Setelah beberapa saat Bunga pun keluar, gadis itu merasa risih karena tidak memakai dalaman lalu dia menyilangkan kedua tangannya di dada.
Aku harus meminjam kaos dalam dan celana dalamnya walaupun aku malu setengah mati. Tak ada bra pun tak apalah, itu lebih baik daripada tidak memakai dalaman sama sekali.
Bunga keluar dari kamar dan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Sastra sambil celingak celinguk seperti maling.
Terlihatlah Sastra yang sepertinya juga sudah mandi karena dia sudah berganti pakaian dengan kaos oblong dan training. Dia berkutat di dapur seperti sedang membuat sesuatu.
Saat Sastra sudah selesai, dia melihat Bunga yang ternyata sudah berdiri di dekat pintu kamarnya. Untuk sejenak dia tertegun melihat Bunga yang memakai kemeja longgarnya dengan wajah tanpa makeup sama sekali. Sastra memindai gadis itu dari ujung kepala hingga kaki.
Wow damn she's so beautiful and sexy.
Sastra cepat-cepat menyadarkan kembali pikirannya dan berusaha bersikap senormal mungkin, dia melangkah menuju sofa sambil membawa dua buah cangkir.
"Bunga kemari dan duduklah. Ini teh jahe madu. Minumlah, untuk membantu meredakan masuk angin," ucapnya sambil mendudukkan dirinya di sofa dan berusaha berpura-pura cool padahal jantungnya sedang berolahraga.
Bunga yang masih berdiri di depan pintu berjalan perlahan ke arah sofa masih dengan posisi tangan yang seperti memeluk dirinya sendiri.
Sastra mengerutkan keningnya melihat apa yang di lakukan Bunga. "Bunga, kamu kenapa? apa AC nya terlalu dingin sampai kamu memeluk dirimu sendiri. Atau ada yang sakit?" cecarnya.
Bunga duduk bersebrangan dengan Sastra. Ia segera mengambil cangkirnya dan meminum isinya hingga tandas. Gadis itu mengusap tengkuknya gusar dan mencoba memberanikan diri menatap Sastra.
"Ak-aku baik-baik saja, nggak ada yang sakit. Cuman anu itu... itu...."
"Kamu sebenarnya mau ngomong apa? kenapa gelisah begitu?" Sastra menatapnya bingung.
"Begini sebenarnya aku... aku... ehmmm, bolehkah aku meminjam kaos dalam dan juga celana dalammu? pakaian dalamku juga ikut basah saat menembus hujan tadi," Bunga bersuara pelan lalu langsung tertunduk malu.
Hening sejenak. Kemudian....
"Hahaha... kukira ada apa. Maaf, aku lupa tentang hal itu, ayo ikut ke kamar." Sastra menarik lengan Bunga lembut tetapi gadis itu menahannya.
"Mau ngapain?" tanya Bunga takut-takut.
"Menurutmu?" Sastra tersenyum jahil dan tetap membawa bunga menuju kamarnya walaupun yang di gandeng setengah meronta.
Sesampainya di dalam kamar ia menuju ruangan di dekat kamar mandi, tampaklah berjejer lemari-lemari besar di sana. Sastra membuka salah satu lemarinya dan mencari-cari benda yang dimaksud.
"Ini masih baru, pakailah!" Sastra memberikan pakaian dalam yang masih baru dan bersegel. Gadis itu langsung mengambilnya, berlari menghambur ke kamar mandi dan mengunci pintunya lalu dengan cepat memakainya.
Hhh... yang benar saja, aku memakai dalaman pria, apakah aku mesum? Ah bodo amat lah.
Klekkkk....
Bunyi pintu kamar mandi terbuka dan ternyata Sastra sudah berdiri di depan pintu sambil bersandar ke dinding dengan melipat kedua tangannya. Bunga yang melihat keberadaannya di situ sedikit terperanjat.
"Eh ka-kamu... ngapain berdiri di situ? kamu ngintip ya!" tuduhnya dengan tatapan mata curiga.
Sastra tertawa geli melihat ekspresi gadisnya, lalu tersenyum nakal. Kemudian Bunga menepuk jidatnya sendiri.
"Ya ampun aku lupa, pasti kamu mau mandi kan? maaf karena tadi aku mandi terlalu lama sehingga lupa bahwa kamu juga harus membersihkan diri akibat terkena air hujan. Tapi kamu udah ganti baju? apa kamu mengganti bajumu tanpa mandi?" tanyanya ingin tahu.
"Kamu tenang aja aku udah mandi di kamar tamu," sahut Sastra.
