Dengan cepat Bunga menghambur ke arah ibunya dan menarik tangan Sastra.
"Jangan sekarang Bu, dia lagi banyak kerjaan. Iya kan?" Bunga menaikkan alisnya memberi kode pada Sastra untuk menolak, untung saja Sastra cepat tanggap.
"I-iya, maaf ya Tante. Seperti yang Bunga katakan saya masih banyak pekerjaan. Lain kali saya pasti akan mampir." Sastra memasang senyum manisnya membuat lesung pipinya terlihat.
"Tapi lain kali harus mampir ya Nak ganteng. Tante pengen ngobrol banyak sama kamu." Bu Marni menjawab dengan sumringah.
"Baik Tante. Kalau begitu saya permisi dulu, Bunga aku pamit."
"Makasih ya, maaf udah ngerepotin," sahut Bunga canggung.
"Santai saja," ujarnya. Kemudian setelah berpamitan pada Bu Marni Sastra beranjak pulang dan melajukan mobilnya dari pekarangan rumah Bunga.
*****
Bunga masuk ke dalam rumah, berjalan menuju kamarnya karena ingin segera beristirahat. Namun, ternyata di dalam kamar sudah ada ibunya menunggu duduk di tepian ranjang.
Pasti ibu mau mengintrogasiku, aduh kepalaku makin pusing.
"Bunga jadi itu pacarmu? kenapa baru dibawa kesini sekarang. Ibu gak nyangka, ternyata pacarmu ganteng banget pakai mobil mewah lagi. Pasti dia bibit unggul. Ibu jadi tidak sabar ingin segera memamerkannya pada tetangga dan saudara-saudara kita." Bu Marni tampak sangat gembira.
Aduh ibu kenapa jadi salah paham gini, jadi runyam deh urusannya .
"Nanti kujelaskan ya Bu. Sekarang aku pengen istirahat. Kepalaku pusing banget," sanggahnya sementara tangannya memijat pelipisnya.
"Ya sudah istirahatlah. Nanti ibu buatkan teh jahe. Tapi ingat ya, kamu masih hutang penjelasan sama Ibu."
"Iya Bu," sahutnya malas.
Bunga sudah tidak kuat lagi untuk beradu argumen dengan ibunya karena kepalanya semakin terasa sakit dan pusing. Ia menghempaskan dirinya di kasur dan langsung terlelap tenggelam dalam tidurnya.
*****
Sastra Prawira.
Pria tampan berusia 27 tahun. Berperawakan tinggi atletis dengan fitur wajah terpahat sempurna. Mata setajam elang, hidung mancung di tambah lesung pipi yang membuatnya semakin memesona.
Dia adalah anak bungsu dari pemilik Prawira Grup yang bergerak di bidang konstruksi, advertising dan photography. Dia baru saja kembali dari Amerika dan langsung menjabat sebagai CEO di perusahaan milik keluarganya itu.
Sastra terlihat memarkirkan mobilnya di salah satu kelab malam elit ibukota. Dia sudah berjanji untuk bertemu dengan Kevin temannya sewaktu SMA dulu.
Di dalam sana, alunan musik yang dipandu disc joki berdentum membuai para pengunjung menari di lantai dansa. Sastra bergegas menemui Kevin yang sudah duduk menunggu dekat meja bartender.
"What's up bro." Sastra menepuk bahu Kevin dan duduk di sebelahnya.
"Woww... long time no see," sambut kevin kemudian keduanya saling berpelukan melepas rindu.
"Lo mau minum apa, Sas?" tawarnya.
"Apa aja yang penting enak dan yang pasti kamu yang traktir." Sastra mendudukkan dirinya di kursi sebelah Kevin.
"Dasar. Sudah jadi CEO juga tetep aja nggak berubah," ledek Kevin diiringi kekehan dan disusul dengan mereka berdua yang tergelak kencang.
Tak lama berselang bartender menyajikan dua sloki minuman untuk Kevin dan Sastra.
"Hebat lo pulang-pulang langsung jadi CEO," ujar Kevin.
