Pelakor yang tersakiti

Sungguh hari yang berat bagi Eva. Setiap sudut ruangan mengingatkannya pada sang suami. Di tengah kegelisahannya, Fatur datang mengusiknya. Seperti biasa, dengan langkah ringan dan senyum tengil, dia masuk tanpa permisi. Dia tahu betul, bagaimana membuat Eva, ibunya tirinya merasa terintimidasi karena kehadirannya.

"Bu, aku lapar. Masakin aku makan. Oh, dan uang jajan. Aku butuh uang jajan lagi." ujar Fatur sambil duduk santai di sofa.

Menatap ibu tirinya tanpa ekspresi. Eva tengah makan di gelaran tikar anyaman, menatap Fatur tajam. Hatinya kini terluka, terus merasakan beban. Dia sudah merasa lelah menjalani hidup bersama suaminya, sekarang anaknya juga malah berulah.

"Kau tidak lihat, aku sedang apa? Bisa masak sendiri kan?" jawab Eva dingin. Fatur tersenyum dingin.

"Lihat kok bu, tapi saat ini aku sangat lapar. Apakah ibu tiriku ini tidak bisa mendahului keinginan anak tirinya dari pada diri sendiri? Jangan egois bu." ujar Fatur dengan wajah tengilnya.

"Sekarang buatkan aku makan!" suaranya berubah menjadi dingin. Fatur mendorong Eva agar cepat membuatnya makan.

"Bisa tidak kau lebih sopan padaku? Aku ini ibumu. Tolong hormati!" sergah Eva. Fatur hanya tersenyum.

"Apakah sopan merebut suami orang bu? Kau minta di hargai, tapi merebut milik orang lain. Kek mana orang mau menghargaimu? Kau lebih pantas dijadikan pelacur!" hina Fatur kembali mendorong tubuh Eva menjauh darinya.

"Cepat buatkan aku makan!" teriak Fatur menarik rambut Eva kedapur.

"Masak yang benar pelacur! Jangan pandai merebut suami orang, tapi nggak bisa menyenangi anaknya. Jika kau cinta pada ayahnya, seharusnya kau juga sayang pada anaknya!"

"Aku bukan babumu!" bentak Eva.

"Memasak itu juga tugas seorang ibu. Bodoh!" Fatur menarik rambut Eva dan menekan kepalanya ke meja tempat memasak. Air mata menetes di wajah Eva.

"Jangan sok paling tersakiti! Ibuku malah lebih parah dari ini! Ini belum seberapa." teriak Fatur di kuping Eva, membuat telinganya berdenging.

"Kau yang memulai penderitaanmu sendiri Eva! Jangan karena cinta, kau menghalalkan segala cara. Aku tahu, kau menikahi ayahku hanya karena uang kan?" Fatur membenturkan kepala Eva hingga wanita itu semakin menangis menahan sakit.

"Jika tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Ujung-ujungnya playing victim!"

Dengan terpaksa Eva memasak kan makanan untuk Fatur. Selama memasak, Fatur tidak meninggalkan Eva didapur. Dia mengawasi wanita itu saat memasak. Dia harus berhati-hati. Wanita selicik Eva, bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkan musuhnya.

Saat makanan udah siap, Fatur duduk di anyaman tikar, lalu memakan makanan yang dimasak ibu tirinya dengan lahap. Eva melihat itu mendengus kesal, lalu meninggalkan Fatur sendirian. Saat sudah selesai makan, Fatur berjalan keruang tengah. Dia tak mendapati ibu tirinya disana. Fatur berjalan mendatangi kamar ayahnya. Dia mengetuk pintu dengan keras. Berkali-kali, hingga Eva keluar dengan wajah letihnya.

"Ada apa lagi Fatur? Bisa tidak sehari saja kau tak mengangguku. Aku capek Fatur."

"Mana uangku?" tanya Fatur tanpa memperdulikan kata-kata Eva.

