Tunggu aku disana

Fatur membuka laptopnya dan menyeruput kopinya. Dia membaca ulang tulisannya dan kali ini dia membuat sebuah cerpen dan rencananya akan dikirim ke penerbit juga.

Fatur berhenti sejenak, membaca ulang paragraf itu. Ia tersenyum puas. Menulis adalah caranya berbicara tentang apa yang ia rasakan, tanpa harus mengatakannya langsung kepada siapa pun.

Menulis bisa menuangkan rasa marah, sedih, dan rasa dendam yang tak terbalaskan, bisa kita balaskan dalam bentuk cerita. Dalam pikirannya, dunia ini penuh dengan ketidakadilan, dan hanya mereka yang kuat yang bisa bertahan.

Di pagi harinya Fatur mendapatkan notifikasi dari salah satu stasiun tv dan dia senang sekali mendapatkan tawaran bahwa, salah satu dari tulisannya di lirik oleh stasiun tv untuk dijadikan sinetron.

Mata Fatur berbinar. "Ini awal yang bagus," gumamnya dengan senyum kecil.

Ia merasa menang. Meskipun hidupnya penuh kekacauan, ia berhasil menciptakan sesuatu yang bisa ia banggakan. Dia sangat senang tulisannya diminati banyak orang. Fatur makin hari makan naik daun. Dia di undang menjadi pembicara dan motivator disebuah acara. Pengalaman dia menulis membuat penulis amatir terinspirasi untuk lebih giat menulis dan mengejar cita-citanya.

Apalagi dia masih muda. Diusia 21 tahun sudah menjadi penulis hebat. Dia sangat bersyukur, pengalaman hidupnya yang dia jadikan novel, diminati banyak orang.

Kesuksesan Fatur terus berkembang. Namanya semakin dikenal di dunia penulisan. Setiap acara yang ia hadiri selalu dipenuhi oleh para penulis muda dan pembaca setianya yang ingin mendengar langsung kisah perjuangannya.

Namun, di balik semua kegemilangannya, Fatur masih bergelut dengan luka-luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Ia sering mengurung diri di kamar, kembali menatap foto keluarganya. Wajah Hasan, ayahnya, dan adik-adiknya seolah berbicara padanya. Rasa rindu bercampur dendam yang tak pernah padam selalu menyusup di sela-sela kesibukannya.

Tak lupa dia juga mencari tahu dimana adik-adiknya sekarang, dan sedikit harapan bisa kembali bertemu sama uminya yang kini hilang bak ditelan bumi.

Setelah kepergiannya hari itu, Fatur tidak pernah lagi berjumpa dengan uminya.

Fatur semakin tenggelam dalam dunia tulisannya, namun setiap kata yang ia tulis kini terasa semakin berat. Ketika menulis, dia merasa seolah menulis kisah hidupnya sendiri.

Fatur menulis lagi, bukan hanya untuk menciptakan cerita, tetapi untuk menciptakan jalan bagi dirinya sendiri menuju penebusan, atau kehancuran.

disore hari, Fatur melangkah pelan menuju makam Astuti, teman baiknya yang rela terbunuh demi menyelamatkannya dari maut.

Fatur duduk bersila disamping makam Astuti. Dengan tangan gemetar, dia membuka surah yassin dan membacanya perlahan. Fatur menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. Namun, setiap ayat yang dia baca mengingatkan dia kembali di kejadian kelam itu.

Bayangan malam itu kembali membanjiri pikirannya. Saat Astuti berlari ke arahnya, berusaha melindunginya dari amukan Vino dan teman-temannya. Bagaimana tubuh mungil gadis itu berdiri di antara Fatur dan bahaya, meneriakkan kata-kata penuh keberanian, "Hentikan!"

Namun, keberanian itu harus dibayar mahal. Fatur teringat jelas bunyi kapak yang menghantam pundak Astuti, sebuah suara yang kini selalu menggema di dalam benaknya. Tubuh Astuti jatuh ke tanah dengan keras, wajahnya menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Fatur berusaha menahan air matanya saat ingatan itu makin menyayat hati.

"Aku... mencintaimu..." bisikan terakhir Astuti malam itu kembali menggema dalam pikirannya. Mata gadis itu perlahan tertutup, meninggalkan Fatur dalam kesendirian yang gelap dan dingin.

