Hari-hari yang mencekam

Terhitung sudah enam bulan Fatur dipenjara. Kehidupan di penjara sangat menyenangkan baginya. Dia mendapat teman-teman baru, dan tidak ada yang berani mengusik dirinya. Sepertinya biasanya, Fatur melakukan kegiataan demi kegiataan dipenjara.

 Sore itu Halimah dan Agus membesuknya. Hanya dua orang itu yang rajin membesuknya setiap hari. Fatur sangat bersyukur masih ada yang peduli padanya. Sesekali warga desa juga beberapa kali pernah membesuknya.

"Ayahmu Hasan sudah keluar dari penjara. Eva dan Hasan kini telah pindah ke Pekanbaru. Kami mendengar Eva tidak lagi berada di rumah sakit jiwa disana, Ayahmu telah membawa pulang dan tinggal bersama di rumah yang baru saja di beli di Pekanbaru." jelas Agus membuka pembicaraan.

Fatur hanya tersenyum dingin, lalu membisikkan sesuatu di telinga Agus.

"Kamu yakin mau melakukannya?" tanya Agus mengerutkan keningnya. Fatur hanya menganguk pelan.

"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Saya akan lakukan." jawab Agus kemudian.

"Terima kasih Gus..." ucap Fatur tersenyum.

"Saran umi, cepat selesaikan masalah ini. Jangan berlarut-larut, kesan nanti gak baik.... Cukup Vino yang sudah menjadi korban, jangan ada Vino kedua lagi..." Halimah mengingatkan Fatur. Fatur menganguk perlahan.

"Maaf tentang Vino mi..." jawab Fatur lirih.

Halimah hanya tersenyum, "Tidak apa-apa Fatur... Umi hanya mengingatkan kamu saja. Umi nggak marah kok... Umi udah nerima semuanya kok. Mungkin udah takdir Vino seperti itu..." jelas Halimah.

Di Pekanbaru

Semakin hari Eva tidak menunjukkan adanya kesembuhan pada dirinya. Semakin hari malah semakin parah, Hasan memutuskan untuk memberikan Eva obat penenang. Hasan tidak pernah menyerah, dia masih punya harapan, kalau Eva akan sembuh.

Namun keputusasaan itu kembali menyerang hidupnya, saat Hasan di berhentikan secara mendadak dari pekerjaannya sebagai manajer di perusahaan kecil. Hasan juga difitnah, kalau Eva itu bukan istrinya melainkan wanita malam yang disewanya tanpa ikatan pernikahan. Hasan merasa terpojok, dia tidak bisa menunjukkan surat nikah, karena mereka hanya nikah siri.

Rumor tentang pembunuhan berantai di desa Pasir, juga menyebar di tetangganya di Pekanbaru. Hasan dituduh melakukan pembunuhan itu. Paket, surat ancaman, dan teror lainnya mulai berdatangan ke rumah Hasan. Dulu, rumahnya aman damai, kini menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya.

Hasan semakin gelisah dan terpuruk. Apalagi orang-orang pada membencinya. Ada beberapa tetangga yang terang-terangan ingin mengusirnya. Saat malam tiba, setelah pulangnya Hasan dari mencari pekerjaan, dia menemukan coretan didinding.

"Kamu tidak akan pernah merasa aman. Dimana pun kamu berada." tulisan didinding itu.

Hasan menatapnya dingin, sedangkan Eva yang trauma melihat warna merah, seketika berteriak histeris. Hasan menenangkan sang istri, memeluknya erat. Membawanya kekamar, dan menghilangkan tulisan.

Hasan mengerutkan keningnya saat mendengar pintu depan rumahnya diketuk. Hasan membuka pintu, namun dia tidak melihat siapapun. Dia hanya melihat ada boneka berlumuran darah. Hasan mengeryitkan keningnya.

"Teror ini sama seperti teror sebelumnya. Apakah, pelakunya orang yang sama?" pikir Hasan.

Dia cepat membuang boneka itu, supaya tidak dilihat oleh istrinya. Baru saja pulang membuang boneka itu, Hasan kembali dikejutkan oleh teriakan sang istri dari dalam kamarnya dan tulisan yang ada didinding rumah bagian luarnya. Hasan menghela napas kasar. Dia membiarkan tulisan itu, segera memasuki rumah.

Mengkunci pintu dan segera menemui istrinya yang berteriak dan melemparkan barang-barang. Teror yang sama. Boneka berumuran darah. Kemungkinan dilempar dari jendela yang terbuka. Bayang-bayang ketakutan menghantui kehidupan Hasan. Hasan tidak tahu siapa yang menerornya. Kini para tetangga juga menjaga jarak padanya. Hasan makin hari, makin terpukul dengan keadaannya.

