Semenjak hari itu, Sastra terus saja mengganggu ketenangan hidup Bunga. Setiap hari Sastra merengek agar diizinkan menjemput Bunga ketika pulang bekerja.
"Hai pretty girl, sudah selesai belum?" Sastra menghampiri Bunga yang sedang memajang barang di swalayan. Sastra menyandarkan tubuh tingginya di tembok sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan santai.
Bugh....
Bunga memukul bahu Sastra sekuat tenaga dan yang dipukul hanya meringis tipis.
"Bisa gak sih itu mulutnya jangan asal bunyi!" protes Bunga sambil cemberut.
"Auhh... sakit tahu. Kenapa? ada yang salah?" tanyanya dengan wajah tanpa dosa.
Tentu saja salah, kamu memanggilku seperti itu di tempat umum dengan lantang, apa kamu tidak sadar yang kamu lakukan itu menarik perhatian banyak orang.
"Gak usah akting, gak mungkin pukulanku sesakit itu. Memangnya aku ini pegulat apa? sekarang tolong menyingkir dan tunggu di luar. Kalau kamu terus berdiri di sini yang ada pekerjaanku gak selesai-selesai! Emang kamu gak ada kesibukan lain apa selain gangguin aku. Bukannya kamu itu CEO?" Bunga bersungut-sungut dan meletakkan barang-barang yang sedang di tatanya serampangan.
"Justru karena aku bosnya jadi aku bisa mengatur jadwalku sesuka hati." Sastra menjawab dengan penuh percaya diri.
"Dan juga aku akan terus kayak gini kalau kamu masih belum jawab pernyataanku waktu itu."
"Cih... dasar sombong! Bukankah seorang atasan harus bisa menjadi teladan bagi karyawannya? bukan malah seenaknya!" Bunga mulai jengkel karena kelakuan Sastra yang selalu mengganggunya saat tengah bekerja.
"Ya udah deh aku tunggu di luar." Sastra mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis menampakkan lesung pipinya, kemudian berlalu pergi keluar swalayan.
Aduh jantungku apa kabarmu, apa kau baik-baik saja? lesung pipinya benar-benar berbahaya.
****
Setelah satu minggu.
Saat ini Bunga tengah berada di sebuah restoran mewah dan duduk berhadapan dengan Sastra.
"Kamu mau pesan apa?" Sastra bertanya sambil membolak-balik buku menu.
"Aku mau pulang!"
"Gak boleh! Kamu gak akan bisa kabur lagi hari ini. Sudah lebih dari seminggu dan kamu masih belum memberikanku jawaban. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja," ucap Sastra tak ingin dibantah.
Duh bagaimana cara memulai pembicaraan tentang itu, aku gugup sekali.
Bunga bergumam sambil mengigit bibirnya.
"Aku... ehm ehm. Jawabanku adalah... ya," Bunga berkata dengan suara pelan sambil tertunduk menyembunyikan wajahnya yang memanas.
"Kamu bilang apa, aku gak denger?" Sastra menggodanya, padahal sejujurnya dia ingin meloncat kegirangan saat mendengar dua hurup yang meluncur dari mulut gadis itu.
"Gak ada siaran ulang!" sahutnya galak.
Sastra tersenyum lebar dan langsung meraih kedua tangan Bunga kemudian mengecupnya dengan lembut. "Makasih, kamu udah mau nerima aku jadi pacar kamu."
Bunga hanya tertunduk malu diperlakukan seperti itu, semua yang dialaminya bersama Sastra adalah pertama kalinya baginya. Melihat Bunga yang malu-malu kucing membuat Sastra ingin menjahilinya.
"Kenapa sekarang kamu tiba-tiba jadi jinak begini?" ledek Sastra mbuat Bunga langsung menarik tangannya.
"Memangnya dulu aku buas!" serunya kesal. Padahal pada kenyataannya Bunga hanya sedang berusaha menutupi kegugupannya karena jantungnya berdegup sangat kencang memukul-mukul dadanya seolah hampir meledak.
