Bunga tersenyum mengamati wajah tampan yang tertidur di pangkuannya, gadis itu kembali meletakkan telapak tangannya di dahi Sastra.
"Ternyata masih panas," gumamnya.
Dengan perlahan Bunga mengangkat kepala Sastra dan mengganti pangkuannya dengan bantal. Gadis itu mengambil handuk kecil di kamar mandi dan membasahinya dengan air hangat, kemudian mengompres Sastra. Lalu beranjak keluar kamar karena dia pun belum sarapan.
Bunga memakan sarapannya, tadi ia membeli roti isi di dekat penjual bubur. Setelah selesai Bunga mencuci semua peralatan makan kemudian menyiangi sayuran untuk membuat sup. Ia memutuskan memasak makan siang untuk Sastra, karena memasak sendiri sudah tentu lebih higienis apalagi pria itu kini tengah sakit.
Sastra terbangun. Sudah hampir dua jam dia tidur. Ketik hendak bangkit ia mendapati dahinya dikompres dan demamnya sudah membaik. Bibirnya tersenyum merekah ketika teringat tadi tertidur di pangkuan Bunga.
Namun, sekarang dia tidak melihat gadis itu di dalam kamarnya. Sastra langsung beranjak menuju kamar mandi membasuh dirinya sebentar kemudian keluar dari kamar mencari-cari keberadaan Bunga.
Saat menoleh ke arah dapur Sastra bernapas lega karena ternyata Bunga belum pulang, gadis itu memakai apron dan sedang berkutat di sana. Sastra berlari kecil menuju dapur kemudian memeluk Bunga dari belakang dan seperti biasa ia meletakkan dagunya di ceruk leher Bunga.
"Saat bangun aku tidak melihatmu. Kupikir kamu sudah pulang, kamu sedang apa?" tanyanya.
"Kenapa cepat sekali bangunnya, kamu sudah mandi ya? apa sekarang sudah terasa lebih baik?" Bunga bertanya dengan posisinya yang masih dipeluk oleh Sastra, tercium wangi shampo dari lelaki yang menganggukan kepalanya itu.
"Aku sedang membuat makan siang untukmu, sup ini bisa kamu hangatkan nanti sesaat sebelum menyantapnya. Hanya saja tidak kutemukan beras di dapurmu jadi aku memesan nasi tim dari aplikasi, mungkin sekitar dua puluh menitan lagi akan sampai. setelah ini selesai baru aku akan pulang."
"Sayang... jangan pulang dulu ya, aku masih kangen." Sastra merengek seperti bocah sambil mengendus-endus leher Bunga.
"Jangan menggangguku! aku sedang memasak. Kalau kamu terus memelukku seperti ini kapan selesainya." Bunga mulai geram karena sastra terus menerus memeluknya posesif dan ikut berjalan kesana kemari menempel dipungunggnya seakan direkatkan lem.
"Tidak mau! panggil aku sayang dulu," seru Sastra, tetapi Bunga malah menyikut perut pacarnya itu dan akhirnya Sastra sedikit melonggarkan pelukannya.
"Sayang, kamu menyakiti pasien!" Sastra masih merajuk, dia melepaskan pelukannya lalu melangkahkan kakinya mendekati sofa dan membaringkan dirinya di sana.
Ya Tuhan kenapa di saat sakit dia manja dan menjengkelkan.
Bunga hanya menggelengkan kepalanya sambil tetap mengaduk sup lalu kemudian mematikan kompor.
*****
Hari rupanya sudah menjelang siang, Bunga baru selesai menyuapi Bayi besarnya makan siang dan memastikannya meminum obat. Lalu ia segera bersiap-siap untuk pulang.
"Sas, aku pulang dulu, jangan lupa minum obatnya." Bunga menghampiri Sastra yang sedang bersandar di ranjangnya.
"Kenapa cepat sekali mau pulang?" Sastra meraih tangan Bunga.
"Aku masih ingin bersamamu di sini, bahkan tubuhku masih sedikit demam tapi kamu tega meninggalkanku sendiri? temani aku tidur sebentar saja ya," pintanya memelas.
Kemudian Sastra menarik Bunga berbaring dan mengunci pergerakan gadisnya dengan pelukannya yang ketat.
"Le... lepaskan aku! Jangan memelukku begini hah hah hah, aku sesak tidak bisa bernapas." Bunga melayangkan protes karena Sastra memeluknya terlalu kencang.
Sastra tidak mau mendengarkan Bunga dan malah makin mengeratkan kuncian dekapannya.
"Baiklah... sayang, tolong lepaskan! Aku janji akan menemanimu sebentar lagi," bujuk Bunga dengan napas tersengal.
Sastra tersenyum gembira, ia melonggarkan pelukannya dan membiarkan Bunga meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Kemudian disenyelipkannya untaian rambut Bunga yang menutupi pipi mulusnya. Untuk sesaat suasana hening membentang di ruangan itu, keduanya saling bertatapan seolah tengah menyelami perasaan masing-masing.
"Kenapa kamu mudah sekali merona, bukankah sebelumnya kita pernah tidur berpelukan bersama di atas ranjang ini hmm?" Sastra mulai menggoda gadisnya, tangan Bunga kembali mencubit perutnya.
"Sa-saat itu aku hanya sedang lengah saja!" serunya galak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Dede Dahlia
bunga bayi besarmu manjanya minta ampun 🙈🙉😅😅😅
2022-11-14
0
Juliezaskia
sukaa
2021-10-05
0
Emi Wash
ish bayi besar yg manjah....
2021-09-05
0