Bunga baru saja sampai di tempat kerjanya lalu datanglah Nana menghampiri.
"Bunga. Rasya bilang katanya kamu diajak Pak Sastra ikut acara outbound," tanya Nana sumringah.
Aku ingin sekali ikut, untuk melancarkan misiku mencari jodoh, siapa tahu kalau sering mencari akan segera dapat, seperti Nana yang sudah bisa punya pacar. Gumamnya dalam hati.
"Sebenernya aku pengen ikut. Tapi minggu depan jadwalku overtime, kalau minta izin membolos kayaknya gak akan di kasih sama si bos. Tahu sendiri kan bos kita Bu Nani itu garangnya minta ampun," keluhnya pada Nana.
"Gimana kalau kamu minta tolong si Deni buat gantiin masuk. Overtime kan duitnya tunai. Si Deni pasti gak akan nolak sesuatu yang ada duitnya. Terus kalau dia yang minta izin ke Bu Nani pasti di kasih. Si Deni kan karyawan kesayangan Bu Nani," saran Nana sambil menaik turunkan alisnya.
Sebenarnya aku butuh uang overtime itu, tapi mau sampai kapan aku terus berkutat dengan pekerjaanku, sesekali aku harus merelakan yang satu demi mendapatkan yang lain.
"Benar juga, ya sudah aku mau cari Deni dulu."
"Sip." Nana mengacungkan dua jempol tangannya.
********
"Den, Deni...." Bunga memanggilnya dari kejauhan sambil berlari menghampiri.
"Ada apa kamu pagi-pagi teriak seperti tarzan?" sahutnya menjengkelkan seperti biasa.
"Den, aku mau minta tolong sama kamu. Akhir pekan depan aku ada acara penting, kamu bisa tolong gantiin jadwal lemburku nggak?" pinta Bunga penuh harap.
"Tumben akhir pekan punya acara? cie cie kayaknya kamu udah punya pacar ya?"
"Dih, jangan ngeledek deh." Bunga cemberut merajuk.
"Kamu tenang aja, biar aku yang gantiin. Lagian aku kan jomblo. akhir pekan nggak punya yang diapelin mendingan nyari duit," jawab Deni sambil sibuk mengunyah permen karetnya.
"Serius nih? woah... makasih banget Den." Bunga berjingkrak riang.
"Your welcome Raflesia Arnoldi."
******
Satu minggu kemudian.
"Bu, aku berangkat dulu ya. Nana sudah datang menjemput." Bunga sudah bersiap lengkap dengan sepatu kets dan ranselnya.
"Iya, hati-hatilah."
Keduanya berangkat memakai motor Nana menuju halte dekat swalayan tempat mereka bekerja. Nana menitipkan motornya di parkiran swalayan dan segera menunggu di halte karena mereka akan dijemput oleh bus untuk berangkat ke tempat outbound.
Datanglah bus yang dinantikan. Ternyata banyak sekali orang yang ikut. Ada yang membawa pacarnya bahkan ada yang mengajak anak dan istrinya. Bunga memilih duduk di kursi paling belakang dekat jendela berdampingan dengan Nana dan Rasya.
Sepanjang perjalanan, pemandangan menuju puncak begitu sejuk dan indah. Hamparan pepohonan hijau sungguh memanjakan mata dan menenangkan hati. Bunga sangat menikmati perjalanannya karena sudah lama sekali ia tak bepergian untuk refreshing seperti ini.
Setelah hampir kurang lebih tiga jam perjalanan sampailah mereka di tempat tujuan. Kemudian sebuah mobil Mitsubishi Expander hitam menyusul parkir di sebelah bus yang mereka tumpangi.
Keluarlah seseorang dari dalam mobil itu dan ternyata itu adalah Sastra. Semua orang menyapanya dengan hormat dan dia membalas tersenyum ramah. Lalu pandangan matanya menjelajahi orang-orang yang sedang berkerumun itu seperti mencari-cari sesuatu. Kemudian dia tersenyum dan mendekati orang yang dicarinya sejak tadi.
"Makasih ya sudah mau ikut. Berarti sekarang aku sudah dimaafkan?" ujarnya sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Ahahaha... i-iya no problem," sahut Bunga kikuk.
Dengan gerakan cepat Sastra menarik tangan gadis yang berdiri kaku itu dan menautkan jari kelingkingnya di kelingking Bunga.
"Oke deal?" tanya Sastra.
"D-deal," sahut Bunga tergagap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
*****
Rangkaian acara di tempat outbound berlangsung seru dan meriah. Bunga sangat gembira. Akan tetapi mungkin karena cuaca di puncak yang cukup dingin, tiba-tiba ia merasa mual dan tidak enak badan disertai demam. Sepertinya Bunga masuk angin, karena mualnya tak kunjung membaik dia kabur dari kerumunan menuju toilet terdekat.
