Bunga duduk di halte sedang menunggu bus untuk pulang. Lalu terlihatlah sebuah mobil sport berwarna merah berhenti tepat di depan tempat duduk Bunga.
Tin... tin... tin....
Si pengemudi mobil membunyikan klakson dan membuka kaca jendelanya.
"Ayo masuk!" Ternyata Sastra yang membawa mobil itu.
"Gak makasih, aku lagi nunggu bus. Sebaiknya kamu cepat pergi. Mobilmu menghalangi jalan," jawab Bunga ketus.
"Aku gak bakalan menyingkirkan mobilku kalau kamu gak mau masuk!" Sastra berkata dengan nada memaksa.
Orang-orang yang sedang menunggu di halte menatap Bunga dengan pandangan mengintimidasi, seolah-olah menyuruhnya cepat pergi dan jangan membuat keributan.
Dengan terpaksa Bunga akhirnya menaiki mobil Sastra karena sepertinya lelaki itu akan tetap bersikukuh memarkirkan mobilnya di halte kalau Bunga tidak ikut. Sastra tersenyum miring kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sembari menyalakan musik klasik.
"Kenapa gak nunggu aku? kan aku udah bilang mau jemput kamu. Tadi pas ke swalayan teman-temanmu memberitahuku kalau kamu sudah pulang duluan."
"Memangnya aku bilang setuju dijemput? kamu mematikan sambungan teleponnya sebelum aku sempat menjawab!" sahut Bunga bersungut-sungut.
"Kamu gemesin deh kalau ngambek." Sastra dengan sengaja mencubit pipi Bunga.
"Ih apaan sih sakit tahu!" Bunga merengut kesal.
"Kalau galak malah makin cantik," celetuk Sastra merayu.
Pipi Bunga bersemu merah, bagaimanapun juga ia perempuan normal. Tak dipungkiri saat dipuji seperti itu hatinya membuncah bahagia, apalagi yang memuji pria setampan Sastra. Bunga memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela karena dia merasakan pipinya memanas dan sudah pasti merona merah.
"Kamu kenapa jemput aku? kita kan tidak punya hubungan apapun? jadi jangan membuat orang lain salah paham," cicit Bunga masih tetap dengan posisi membelakangi Sastra.
"Aku cuma mau ikut mampir ke rumahmu. Daripada buang-buang bensin lebih baik aku sekalian jemput kamu pulang," sejenak kalimatnya terjeda.
"Ehm... jadi maksudmu kalau aku mau jemput kamu, harus punya hubungan dulu begitu?" sambungnya kembali menggoda Bunga.
Mati aku, senjata makan tuan. Kenapa ini mulut tadi ngomongnya malah begitu.
Gumam Bunga kesal pada dirinya sendiri.
"Bu-bukan begitu maksudku, udah deh jangan di bahas! Tunggu, tadi kamu bilang apa? mau mampir kerumahku, mau ngapain?" Bunga membalikkan tubuhnya menghadap Sastra.
"Waktu aku mengantarmu pulang dari puncak, ibumu menyuruhku mampir. Lagipula tidak baik menolak ajakan orang tua, jadi hari ini aku akan memenuhi undangan ibumu," sanggahnya. Padahal itu hanya alasan Sastra dalam melancarkan misinya untuk mendapatkan Bunga.
Ke rumahku? Menemui ibuku? Haduh mending gak usah, ibuku pasti salah paham lagi. Mau di taruh di mana mukaku.
"Tapi... kayaknya hari ini ibuku gak ada di rumah deh."
Bunga menjawab dengan gugup, tapi sayangnya ekspresi air mukanya yang gelisah itu bisa tertangkap dengan mudah oleh Sastra. Bunga bagaikan buku terbuka yang sangat mudah di baca, Sastra menahan tawanya sambil sesekali melirik Bunga.
"Kamu takut ya, kalau ibumu mengira aku pacarmu lagi?" ejeknya sambil tetap mengemudi.
Sepertinya dia memang sengaja ingin membuatku jengkel. Aku sangat malu mengingat kejadian itu, rasanya aku ingin mengubur diriku sekarang juga.
"Memangnya pacarmu kemana?" tanya Sastra.
"Aku ga punya pacar!" Bunga menjawab sekenanya.
"Ehm... tapi kalau kamu mau aku bisa jadi pacarmu."
Bunga terperanjat kaget dengan pernyataan Sastra hingga duduknya merapat menempel di pintu mobil.
