Cahaya keemasan membaur di cakrawala,
indahnya pemandangan matahari terbenam di pantai sore itu menambah suasana romantis bagi kedua insan yang sedang di mabuk asmara.
Setelah beberapa saat ciuman dalamnya, Sastra melepaskan pertautan bibirnya dengan Bunga. Lelaki itu tersenyum penuh arti, dia tahu gadisnya ini masih polos sehingga tidak tahu cara membalas ciumannya. Sastra menempelkan dahinya di dahi Bunga masih dengan mata terpejam.
"Bunga, I love you."
Entah terbawa suasana atau apa secara tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Sastra. Bunga yang mendengarnya terkesiap, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Mereka membuka mata bersamaan, dan saling menatap dalam satu sama lain.
Gadis itu merasakan hal yang sama. Jantungnya selalu berdetak dengan irama merdu ketika bersama dengan Sastra. Dengan malu-malu ia mencoba memberanikan diri mengucapkan kata-kata yang selama ini tidak pernah di ucapkannya pada pria manapun.
"I love you too," Bunga menjawabnya sambil menatap Sastra dengan mata indahnya.
Sastra tersenyum lebar dan langsung merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Jantung keduanya bertalu-talu dalam ritme yang sama-sama, memukul-mukul dada mereka seakan hampir meledak.
Mereka saling berpelukan tanpa menyadari Kevin yang tengah berlari menghampiri mereka berdua dan menginterupsi pasangan yang sedang berpelukan mesra itu.
"Ehm... ehm..., iya deh iya dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak! Tega banget Lo, ngasih tontonan kayak gini, gue kan masih belum cukup umur." Kevin berdecak berpura-pura kesal.
Bunga yang mendengar suara Kevin refleks mendorong tubuh Sastra yang sedang memeluknya. Ia segera bangkit dari tempatnya tadi dan merapikan penampilannya dengan kikuk.
"Ganggu aja Lo! ada apa? Sastra menatap Kevin sebal.
"Tenang bro. Sorry banget gue gangguin. Lo di cariin panitia yang lain, karena sudah menjelang malam jadi mereka akan membuat acara penutupan. Ehm ngomong-ngomong kapan gue dikenalin sama gadis disebelah lo?" Kevin tersenyum manis ke arah Bunga.
"Oh iya. Bunga kenalin. Ini temanku Kevin." Sastra memperkenalkan Bunga pada Kevin.
"Salam kenal namaku Bunga." Gadis itu mengulurkan tangannya dan Kevin menyambut uluran tangan itu.
"Salam kenal juga aku Kevin, nama kamu benar-benar sesuai dengan dirimu. Namamu cantik persis seperti orangnya," Kevin memuji dengan nada menggoda, namun Sastra menoyor kepala Kevin dan menarik pertautan tangan Kevin dengan Bunga.
"Udah salamannya jangan lama-lama!" Sastra menggenggam kembali tangan gadisnya dan menatap tajam pada Kevin.
"Ampun mas bro, jangan galak- galak sama dedek huhuhu," ucap Kevin jenaka.
Mereka bertiga tertawa berbarengan lalu kemudian berjalan menuju tempat peserta touring berkumpul.
*****
Tibalah saatnya pulang. Semua peserta melajukan motornya dan Sastra berada di posisi paling terakhir dari rombongan. Membiarkan peserta lain melaju lebih dulu karena dia sengaja ingin menikmati suasana berboncengan berdua dengan gadisnya.
Sekitar tiga perempat jalan turunlah hujan lebat, mereka berdua berteduh di pinggir jalan. Bunga duduk di pinggiran dengan posisi memeluk lututnya, hembusan angin yang kencang disertai cipratan air hujan membuatnya menggigil kedinginan.
Sastra yang melihatnya kedinginan otomatis mendekatkan diri dan membawa Bunga ke dalam dekapannya. Sudah satu jam berlalu tapi tidak ada tanda-tanda hujan akan reda, walaupun dipaksakan pulang menembus hujan dan memakai jas hujan dipastikan mereka tetap akan basah kuyup.
"Bunga, ini sudah hampir tengah malam bagaimana kalau kita pulang apartemenku saja? letak apartemenku lebih dekat dari sini".
Karena apartemen Sastra terletak di hunian eksklusif yang bebas macet jadi hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit dari tempatnya berteduh sekarang, sedangkan jika ke tempat Bunga mungkin sekitar satu jam lebih baru sampai karena rumah Bunga letaknya berada di pinggiran kota Jakarta.
Bunga tergagap dan bingung harus bagaimana, tapi karena rasa dingin dan kantuk yang menderanya Bunga akhirnya setuju dengan saran Sastra untuk pulang ke apartemennya.
"Tapi aku harus memberi kabar pada orang tuaku agar mereka tidak khawatir," ucap Bunga.
"Mana ponselmu biar aku yang minta izin pada ibumu."
Bunga menghubungi kontak ibunya. Dan kemudian Sastra yang mengambil alih ponselnya.
"Hallo Tante."
"Iya ada apa nak Sastra?" sahut Bu Marni.
