True Story - Dia Adikku. Part 1
22
True Story - Dia Adikku Part 2
23
True Story - Dia Adikku Part 3
24
True Story - Dia Adikku End
25
True Stroy - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 1
26
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 2
27
True Story - Lawan Atau Teman: Indigo Part 3
28
True Story - Lawan atau teman: indigo part4
29
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 5
30
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo Part 6
31
Author Kembali - Kabar baik dan kabar buruk
32
True Story - Lawan Atau Kawan: Indigo End
33
Penderitaan: Bab 1
34
POV Kevin: Penderitaan: Bab 2.
35
POV Kevin: Penderitaan: Bab 3
36
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 4
37
Pov Kevin: Penderitaan: Bab 5
38
Pov Kevin: Penderitaan bab 6
39
Pov Kevin: Penderitaan Bab 7
40
POV Kevin: Penderitaan Bab End
41
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 1
42
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 2
43
POV kevin: Menggungap Misteri Bab 3
44
POV Kevin: Mengungkap Misteri Bab 4
45
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 5
46
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 6
47
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab 7
48
Pov Kevin: Mengungkap Misteri Bab End
49
Pov Kevin: Perjuangan Terakhir Bab 1
50
Last Pov Kevin: Perjuangan Terakhir 2
51
Perjuangan Terakhir Bab 3
52
Perjuangan Akhir Bab 4 TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!