"Hahaha... ka-kamu ngomong apaan sih. Jangan ngasal deh. Gak lucu tahu hahaha," Bunga tertawa canggung.
"Aku serius." Sastra menatap Bunga dengan pandangan yang sulit diartikan. Yang di tatap langsung membeku berusaha mencerna tentang apa yang barusan dia dengar. Bunga hanya terdiam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di pekarangan rumah Bunga.
"Sebaiknya hari ini kamu gak usah mampir," ucap Bunga dingin dan ketus. Lalu dia turun dari mobil dan menutup pintu tanpa mengucapkan terimakasih.
Saat Bunga sudah masuk Sastra kembali melajukan mobilnya sambil tersenyum puas.
Sepertinya gadis lugu itu sudah mulai terpengaruh dengan rayuanku, aku akan terus menebarkan pesonaku untuk menjeratnya secepat mungkin.
Gumam Sastra dalam hati.
*****
Bunga menghempaskan tubuhnya ke ranjang, kata-kata Sastra masih terngiang-ngiang di telinganya. Wajahnya merona, dia tersenyum lebar lalu menguling gulingkan dirinya di atas ranjang.
Perasaan apa ini? Kenapa seperti banyak kupu-kupu beterbangan di perutku? Apakah begini rasanya jatuh cinta?
Bunga tak henti-hentinya tersenyum lalu membenamkan wajahnya di atas bantal. Siapa yang tidak senang jika di tembak oleh pria berpenampilan sempurna dan tajir seperti Sastra, Bunga juga tidak menampik dengan kenyataan bahwa Sastra memang sangat memesona.Tak lama ponselnya berdering tanda ada telepon yang masuk.
"Hai Cantik." Bunga merona mendengar pujian Sastra, hatinya berbunga-bunga dipanggil dengan sebutan seperti itu.
"Ada apa?" jawab Bunga berusaha terdengar biasa saja.
"Irit banget jawabnya? tentang perkataanku tadi aku benar-benar serius."
Kenapa dia terlalu terus terang begini sih, membuatku goyah saja.
Bunga merasakan dadanya berdegup kencang. "Kita belum lama kenal Sas, aku merasa ini terlalu cepat. Jadi beri aku waktu untuk berpikir."
"Aku harap kamu bisa segera memberikanku jawabannya. Jangan terlalu lama meyiksaku,
karena bagiku tidak butuh waktu lama untuk jatuh pada pesona wanita secantik dirimu," rayunya terang-terangan. Seandainya ada pertandingan akting menggombal sudah di pastikan Sastra yang jadi juaranya.
Bunga kembali merona dengan gombalan Sastra, apalagi ini adalah pertama kalinya ada pria yang menyatakan perasaannya secara gamblang terhadapnya.
"Beri aku waktu satu minggu untuk memikirkannya." Ia menjawab setenang mungkin padahal jantungnya terasa seperti berlarian ke sana ke mari.
"Baiklah, selamat tidur."
Bunga merasa begitu bahagia, sebenarnya dia ingin segera menjawab ya pada Sastra. Bunga tidak munafik bahwa ia pun menginginkan Sastra, tetapi dia sengaja mengulur waktu untuk memberikan jawaban agar tidak terkesan murahan. Sore itu menjadi sore yang sangat indah bagi Bunga, sesekali dia bersenandung dan tak henti-hentinya tersenyum.
Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, aku harus menggenggamnya dengan kuat, yang kucari cari selama ini sudah ada di depan mata. Di tambah dengan wajah tampan dan kaya dan aku pun menyukai Sastra. Jika bersamanya aku bisa berbangga di depan semua orang, terutama pada Ina dan tante Ida yang selalu menghinaku. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan mereka berbuat begitu lagi.
Akal sehatnya untuk berhati-hati pada orang asing seolah tidak bekerja lagi. Tanpa Bunga sadari perkataan orang-orang yang sering meremehkan dia karena tidak kunjung mempunyai pasangan, lambat laun seiring waktu mempengaruhi dan mengubah pribadinya menjadi berambisi untuk bisa mendapatkan pasangan yang lebih dari orang-orang yang mengejeknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Mak sulis
dasar play boy..main rayu rayu..mana Bunga lugu lagi..pasti mudah dikibuli..gak rela..
2023-07-11
0
starlaa
kasian bunga, ketemu sama yg main main gitu
2023-03-19
0
Rose_Ni
lo yg menjerat lo yg kejebak
2023-01-12
0