Sastra tergelak kencang. Ya Tuhan kenapa gadis ini menggemaskan sekali, batinnya. Biasanya para wanita yang bertemu dengannya berusaha menggodanya mati-matian, tetapi ajaibnya kali ini malah dia yang harus menggoda gadis itu terlebih dahulu.
Sastra pun tidak bisa menelaah perasaannya sendiri kenapa dia sampai rela bertindak seperti remaja labil hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Sedari awal Sastra hanya terobsesi untuk meniduri gadis itu tidak ada hal lain. Tetapi sepertinya kali ini cerita berbeda akan mewarnai kisah hidupnya ke depannya.
Mereka menyelesaikan makannya dalam diam sambil tersenyum satu sama lain. Bunga sesekali mencuri pandang dan Sastra berpura-pura cuek tidak tahu dengan kelakuan Bunga, padahal Sastra sedang menahan tawa dengan kelakuan polos gadis di hadapannya.
****
Mobil Sastra sudah sampai di pekarangan rumah Bunga. Saat Bunga hendak membuka pintu mobil, Sastra menahan tangannya.
"Tunggu, besok kamu libur kan?" Sastra bertanya sambil menggenggam tangan Bunga.
"Hmm...." Bunga hanya menjawabnya dengan gumaman.
"Besok aku pengen ngajak kamu nonton film di bioskop, mau ya please?" Sastra memasang tampang memelas.
"Oke baiklah."
Tangan Sastra bergerak menyelipkan untaian rambut Bunga ketelinganya dan menangkup kedua pipinya. Bunga tiba-tiba terkesiap diperlakukan seperti itu.
"Sekali lagi makasih kamu udah mau jadi pacarku," ucap Sastra.
Sekarang jarak wajah mereka hanya satu jengkal saja dan Bunga bisa merasakan hembusan hangat napas Sastra yang beraroma mint di wajahnya. Tiba-tiba sebuah benda dingin dan kenyal mendarat dibibirnya, Bunga membulatkan matanya saat Sastra mengecupnya lembut.
Apakah ini yang namanya berciuman, tolong selamatkan wajahku yang memerah ini.
Sastra sedikit menarik wajahnya setelah kecupan lembut di bibir Bunga, sedangkan Bunga masih shock karena ini ciuman pertamanya membuat Sastra terkekeh geli melihat ekspresi gadisnya yang mematung.
lelaki itu menyapukan jarinya di bibir ranum Bunga. Kemudian merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, aroma maskulin dari parfum mahal Sastra menyeruak di penciuman Bunga, menggodanya untuk berlama-lama di sana.
Kemudian Sastra melepaskan pelukannya dan membelai rambut Bunga dengan mesra. "Masuklah, sekarang sudah malam. Beristirahatlah," ucapnya dengan senyuman serta lesung pipi yang menghiasi wajah rupawannya.
Bunga akhirnya kembali tersadar dari keterpakuannya tadi. Tanpa sepatah katapun Bunga turun dari mobil Sastra kemudian melambaikan tangannya dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Sastra kembali melajukan mobilnya dengan hati riang, sepertinya dia akan tidur nyenyak malam ini.
Bunga duduk di tepian ranjang dan menyentuh bibirnya sambil membayangkan kejadian di dalam mobil tadi. Semburat merah langsung nampak di wajahnya dan di detik berikutnya ia berguling-guling di atas ranjang sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Ternyata begini rasanya berciuman, aku malu....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 170 Episodes
Comments
Mak sulis
baru jadian main sosor sosor wae..terlalu cepet ini
2023-07-11
0
ana Imaa
plis bunga jangan terlalu polos dan pasrah!!
2023-01-01
0
Dede Dahlia
hadeuh bunga segitu polosnya kamu mudah termakan rayuan si kadal buntung 🤭😅😅😅😅
2022-11-14
1