"Bunga gimana kalau yang ini?" Nana bertanya kepada Bunga meminta pendapat tentang kaos oblong couple yang dipilihnya.
"Hmmm... bagus kok, tapi memangnya Rasya enggak apa-apa, itu kan tulisan di bajunya warna pink?" Tunjuk Bunga pada sablon tulisan di kaos tersebut.
"Tenang aja. Asalkan aku suka, Rasya pasti akan memakainya." Nana menjawab sambil tertawa jahil.
"Dasar Rasya bucin," umpat Bunga dan Nana hanya terkikik geli.
"Eh bentar ya, Rasya nelpon nih."
Bunga mengangguk dan Nana pergi agak menjauh untuk menerima panggilan teleponnya. Kira-kira sepuluh menitan berselang Nana kembali menghampiri Bunga.
"Mmm... Bunga. Aduh gimana ya, Rasya tiba-tiba mengajakku ketemuan untuk makan malam bersama. Padahal tadi sore aku udah bilang sama dia mau pergi berbelanja sama kamu. Gimana kalau kamu ikut gabung aja? Biar tambah seru," ajak Nana.
"Waduh, gimana ya. Aku takut malah jadi obat nyamuk di antara kalian berdua. Jujur saja sebenarnya aku masih belum ingin pulang," sahutnya lesu.
"Hei tenang saja. Aku enggak cuma berduaan sama Rasya. Dia bilang ini acara semacam open house yang disponsori oleh perusahaan tempatnya bekerja. Bebas mau ngajak pacar, teman dekat atau keluarga. Terus rekan-rekan kerja Rasya yang berkumpul di sana, banyak juga yang masih lajang lho. Kali aja ada nyangkut sama kamu," usul Nana antusias.
Benar juga kata Nana, mungkin ini kesempatanku untuk mendapatkan jodoh.
"Oke aku ikut," jawab Bunga penuh semangat.
*****
Mereka sampai di tempat tujuan setelah lima belas menit perjalanan ditempuh dengan menggunakan motor. Nana memarkirkan motornya di sebuah kafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda akhir-akhir ini.
"Yuk, masuk." Nana menarik lengan Bunga yang sejak tadi seolah ragu untuk melangkah masuk.
"Rasya ...."
Nana menghambur pada Rasya saat melihat pacarnya itu melambai padanya. Terlihat Rasya duduk menempati kursi-kursi yang tersedia, berkumpul dengan rekan-rekannya.
"Rasya, Bunga kuajak ikut, enggak tega ninggalin dia sendirian di mall," cicit Nana pada sang pacar
"Bagus kamu ajak. Sesekali Bunga kudu nongkrong. Ini acaranya bebas kok, bukan acara privat. Lebih banyak orang lebih seru. Kalian tenang saja, hari ini kafe sudah *di*booking bosku jadi kali ini kita semua bisa makan gratis sepuasnya," ujar Rasya sambil nyengir kuda.
"Apa kabar, Rasya?" sapa Bunga. "Makasih lho, udah izinin aku ikut gabung di sini."
Bunga menebarkan senyumnya semanis mungkin pada semua orang yang hadir berkumpul di sana. Semuanya menyambut dengan ramah dan membalas dengan senyuman yang sama.
"Kabarku baik. Santai saja jangan sungkan. Silakan pilih tempat duduk, sebentar lagi kita akan memesan makanan. Kita lagi nunggu si bos buat makan bareng-bareng. Kalian pilih dulu saja menunya."
"Oke," Nana dan Bunga menjawab serempak.
Setelah beberapa saat orang yang di tunggu-tunggu datang juga, "Bos silahkan duduk." Rasya menarik kursi untuk orang tersebut.
Saat sudut mata Bunga melirik pada sosok yang dipanggil "Bos", gadis itu membelalakkan matanya. Ternyata itu adalah laki-laki yang membuatnya kesal setengah mati tadi siang.
Jadi cowok tengil ini bosnya Rasya, kenapa malah ketemu sama dia lagi sih. Bikin moodku ambyar.
Seolah merasa ada yang memperhatikan, Laki-laki itu balik menoleh ke arah Bunga hingga pandangan mereka bersirobok. Laki-laki tampan itu malah kaget sendiri melihat sorot mata Bunga yang penuh permusuhan kepadanya. Dia segera memalingkan wajahnya dan berdehem untuk mengatasi keterkejutannya.
Lelaki jangkung itu berdiri dan memberikan salam pada semua yang berkumpul. Setelah dia selesai berbasa basi tibalah waktunya untuk memesan makanan.
Tiba tiba Rasya menarik Nana ke tempat duduk yang ada di pojok. Membuat bosnya itu bergeser berpindah duduk bersebelahan dengan Bunga. Sejujurnya Bunga merasa canggung berdekatan dengannya karena si polos itu sama sekali tak punya pengalaman berinteraksi dengan kaum Adam setampan laki-laki di sampingnya itu.
"Kamu pacar dari salah satu karyawanku atau keluarganya?" tanyanya dengan ekspresi ingin tau.
"Hmmm, bukan, aku teman pacarnya Rasya," jawab Bunga seperlunya.
Sepertinya dia tidak mengenaliku, baguslah.
"Oh...."
