Bunga kembali masuk ke dalam gedung dan bergabung dengan keluarga yang lainnya untuk sesi foto bersama. Dilihatnya lelaki tengil tadi juga ada di sana sedang memberi arahan pada para photografer untuk siaga di posisi masing-masing dan bersiap mengambil gambar.
Terdengar mereka menyahuti instruksi dari lelaki itu," Siap, Bos."
"Boss?" gumam Bunga.
Apa karena dia seorang bos lantas bisa bersikap seenaknya terhadap orang lain? Aduh aku masih kesal setengah mati padanya.
Di saat Bunga sibuk membatin, tak sengaja lelaki itu menatap ke arahnya hingga mata mereka beradu pandang. Sorot mata Bunga tajam penuh rasa dongkol, tetapi kemudian dia melengos tak peduli dan menghindari kontak mata dengannya.
Dasar cowok enggak punya sopan santun! umpat Bunga dalam hati.
Tak lama kemudian lelaki tadi terlihat menerima panggilan telepon dan segera segera berlalu meninggalkan podium.
Dia itu mau kemana sih? Ah sudahlah jangan pedulikan dia.
*****
Tiba saatnya mereka pulang. Bunga bersalaman memberi selamat sambil berpamitan pada Ina serta suaminya. Ketika saudara sepupu itu saling berjabat tangan, Ina menahan tangan Bunga dan bertanya.
"Bunga kapan kamu mau menikah?"
Deg ....
Kenapa sejak tadi yang di tanyakan orang-orang padaku selalu saja pertanyaan seputar pernikahan? Aduh kepalaku pusing memikirkan jawabannya.
"Ehm ... tunggu saja, Ina. Sebentar lagi akan kukirimkan undangannya padamu," sahut Bunga berusaha tetap menjawab dengan nada manis.
Ina hanya tersenyum sinis, sepertinya dia memang sengaja ingin membuat Bunga dongkol.
"Benarkah? Tapi aku enggak yakin," cibirnya. "Aku heran sama kamu Bunga, kamu itu lebih cantik dari aku tapi kenapa nasibmu tak secantik wajahmu? Sepertinya seumur hidup kamu akan selalu kalah olehku dalam hal apapun," ucap Ina sombong seperti biasa.
"Maaf Ina, aku rasa menikah bukan suatu perlombaan. Jadi terserah apapun penilaianmu tentangku nilailah sesuka hatimu. Mau itu baik atau buruk aku tak peduli. Kurasa enggak ada gunanya lagi aku berlama-lama di sini, aku pamit."
Bunga segera berbalik badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan gedung resepsi itu. Ia sudah muak berada di sini dan ingin segera terbebas dari pertanyaan seputar kapan menikah. Gadis itu memesan taksi online untuk pulang karena cuaca terik siang ini, dan sepanjang perjalanan pulang ibunya hanya terdiam membisu dengan wajah ditekuk.
*****
Sesampainya di rumah saat Bunga hendak masuk ke kamarnya tiba-tiba ibunya menarik lengannya dan menyuruhnya duduk berhadapan.
"Bunga, kamu dengar kan tadi bagaimana saudara-saudara Ibu menghujat karena kamu tak kunjung menikah?" Bu Marni terlihat marah
"Ibu sarankan sebaiknya kamu terima saja lamaran Pak Dedi itu agar kamu segera menikah. Ibu sudah bosan dengan perkataan mereka yang bilang kamu perawan tua," keluhnya memaksa.
Bunga mencoba untuk tetap menjawab dengan tenang. Sudah menjadi lalapan reaksi ibunya yang seperti ini.
"Bu, setiap orang punya takdir masing-masing bukan? Mungkin aku memang belum ditakdirkan untuk bertemu dengan jodohku. Aku yakin jika sudah waktunya tiba semuanya akan dipermudah. Juga, aku ingin saat menikah nanti, aku menikah dengan orang yang kucintai yang juga mencintaiku. Bukan demi memenuhi tuntutan orang lain, " jelas Bunga selembut mungkin meskipun ia juga lelah dengan pertanyaan serupa.
"Tapi sampai kapan Bunga? Bahkan Ibu sudah bosan dengan gunjingan tetangga saat berbelanja di warung. Mereka selalu bilang kamu itu tak laku, membawa pacar ke rumah pun kamu belum pernah sama sekali."
"Aku janji, dalam waktu dekat ini akan segera membawa calon menantu ke hadapan Ibu," ujarnya asal yang di maksudkan untuk menutup bahasan ini.
"Eh tunggu tunggu... memangnya kamu punya pacar? Kenapa tidak pernah bilang sama Ibu? Apa dia kaya? Kapan kamu akan membawanya ke sini?" Otak Bu Marni yang sedang memanas malah salah tanggap.
Waduh kenapa jadi ribet begini urusannya? Wahai mulut kenapa kau asal bicara! Ibu kan jadi salah mengartikan. Batin Bunga.
"Ehm... i-tu nanti, Bu. Kalau sudah waktunya, pasti akan kuajak ke rumah," jawabnya kikuk.
