Fatur meringkuk di kamar selnya. Pikirannya kosong, namun di hatinya penuh dengan luka.
Sudah tidak ada lagi yang tersisa...
Selain sekujur tulang yang berbalut daging ini...
Semuanya telah pergi, meninggalkannya dalam kesedihan...
Sejak kecil, hidupnya sudah penuh dengan penderitaan...
Sekarang?...
Luka itu kembali mengoyak kehidupannya...
Tidak ada yang tersisa...
Selain nyawa di badan...
Dia tumbuh menjadi sosok pemuda tanpa kasih sayang...
Hidup di keluarga broken home itu tidak mudah...
Kesehatan mental yang menjadi pertaruhannya...
Kini sudah tidak ada tempat untuk dia pulang...
Ibunya pergi...
Ayahnya adalah sumber luka baginya...
Eva yang berkhianat demi harta...
Astuti yang telah pergi untuk selama-lamanya...
“As... Aku merindukanmu... Kenapa kau pergi begitu cepat?” lirihnya.
Dari luar sel, terdengar suara langkah mendekati kamar sel. Namun Fatur nampak tidak peduli. Dia sibuk dengan pikirannya.
Seorang petugas membawa nampan berisi makanan, dia mengeser nampan itu melalui celah kecil di bawah jeruji.
“Makanlah... Kau butuh tenaga untuk tetap hidup...” ujar petugas itu dengan pelan namun tegas.
Fatur hanya diam. Dia tidak berminat untuk makan. Dia tidak selera.
Dia hanya melirik sebentar, kearah nampan yang berisi roti dan juga segelas minuman, tanpa ingin menyentuhnya.
Petugas berumur 40 tahun itu menghela napas pelan...
“Jika kau seperti ini, sama saja kau menyiksa dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, itu adalah takdir...”
Fatur hanya diam...
Petugas itu berjongkok di luar sel, tatapannya penuh kelembutan.
“Kau tidak sendirian, Nak.”
Fatur tertawa sinis. Dia menatap polisi itu dengan tatapan sendu.
“Tidak sendirian? Siapa yang peduli dengan pria bajingan ini?” tanyanya dengan nada sinis.
“Astuti mati. Tidak ada yang peduli denganku, bahkan keluargaku tidak peduli denganku. Aku sendirian, itu faktanya...”
Polisi itu terdiam sejenak, lalu menghembuskan napas. “Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Tapi, kamu tidak boleh terpuruk dengan keadaan ini. Kau harus bangkit untuk dirimu sendiri.”
Polisi itu kembali terdiam...
“Aku kehilangan putraku lima tahun yang lalu, karena perampokan...”
Fatur juga ikut terdiam.
“Semua orang menjalani takdirnya masing-masing... Kita tidak perlu meratap dengan apa yang terjadi... Tuhan tahu kita kuat, maka dari itu kita dikasi cobaan...” jelas sang polisi dengan suara tercekat.
“Satu bulan kepergian putraku, istriku pun menyusul putraku... Dia tidak sanggup hidup tanpa putra kami, yang telah kami nanti setelah 15 tahun pernikahan...”
Setelah berkata-kata, sang polisi meninggalkan kamar sel. Fatur menatap roti di atas mapan.
Dia tidak ingin makan...
Tapi perutnya juga sangat lapar...
Dia meraih pelan roti itu dan memakannya dengan pelan, bersamaan air matanya yang luruh.
Setelah itu dia kembali bersandar didinding kamar sel yang dingin. Dia tidak tahu sejak kapan dia sudah tertidur. Dia, bangun saat ada seorang polisi muda memukul besi jeruji.
Telinganya terganggu dengan suara berisik itu, dia pun menatap ke arah polisi muda yang menatapnya dingin.
Dia membuka pintu jeruji. “Bangunlah! Saat sarapan pagi, setelah itu kau ikut saya...” ujarnya dingin.
Fatur benci dengan tatapan polisi muda itu. Terkesan sombong...
Fatur keluar jeruji dengan jalan tertatih, polisi muda mengawasinya dari belakang. Memastikan Fatur tidak berulah dan mencoba melarikan diri. Dia mencuci muka dan gosok gigi.
Setelah itu, baru dia masuk ke dalam kantin penjara. Dia makan dengan tenang, mengabaikan orang-orang disekitarnya.
Setelah selesai makan, Fatur diajak disebuah ruangan, diantar oleh polisi muda itu. Fatur masuk kedalam ruang introgasi.
Fatur duduk pada kursi yang sudah disediakan. Depannya ada kursi kosong, yang akan diduduki oleh polisi yang akan mengintrogasinya.
Sesaat kemudian polisi yang ingin mengintrogasinya datang. Pintu ditutup oleh polisi muda itu.