Karena malas berdebat terus dengan Fatur, Eva mengambil uang dari dalam kamar dan memberikan kepada Fatur. Saat sudah mendapatkan uang, Fatur pergi begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan Eva. Bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak. Eva mendengus pelan. Lalu kembali menutup kamar dan tertidur dengan pulas.

Seperti itulah setiap harinya Fatur, dia datang kerumah ayahnya saat dia hendak makan dan mintak uang jajan saja. Setelah itu dia pun pergi tanpa memperdulikan Eva yang merasa tersiksa dengan prilakunya.

Fatur semakin hari semakin bertingkah seperti raja. Dia selalu memerintah Eva sesuka hatinya. Fatur tidak tinggal bersama ibu tirinya, melainkan dia tinggal dirumah seorang warga pasir yang telah pindah ke Panipahan, sebuah desa yang berada di kecamatan Pasir.

Dia datang kerumah ayahnya, hanya ingin mengusik ketenangan ibu tirinya itu. Uang yang di berikan untuknya, dia pergunakan untuk bayar spp dan kebutuhan hidupnya.

Saat sampai dirumahnya, Fatur membuka laptopnya dan menuliskan sesuatu.

Agus mengejutkannya.

"Kamu lagi ngapain?" tanya Agus menepuk pundak Fatur. Lalu meraih minuman mineral di atas meja dan meminumnya. Agus membaca judul cerita tersebut.

"Kamu mau menulis ya?" tanya Agus mengerutkan keningnya.

"Iya, setidaknya aku dapat penghasilan dari menulis ini. Katanya kalau kita menulis dan mengirimkannya ke penerbit, kita dibayar. Jadi, aku mau coba. Mana tahu dapat uang nanti." jelas Fatur sumringah. Agus menghela napas pendek.

"Jadi kamu nggak butuh tenaga aku lagi dong, untuk menulis ulang tulisanmu itu?" tanya Agus .

"Nggak perlu lagi. Kan aku udah punya laptop, jadi aku tinggal ketik dan kirim naskahnya." jelas Fatur.

"Jadi kamu nggak perlu repot lagi bantu aku!" kata Fatur. Dia pun melanjutkan tulisannya dengan semangat, dan mengirim ceritanya di sebuah ke penerbit. Dia sangat senang, banyak yang baca ceritanya. Dari situlah, sedikit demi sedikit dia kumpulkan uangnya.

Seperti biasanya pagi-pagi sekali Fatur sudah menggedor pintu rumah ayahnya. Eva yang tengah sibuk mengerjakan pekerjaan rumah hanya menghela napas panjang, dan segera membuka pintu. Saat pintu dibuka, Fatur mendorong tubuh Eva hingga terjatuh.

"Lama kali sih bukanya." bentak Fatur.

Eva hanya diam menatap tajam Fatur.

"Aku udah lapar, buatkan aku makan. Jangan menatapku seperti itu, jika tidak mau binasa ditanganku." ancamnya.

Eva menghela napas berat, lalu mendekati Fatur.

"Fatur, aku nggak bisa terus begini... Aku capek." ujar Eva lirih. Namun Fatur tidak peduli dan menatapnya dengan tatapan mengejek.

"Capek? Ibuku saja setiap hari dimarahi ayah dan dipukuli, nggak pernah tuh umiku bilang capek." jawab dengan nada mengejek.

"Masa kamu kalah sama ibuku."

"Kenapa hah? Karena kamu nggak bisa jadi ibu yang baik kan? Atau kamu hanya lelah menjadi babu di rumah ini?" Fatur mengejek, seolah kata-katanya adalah senjata tajam yang menusuk langsung ke hati Eva.

Eva merasa semua yang dia lakukan, selalu salah di mata Fatur, hanya berakhir sia-sia. Di hadapannya, Fatur hanya melihatnya sebagai objek untuk disiksa. Bukan seorang ibu tiri yang layak dihormati.