Fatur menghentikan bacaannya, tangannya gemetar tak terkendali. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh, membasahi lembaran kitab di tangannya.

"Maafkan aku, Astuti... Aku nggak bisa melindungimu..." gumamnya dengan suara serak.

la memandang nisan itu, seolah-olah berharap Astuti bisa mendengarnya.

 "Seandainya aku kita bisa bertemu As. Seandainya aku tidak berkelahi malam itu dengan Vino... Mungkin kamu masih ada di sini."

Fatur menundukkan kepala, mencoba melanjutkan bacaannya. Namun, suara Vino yang penuh ejekan di malam itu, suara tawa teman-temannya, semuanya kembali membakar dendam dalam hatinya. Fatur mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah yang kembali membuncah.

"Astuti..." bisiknya lirih.

"Aku nggak akan pernah lupa. Nyawamu nggak akan sia-sia. Mereka sudah tamat, As." dia menutup kitab Yassin dengan lembut, lalu menyentuh nisan Astuti.

"Tunggu aku di sana. Aku akan segera menemuimu."

Fatur menghela napas pendek. "As... Aku berhasil menjadi seorang penulis. Banyak yang suka dengan karyaku, dan sudah ada di jadikan series. Jika kau ada disini, pasti kita bisa merayakannya bersama." ujar Fatur lirih. Dia mengusap air matanya dengan kasar.

"Aku rindu kamu As..."

Jantung Halimah bergemuruh saat seorang pria muda menyebut nama Vino. Halimah baru saja menjenguk makam anaknya. Namun dia tidak sengaja mendengar nama Vino disebut oleh pria itu. Halimah mencoba menepis pikiran buruknya. Namun rasa penasarannya membuatnya memberanikan diri untuk bertanya.

"Kamu kenal Vino?" tanya wanita tua itu. Wajahnya terlihat tua dan lelah, namun sorot matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Fatur segera menoleh ke sumber suara. Fatur hanya diam mengeryitkan keningnya.

"Vino meninggal karena berkelahi sama temannya. Mereka satu kelas dan belajar di sekolah yang sama. Di SMA 2." jelas bu Halimah tersenyum tipis.

"Ibu mengenal Vino?" tanya balik Fatur.

"Iya, dia putra saya satu-satunya. Tapi dia sangat nakal." jelas bu Halimah tersenyum getir.

Menghela napas panjang. Fatur terdiam, apalagi melihat sosok ibu Vino yang nampak kurus dan kelihatan tua. Pasti menanggung banyak beban. Pikir Fatur. Seketika dia mengingat uminya. Air matanya menetes. Halimah mengusap air mata itu perlahan.

"Kenapa menangis? Kamu rindu banget ya sama dia?" tanya Halimah menunjuk kemakam Astuti. Fatur hanya menganguk pelan.

"Dia teman baik saya. Dia meninggal karena menyelamatkan saya." jawabnya lirih.

"Tapi, seketika aku mengingat umiku saat melihat wajah ibu... Aku rindu umiku." ucapnya lirih menatap Halimah dengan tatapan sendu.

"Bolehkah ibu menjadi ibuku? Sepertinya kita mengalami masalah yang sama, jika kita bersama pasti lebih bisa menjaga." ucap Fatur pelan. Halimah menganguk.

"Sekarang kamu bisa panggil aku umi." jawab Halimah perlahan. Fatur berdiri memeluk wanita tua itu.

"Sekarang umi akan tinggal bersamaku." jawabnya dengan tersenyum.

"Tapi umi punya suami. Nanti umi akan sering menjengukmu dirumahmu, atau kamu mau tinggal bersama umi?" Fatur mengelengkan kepalanya.

"Aku nggak mau punya ayah, aku hanya mau punya ibu saja..." ucap Fatur perlahan. Rasa trauma memiliki ayah yang kasar dan tidak bertanggung jawab, masih belum bisa dia lupa. Dia hanya butuh seorang ibu yang bisa menenangkannya. Bukan seorang ayah yang egois.

Pertemuan tidak sengaja itu membuat keduanya saling akrab dan menyayangi satu sama lain. Layaknya sebuah keluarga kecil bahagia.

Fatur bertekad akan membahagiakan Halimah.

Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!