Untukmu Astuti

Flashback

Fatur bergerak cepat, memanjat dinding rumah burung walet yang sunyi dalam gelap malam. Topeng dan masker hitam menutupi wajahnya, menyembunyikan identitasnya. Dengan hati-hati, ia mencuri beberapa sarang walet. Selain menjadi sumber penghasilan yang selama ini menjadi pelariannya dari kemiskinan.

Dia juga sengaja melakukannya karena ingin membuat nama baik ayahnya tercemar karena kelakuannya. Biar supaya ayahnya malu. Sama seperti beliau dulu membuat dia dan uminya malu, dan jadi cemoohan orang dikampung. Dipagi harinya sarang burung wallet itu dijualnya dan buat judi.

Malam berikutnya, Fatur baru saja pulang dari main judi.

Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

Dari arah berlawanan, Vino muncul bersama teman-temannya, masing-masing membawa senjata tajam di tangan. Tatapan mereka penuh amarah dan dendam. Vino melangkah maju, suaranya bergetar karena kebencian yang telah lama terpendam.

"Kali ini, kau tidak akan lolos, Fatur. Sudah waktunya semua ini berakhir."

Fatur menatap mereka tanpa gentar, meskipun ia tahu dirinya seorang diri. "Jadi kalian pikir, mengeroyok dengan senjata membuat kalian lebih jantan? Dasar pengecut."

Tanpa aba-aba, serangan dimulai. Teman-teman Vino menyerang Fatur dengan ganas, namun Fatur, dengan tangan kosong, melawan balik. la menghajar mereka satu per satu dengan kekuatan dan keberanian. Bagi Fatur, hanya laki-laki tanpa nyali yang suka main keroyokan.

Di tengah pertarungan brutal itu, Astuti tiba-tiba muncul, berlari ke arah mereka dengan panik.

"Hentikan! Sudah cukup!" teriaknya sambil berdiri di antara Fatur dan Vino.

Namun, tragedi tak bisa dihindari. Salah satu teman Vino, dalam kepanikan, mengayunkan kapak yang seharusnya diarahkan pada Fatur. Namun, kapak itu justru menghantam pundak Astuti. Tubuhnya jatuh dengan suara yang menggetarkan hati. Waktu terasa berhenti.

"ASTUTI!" Fatur berteriak, matanya membelalak melihat darah yang mengalir dari tubuh gadis itu. la berlutut di sampingnya, memegang tubuh Astuti yang semakin lemah.

"Aku... mencintaimu..." bisik Astuti dengan suara yang hampir tak terdengar. Senyumnya samar, sebelum matanya tertutup untuk selamanya.

Kemarahan menguasai Fatur. Dengan darah mendidih, ia bangkit dan menyerang Vino serta teman-temannya dengan brutal, tanpa belas kasihan. Mereka berlari ketakutan, meninggalkan Fatur yang kini seperti monster yang kehilangan akal.

Fatur berlutut kembali di samping tubuh Astuti, memeluknya erat sambil menangis. la menggenggam tangan gadis itu yang sudah dingin, berbisik dengan suara gemetar.

"Maafkan aku... Maafkan aku nggak bisa melindungimu..."

Dengan tatapan penuh dendam, ia memandang ke arah Vino yang berlari menjauh. "VINOOOO!" teriaknya, suaranya menggema di udara malam. "Nyawa dibalas dengan nyawa! Aku akan pastikan ada pemakaman lain setelah ini!"

Fatur memeluk tubuh Astuti yang kini tak bernyawa, merasakan seluruh dunia runtuh di sekelilingnya. Dalam hatinya, ia bersumpah akan menuntut balas, meskipun harus menghancurkan semuanya.

Flashback off

Fatur duduk di depan laptopnya, menatap layar kosong yang menunggu diisi kata-kata. Pikirannya terus dipenuhi kenangan tentang Astuti, sahabat yang telah pergi. Ia mengambil napas dalam, lalu mulai mengetik dengan judul "Untuk Astuti, sahabat terbaikku."

Saat malam seperti biasanya Fatur menulis ditemani secangkir kopi. Setelah menyeruput kopi dan menghela napas panjang. Fatur mengetik sebuah tulisan yang akan dia persembahkan untuk sahabatnya.

"Ini untukmu As... Supaya persahabatan kita abadi di tulisanku ini. Walaupun nanti kita telah tiada, semua orang akan mengenang persahabatan kita."

Astuti dan Fatur tengah menikmati kopi disebuah warung.

"Fatur, tahu nggak? Kalau kita nggak punya uang, bukan berarti kita nggak punya harga diri. Jangan pernah lupa itu."

Fatur mengangkat alis, tersenyum sinis.

"Harga diri? Kita nggak bisa beli nasi pakai itu, As"

Astuti tertawa kecil, menepuk pundaknya Astuti.

"Ya makanya kerja keras, Bapak calon penulis terkenal yang malas!" ledek Astuti memukul bahu Fatur. Fatur menghembuskan napas pelan. Fatur memainkan sendoknya di dalam gelas.

"Hidup ini keras, As. Kadang aku pikir, kenapa kita nggak menyerah aja?"

Wajah Astuti berubah serius, menatap Fatur tajam.