"Ya mau gimana lagi, bokap gue sekarang lagi sibuk nyalonin jadi kepala daerah. Kakak gue tinggal di Singapura karena suaminya orang sana. Jadi mau gak mau ya gue yang di suruh ngurusin perusahaan," jawab Sastra sambil mencicipi minumannya.
"Gue denger, lo juga sekarang lagi ngurusin proyek perusahaan bokap lo?" tanya Sastra pada Kevin.
"Yup... binggo, karena akhir-akhir ini bokap gue lagi bolak balik Singapura juga."
"Kenapa bokap lo? Sakit?" Sastra memicingkan matanya pada Kevin.
"Biasa, penyakit tua hehe," jawab Kevin cengengesan.
"Eh... gimana kabar para cewek-cewek bucin lo? Kalau mereka tahu lo udah balik, di jamin deh pada ngintilin dan nempelin macem lintah!" Kevin tertawa puas dan Sastra hanya menggedikkan bahunya masa bodo.
Tiba-tiba entah darimana datangnya seorang wanita cantik dengan pakaian kurang bahan mendekati mereka.
"Sastra? Kapan kamu pulang? Kok enggak ngabarin aku sih." Tanpa malu-malu wanita itu langsung duduk di pangkuan Sastra.
"Wah wah wah, panjang umur Lo Anita. Baru aja diomongin udah nongol aja," cicit Kevin.
Anita seorang model papan atas. Namun, demi ambisinya memiliki Sastra si pewaris rupawan sang tambang emas menggiurkan, dia merendahkan dirinya di hadapan lelaki memesona itu. Bahkan Anita rela hanya dijadikan salah satu penghangat ranjang Sastra meskipun tanpa status.
Tentu saja untuk soal materi Sastra sangat loyal kepada Anita. Setiap kali Anita menemani dalam tanda kutip, Sastra akan memberikan sejumlah cek dengan nominal yang tidak sedikit. Hanya saja tentang cinta, pernikahan dan kesetiaan adalah hal yang sangat mustahil dinyatakan oleh seorang Sastra Prawira.
"Kenapa? Kangen gue atau duit gue?" Sastra melingkarkan lengannya di pinggang Anita.
Anita mengalungkan tangannya di leher Sastra. "Dua-duanya dong," bisik Anita genit ke telinga Sastra. "Yuk, cabut dari sini, kita ke tempat yang biasa," ajak Anita manja.
"Oke. Vin, gue duluan." Sastra beranjak dari duduknya.
"Ya elah, lo tega ninggalin gue sendiri. Dasar brengsek!" Kevin terkekeh.
Sastra meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja. "Nih gue yang bayarin minumannya."
"Sudah pergi sana kalian. Segera selesaikan hajat lo berdua," usir Kevin dengan tawa mengejek.
"Sialan lo! Gue cabut."
"Take care, bro." Kevin melambaikan tangannya.
Anita menggandeng Sastra menuju parkiran. Sastra melajukan mobilnya menuju hotel tempat di mana ia sering menginap. Baru saja mereka masuk ke dalam kamar hotel, tanpa menunggu lama Sastra langsung menerjang Anita dan meluapkan naluri primitifnya yang tersulut sejak tadi sebab terpantik aroma memikat juga bayang-bayang wajah cantik Bunga, padahal Bunga hanya menguarkan aroma bedak bayi.
Sebetulnya, ketika perjalanan pulang tadi Sastra sudah terganggu sesuatu yang merayap naik hingga ubun-ubun karena berdekatan dengan Bunga. Wangi tubuh Bunga serta wajahnya yang masih polos dan lugu, membuat sisi kelelakiannya bangkit seketika. Itulah sebabnya akhirnya sastra melampiaskannya pada Anita, tetapi hanya wajah Bunga yang memenuhi isi kepalanya.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
🌾lvye🌾
aq kira sastra cowok kalem 😁 ternyata
2024-03-05
0
Mak sulis
wadduh..ternyata sastra hobi celap celup sembarangan..ohhh..tidak..ganteng ganteng kok gitu
2023-07-11
0
ana Imaa
yah auto kecewa😔😔kirain gk suka celap celup sembarangan😒😒
2023-01-01
0