Bunga masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Dia menatap pantulannya di cermin wastafel kemudian menyentuh dadanya yang berdegup kencang.
Jadi beginikah rasanya berpacaran? Apa orang lain juga sama sepertiku ketika mengalami pacaran untuk pertama kalinya? Mudah merona dan berdebar-debar. Sepertinya aku harus mulai membiasakan diri.
Lama Bunga berdiri di depan cermin, lalu dia mengikat rambut panjangnya ke atas hingga mengekspos leher jenjangnya. Saat keluar dari kamar mandi ternyata Sastra itu sudah tidak ada di ranjangnya.
Matanya memperhatikan seisi ruangan. Kamar Sastra didesain begitu pas sesuai dengan aura maskulin sang pemiliknya. Semua furniture dan ranjangnya pun berwarna senada dengan cat dindingnya. Lalu dia memperhatikan dinding dekat jendela, di sana terpajang puluhan bahkan ratusan foto-foto yang tertata dengan rapi.
Klekkkk....
Bunyi suara pintu terbuka, Sastra mendapati Bunga tengah asyik memperhatikan foto-foto hasil jepretannya. Saking fokusnya Bunga sampai tidak mendengar suara langkah kakinya. Sastra mendekat dan memeluknya dari belakang, meletakkan dagunya di ceruk leher gadis itu dan menghirup aroma menyenangkan yang menguar dari leher jenjangnya.
Bunga meremang mendapatkan perlakuan seperti itu, tetapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai sekarang harus terbiasa dengan suasana seperti ini.
"Kamu sedang memperhatikan apa?" tanya Sastra.
"Apakah kamu yang mengambil gambarnya? semuanya nampak indah." Bunga bertanya sambil berusaha menormalkan ritme jantungnya.
"Hobiku di bidang fotografi. Saat kuliah di luar negeri aku sering menghabiskan waktuku mencari cari objek yang unik untuk bidikan kameraku. Sebenarnya salah satu perusahaan yang kukelola di bidang fotografi itu murni milikku, sedangkan yang lainnya masih milik ayahku. Aku membuka studio foto profesional dan sudah mempunyai 30 cabang di berbagai kota di Indonesia. Khusus untuk usahaku yang satu ini sebisa mungkin aku ikut terjun langsung ke lapangan untuk memantau kinerja karyawanku agar memberikan hasil yang memuaskan untuk klien.
"Jadi waktu kita bertemu di resepsi karena saat itu kamu sedang memantau orang-orangmu?" Bunga kembali bertanya.
"Benar. Aku ingin memastikan kepuasan klien karena mereka sudah membayar tarif yang sangat mahal di tempatku."
Kemudian Sastra mengecup ringan leher jenjang Bunga membuat bulu kuduk gadis itu semakin meremang, lalu terdengar suara perut Bunga yang minta di isi menginterupsi keduanya.
Kruuuuk... kruuuuk....
Sastra terkekeh lalu membalikkan posisi Bunga jadi berhadapan dengannya. Ia menautkan jemarinya menuntun gadisnya keluar dari kamar. Bunga merutuki dirinya karena perutnya berbunyi di waktu yang tidak tepat.
Wahai perut kenapa kau berbuat begini padaku, huhuhu.
Sastra membawa Bunga duduk di meja makan, disana sudah tersaji dua porsi roti selai cokelat, salad buah, segelas kopi dan susu hangat.
"Ini kamu yang membuatnya?" Bunga bertanya penasaran.
"Yup, tentu saja. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri sejak SMA. Jadi kalau hanya sekadar membuat sarapan aku juga bisa. Kamu harus berbangga diri karena kamulah orang pertama yang bisa mencicipi hasil karyaku," ujarnya bangga.
Bunga tersenyum lebar dan langsung memakan sarapannya dengan lahap penuh rasa syukur, dia menghabiskannya tanpa sisa karena perutnya memang sudah berdemo minta di isi sejak tadi.
"Jika berkas lamaranmu untuk perusahaanku sudah siap segera kabari aku," ucap Sastra di sela sela menyesap kopinya.