Selesai dengan urusannya, Bunga keluar dari toilet dan matanya menangkap sosok Sastra tengah berdiri disana. Lelaki itu sedang menerima telepon sambil membelakangi tempat Bunga berdiri, kemudian setelah panggilannya selesai ia berbalik badan.
Sastra mengusap-usap dadanya karena terkejut melihat keberadaan Bunga yang tiba-tiba muncul di sana, tetapi ia mengerutkan keningnya dan menghampiri setelah memperhatikan wajah Bunga seperti sedang menahan nyeri.
"Kenapa wajahmu pucat begitu, kamu sakit?" tanyanya
"Aku nggak apa-apa kok, sepertinya cuma masuk angin saja." sahut Bunga berusaha terlihat baik-baik saja.
"Lebih baik kamu ikut aku pulang sekarang mumpung masih sore. Nanti malah tambah parah kalau kamu terus disini karena cuaca puncak sangat dingin. Aku berencana pulang lebih dulu karena masih ada acara lain yang harus kuhadiri. Kalau kamu menunggu disini hingga acara selesai bisa kemalaman pulangnya," tawarnya sedikit memaksa.
"Tapi... aku belum berpamitan pada Rasya dan Nana," jawabnya.
"Kamu tenang saja, aku yang akan mengabari mereka bahwa kamu pulang bersamaku." Sastra meyakinkan.
Kali ini Bunga sudah tidak punya energi lagi untuk menolak, karena tubuhnya tak mau berkompromi membuat ia ingin segera pulang.
Wahai badan kenapa kamu lemah sekali? Baru terkena angin dingin begitu saja aku sudah demam, hancurlah sudah misiku mencari jodoh di acara ini.
Sastra membukakan pintu mobilnya untuk Bunga dan tanpa basa basi gadis itu segera masuk. Sastra menyusul masuk dan duduk di kursi sebelahnya tepat di kursi kemudi. Sebelum menginjak pedal gas ia membuka dasboard mobilnya mencari cari sesuatu.
"Ini, pakai kayu putih dulu. Semoga bisa membantu sedikit meredakan masuk anginmu, nanti kalau ada apotek kita mampir membeli obat."
Bunga hanya menanggapi dengan anggukan dan menerima botol kayu putih tersebut lalu menggenggamnya.
"Bunga, kayu putihnya di pakai bukannya cuma di pegang. Atau kamu mau aku yang mengoleskannya di perutmu?" goda Sastra sambil tersenyum jahil membuat Bunga refleks melotot ke arahnya.
"Ti- tidak usah, aku bisa sendiri." Bunga buru-buru membelakangi Sastra dan segera mengoleskan kayu putihnya.
Haishhh kenapa dia suka banget bikin aku olahraga jantung sih. Dasar jahil!
*****
Sepanjang perjalanan pulang gadis itu tertidur dan Sastra membangunkannya saat sudah hampir sampai di ibukota.
"Bunga, alamatmu di mana? biar ku antar sampai rumah?" ucap Sastra.
"Nggak usah. Nanti malah makin ngerepotin. Turunkan aku di halte dekat swalayan tempatku bekerja, Swalayan Mitra. Nanti aku naik bus kopaja atau ojol dari sana."
"Aku tidak akan membiarkanmu turun! Kalau kamu tidak mau bilang di mana rumahmu, aku akan membawamu pulang ke apartemenku," ujarnya keras kepala.
Akhirnya Bunga memberikan alamat rumahnya karena Sastra bersikukuh untuk mengantarnya pulang. Sastra beralasan karena keprimanusiaan dia tidak bisa membiarkan orang sakit pulang sendirian.
*****
Sampailah mereka di pekarangan rumah Bunga. Ia dan Sastra turun dari mobil tanpa menyadari sejak tadi Bu Marni memperhatikan kedatangan mereka.
"Bunga kamu pulang di antar sama siapa?" Bu Marni langsung menghampiri.
"Ini... beliau Pak Sastra Bu. Atasannya Ra_"
Belum juga Bunga merampungkan kalimatnya Ibunya langsung merangsek dan tak mempedulikan ucapan Bunga.
"Wah... ganteng sekali. Bunga, Jadi ini ya pacarmu? ayo masuk mampir dulu, kita minum teh sebentar."
Dengan bersemangat Ibunya menarik lengan Sastra untuk masuk kedalam rumah. Bunga hanya melongo di depan teras saking kagetnya dengan perlakuan ibunya pada Sastra, sedangkan Sastra menoleh menatap Bunga dengan raut wajah bingung penuh tanda tanya?
Deng....
Kejadian macam apa ini? Kenapa aku jadi terjebak dalam situasi begini?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
ana Imaa
kalem bu kalemmm
2023-01-01
0
Dede Dahlia
si ibu bener²sudah kebelet punya mantu sabar dikit napa bu.
2022-11-14
1
Miss Lian 🌻
Hahah... Calon anak mantu 😭😆👍🏼💜
2022-08-07
1