Mimpi Buruk

Kehidupan didesa Pasir kini makin memburuk sejak peristiwa teror yang melihatkan Joni, anak buahnya, Eva dan warga desa. Walaupun teror terus menghantui mereka, mereka tetap bersikeras mengambil hasil panen.

Namun setelah habisnya hasil panen, mereka tidak mengolah kembali kebun tersebut. Kebun yang dulu subur, kini menjadi semak belukar, dan tidak terurus.

Sementara itu Eva dinyatakan gila oleh penduduk desa. Tekanan dari teror yang terus menghantuinya membuatnya tidak mampu mengendalikan diri. Dia sering memukul dan mengejar orang-orang yang mendekatinya. Termasuk para warga yang ingin membantunya. Warga berinisiatif memasukkan Eva kerumah sakit jiwa yang ada di Pekanbaru. Disana dia menjalani perawatan intensif. Namun bukannya malah sembuh, malah semakin jadi gila.

Sedangkan Arlan tidak mampu lagi menanggung beban mentalnya. Dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai polisi. Tubuhnya terlihat kurus. Dulu wajah itu nampak tegas kini terlihat tua dan lesu. Seperti tidak memiliki kehidupan dimatanya. Dia juga menarik diri dari kehidupan sosial.

Namun, Joni dan anak buahnya terus menjadi duri di kehidupan desa. Saat salah satu warga menyewa kebun yang dulu milik Fatur, kembali mengolah tanah yang terbengkalai, Joni dan kawan-kawannya kembali menunjukkan keserakahannya. Dia mengambil hasil panen tanpa izin, dengan alasan tanah itu miliknya, seperti yang dilakukan sebelumnya. Warga nampak kesal akhirnya meninggalkan kebun. Mereka tidak ingin terjebak dengan masalah yang sama, dengan yang dialami Fatur sebelumnya. Kembali kebun itu menjadi semak belukar.

Keadaan desa Pasir semakin memburuk saat Joni mulai menguasai desa Pasir. Warga Pasir diwajibkan membayar "Uang keamanan" berupa hasil kebun dan uang. Bagi mereka tidak menuruti keinginan Joni, maka akan dipukuli, rumah mereka dihancurkan. Desa Pasir kembali menghadapi mimpi buruk. Dulu mereka dihantui oleh psikopat gila, sedangkan sekarang harus menghadapi pemerasan yang dilakukan Joni dan kawan-kawannya.

Warga yang awalnya menerima, kini beberapa ada yang melawan dan sebagian malah memutuskan pindah dari desa Pasir. Namun karena ketakutan mereka pada Joni dan anak buahnya, warga menjadi terpecah. Ada yang melawan dan ada yang pasrah dengan keadaan. Desa Pasir bukan lagi tempat yang damai. Meskipun ancamannya berbeda dari sebelumnya, namun dampaknya sama, yaitu ketakutan dan kehancuran.

Namun Joni dan kawan-kawannya tak sepenuhnya berkuasa, karena teror-teror itu juga masih menghantui mereka. Mereka hanya berkuasa dengan uang dan hasil panen warga, bukan dengan teror yang sudah lama tercipta.

Setelah bertahun-tahum mendekam dalam penjara. Akhirnya kini Hasan Bahri bebas. Dia sangat kesal pada istrinya, selama dipenjara tidak pernah sekalipun sang istri menjenguknya. Namun saat sampai dirumahnya, dia terpaku melihat rumahnya nampak tak terurus.

Dia mengepalkan tangannya, "Apa sih kerja wanita itu hingga tidak bisa mengurus rumah." gumamnya dengan nada kesal.

 Namun dia makin kaget saat melihat dalam rumah, semuanya berantakkan, rumah itu seperti lama tak terurus. Hasan mencium bau anyir yang menyengat saat memasuki rumah. Dia melihat darah segar mengalir di sepanjang lantai rumah. Tanpa ragu dia berjalan menuju dapur, dimana bau darah semakin kental. Peralatan dapur berserakan, ada beberapa juga yang pecah. Matanya tertuju pada tulisan didinding dapur. "Kamu akan mati." darahnya berdesir.

Tangannya mengepal kuat. "Siapa yang berani membuat seperti kepadaku? Akan aku hancurkan dia..." geramnya menatap tajam tulisan itu.