Polisi itu menarik kursi dan duduk di hadapan Fatur. Fatur nampak diam dan menatap sang polisi dingin.
Dia sangat benci polisi...
Entah kenapa, kalau melihat polisi hatinya selalu tersulut emosi...
Tidak ada, pengalaman yang buruk saat bertemu dengan instansi ini...
Namun, saat melihat sikap mereka yang dingin dan terlihat sombong, membuat Fatur ingin mematahkan tulang mereka.
“Baiklah... Kita akan mulai introgasinya... Apa kau sudah siap Fatur Hasan Bahri?” tanya polisi itu dingin dan tegas.
Layaknya polisi biasanya...
Fatur, menatap sang polisi dengan dingin, seakan memberi kode ingin menantang polisi itu. Dia menjawab dengan datar. Dia tidak menjawab pertanyaan sang polisi.
“Kenapa kau melakukan pembunuhan itu?” tanya polisi membuka pembicaraan.
“Hanya ingin membunuh...” jawabnya dengan nada dingin, tanpa ekspresi.
Sang polisi menatap Fatur intens...
“Apa masalahmu dengannya?”
“Balas dendam...” polisi, menghela napas dan melonggarkan kancing seragamnya.
“Bisa kau ceritakan sedikit, kenapa kau dendam padanya?” Fatur diam.
Tidak menanggapi pembicaraan polisi...
“Kamu harus koperatif Fatur...” peringat polisi. Fatur tidak bergeming.
“Atas apa?” tanya polisi kembali.
“Kematian..."
“Siapa?”
“Teman.”
Sejenak suasana menjadi hening. Polisi tidak mengalihkan pandangannya terhadap Fatur, begitupun Fatur yang terus menatapi dingin sang polisi. Seakan-akan menantang.
“Kenapa dia membunuh temanmu?”
Fatur tersenyum tipis. “Balas dendam...”
Polisi menghela napas kasar. “Bisa kau ceritakan kenapa dia membunuh temanmu itu? Tolong, jangan bertele-tele. Jangan buang waktu kami, hanya menanyai orang sepertimu.” ucap polisi dingin.
Fatur tersenyum dingin. “Kenapa, orang-orang seperti kalian itu tidak sabaran sih? Aku suka bermain-main.”
“Kenapa kau tiba-tiba berubah? Tidak seperti yang diceritakan rekanku, bahwa kau sangat terpukul dengan masalah ini. Tapi setelah melihatmu, aku yakin kau sama sekali tidak menyesali perbuatanmu itu.”
Fatur tertawa pelan. “Aku suka bermain-main pak. Yang kau lihat ini, yang mereka lihat kemarin tidaklah sama... Berhati-hatilah.”
“Batas bermainmu telah habis. Kau harus ceritakan semuanya, dan ingat jangan mencoba untuk mengancam polisi...”
Fatur menyandarkan tubuhnya di kursi. Tersenyum dingin...
“Tapi aku masih ingin bermain pak. Ayolah, kita bermain sebentar. Rileks...” ujarnya santai tanpa rasa takut.
“Ceritakan semuanya...” polisi mengeluarkan pistol dari pinggangnya dan meletakkan diatas meja.
Pandangan Fatur teralih menatap pistol itu dingin...
“Aku akan bercerita setelah selesai bermain...”
“Ini bukan tempat mainan. Ceritakan sekarang juga...”
Polisi itu nampak tidak sabar dan mengebrak meja dengan penuh emosi. Fatur hanya tertawa dengan santai.
“Tidak usah mengancamku pak. Hidupku lebih menakutkan daripada pistol itu, dan emosimu itu tidak akan membuatku takut...”
“Apa kau tidak bisa koperatif?”
Fatur hanya tersenyum...
Dia diam menatapi polisi yang nampak emosi...
Lalu dia tertawa...
“Aku suka melihat ekspresi Bapak seperti itu. Lucu...” tawa Fatur meledak, membuat polisi tampak kurang sabar.
“Baiklah jika kau ingin bermain. Apa yang kau inginkan?” tanya polisi akhirnya.
“Aku hanya ingin melihatmu marah dan tidak bisa menahan emosi mu sendiri...” polisi menghela napas kasar.
Fatur memiringkan kepalanya dan tersenyum tipis,
“Itu yang terjadi padaku saat aku melihat temanku terbunuh...”
“Kau tidak bisa mengendalikan emosimu?”
Fatur menganguk...
“Kenapa lelaki itu membunuh temanmu itu?”
“Aku berkelahi dengan Vino, temanku hendak menghentikanku dan menolongku dari serangan Vino. Namun kapak itu mengenai punggungnya, dan akhirnya menemui ajalnya.”
