Permulaan

Malam harinya, Fatur keluar dari kosnya. Angin malam menyapa kulitnya. Namun tidak menggetarkan hatinya. Ia mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu di dalam kegelapan malam. Dia memakai topeng hitam untuk menutupi wajahnya.

Matanya penuh dengan kehati-hatian saat berjalan menuju sebua rumah, yang sudah beberapa hari terakhir sudah dia awasi. Dengam gesit Fatur menyelinap masuk kedalam rumah melewati jendela yang lupa di kunci.

Didalam kegelapan menyelimuti ruangan. Fatur bergerak dengan cekatan, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Ia memastikan penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya.

 Dia mulai menyusuri isi rumah. Membuka laci demi laci, dan memeriksa lemari dengan hati-hati. Namun dia sengaja tidak mengacak-acak pakaian di dalamnya. Seolah-olah memiliki tujuan tersembunyi di balik tindakannya.

Dia mendapatkan perhiasaan berkilauan dalam redup cahaya senter kecilnya. Dia juga mendapatkan uang kontan langsung masuk ke dalam tasnya. Setelah memastikan semuanya sudah dia dapatkan, dia meninggalkan rumah tersebut. Diluar, di bawah bayang-bayang pepohonan, Fatur berhenti sejenak menatap rumah yang baru di curinya. Dia mengukir senyum di balik topengnya.

Sementara itu di rumah Hasan Bahri, Hasan nampak kesal saat melihat uang nya tidak terlihat lagi di meja rias. Wajahnya memerah. Napasnya memburu lalu dia berteriak memanggil Eva istrinya yang baru satu bulan di nikahinya.

"Eva!" teriaknya bergema. Eva yang mendengar namanya di panggil, buru-buru mendatangi suaminya.

"Ada apa bang? Kenapa teriak-teriak! Apa ada yang salah?"

"Mana uangku?" tanya Hasan menatap tajam Eva.

"Kenapa uangku selalu hilang secara misterius? Apa kau yang ambil? Setidaknya jika kau ambil, sisa kan sedikit untukku! Kau pikir, hanya kau saja yang butuh duit, sedangkan aku tidak!"

Eva nampak bingung, "Aku tidak mengambilnya bang! Aku hanya mengambil uang yang kau berikan saja. Tapi jika kau belum memberikannya, aku tidak mengambilnya tanpa seizinmu!"

"Jangan pura-pura tidak tahu Va... Aku tahu kau suka menghabiskan uang yang ku beri untuk belanja pakaian, sepatu dan barang-barang lainnya. Pasti uang yang selalu hilang selama ini, itu karena dirimu kan? Kau yang ambil, untuk membeli barang-barang mahal."

"Aku tidak mengambilnya bang. Untuk apa? Bahkan aku tidak menyentuhnya!" jawab Eva membela diri.

"Jangan bohong, Eva!" Hasan mendekat. Jarinya menunjuk wajah sang istri.

"Kau pikir aku nggak tahu, diam-diam kamu pasti mengambil uang itu untuk kepentingan diri sendiri!"

Eva mulai menangis, suaranya gemetar.

"Bang, kenapa kamu selalu berpikir uangnya aku yang ambil? Kenapa kau berpikir buruk tentangku? Kalau uangnya hilang, mungkin ada seseorang mengambilnya dan jelas, itu bukan aku!"

"Ada orang lain?" Hasan tertawa menyepelekan.

"Rumah ini selalu terkunci! Nggak ada yang bisa masuk kecuali kamu! Nggak usah banyak alasan!"

Eva mengelengkan kepalanya, dia sangat sedih karena suaminya selalu menuduhnya mengambil uang suaminya yang hilang.

"Aku istrimu bang. Kenapa kamu selalu curiga padaku? Kenapa kami selalu menggangap aku ini musuhmu? Kita ini keluarga."

"Tutup mulutmu!" bentak Hasan membuat Eva tersentak kaget.

"Jangan sok bicara soal keluarga! Kamu nggak pernah peduli dengan apa yang aku perjuangankan! Kamu cuma tahu cara menghabiskan!"

" Bang. Aku capek disalahkan terus-terusan! Aku nggak pernah mengambil uangmu. Kenapa kamu menuduhku seperti ini!"

"Kalau kau nggak jujur, aku akan cari tahu siapa pelakunya dan jika kau yang mengambilnya, kau akan tahu akibatnya!" ujar Hasan dengan nada mengancam.

Eva tidak tahan lagi. Ia berlari keluar kamar dengan air mata mengalir di pipinya, meninggalkan Hasan yang masih berdiri dengan napas memburu, seperti binatang buas yang kehilangan mangsanya.

Di Kos Fatur

Di sudut kamar kos kecilnya, Fatur menyandarkan punggung ke kursi, menatap layar laptop dengan senyum tipis. CCTV yang ia pasang di rumah ayahnya menampilkan semua adegan itu dengan jelas. Hasan yang berteriak, Eva yang menangis, dan suasana rumah yang penuh dengan ketegangan.

Fatur tertawa kecil, lalu menggumam, “Kau marah, Ayah? Bagus. Itu baru permulaan.”

Ia menggerakkan mouse, memperbesar tampilan wajah Hasan yang merah padam di layar. Matanya menyipit, penuh kebencian yang telah dipendam bertahun-tahun.

“Dulu kau menghancurkan ibuku. Sekarang, lihat bagaimana aku menghancurkan hidupmu," bisiknya dingin, penuh dendam yang membara.

Ia menutup laptopnya dengan santai, lalu menyandarkan tubuhnya sambil menyeduh kopi. Di luar sana, matahari mulai naik, tapi bagi Fatur, hari baru ini hanyalah panggung lain untuk permainan yang telah ia mulai. Sebuah permainan yang tidak akan berakhir baik untuk Hasan.

Terpopuler

Comments

Abu Yub

Abu Yub

lanjut thor .makin seru /Joyful/

2025-03-23

1

lihat semua
Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!