Dia kembali berjalan kekamar pribadinya. Disana terlihat sangat berantakkan, darah berserak diatas ranjang. Juga terdapat dalam kamar mandi. Dia menghela napas berat.

"Siapa yang berani melakukan ini?" pikirnya.

Namun saat dia berpikir dengan keras, suara dentuman keras diruang tengah mengkagetkannya. Dia segera melihat keluar kamar, dan dia melihat seperti ada seseorang terbaring seperti pocong. Dia mendekati dengan rasa penasaran. Setelah dilihat dari dekat, ternyata cuma batang pisang, yang dikafani seperti pocong. Namun yang membuat dia heran adalah, darah anyir yang menempel dikain putih itu.

Pintu bagian depan terbuka sendiri. Hasan menatap tajam kearah pintu. Samar-samar terdengar suara tangisan. Dia sangat terkejut saat sebuah boneka terlempar sendiri kearahnya. Boneka itu tergeletak dilantai, perpakaian seperti anak kecil, seperti menatapnya tajam.

Boneka itu berlumuran darah. Yang membuat dia sangat terkejut, saat ada suara tertawa pelan, dan boneka itu melayang. Hasan membeku. Wajahnya pucat seketika. Lampu berkedip, membuat suasana semakin mencekam. Suara tawa itu berubah menjadi tangisan. Boneka itu tetap melayang. Hasan jatuh terduduk, tubuhnya gemetar.

Seperti biasanya saat Hasan bangun, semua nampak seperti semula. Kamarnya bersih, dan dia juga memeriksa ruangan tengah dan dapur terlihat bersih. Hasan mengusap wajahnya kasar. Bagaimana mungkin semuanya nampak tidak ada terjadi apa-apa. Dia melihat sekeliling rumahnya nampak normal. Dia hanya melihat atap rumah nampak bocor. Kaca jendela nampak tertutup debu. Tidak ada yang aneh.

Hasan memutuskan untuk keluar dari rumah dan bertanya pada warga tentang istrinya. Betapa terkejutnya Hasan mendengar istrinya dirawat di rumah sakit jiwa.

Setelah itu Hasan menceritakan apa yang terjadinya padanya saat berada didalam rumahnya.

"Istri bapak juga mengalami hal yang sama pak. Tapi kami jadi bingung, teror itu terjadi hanya pada istri bapak... Kami warga sini tidak ada di teror seperti itu pak." jelas sang warga.

Hasan nampak kesal. Dia berpikir ada seseorang berusaha membuat istrinya gila.

Eva yang dulunya penuh perhatian dan lembut kini berubah menjadi sosok yang keras dan cemas, sering melukai dirinya sendiri dan orang lain yang ada di dekatnya. Dalam beberapa tahun terakhir, Eva mulai mengalami halusinasi, menganggap rumahnya. Penuh dengan darah atau dihantui makhluk halus, dan sering kali berbicara tentang teror yang ia alami, meskipun tidak ada seorang pun yang bisa membuktikannya.

Hasan makin terpuruk melihat keadaan sang istri. Dia merasa gagal menjadi sosok suami. Hasan memutuskan untuk menjaga Eva. Hasan pindah ke Pekanbaru dan membawa sang istri tinggal bersamanya. Dia merawat sang istri sendirian. Dia tidak percaya, dokter bisa menyembuhkan istrinya.

Setiap hari, Hasan merawat Eva dengan sabar dan kasih sayang. Hasan memasak, membersihkan rumah, menyisir rambut istrinya, dan memastikan Eva tetap nyaman dirumah barunya, yang jauh dari kenangan buruk.

Saat Eva kambuh, menangis dan berteriak, mengamuk tanpa sebab, Hasan dengan sabar menenangkannya dan memeluknya. Hasan mengajak Eva berbicara, menceritakan kisah lama yang indah, berharap bisa memanggil jiwa istrinya, yang terkurung dalam bayang-bayang kegilaan.

Namun Eva jarang merespons, tatapannya kosong. Terkadang Hasan kehilangan harapan melihat sang istri, hari demi hari tidak memperlihatkan kesembuhan. Namun dia mencoba bertahan. Hasan mencoba berbagai cara untuk pengobatan istrinya, mulai dari pengobatan mendatangi ustad-ustad minta di ruqyah, ke psikiater, dan lain sebagainya. Namun tak ada membuahkan hasil.

Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!