Setiap kata dan tindakannya seperti api yang membakar habis sisa-sisa kepercayaan diri Eva. Eva berusaha menahan tangisnya, namun air mata itu tetap saja keluar tanpa bisa ditahan.

"Apa kamu nggak kasihan sama aku? Aku juga manusia. Aku capek Fatur." suaranya hampir tak terdengar, seperti bisikan yang hilang dalam angin.

Fatur hanya tersenyum sinis, merasa puas melihat penderitaan di wajah Eva. Setiap kata yang keluar dari mulutnya semakin memperburuk keadaan.

"Jangan nangis. Nanti aku kasih hadiah, kok,” ejek Fatur, seolah dia sedang bermain-main dengan orang yang tak berdaya.

Eva merasa hatinya terperosok lebih dalam, kehilangan kekuatan untuk melawan. Ia tak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Fatur. Satu-satunya perasaan yang ia miliki adalah rasa sakit yang teramat dalam, dan kebencian yang semakin tumbuh, meski ia tahu, balas dendam tidak akan pernah mengembalikan apa yang telah hilang.

Di tengah ketegangan yang terus berlangsung, rumah ini menjadi tempat yang penuh dengan penderitaan. Fatur mungkin merasa kemenangan ada di tangannya, namun bagi Eva, setiap hari yang ia jalani terasa seperti penyiksaan yang tak ada habisnya.

"Jangan salahkan aku jika terlalu kejam sama kalian. Karena disaat aku terpuruk ayahku saja tidak mau menolongku. Tidak pernah menjengukku saat dipenjara, dan saat minta duit untuk jajan dan untuk kebutuhanku, ayah selalu menolak. Jadi aku mencuri, hanya mengambil hak ku lagi." by Fatur Hasan Bahri.

Terpopuler

Comments

Little Fox🦊_wdyrskwt

Little Fox🦊_wdyrskwt

semangat up nya jangan lupa mampir juga yaaa

2025-03-25

0

lihat semua
Episodes
1 Akhir yang berdarah
2 Narapidana
3 Maladaptive daydreamer
4 Malam Petaka
5 Kejutan Dari Tuhan
6 Harapan Baru
7 Permulaan
8 Hiburan Malam
9 Membalas sang bayangan
10 Vonis
11 Pelakor yang tersakiti
12 Tunggu aku disana
13 Untukmu Astuti
14 Ayah yang gagal
15 Bui
16 Kau akan mati
17 Teror
18 Kehidupan yang terbalik
19 Mimpi Buruk
20 Hari-hari yang mencekam
21 Belancang
22 Permainan Akan Berakhir
23 Wanita Iblis
24 Penyelidikan
25 Teka teki
26 Cindai
27 Penyergapan
28 Dominasi
29 Lawan
30 Playing Victim
31 Raja Kegelapan
32 Fiko vs Eva
33 Terjebak di masalah yang sama
34 Sabotase
35 Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36 Pertemuan
37 Gara-gara belacan
38 Harusnya aku
39 Jangan pernah lupa
40 Mengusik
41 Permainan baru saja dimulai
42 Prilaku terbaik didunia
43 Segenap Jiwa yang hilang
44 Manipulator
45 Asusila
46 Kejutan
47 Liburan ke Panti
48 Dukungan Fatur
49 Penjagaan ketat
50 Pembicara kedamaian
51 Propaganda
52 Berjuang demi kedamaian
53 Debat panas
54 Duta perdamaian
55 Baba yang terbaik
56 Kenapa kau begitu dingin?
57 Bukan siapa-siapa
58 Dia, bukan siapa-siapaku
59 Memanipulasi
60 Melindungi?
61 Porak poranda
62 Penjemputan obat-obatan
63 Cari Perhatian
64 Tengil
65 Calon Abang ipar
66 Badut-badut lumpur
67 Ketegangan di pengungsi
68 Demo
69 Serangan panik
70 Jatuh lagi
71 Capek, Tuhan
72 Kelinci gesit
73 Kami, ingin kamu pulang
74 Manusia Kelinci tidak tahu diri
75 Devil
76 Bantuan jalur udara
77 Penyerangan
78 Misteri kematian pak Hanif
79 Jejak berdarah
80 Luka di Bawah Langit Malam
81 Jejak Luka di Malam Kelam
82 Teror yang tak berhenti
83 Bayang-bayang kematian
84 Jejak darah di desa Pasir
85 Rahasia kematian di desa Pasir
86 Siapa yang membunuh Agus?
87 Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88 Siapa pria bermasker itu?
89 Malam panjang di desa Pasir
90 Rahasia kelam di desa Pasir
91 Di Jebak atau terjebak?
92 Tidak mau ambil resiko
93 Malam tanpa rumah
94 Jejak kematian di desa Pasir
95 Perdebatan tanpa Akhir
96 Sebuah Rencana
97 Satu bulan menuju kebenaran
Episodes

