Author note.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Dukungan kalian selama ini membuatku semakin semangat menulis 💕
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih, selamat membaca 😊
With Love,
Senjahari_ID24
*********
Keesokan harinya di swalayan. Nana yang baru tiba langsung menghambur ke arah Bunga dan memeluknya.
"Hei cantik. Rasya bilang padaku waktu di tempat outbound kamu sakit jadi pulang lebih awal. Aku khawatir banget waktu mendengarnya. Maafkan aku, teman macam apa aku ini sampai tidak tahu kalau kamu sakit di sana huhuhu." Raut wajah Nana terlihat bersalah.
"Hahaha kamu ini. Aku nggak apa-apa kok. Cuma masuk angin biasa bukan kena serangan jantung." Bunga terkekeh dan balik memeluk Nana.
"Eh apa benar kamu di antar pulang sama Pak Sastra? cie cie pasti seneng banget di anterin pulang sama cowok ganteng?" Nana menggoda Bunga.
"Ih apaan sih kamu, tapi ngomong-ngomong emang Rasya udah lama ya kerja sama Sastra? trus si Sastra itu orangnya gimana sih?" tanya Bunga penasaran.
"Rasya bilang dia itu anak bungsu pemilik perusahaan, baru tiga bulan yang lalu pulang dari Amerika dan langsung menjabat sebagai CEO di tempat kerja Rasya, katanya sih orangnya loyal banget cuma kehidupan pribadinya tertutup gitu."
"Ohh...." Bunga hanya ber oh ria.
"Eh tunggu, kamu manggil dia apa tadi, Sastra? sejak kapan kamu manggil Pak Sastra dengan panggilan santai begitu?" Nana memicingkan matanya penuh tanya.
"Tumben kamu kepo sama seseorang. Atau jangan-jangan saat pulang bareng kamu ada apa-apa ya sama dia ya? ayo ngaku!" Nana terus menggoda Bunga.
"Ih bukan begitu. Itu karena sebelumnya kita tidak sengaja sempat bersinggungan di tempat resepsi sepupuku. Lalu saat di cafe aku baru tahu kalau dia bosnya Rasya. Sastra gak mau aku panggil pakai embel-embel pak. Dia bilang padaku kalau dia itu bukan bapakku," Bunga bersungut-sungut.
"hahaha... jadi begitu ceritanya. Atau jangan-jangan dia naksir sama kamu?"
"Aduh Nana... ngomongnya kok jadi makin ngawur sih. Udah yuk kita siap-siap display barang, kalau ketahuan ngerumpi nanti di omelin Bu Nani." Bunga menarik tangan Nana dan segera masuk ke dalam swalayan.
****
Siang harinya di sebuah restoran, terlihatlah Sastra dan Kevin yang tengah makan bersama sambil bercengkrama. Setelah menyelesaikan makan siangnya Sastra bersantai dan membuka ponselnya. Mencari-cari nomor kontak Bunga dan menghubunginya.
"Halo." Terdengar suara Bunga diseberang sana.
"Hai lagi apa? sudah makan siang?" tanya Sastra.
"Ini siapa ya?" Bunga mengerutkan keningnya.
Sastra menghela nafasnya dalam. "Kamu angkat telpon tapi nggak di lihat dulu dari siapa? coba kamu lihat lagi baik baik!" gerutunya agak kesal.
Bunga menjauhkan benda persegi panjang itu dari telinganya dan segera melihat siapa sebenarnya sang penelepon.
*Sastra? ada apa dia menelepon, batinnya.
"Sorry* Sas, tadi gak sempat lihat. Aku lagi makan siang, ada apa ya kamu telpon aku?"
"Jadi gak boleh ya kalau aku nelpon kamu?" ujar Sastra menjengkelkan.
"Eh bukannya begitu, aku cuma nanya doang emang gak boleh?" jawab Bunga galak.
"Hahaha, ternyata kamu pinter ngeles juga. Nanti pulang kerja jam berapa?" tanya Sastra lagi.
"Ngapain nanyain aku pulang jam berapa? jam kerjaku berakhir pukul empat sore."
"Gak apa-apa cuma tanya aja, nanti sore aku jemput." Klik terdengar suara panggilan di matikan sepihak.
Bunga mengerjapkan matanya lalu menatap layar ponselnya karena Sastra menutup panggilannya secara tiba-tiba.
Sastra menelponnya hanya untuk bertanya hal semacam itu? Apa laki-laki itu sengaja ingin membuatnya jengkel? Kenapa dia memutuskan sesuatu secara sepihak, dan juga tentang menjemputnya bahkan Bunga belum menjawab setuju untuk pulang bersamanya.
Bunga menghentakkan sendoknya hingga beradu dengan piring sehingga menimbulkan dentingan nyaring membuat Nana berjengit kaget melihat gaya makan bunga yang tiba-tiba berubah serampangan.
"Dasar otoriter!" umpat Bunga.
****
"Aku? kamu? sejak kapan gaya ngomong Lo jadi manis begitu," Kevin meledek Sastra.
"Diem lo kampret." Sastra menoyor kepala Kevin.
"Dasar playboy cap kapak, siapa mangsa lo kali ini? sampe Lo rela berakting supaya terdengar jadi cowok baik-baik," tanya Kevin penuh selidik.
"Ada deh, mangsa gue kali ini spesies langka. Jadi kayaknya harus dengan cara berbeda juga buat ngedapetinnya."
"Perawan?" Kevin makin penasaran.
"Kayaknya sih gitu." Bibir Sastra menipis menyeringai.
"Dasar penjahat Lo, kasihan anak orang. Terus bakal ribet urusannya Sas kalau sama perawan, ujung-ujungnya pasti minta dinikahin."
"Entahlah. Pokoknya gue harus bisa dapetin dia, cuma menghirup aroma dia aja gue langsung bergairah. Gue penasaran banget sama si polos itu." Sastra menyunggingkan senyum sombongnya.
"Dasar sinting lo, terserah deh. Tapi gue jadi ikut penasaran, seperti apa penampakan tu cewek sampe Lo terobsesi kaya gitu?" cicit Kevin.
"Pokoknya dia terlihat berbeda, bukan kayak cewek-cewek sosialita yang doyan belanja. Dia itu punya daya tarik sendiri." Mata Sastra berbinar saat dirinya bercerita tentang Bunga.
"Eits... awas hati-hati, nanti Lo jatuh cinta beneran sama dia!" seru Kevin.
"Hohoho... tidak pernah ada kata jatuh cinta dalam kamus Sastra Prawira. Tahu sendiri kan kalo gue gak bisa terus-terusan cuma sama satu cewek? yang ada nanti gue mati bosan."
"So pasti gue udah tahu banget kalo Lo itu memang brengsek." Kevin tertawa puas.
"Sialan lo, walaupun brengsek tapi cewek cewek pada nempel sama gue." Sastra menepuk dadanya bangga.
"Bener banget, nggak ada seorang cewek pun yang bisa menolak pesona Sastra Prawira."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
🌾lvye🌾
ya ampun si bunga dijadiin target doang ma sastra
2024-03-05
0
Mak sulis
semoga Bunga tidak dijadikan mangsa..kasihan gadis lugu ini
2023-07-11
0
ana Imaa
jangan mau diperdaya bunga,pokoknya kamu harus jaga diri dan hati2 sama si sastra,trnyata dia orangnya gk bener
2023-01-01
0