"Jadi kamu mandi air dingin? setelah hujan hujanan begini?" Bunga merasa tidak enak pada yang punya rumah.
"Hahaha... aku baik-baik saja Nona. Tubuhku tidak selemah dirimu yang tak tahan dengan udara dingin. Perlu kamu ketahui aku ini pria tangguh," ucapnya narsis..
Bugh... Bunga mencebikkkan bibirnya sebal dan memukul-mukul bahu Sastra. Namun dengan sigap Sastra menangkap tangan gadisnya, lalu membawa Bunga untuk duduk di tepi ranjang.
"Kamu... kamu mau apa?" ucap Bunga terdengar cemas.
"Aku mau mengeringkan rambutmu." Sastra membawa sisir dan hairdryer.
"Sekarang kamu duduklah dan biarkan aku jadi penata rambutmu malam ini."
"Tapi aku bisa sendiri." Bunga menolak hendak mengambil alih hair dryer dari tangan Sastra.
"No no no..., jangan membantah."
"Baiklah tuan tangguh," sahutnya sambil tersenyum manis. Kali ini Bunga tidak banyak menolak dan langsung menurut, dia sangat senang karena Sastra begitu perhatian padanya.
Saat baru saja selesai kegiatan mengeringkan rambut, Bunga sudah sangat mengantuk dan tanpa disadarinya dia langsung jatuh tertidur ke atas ranjang.
Sastra mengulum senyumnya melihat gadis polos itu tertidur dengan mudahnya. Dia meraup tubuh ramping Bunga dan membetulkan posisi tidurnya ke tengah ranjang. Sastra pun menyusul bergabung berbaring di sana, merengkuh gadisnya dalam pelukannya menarik selimut dan mengecup puncak kepalanya.
Sebenarnya Sastra gelisah dengan posisi sedekat ini karena hasrat yang mendesak pada dirinya, hanya saja rasa kantuk dan
lelah lebih mendominasinya saat ini. Akhirnya ia ikut menyusul tertidur dengan lelapnya.
****
Pagi telah datang, cahayanya masuk menyeruak melalu celah-celah jendela kamar. Terlihat dua insan yang berlainan jenis itu masih tertidur bergelung dalam satu selimut saling memeluk satu sama lain.
Bunga terbangun mengerjap ngerjapkan matanya, dan saat membuka mata yang pertama kali dia lihat ada wajah tampan yang akhir-akhir ini mengisi hatinya. Bunga melepaskan pelukannya karena tanpa sadar dalam tidurnya ternyata dia memeluk Sastra layaknya guling.
Tiba-tiba tangannya terulur menyentuh pipi sastra. Bunga menyapukan jarinya di wajah tampan itu mulai dari alis, mata, turun ke hidung kemudian bibir. Bunga tersipu malu mengingat bibir itu menciumnya kemarin.
Dari jarak dekat begini aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa dia memang sangat tampan. Bahkan bulu matanya lebih panjang dari punyaku, dan bibir ini... haishhh aku malu.
Sastra sebetulnya sudah terbangun saat Bunga menelusuri wajahnya. Dia menahan senyumnya karena ternyata Bunga sedang memperhatikannya.
Kemudian mata elang itu terbuka dan langsung bersirobok dengan mata indahnya Bunga. Gadis itu kaget karena Sastra terbangun saat jarinya masih berada di bibir pria itu.
"Apa kamu sedang mengagumi ketampanaanku," ucapnya menggoda.
Bunga yang terciduk langsung tersipu dan hendak beranjak bangun dari ranjang, tetapi Sastra tak membiarkannya. Ia menahan pinggang Bunga dan menariknya hingga terjatuh ke atas tubuhnya.
"Mau kemana, hmmm? jadi setelah ketahuan menyentuh nyentuh wajahku kamu mau kabur begitu saja? kamu harus membayar kompensasi."
"Untuk apa aku membayar! Yang kusentuh adalah wajah pacarku, lagipula gajiku tidak banyak apa kamu ingin memerasku hah? " seru gadis itu kesal.
Cup....
"Morning kiss baby, itu adalah bayarannya."
Blushhh.
Wajah Bunga langsung merona, dengan cepat dia bangkit dari atas tubuh Sastra dan berlari ke kamar mandi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Siti Aisyah
modus Mulu ni sastra/Kiss/
2024-11-21
0
Dede Dahlia
sastra untuk saat ini aku merasa kamu sangatlah manis 🤔
2022-11-14
1
Heti Supriyati
bungaa sadar itu kadal bunting
2021-11-26
1