"Karena menyerah itu artinya kita kalah. Aku nggak mau kalah sama dunia ini. Dan kamu juga nggak boleh."

Didunia nyata, Fatur menghela napas berat.

"Astuti adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku bangkit, bahkan saat aku merasa tidak ada lagi alasan untuk terus hidup. Dia tidak hanya sahabat, dia adalah kompas dalam hidupku yang penuh kekacauan."

Flashback

kisah persahabatan mereka terus diceritakan dalam bentuk dialog di dalam karya Fatur yang ujung-ujungnya akan dia kirim ke penerbit.

Astuti berdiri di tengah sawah, memandang langit sore yang mulai gelap.

"Fatur, lihat deh! Langitnya cantik banget. Kamu harus belajar menghargai hal-hal kecil kayak gini." ujar Astuti tersenyum.

Fatur menggeleng, menyentuh tanah becek dengan sepatu usangnya.

"Langit nggak kasih kita makan, As." jawab Fatur asal. Kesalahan berpikir.

Astuti tertawa keras, menoleh padanya.

"Dasar nggak peka! Langit itu kasih harapan. Kalau kamu terus lihat ke bawah, kapan kamu bisa maju?"

Fatur menunduk, lalu tersenyum kecil

"Mungkin kalau ada orang kayak kamu, aku bisa."

Kembali ke kamar Fatur, dia berhenti sejenak dari mengetik, matanya berkaca-kaca.

Fatur berbicara sendiri, suaranya bergetar.

 "As... Aku harap kamu tahu betapa berharganya kamu buat aku."

Dia kembali mengetik, melanjutkan cerita ke malam tragis itu.

"Malam itu segalanya berubah. Kami bertengkar kecil sebelumnya, hanya karena hal sepele. Aku nggak pernah tahu itu adalah percakapan terakhir kami yang damai."

Astuti berteriak di tengah pertarungan antara Fatur dan Vino.

 "Berhenti! Jangan begini, Fatur!"

Fatur marah, memukul salah satu teman Vino "Pergi, Astuti! Ini bukan urusanmu!"

Astuti menangis, berdiri di depan Fatur untuk melindunginya.

"Kalau kamu nggak mau berhenti, aku yang akan berhentiin semuanya!"

"Dan malam itu, aku kehilangan satu-satunya orang yang selalu berdiri di sisiku." ketik Fatur. Air matanya berderai.

Astuti tersenyum lemah di pangkuan Fatur, suaranya hampir tak terdengar.

"Fatur... Aku mencintaimu. Jangan berhenti hidup, ya?"

Fatur di dunia nyata, membaca ulang karyanya.

"As... Aku janji, aku akan terus hidup. Tapi aku nggak akan pernah lupa sama kamu."

Kisah Fatur dan Astuti berakhir dengan Fatur menatap layar laptopnya yang kini dipenuhi kata-kata. Fatur tersenyum kecil di tengah air mata yang mengalir di pipinya. Lalu Fatur mengupload naskah itu disebuah aplikasi menulis. Yang membaca cukup banyak dan banyak juga yang mengomentari naskahnya.

Menulis adalah caranya menyembuhkan diri, tetapi kali ini ada tujuan lain. Ia ingin menggunakan cerita ini untuk mengingatkan dirinya bahwa ada hal yang belum selesai. Masih ada teka-teki yang harus ia pecahkan, terutama tentang Vino dan teman-temannya.

Fatur memutuskan untuk mencari teman-teman Vino.

Langkah pertamanya adalah mendatangi kedai kopi tempat Vino dan gengnya biasa nongkrong. Setelah bertanya-tanya, ia menemukan salah satu teman Vino, seorang pria bertubuh kecil bernama Reno, yang kini bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran kecil.

“Reno,” panggil Fatur, duduk di salah satu meja restoran. Reno terlihat terkejut, tetapi tidak sepenuhnya terkejut.

“Kau... Fatur?” tanyanya, suara sedikit gemetar.

Fatur mengangguk, mencoba menahan amarahnya

"Aku butuh bicara.”

Malam itu, Reno menceritakan kisahnya. Menceritakan latar belakang Vino dan bagaimana kehidupan Vino dirumahnya.

"Tapi soal malam itu...” Reno terdiam, menunduk dengan ekspresi penuh rasa bersalah

"Aku... aku tak tahu kalau itu akan berakhir seburuk itu. Kami hanya ingin memberimu pelajaran."

Fatur mengepalkan tangan, tetapi ia tahu menahan emosinya adalah hal yang benar.

"Apa lagi yang kau tahu tentang Vino? Siapa yang paling dekat dengannya?”

Reno ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab.

"Ada Saka. Dia yang selalu ada di sisi Vino. Kalau kau ingin tahu lebih banyak, temui dia. Tapi hati-hati, Saka tidak seperti aku. Dia... bisa sangat berbahaya.”

Fatur mengangguk, mencatat nama itu di kepalanya. Setelah selesai berbicara dengan Reno, ia tahu jalannya semakin panjang, tetapi juga semakin jelas. Ia akan mencari Saka dan mendapatkan kebenaran. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Astuti, yang telah memberikan segalanya untuk melindunginya.

Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!