"Mungkin sekitar dua minggu ke depan aku baru bisa menyiapkannya. Ujian kursusku baru berlangsung beberapa hari yang lalu, jadi mungkin baru minggu ini aku bisa mengambil sertifikatnya. Dan juga aku harus mengurus surat pengunduran diri dari swalayan tempatku bekerja sekarang," jelas Bunga.
"Kalau butuh bantuanku untuk mengurusnya segera hubungi aku oke?" pinta Sastra yang disambut anggukan Bunga penuh semangat.
"Ini pakaianmu yang semalam. Sekarang mandilah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang." Sastra mengelus lembut kepala Bunga sambil berlalu masuk ke kamar tamu.
****
Bunga sudah sampai di depan rumahnya, Sastra ikut turun dan mampir sebentar untuk menyapa dan kemudian beranjak pergi dari sana. Lampu lalu lintas terlihat berwarna merah dan Sastrapun menghentikan mobilnya, pikirannya menerawang kembali ke waktu di pantai kemarin.
Dia pun tidak mengerti akan dirinya sendiri. Kenapa kata-kata ajaib semacam itu bisa meluncur dari mulutnya.
I love you?
Ini gila! Dia menertawakan dirinya sendiri, itu adalah kali pertama baginya mengucapkannya pada seorang gadis. Apakah dia memang benar jatuh cinta padanya atau hanya karena nafsu? Ataukah sekarang ini dia malah terjebak dalam permainannya sendiri.
Sastra tersadar dari lamunannya karena suara klakson mobil di belakangnya. Dilihatnya ternyata lampu jalan sudah berubah ke warna hijau dan dia segera melajukan mobilnya kembali.
*****
Sore harinya Bunga duduk santai berkumpul bersama keluarganya.
"Bu, Pak. Aku mendapakan tawaran kerja di perusahaan besar, salah satu cabang perusahaannya Sastra. Gajinya hampir tiga kali lipat dari gajiku sekarang, hanya saja letaknya di luar kota. Kumohon ibu dan bapak mengizinkan aku untuk bekerja di sana, karena kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Dengan penghasilanku yang lebih besar dari sekarang kita tidak akan kekurangan uang lagi," mohon Bunga pada orang tuanya.
"Ibu sangat setuju. Apalagi kamu bekerja di perusahaan calon menantu ibu. Dengan begitu kamu bisa lebih dekat lagi dengannya," jawab Bu Marni bersemangat.
"Jangan mengambil kesimpulan terlalu cepat Bu. Lagipula dia belum tentu jadi menantu kita," sela Pak Wahyu pada istrinya.
"Bapak ini bukannya mendukung malah ngomong begitu! Sebaiknya terima saja apalagi kalau gajinya besar, lagipula kita juga harus menyicil hutang bekas operasi ginjal bapakmu. Pak Tarman sudah sering menanyakan tentang uangnya yang kita pinjam," ucap Bu Marni sambil melemparkan tatapan kesal pada suaminya dan Pak Wahyu hanya mendesahkan napasnya berat.
"Tapi Nak. Kamu kan tidak pernah hidup jauh dari kami, apakah kamu tidak apa-apa tinggal sendiri? bapak khawatir sama kamu." Pak Wahyu menatap putri sulungnya dengan cemas.
"Bapak tidak usah khawatir. Aku pasti bisa menjaga diri," ucap Bunga antusias berusaha meyakinkan bapaknya.
Pak Wahyu hanya menatap putri tercintanya dengan sendu, tetapi melihat binar di mata Bunga pak Wahyu pun mengerti bahwa putrinya sangat bahagia dengan kesempatan yang di dapatnya.
"Baiklah. Bapak percaya padamu Nak. Jagalah dirimu baik-baik di sana dan sering-seringlah memberi kabar."
"Terimakasih Pak, Bu."
Senyuman mengembang di wajah cantiknya dengan mata berbinar, Bunga merasa sangat lega dan luar biasa gembira karena telah mendapatkan izin dari kedua orang tuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Mak sulis
semoga gak ada udang dibalik batu
2023-07-11
0
Miss Lian 🌻
Semoga mereka berdua berjodoh ya ❤
2022-08-07
0
Mama VinKa
knp mw like kok ssh bngt ya,pdhl klo komen gmpng bngt
2022-03-22
0