Hening...
Hanya, ada deru napas keduanya yang terdengar...
“Aku, hanya melakukan apa yang dilakukan oleh seorang teman.”
“Tapi, tindakanmu salah sampai harus membunuhnya...”
“Hmmm...” Fatur menatap sang polisi dingin.
“Apakah tindakannya benar, membunuh teman saya.”
“Mungkin dia tidak sengaja...”
Fatur tersenyum tipis. ”Kalau gitu, aku juga nggak sengaja melakukannya...”
“Kau, jelas melakukannya dengan sengaja...”
“Dia, juga jelas melakukannya dengan sengaja...”
“Apa yang kau dapat dari semua ini Fatur?”
“Keadilaan...”
“Keadilan, macam apa yang kau dapat dari membunuh hah?”
“Keadilan, nyawa dibalas dengan nyawa. Hanya orang sepertiku yang paham itu...”
“Itu bukan keadilan...Itu kejahatan dan pembunuhan...”
“Bagimu itu kejahatan, bagiku itu adalah keadilan...”
Polisi terdiam sejenak, dia menatap lekat Fatur.
“Kau, tahukan ini bukan akhir?”
“Ini baru permulaan Pak...”
“Permulaan apa?” tanya polisi dingin.
“Permulaan untuk kehancuran mereka yang berusaha mengusik hidupku... Satu persatu mereka akan ku bawa ke neraka. Akan, aku ajarkan rasa sakit yang sebenarnya...”
“Kamu tidak memiliki tugas untuk mengeksekusi orang...”
Fatur terdiam. Dia terus menatap polisi dingin...
“Kau tahu kan, kau tidak akan bisa melarikan diri... Lalu, bagaiman kau bisa membalas mereka?”
“Aku tidak akan lari Pak. Aku akan menunggu waktu tiba untuk menghancurkan mereka termasuk anda.” ujar Fatur dengan sinis. Dia suka memancing emosi polisi.
Polisi menghela napas, mencoba menguasai dirinya.
“Kau mengancam petugas? Apa kau sadar, apa yang kau bicarakan ini?”
Fatur tersenyum dingin, menatap lurus ke arah Polisi.
“Ancaman? Tidak Pak. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Keadilan tidak ada di dunia ini, aku hanya mengambilnya dengan cara ku sendiri.”
Polisi mengetuk meja, suaranya tegas.
“Keadilan macam yang kau maksud? Kau hanya pembunuh. Tidak lebih. Sama sepertinya. Apa kau merasa hebat setelah membunuhnya? Masalahmu selesai? Kamu salah, justru ini akan membuat hidupmu semakin rumit. Kau menghancurkan masa depanmu sendiri."
Fatur tertawa kecil.
“Orang-orang sepertiku akan mengatasi masalah dengan seperti itu. Karena orang sepertiku, tidak ada tawar menawar. Aku tahu, kau tidak akan mengerti. Keadilan untuk mereka yang berani mengambilnya, bukan bersembunyi di balik meja dan kekuasaan. Apa yang kau mengerti tentang hidup dan keadilan. Mereka yang benar-benar mengerti itu, hanya orang yang merasakan langsung.”
“Mungkin kau merasa menang sekarang. Tapi setiap langkah sudah terhitung. Penjara akan menjadi akhir dari hidupmu!”
Fatur mencondongkan tubuhnya ke arah Polisi.
“Penjara bukan akhir Pak. Ini baru awal dari pertualanganku. Ini hanya tempat persinggahan sementaraku, dan saat aku keluar...” Fatur sengaja mengantungkan kalimatnya, menunggu reaksi dari polisi.
“Akan lebih banyak nyawa, yang harus dibayar dengan nyawa...”
“Kau benar-benar Iblis...” desis Polisi mengamati ekspresi Fatur.
Fatur hanya tersenyum dingin...
Ruangan introgasi terasa memanas. Bukan karena suhu ruangan, namun karena amarah dan kesal bercampur di dalam dada mereka masing-masing.
Polisi itu berusaha mengendalikan emosinya. Tetapi, kata-kata Fatur mampu membuatnya tersulut emosi. Namun dia berusaha untuk tetap tenang.
Sang polisi, mengamati ekspresi wajah Fatur dengan seksama. Tidak ada penyesalan yang terukir dari wajahnya. Tidak ada ketakutan. Tenang...
Hanya senyum dingin yang terus terukir dari wajahnya...
Sang polisi menyandarkan tubuhnya di kursi, mencoba meredakan amarah yang berkecamuk dalam pikirannya.
“Jadi kamu anggap, penjara ini hanya persinggahan?” tanyanya, dengan suara yang berusaha setenang mungkin.