Updated 97 Episodes

1
Akhir yang berdarah
2
Narapidana
3
Maladaptive daydreamer
4
Malam Petaka
5
Kejutan Dari Tuhan
6
Harapan Baru
7
Permulaan
8
Hiburan Malam
9
Membalas sang bayangan
10
Vonis
11
Pelakor yang tersakiti
12
Tunggu aku disana
13
Untukmu Astuti
14
Ayah yang gagal
15
Bui
16
Kau akan mati
17
Teror
18
Kehidupan yang terbalik
19
Mimpi Buruk
20
Hari-hari yang mencekam
21
Belancang
22
Permainan Akan Berakhir
23
Wanita Iblis
24
Penyelidikan
25
Teka teki
26
Cindai
27
Penyergapan
28
Dominasi
29
Lawan
30
Playing Victim
31
Raja Kegelapan
32
Fiko vs Eva
33
Terjebak di masalah yang sama
34
Sabotase
35
Bertemu dengan Fatur, adalah maut bagi mereka
36
Pertemuan
37
Gara-gara belacan
38
Harusnya aku
39
Jangan pernah lupa
40
Mengusik
41
Permainan baru saja dimulai
42
Prilaku terbaik didunia
43
Segenap Jiwa yang hilang
44
Manipulator
45
Asusila
46
Kejutan
47
Liburan ke Panti
48
Dukungan Fatur
49
Penjagaan ketat
50
Pembicara kedamaian
51
Propaganda
52
Berjuang demi kedamaian
53
Debat panas
54
Duta perdamaian
55
Baba yang terbaik
56
Kenapa kau begitu dingin?
57
Bukan siapa-siapa
58
Dia, bukan siapa-siapaku
59
Memanipulasi
60
Melindungi?
61
Porak poranda
62
Penjemputan obat-obatan
63
Cari Perhatian
64
Tengil
65
Calon Abang ipar
66
Badut-badut lumpur
67
Ketegangan di pengungsi
68
Demo
69
Serangan panik
70
Jatuh lagi
71
Capek, Tuhan
72
Kelinci gesit
73
Kami, ingin kamu pulang
74
Manusia Kelinci tidak tahu diri
75
Devil
76
Bantuan jalur udara
77
Penyerangan
78
Misteri kematian pak Hanif
79
Jejak berdarah
80
Luka di Bawah Langit Malam
81
Jejak Luka di Malam Kelam
82
Teror yang tak berhenti
83
Bayang-bayang kematian
84
Jejak darah di desa Pasir
85
Rahasia kematian di desa Pasir
86
Siapa yang membunuh Agus?
87
Benang Merah pembunuhan di desa Pasir
88
Siapa pria bermasker itu?
89
Malam panjang di desa Pasir
90
Rahasia kelam di desa Pasir
91
Di Jebak atau terjebak?
92
Tidak mau ambil resiko
93
Malam tanpa rumah
94
Jejak kematian di desa Pasir
95
Perdebatan tanpa Akhir
96
Sebuah Rencana
97
Satu bulan menuju kebenaran

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!