Senja pergi, berganti dengan datangnya sang malam. Kegelapannya merentangkan sayapnya, memeluk jiwa-jiwa yang lelah untuk segera beristirahat ke peraduan.
Di dalam kamarnya, tampak Bunga sedang membenahi pakaiannya yang sudah bersih untuk di tata ke dalam lemari. Bu Marni ibunya Bunga masuk ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang.
"Bunga, akhir pekan ini libur kerja tidak? Kalau kamu libur temani Ibu datang ke acara hajatan tantemu, Tante Ida sepupu Ibu."
"Aku libur kok Bu, nanti kutemani. Memangnya ada acara hajatan apa Tante Ida mengundang kita?" tanya Bunga sambil meneruskan aktivitasnya.
"Kamu ingat kan, Si Ina anaknya Tante Ida yang seumuran kamu itu mau nikah hari Sabtu ini. Bapakmu tidak bisa menemani karena akhir pekan di pasar lagi ramai-ramainya orang datang berbelanja, bosnya bapakmu tidak akan mengizinkan kalau meminta libur," jelas Bu Marni kepada anak sulungnya itu.
"Tapi Bu, seingatku Ina masih kuliah kan? kenapa terburu buru menikah padahal kuliahnya masih blm selesai?" Bunga kembali bertanya.
"Mungkin memang jodohnya datangnya sekarang. Buat apa di lama-lamain juga. Lagi pula walaupun sudah menikah masih tetap bisa melanjutkan kuliah kan? Apalagi ibu dengar calon suaminya itu orang kaya. Mereka bilang dia itu manager salah satu showroom mobil mewah terbesar di kota ini. Kapan lagi kan dapet laki-laki kayak gitu, hebat ya Ina padahal ga cantik-cantik amat tapi bisa dapet jodoh yang sudah mapan." Bu Marni kembali membahas sesuatu yang mulai menyindir wilayah pribadi Bunga. Memanas-manasi anak sendiri.
Bunga hanya menghela napasnya dalam-dalam. Kalau sudah ada pembicaraan begini pasti sebentar lagi ujung-ujungnya dia yang ditanyai kapan akan membawa calon menantu ke rumah.
"Bunga, Ibu heran deh sama kamu. Kok betah banget ngejomblo sih? Padahal kamu kan cantik, kapan kamu akan membawa calon suami? Ibu juga pengen kamu segera menikah," desaknya seperti biasa.
"Mungkin jodohku memang belum saatnya datang, Bu. Jadi masih belum dipertemukan," sahutnya malas, tetapi tetap menjaga adab terhadap orang tua.
"Kalau gitu kamu usaha yang lebih keras dong, supaya cepat dapat. Kalau tidak bisa cari sendiri, Ibu akan jodohkan kamu dengan duda kaya si Pak Dedi bos bapakmu itu. Dia sudah sering bertanya tentang kamu sama Ibu, katanya dia tertarik untuk menjadikan kamu istrinya."
"Aku tidak tertarik untuk menjadi istri Pak Dedi Bu. Lagi pula beliau itu seumuran dengan bapak. Ibu bersabarlah sebentar lagi, aku akan berupaya lebih giat supaya bisa segera membawa calon menantu ke hadapan ibu." Bunga menjawab dengan lesu dan tidak bersemangat.
"Pokoknya jangan cuma ngomong. Buktikan kalau kamu bisa mencari calon suami sendiri. Kalau dalam beberapa bukan ke depan hasilnya tetap sama, maka kamu tak punya pilihan selain patuh pada keputusan Ibu." Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, Bu Marni meninggalkan Bunga dalam keheningan kamar sempitnya.
Setelah ibunya keluar dari kamar, Bunga merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya untuk segera beristirahat. Tubuh dan pikirannya luar biasa lelah. Ditambah tuntutan ibunya yang sama setiap harinya membuat rasa lelahnya berlipat ganda.
Seperti itulah, setiap kali ada sanak saudara yang akan menikah dia selalu jadi sasaran. Padahal jangankan ada waktu mencari pacar, Bunga harus membagi waktunya seefisien mungkin untuk bekerja serta menyelesaikan beberapa kursus. Berharap dengan tambahan keahlian, ia bisa mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik dari sekarang.
Otaknya mungkin memang pintar dalam hal belajar, sehingga bisa mencapai nilai akademik yang memuaskan. Namun, untuk urusan asmara dan lawan jenis dia benar-benar buta dan tidak paham. Baginya terasa lebih sulit dari rumus trigonometri, bahkan di usianya sekarang ia belum pernah merasakan apa yang disebut dengan pacaran.
Kepalanya terasa pusing tujuh keliling memikirkan cara agar tidak di jodohkan dengan pak Dedi. Pak Dedi adalah pemilik toko kelontong tempat bapaknya bekerja. Seorang duda berusia hampir setengah abad, berbody tambun dan berkumis. Bahkan Bunga langsung bergidik ngeri ketika membayangkan bagaimana rasanya di cium pak Dedi itu.
"Tidaaaak ...."
Bunga menendang-nendangkan kaki ke udara dan langsung menutup wajahnya dengan bantal.
"Haduh, jangan sampai aku jadi dijodohkan dengannya. Kumisnya yang mirip ikan lele itu lebih seram dari film horor," gerutunya.
Bunga mulai terhanyut dan terbuai masuk ke alam mimpi, setelah otaknya bergelut dan berkecamuk memikirkan bagaimana caranya supaya cepat mendapat calon suami dan terhindar dari perjodohan dengan si tua bangka itu.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Hanya Aku
asa pernah maca ieu teh 🤔
2023-12-04
0
starlaa
heran sama emaknya, klo tau anak nya cantik ngapa sih tega mau dijodohin sama yg seumuran suaminya ..aneh, kayak bukan orang tua kandung aja
2023-03-19
0
Ayni Hidayat
ikut bergidik geli bayangin kumis pak duda, ahaha 🤭
2023-01-21
0