"Maaf Tante ada perubahan rencana. Semua peserta tidak jadi pulang karena turun hujan lebat. Jadi kami akan menginap dahulu malam ini dan baru melanjutkan perjalanan esok hari," ucapnya berbohong yang disambut cubitan Bunga di pinggangnya.
Sastra menaruh jari telunjuk di bibirnya memberi kode pada Bunga agar tidak mengeluarkan suara.
"Ya sudah tidak apa-apa, lagipula berbahaya berkendara saat jalanan licin. Tapi tante titip Bunga ya. Dijaga baik-baik anak tante," ucap Bu Marni.
"Siap Tante, terima kasih." Klik bunyi sambungan telepon di matikan.
"Kenapa kamu berbohong!" Bunga melotot pada Sastra.
"Kalau aku bicara jujur ibumu bakalan cemas. Memangnya ibumu bakalan ngizinin kalau tahu kamu ikut aku ke apartemenku dan cuma berdua saja? ck ck ck kamu ini memang terlalu lugu." Sastra mengacak rambut Bunga.
"Bukannya begitu, tapi ini pertama kalinya aku berbohong pada orang tuaku." Bunga mendesahkan napasnya berat.
"Tapi ini situasi darurat, aku tahu kamu tidak tahan dengan udara dingin. Jadi sebaiknya kita segera berangkat ke apartemenku," ajaknya
Bunga pun menganggukan kepalanya, Sastra tidak membuang waktu dan mereka segera melaju menembus hujan yang sangat lebat.
Mereka sampai di basemen apartemen dalam keadaan basah kuyup. Sastra menggandeng tangan bunga menuju lift dan tak lama kemudian sampailah di lantai enam belas tempat dimana kediamannya itu berada.
Sastra memasukkan kode kunci dan setelah pintu terbuka ia mempersilahkan Bunga masuk. Untuk sesaat Bunga hanya terdiam di ambang pintu masih ragu-ragu untuk masuk ke dalam, kemudian Sastra menarik tangan gadisnya.
"Masuklah, kamu harus cepat mengganti pakaianmu agar tidak masuk angin. Aku cuma tinggal sendiri di sini. Tapi jangan takut, aku tidak akan menggigitmu," godanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Bunga gelagapan karena sepertinya Sastra bisa membaca pikirannya. "Si-siapa bilang aku takut sama kamu!" Bunga bergegas masuk ke dalam melewati Sastra yang berdiri di dekat pintu.
Lelaki itu tersenyum geli, menutup pintu dan masuk berlalu entah kemana, Bunga duduk di sofa dan matanya memperhatikan sekelilingnya.
Ya Tuhan apartemen ini luasnya mungkin empat kali lipat dari tempat tinggalku, apa ini tidak terlalu besar untuk dihuni seorang diri? Atau memang semua orang kaya seperti ini?
Sastra menyerahkan handuk bersih dan sebuah kemeja longgar ke pangkuan Bunga sehingga membuyarkan lamunan gadis itu
"Mandilah di kamar mandi yang ada di kamarku. Sudah kusiapkan air hangat. Tidak ada pakaian perempuan di sini, jadi hanya ada pakaianku. Tapi kemeja ini lebih baik daripada kamu memakai baju basahmu itu. Nggak apa-apa kan?" tanya Sastra
"Terima kasih. T-tapi aku mandi di kamar mandi tamu saja," sahut Bunga gugup.
"Di kamar mandi tamu tidak ada air hangat. Sebaiknya kamu cepat membersihkan diri dan jangan keras kepala. Taruhlah pakaian basahmu di kantong plastik ini, aku sudah menelepon pelayanan dry clean apartemen dan sebentar lagi akan datang. Jadi kamu bisa memakai pakaianmu lagi esok hari." Sastra memberikan sebuah kantong plastik besar pada Bunga.
Akhirnya Bunga menuruti Sastra, dia masuk ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar pria itu. Tampak sudah ada air hangat di dalam bathub yang sungguh menggodanya.
Tidak terasa rupanya sudah tiga puluh menit Bunga berendam dan hampir saja tertidur saking nyamannya, dia cepat- cepat membilas tubuhnya di bawah shower karena teringat Sastra juga basah kuyup dan butuh mandi.
Bunga memakai kemeja longgar itu dan melilitkan handuk di rambutnya. Namun, saat hendak keluar dari kamar mandi dia malah mondar-mandir kebingungan.
Gimana ini, aku nggak pakai bra dan celana dalam karena pakaianku basah semua. Apakah aku harus memberanikan diri meminjam celana dalamnya? Tidak mungkin! lagipula celana dalam pria? Aduh malunya**....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Dede Dahlia
mending minjen jubah mandinya aja dari pada minjem celana dalemnya sastra sudah pasti kedodoran kalau kamu pake.
2022-11-14
1
Miss Lian 🌻
Astaga Bunga yg lugu polos.. kamu pantas bahagia. awas kamu sastra
2022-08-07
0
Yenny Vennyca DL
kenapa aku mikir bunga pinjam kolor nya sastra jadi geli ya 😆😆😆
2022-05-12
0