Hidup Hasan makin terpuruk. Eva yang terus berteriak dimalam hari, surat ancaman, teror boneka dan tatapan orang-orang memandangnya benci. Puncak teror nya adalah saat Hasan membersihkan dapur, dia mendengar langkah kaki diluar rumah. Hasan mendekati jendela, dan melihat bayangan dikegelapan, diiringi dentuman keras pada jendela. Jendela pecah saat yang dia kira bayangan itu, melemparkan batu dan seperti berusaha masuk kedalam rumah. Hasan otomatis mundur kebelakang, saat melihat wajah menyeramkan itu. Hasan segera menutup tirai jendela. Dia melihat secarik kertas digulungan batu. Seperti biasa tulisannya selalu berisi ancaman.

"Tidak ada rasa tenang dihatimu.

Dosa-dosamu akan menghantui..." setelah membaca Hasan bergegas masuk kedalam kamarnya.

Dia berpikir, dia tidak bisa mengabaikan teror ini. Dia sadar, ada seseorang yang mengincarnya.

Paginya Hasan bergegas kekantor polisi dan menceritakan semua teror yang dia alami.

Dia berharap polisi memberi perlindungan. Namun laporan itu terabaikan. Para polisi tidak terlalu menggubrisnya. Namun ada salah satu polisi menatap Hasan dengan curiga.

"Pak, ini buka hanya sekedar laporan ancaman biasa." ujar petugas itu.

"Saya mendengar dari teman saya yang bertugas di Panipahan, saya mendengar rumor pembunuhan berantai itu. Nama anda sering disebut dalam laporan warga. Mungkin ada sesuatu yang bisa anda jelaskan?" tanya sang petugas. Hasan terdiam. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

"Saya tidak tahu soal itu. Saya difitnah. Ada seseorang yang ingin menjatuhakan saya..." balasnya dengan nada tidak terima. Seolah-olah petugas mencurigainya.

"Baiklah pak. Kami akan menyelidiki lebih lanjut." jawab sang petugas dengan wajah datar.

Hasan keluar dari kantor polisi dengan perasaan campur aduk. Disepanjang perjalanan menuju rumahnya, orang-orang menatap menghakiminya.

Sedangkan di penjara, Agus, Halimah dan Fatur nampak mengobrol dengan serius. Halimah menghela napas pendek.

"Fatur, umi paham perasaanmu. Tapi jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri karena ini. Sudah cukup, nak. Jangan sampai kamu mengorbankan kebahagiaanmu untuk mengejar bayangan masa lalu."

Namun, Fatur hanya terdiam. Di balik wajah tenangnya, namun pikiran kriminal.

Sementara itu, Hasan semakin kesulitan mengendalikan keadaan di Pekanbaru. Eva jatuh sakit, kemungkinan karena trauma yang tak kunjung usai. Hasan mencoba membawanya ke dokter, tetapi biaya pengobatan yang mahal menjadi halangan.

Ditengah kegelisahannya. Suara disebrang telepon terdengar dingin, "Hasan, kamu tidak akan pernah bisa lari... Kamu pikir kamu bisa menyelamatkan Eva? Menyelamatkan dirimu sendiri saja kamu tidak akan mampu."

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" teriak Hasan frustasi.

Seseorang itu hanya tertawa, sebelum memutuskan telepon sepihak. Hasan menatap layar hpnya kesal. Dia sadar, orang-orang itu akan memberi waktu hidup yang sedikit untuknya.

Malam itu Hasan berusaha untuk tidak tidur. Dia mau berjaga-jaga kalaunada teror lagi datang kerumahnya. Namun karena lelah, Hasan akhirnya tertidur di ruang tengah. Pukul satu dini hari, dia terbangun saat mendengar suara langkah berat masuk kedalam rumah. Hasan mengambil pisau dapur dan berjalan mendekati sumber suara. Didekat pintu, dia melihat bayangan seseorang berdiri mendekatinya. Hasan menghela napas, mengangkat pisaunya. Lalu berteriak.

"Siapa kau?"

Bayangan itu berbalik perlahan. Wajahnya tidak jelas terlihat di kegelapan, tetapi ada senyum dingin di sana. Hasan mundur beberapa langkah, tangannya gemetar. Orang itu hanya berkata, "Waktumu sudah habis, Hasan."

Sebelum Hasan sempat bereaksi, bayangan itu menghilang ke dalam kegelapan. Hasan terduduk lemas, keringat dingin membasahi tubuhnya. Bayang-bayang dosa masa lalu kini benar-benar menghantuinya.

Terpopuler

Comments

MifadiruMzn

MifadiruMzn

Ayo tebak siapa yang teror Hasan dan Eva?

2024-12-14

0

lihat semua
Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!