"Duh, Ibu sudah tidak sabar. Sebaiknya kamu secepatnya bawa dia kemari, ibu ingin tahu seperti apa pacarmu itu." Bu Marni tampak bersemangat.
"Ahahaha... i-iya, kalau begitu aku ke kamar dulu mau istirahat ya, Bu."
"Ya sudah sana cepat istirahat. Ibu seneng banget, akhirnya wajah cantikmu itu berguna juga."
Bunga segera masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu, dihempaskan tubuh lelahnya ke atas ranjang single yang sudah usang.
Dimana aku harus mencari pacar secepatnya? Seandainya saja mencarinya itu semudah membeli barang di online shop, pasti aku tidak akan bingung seperti ini, au ah gelap.
Di tengah-tengah kepala pusingnya, ponselnya berdering menginterupsi. Tertera nama Nana di sana. "Halo, Na. Ada apa?"
"Bunga, kamu lagi di mana?"
"Aku di rumah baru pulang, kenapa?" sahutnya.
"Nanti malam tolong temani aku berbelanja ya, aku dan pacarku Rasya mau ikut outbound ke puncak minggu depan. Aku mau membeli baju couple, biar keren. Mumpung hari ini kan kerja libur ditambah akhir pekan pula, masa iya ibumu masih enggak ngizinin?" ucapnya sengit dari seberang sana. Nana bicara seperti itu karena sudah bosan mendengar penolakan Bunga setiap kali diajak hang out.
"Ya sudah aku minta izin pada ibu. Tapi nanti jemput aku ke rumah ya, biar hemat biaya transport, hehe."
"Oke sip, beres kalau masalah itu, nanti kubawa motorku," jawab Nana bersemangat.
"Oke, sampai nanti."
Daripada mumet di rumah lantaran dicecar dengan pertanyaan seputar pacar dan menikah, Bunga pikir lebih baik mencoba berjalan-jalan mencari angin. Sepertinya ia harus membawa uang lebih.
Akan kuambil tabunganku sedikit untuk hari ini. Selama ini aku selalu menghemat uangku, sekali-kali boros tak apalah. Pikirnya.
"Bu... Ibu...." panggilnya seraya menghampiri ibunya di dapur.
"Ada apa sih, kok kamu teriak-teriak?" protes Bu Marni.
"Bu, aku minta izin. Nana dan aku mau jalan-jalan ke mall malam ini. Aku mau mengantar Nana berbelanja, bolehkah? Aku janji jam sembilan sudah pulang," pintanya.
"Wah, bolehlah. Baguslah jangan ngerem di rumah terus. Atau kamu mau bertemu dengan pacarmu itu juga sangat-sangat boleh, segera yakinkan dia untuk datang ke rumah."
"Eh... i-iya Bu, kalau gitu aku mau bersiap - siap dulu."
Haduh kenapa pembahasannya selalu itu-itu lagi.
Sore ini Bunga memakai jeans skinny dengan atasan t shirt putih yang dipadu jaket longgar agar tidak masuk angin, karena ia dan Nana berencana pergi naik motor.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan dari pintu depan dan Bu Marni bergegas membukanya.
"Permisi Tante, Bunganya ada?" Nana sudah berdiri di ambang pintu.
"Eh ternyata Nana sudah datang, sebentar ya, Tante panggilkan. Bunga... ini Nana sudah datang," teriak Bu Marni.
Bunga keluar dari kamarnya begitu mendengar teriakan ibunya dan berlari ke arah pintu.
"Yuk ah kita berangkat sekarang, biar nggak kemalaman," ajaknya pada Nana.
"Tante, kami pamit ya." Nana mengangguk sopan berpamitan.
"Iya hati-hati di jalan."
Bunga berangkat dibonceng motor Nana. Sepanjang perjalanan, sejuknya embusan angin malam yang dingin menyapa menerpa wajahnya.
Ah ternyata sungguh menyenangkan naik motor malam-malam begini aku merasakan sedikit lega di hatiku yang mumet ini.
Tak berapa lama mereka pun sampai di mall yang di maksud. Hari ini Bunga sudah bertekad akan berbelanja membeli barang yang diinginkannya untuk sekadar menyenangkan hatinya yang merana.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Sofia Gisheilla
ibunya Bunga rada rada konyol nih
2022-12-11
1
Dede Dahlia
jatohnya aku kesel sama ibunya bunga sumpah bukannya ngebela anak sendiri juga nenangin eh malah kebalikannya lagian bunga selama ini ga pernah main keluar juga hemat semua itu demi membantu perekonomian keluarga tapi yg jadi ibunya ga sadar banget.sabar bunga udah ga usah di pikirin ga usah ambil pusing nikmati aja hidup kamu.
2022-11-14
0
Bubble
dri bab ini bs ngambil kesimpulan bahwa qta hidup ga ush mikirin ato dengerin kata2 orang,, toh yg ngejalanin hidup qta ini.. trus ga ush ikut campur sm mslh orang model ibu ida sm anak nya si Ina 11 12 dia ber 2..smoga aku slalu dijauhkan dri orang2 model ibu ida n Ina dan bs jdi ibu yg baik untuk 2 anak gadis ku... aamiin
2022-09-26
0