Fatur menganguk dengan santai dan tersenyum dingin. “Tentu saja... Aku tidak selamanya akan disini pak...”
“Apa kamu yakin, kau akan lolos dari jeratan hukum?” sang polisi menatap Fatur tajam.
“Penjara bukan tempat bermain... Penjara adalah tempat seseorang menerima hukuman akibat perbuatan mereka sendiri...” tegas sang polisi.
Fatur kembali tersenyum dingin. “Hukuman bagi yang tidak berduit ya, pak? Jika mereka berduit, malah masa tahanan di potong...”
Rahang sang polisi mengeras. Urat di dahinya nampak menegang, namun dia mencoba kembali tenang.
Fatur menyandarkan tubuhnya dikursi dengan santai, menatap polisi dengan dingin. “Apa yang ada anda tahu tentang hukum Pak? Hukum adil saat ada duit...” Fatur terkekeh.
Ucapan Fatur membuat sang polisi mendengus.
Polisi mengepalkan tangannya, tatapannya penuh intimidasi. Namun Fatur tidak terpengaruh sedikit pun. Justru dia sangat menikmati moment ini.
“Kau pikir, kau bisa mengolok-olok hukum?” suara polisi sedikit rendah, tapi ada penekanan setiap kata-kata yang keluar dari mulut polisi itu.
“Tidak. Tapi kalian yang meminta untuk di olok-olok dan itu fakta...” ujar Fatur tersenyum.
“Saya ada disini, karena saya tidak punya uang kan? Jika saya punya uang, mungkin saya sudah bebas...” lanjutnya dengan santai, tanpa beban.
Polisi menghela napas, dia tahu Fatur tidak mudah untuk dia intimidasi. Dia terlalu larut dalam kebencian.
Sang polisi beranjak dari duduknya dan lekas berdiri. Dia menatap Fatur lekat.
“Introgasi selesai,” ujar polisi langsung berdiri.
Sang polisi mendengus kesal, dan meningalkan Fatur sendiri di ruang introgasi.
Beberapa menit kemudian, Fatur keluar dari ruang introgasi dan di awasi oleh polisi muda yang tadi mengantarkannya. Dia kembali bersandar didalam sel. Dia tersenyum sinis, tatapannya kosong.
“Aku sudah hancur, sehancurnya...” lirihnya.
Tidak lama kemudian, seorang pria berotot dengan borgol ditangannya memasuki kamar sel Fatur. Setelah pria itu masuk, sang polisi langsung mengkunci kamar sel. Fatur nampak tidak peduli dengan pria itu.
Sang pria mendengus saat melihat Fatur yang bersandar di dinding kamar sel. Dia melangkah mendekat. Borgol di tangannya sudah di lepas, saat sudah memasuki kamar sel.
Detik kemudian, dia menendang Fatur dengan cukup keras. Fatur nampak meringis, menatap sang pria dengan tatapan bingung.
Sang pria berotot dan juga memiliki tato disekujur tubuhnya pun tersenyum sinis. Dia mencengkram dagu Fatur dengan cukup kuat.
“Dengar ya bocah... Aturan disini, siapa yang kuat dia yang berkuasa...” ucap pria itu dengan arogan.
“Jadi kau harus patuh padaku, jika kau ingin selamat di penjara ini...” sambungnya lagi dengan nada dingin.
Fatur meringis menatap tajam sang pria. Detik kemudian dia mencengkram tangan sang pria dan memelintir nya.
“Aku lebih dulu masuk kesini, kenapa kau suka-suka memberi perintah?” ucap Fatur dingin.
“Apa ini kebun binatang? Yang kuat, yang berkuasa? Berarti kamu sama binatang diluar sana, sama dong.” usai berkata-kata, Fatur menendang tulang rusuk sang pria. Pria itu terdorong kebelakang.
“Jangan panggil aku bocah paman.” ujarnya dengan senyum sinis.
“Beraninya kau melawanku... Apa kau ingin mati hah?” teriak sang pria dengan penuh emosi dan menyerang Fatur.
Pertarungan itu berlangsung sengit. Beberapa menit kemudian, para polisi datang melerai keduanya.
“Kau pikir, saat kau kuat, kau bisa memerintah orang sesukamu? Nyadar diri, kau tak ada bedanya denganku. Narapidana juga...” desis Fatur yang di pegang oleh dua orang polisi. Begitupun sang pria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Abu Yub
lanjut .mampir dong ke tempatku/Pray/
2025-03-22
0
incess
hay kak aku mampir ni jangan lupa mmpir di karya ku ya
2025-03-20
1
🐌KANG MAGERAN🐌
mampir lagi kak, semangat dr 'Ajari aku hijrah' 😊
2025-03-12
0