Lelaki itu hanya ber oh ria kemudian terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Pesanan makanan mereka datang mencairkan suasana yang membeku, tanpa basa basi lagi Bunga menyantap makanannya tanpa mempedulikan laki-laki yang ada di sampingnya.
"Ehm... ngomong-ngomong aku mau minta maaf tentang kejadian tadi siang di gedung resepsi. Maaf kalau sikapku kurang berkenan. Tadi itu aku sedang sangat sibuk dengan pekerjaanku sehingga membuatku pusing dan cepat naik darah, Sorry." Lelaki itu menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Kenalkan, namaku Sastra Prawira. Panggil saja aku Sastra," ucapnya sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman disertai senyuman yang ternyata lebih manis dari berton-ton gula, asli tanpa pengawet dan pemanis buatan.
Bunga kikuk dibuatnya, tak menyangka akan berinteraksi lagi dengan lelaki ini dalam atmosfer berbeda.
Kalau enggak kumaafkan maka aku akan dikira manusia sombong, sudahlah sebaiknya kumaafkan saja.
"Ahahaha... tak masalah. Sudahlah jangan dipikirkan lagi, namaku Bunga." Bunga menerima uluran tangan itu untuk bersalaman meskipun ragu.
"Sebagai permintaan maafku, maukah kamu bergabung bersama kami ikut acara outbound di puncak minggu depan?" pinta Sastra.
"Gimana ya." Bunga menggaruk-garuk kepalanya tak gatal.
"Ehm... begini. Untuk saat ini aku belum dapat memastikan bisa ikut atau tidaknya. Jika memang minggu depan ada waktu luang aku akan mengabarimu," sahutnya sambil berusaha tersenyum, padahal degupan jantungnya mulai tak terkendali.
"Baiklah. Aku sangat berharap kamu bisa ikut. Aku akan memberikan nomorku secara cuma-cuma khusus buatmu, dan sekarang bolehkah kuminta nomor ponselmu? Agar kita bisa saling mengabari." Sastra tersenyum pada Bunga sambil menyodorkan ponselnya.
Ya Tuhan senyumnya benar benar-benar sangat manis, ditambah dengan lesung pipinya sungguh menghipnotisku.
Sastra mengibaskan tangannya di depan wajah Bunga yang sejak tadi malah melongo tak merespon permintaannya.
"Hei halo... kenapa kamu jadi melamun?" Suara Sastra menyadarkan Bunga dari keterpanaannya.
"Ma-maaf tadi aku sedang berpikir tentang hal lain." Dengan cepat ia meraih ponsel Sastra dan memasukkan nomornya.
"Nah sudah." Gadis itu menyerahkan kembali ponsel Sastra.
"Sini ponselmu." Sastra mengambil ponsel Bunga yang tergeletak di meja tanpa permisi dan mengetikkan nomornya.
"Simpan nomorku baik-baik. Tidak sembarang orang kuberikan nomor kontakku," ujarnya terselip nada sombong.
"Baiklah, Pak Sastra. Nanti akan kukabari. Berhubung malam semakin larut, aku mau pamit pulang duluan."
"Panggil saja aku Sastra, jangan pakai embel-embel Pak, aku bukan Bapakmu. Kamu pulang sama siapa?" Sastra bertanya.
"Aku pulang pakai ojek online. Tadi aku kemari bersama Nana pacarnya Rasya, tapi sepertinya Nana masih ingin menikmati malam akhir pekannya bersama Rasya. Aku tidak ingin mengganggu. Terima kasih jamuannya." Bunga segera beranjak dari tempat duduknya dan mencangklong tasnya.
Tiba-tiba Sastra ikut bangkit. "Bagaimana kalau kuantar? Ini sudah lewat jam sembilan malam, memangnya tidak takut pulang naik ojol?"
"Ehh... nggak apa-apa kok. Nggak usah ngerepotin. Aku sudah biasa naik ojol. Terus ojeg yang kupesan juga sudah sampai di depan kafe, mari." Bunga dengan cepat berlalu dari sana dan segera kabur setelah berpamitan pada Nana sekilas.
Setelah berada di depan cafe dan memastikan tak ada yang mengikuti, barulah Bunga memesan ojek online. Sebenanya tadi Bunga hanya mencari alasan supaya tidak jadi diantar oleh Sastra. Ia merasa sangat canggung jika dekat-dekat dengannya, apalagi kalau dia tersenyum rasanya jantungnya berdetak tak terkendali seperti mau loncat saja.
Setelah beberapa menit akhirnya ojol pesanannya datang, dengan terburu-buru Bunga segera naik agar tidak kepergok masih menunggu ojek padahal tadi ia mengatakan ojek pesanannya sudah sampai di depan cafe.
Aishh kenapa aku jadi seperti buronan begini, ada apa denganku? Kenapa aku terpesona pada cowok tengil itu. Atau jangan-jangan dia punya ilmu pelet? Ehh kenapa pikiranku jadi kemana-mana sih! Ah entahlah aku tak tau....
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Mak sulis
jodoh nggak yah..semoga..
2023-07-11
0
nobita
aku juga gk kuat... dg senyumannya Sastra yg mengalahkan berton ton gula... tanpa pemanis dan pengawet buatan... wkwkwkkw
2023-06-11
0
Dede Dahlia
mau dong bunga kamu ikut ke puncak.
2022-11-14
0